4/30/2019

Choi Hung Estate, Rumah Pelangi yang Instagramable di Hong Kong




Hong Kong memiliki satu wilayah yang bernama Choi Hung. Jika diperhatikan dengan seksama, daerah di Choi Hung ini sangat berbeda dengan daerah Hong Kong lainnya. Hal paling umum yang bisa kita lihat adalah dari stasiun MTR-nya. Jika stasiun lain temboknya berwarna biru, kuning, merah atau hijau, maka di stasiun Choi Hung semua warna ini ada. Usut punya usut kenapa dibuat demikian, karena agar sesuai dengan namanya. Choi Hung sendiri adalah simbol dari warna warni tersebut. Dari bahasa Kantonis, Choi Hung berarti pelangi. Pernah nggak sampeyan kepikiran demikian? Pasti enggak kan? Sebelum saya riset mengenai tempat yang ada di tulisan ini, saya juga tidak kepikiran kok hihi.

Ketika membicarakan pelangi, di Choi Hung ini ada satu tempat yang berwarna-warni dan sangat terkenal. Tempat ini juga instagrambale banget. Salah satu spot foto yang wajib sampeyan kunjungi kalau maen ke Hong Kong. Iya loh, wajib! Secara, Hong Kong kan terkenal dengan sebutan ''Negeri Beton'', yang bisa dimaknai dengan negeri yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Jadi jangan ngaku pernah ke Hong Kong kalau belum narsis sama salah satu gedungnya, hihi maksa banget ya... Oiya tempat yang saya maksud instagramable banget ini namanya Rainbow Building, atau saya suka menyebutnya dengan Rumah Pelangi :D


polae anak jaman now :D



Jika hari Minggu atau hari libur, Rumah Pelangi ini selalu ramai oleh pengunjung. Saking terkenalnya, bukan hanya warga lokal dan mbak-mbak Te Ka We saja yang datang, tapi turis dari Cina dan Western juga kemari. Tapi mayoritas yang datang ke sini adalah anak-anak muda. Biasa mereka adalah yang hobi traveller, youtuber atau yang hobi update foto di Instagram *termasuk yang nulis* gubrakkk.





Jika dilihat-lihat, sebenarnya Choi Hung Rainbow Buliding ini hanyalah lapangan basket yang luas dengan background gedung-gedung hunian di kiri kanannya. Sebenarnya tak sedikit Hong Kong memiliki bangunan serupa, namun yang membedakan adalah lapangan dan gedung-gedung hunian ini dicat dengan warna-warna yang serasi dan membuattnya nampak eye catching banget.


Choi Hung Building ini dibangun pada tahun 1994. Lokasinya berada di Distrik Wong Tai Sin, Kowloon. Untuk akses ke sana bisa pergi dengan kereta bawah tanah/MTR turun di stasiun Choi Hung keluar melalui exit C4. Jalan keluar melewati semacam subway kecil dan ketika sampai diluar belok ke kiri, melewati Choi Hung Estate,Secondary School. Lokasi Choi Hung Rainbow Building ini tepat di atas parkir di depan sekolahan. Dari sekolahan perlu menyeberang dan menaiki beberapa anak tangga untuk sampai.

sampai di ujung belok ke kiri

menyeberang lalu menaiki tangga



Oiya tips untuk yang pengen fotonya nampak eye catcing banget, kalau kesana gunakan pakaian yang colourful, misal kuning kayak mbak-mbak di atas ini, agar warnaya lebih menyatu dengan bcakground :D (*)

*Yesi Armand Sha
HK, 1 Mei 2019.

3/13/2019

Ini Sore Pertama di Bulan November


 
Ini sore pertama di bulan November. Kita baru saja selesai jalan mengelilingi lapangan dan sekarang berada di taman bawah rumah.Taman ini bukan layaknya taman-taman kecil yang biasa ada di tempat lain, karena taman ini hanya ditanami beberapa batang pohon saja dan pinggirnya dibatasi dengan beberapa bangku. Ada dua bangku di bagian kanan dan kiri. Keduanya dipisahkan oleh sekolahan TK yang posisinya menjorok ke dalam, sejajar dengan pintu masuk gedung rumahmu dan gedung rumah sebelah.
 
Tak tahu harus menyebut apa, aku tetap menamakannya taman kecil. Bangku-bangku yang berjejer di pinggirnya selalu nyaman untuk diduduki. Dan seperti sore-sore yang lalu, sore ini kita duduk berdua lagi di bangku berjejer ini. Ya, hanya berdua saja. Sebenarnya di sebelah kiri kita ada bangku yang sudah ditempati oleh nenek-nenek lain yang kamu kenal, dan terlihat masih ada beberapa yang kosong. Sebelumnya aku juga sudah bertanya padamu untuk duduk disana, agar kamu bisa berbincang-bincang dan tertawa bersama. Bukannya menyetujui atau minimal menimbang-nimbang dulu tawaranku, kamu malah tak mengindahkan pertanyaanku sama sekali.
 
‘’Emyiu,’’ sahutmu cepat.
 
‘’Timkai a?’’ tanyaku menyelidik.
 
‘’Em cungyi,’’ jawabmu seraya memalingkan wajah.
 
Aku bergeming tak melanjutkan bertanya. Aku tak berniat menyelidiki lebih lanjut kenapa kamu tak mau duduk bersama mereka karena aku yakin, kamu memiliki alasan yang tak jauh berbeda dengan alasanku.
 
Entahlah, aku merasa kurang nyaman saja dengan mereka. Aku melihat nenek-nenek itu seperti ibu-ibu arisan yang doyan ngomong. Mereka suka sekali membicarakan orang-orang yang lewat. Tak peduli kenal atau tidak, orang-orang lewat yang pergi atau pulang ke rumah, dan orang-orang yang hendak menjemput murid TK pulang sekolah, akan menjadi sasaran empuk untuk mereka bicarakan. Nada bicara mereka juga keras sekali. Bahkan meski duduk berdampingan pun, volume suara mereka tetap seperti orang yang sedang marah.
 
Nenek-nenek itu juga tak bisa disenggol. Atau maksudnya, ketika ada sedikit saja perbedaan pendapat dan sudut pandang yang tak sama, mereka tak segan untuk berdebat. Mereka saling menyerang dengan kata-kata, menyalahkan pendapat yang lain dan saling berebut untuk paling benar.
 
Saking seringnya melihat kejadian-kejadian itu, kepalaku sampai hafal tiap adegan-adegannya. Namun meski kurang suka, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri jika kadang merasa geli melihat ulah mereka yang cukup menggelitik. Karena beberapa jam setelah nenek-nenek itu bertengkar lalu mereka berpisah entah pulang ke rumahnya masing-masing atau pergi entah kemana, jika kemudian bertemu lagi, mereka akan bertegur sapa seperti biasa. Mereka akan berbincang-bincang dan tertawa seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Nenek-nenek itu sudah pikun. Tak begitu ingat pada kejadian-kejadian yang telah terjadi, sekalipun baru lewat beberapa menit yang lalu. Dan melihat apa yang mereka lakukan, kadang aku berpikir, ternyata ada manfaatnya juga Tuhan menciptakan penyakit pikun. Sebab manusia tak perlu berlama-lama memendam benci dan amarah berkepanjangan yang membuat hati sesak. Hati mereka tak perlu dipenuhi oleh rasa-rasa aneh yang membuatnya merasa tak enak untuk melakukan sesuatu. Bukankah dengan begitu, mereka bisa selalu bahagia melewati hari-hari? Ah, hidup sebagai nenek-nenek sepertinya tak terlalu buruk juga.
                                                                           
**
 
Angin sore terasa mulai berembus. Menerbangkan daun kuning dan kering yang jatuh di atas paving di depan kita, merayu ujung jilbabku agar menari bersamanya, dan kulihat rambutmu yang hitam bercampur sedikit putih itu bergerak-gerak pula karenanya.

Ini hari pertama di bulan November, tapi belakangan udara sudah mulai dingin. Beberapa hari ini jendela rumah sudah mulai kututup separuh ketika malam tiba. Aku sudah mengeluarkan baju dan celana panjangmu dari dalam lemari. Selimut kita juga sudah kutambahi dalaman yang menghangatkan. Bahkan kakiku yang gampang sekali dingin ini sudah kubalut dengan kaus kaki ketika pergi tidur.
 
November adalah awal musim dingin akan segera tiba. Sebentar lagi, dedaunan akan luruh ke tanah meninggalkan reranting kering yang jika dilihat dari kejauhan, akan tampak seperti kecambah. Serabutnya seakan hendak menancap langit.
 
Tak lama lagi di jalan, taman, pasar dan dimana saja, tak akan ada orang memakai baju dan celana pendek. Mereka akan membalut tubuhnya dengan baju panjang dan tebal, tangan mereka dibungkus dengan sarung tangan, dan bahkan beberapa diantaranya ada juga yang menutup kepala mereka dengan topi. Mereka tak membiarkan satu inci pun bagian tubuh mereka dicumbu angin.
 
Meski bertahun-tahun bertemu dengan hawa yang seperti kulkas ini, tapi aku masih belum betah berhadapan dengannya. Setiap tahun aku harus selalu beradaptasi seperti saat aku beradaptasi di musim dingin pertama kalinya. Jika kamu cukup memakai baju dua helai, aku harus memakai baju beberapa potong lebih banyak darimu agar tubuhku tetap terjaga kehangatannya. Dan aku sangat benci memakai baju bertumpuk-tumpuk karena membuat pundakku berat, cepat capek dan tak nyaman untuk bergerak.
                                                               
**
 
Tujuh menit setelah menempelkan punggung dengan sandaran bangku, bel di sekolah taman kanak-kanak yang berada diantara gedung rumahmu dengan gedung sebelah yang bercat kuning itu berdering. Setelah pintu utama sekolahan itu terbuka, para pengasuh dan beberapa orangtua yang sebelumnya membuat antrian panjang di samping pintu utama sekolahan itu masuk satu persatu. Tak lama kemudian mereka keluar lagi bersama anak-anak kecil usia lima-enam tahunan.
 
Taman kecil yang sebelumnya cukup hening, seketika menjadi riuh semenjak anak-anak TK itu keluar. Beberapa dari mereka ada yang langsung pulang, tapi tak sedikit pula yang berhenti untuk bermain. Anak-anak yang tak lekas pulang itu adalah mereka yang rumahnya satu gedung dengan rumahmu dan juga tinggal di gedung bercat kuning.
 
Anak-anak itu berlarian, bermain kejar-kejaran. Ada yang bermain sekuter, bersepeda, dan ada juga beberapa yang hanya duduk sambil makan roti kering, buah yang disimpan di dalam kotak makan, atau biskuit yang dibawakan oleh ibu mereka. Kamu memperhatikan anak-anak itu dan kulihat sesekali kamu tertawa kecil. Kadang kamu juga menyuruhku melihat mereka jika ada hal yang lucu.
 
Kamu memang sangat menyukai anak kecil. Dimanapun berada, jika bertemu anak kecil, kamu pasti selalu menyapanya. Jika anak kecil itu bersama ibu, nenek atau anggota keluarganya yang lain dan kebetulan mereka baik, mereka akan balas menjawab sapaanmu lalu meneruskan dengan sedikit percakapan. Tapi jika keluarga atau yang mengasuh anak kecil itu seperti kebanyakan tipe orang Hong Kong lainnya, yang tak akan berbicara dengan orang tak dikenal, maka sapaanmu hanya dianggap seperti angin lalu saja.
 
Melihatmu diabaikan seperti itu, aku selalu merasa sedih sekaligus kesal. Aku kasihan padamu dan ingin marah pada orang yang mengabaikanmu. Tapi apa yang bisa kuperbuat, bagaimanapun juga aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang itu karena mereka memang tak mengenalmu atau mengenalku. Maka agar kamu tak sedih berkepanjangan, aku segera menghiburmu dan mengalihkanmu pada hal lain agar kamu lekas lupa pada apa yang terjadi.
 
Sebenarnya aku sudah sering berkata padamu agar tak sembarangan menyapa anak kecil kecuali yang kamu kenal. Setiap kali aku membicarakan hal itu, kamu selalu menyawab iya dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Tapi di usiamu yang sudah tak bisa mengingat hal-hal dengan baik itu, membuatmu selalu melakukan kesalahan berulang-ulang. Kamu melakukan hal itu lagi dan lagi.
                                                                   
**
 
Matahari karam di balik gedung beton yang menjulang tinggi. Anak-anak TK sudah pulang ke rumahnya masing-masing, lalu taman kecil ini menjadi sepi kembali.
 
Angin kembali berembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
 
‘’Kamu tidak dingin?’’ tanyaku mulai khawatir.
 
Kamu menggeleng.
 
‘’Pakai jaket ya?’’ aku mengeluarkan jaket tipis dari dalam tas.
 
‘’Tidak,’’ tolakmu.
 
‘’Anginnya cukup kencang, nanti kamu kedinginan dan masuk angin,’’ desakku.
 
‘’Tidak!’’ Suaramu sedikit meninggi.
 
‘’Yasudah, kalau nanti dingin bilang padaku ya?’’
 
‘’Mmm,’’ jawabmu.
 
Aku mengalah.
 
‘’Tunggu.’’ tanganmu meraih jaket yang hendak kumasukkan ke dalam tas. Kukira kamu akan memakainya, tapi... ‘’Jaket ini dulu dibelikan Yeye.’’
 
‘’Iyakah? Berati lama sekali ya?’’
 
‘’Belasan tahun yang lalu.’’
 
‘’Wah, tapi masih bagus.’’
 
‘’Iya, bagus.” Kamu memperhatikan jaket ini dan meniliti bagian-bagiannya. Perlahan-lahan kamu mulai bercerita tentang jaket itu, diteruskan dengan kematian Yeye, lalu cerita tentang kehidupanmu selepas Yeye meninggal.
 
Beberapa menit berlalu, kamu masih lanjut bercerita. Tapi kisah ceritamu berjalan ke belakang, dimulai ketika kamu lahir dan dibuang oleh ibumu, lalu cerita tentang masa anak-anakmu, masa mudamu, saat kamu menikah, kemudian memiliki enam anak dan beberapa cucu.
 
‘’Sejak kecil aku memiliki hidup yang sulit, lalu perlahan-lahan semua membaik. Kini setelah tua, aku seperti menjadi kecil lagi. Aku hidup sendirian, anak-anakku sibuk dengan kehidupannya sendiri. Aku seperti orang yang hidup sebatang kara,’’ ucapmu menutup cerita.
 
Aku mendengar ceritamu di balik hati yang teriris. Tak terasa getah bening yang sedari tadi kutahan dipelupuk mataku menetes juga. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu selanjutnya. Tiga bulan setelah November ini aku akan pulang ke kampung halamanku selamanya, dan kamu akan dimasukkan ke panti jompo. Kamu sebenarnya tidak mau masuk kesana, tapi anak-anakmu tak bersedia mencari penjaga buatmu lagi. Katamu, panti jompo adalah penjara untuk orang-orang yang masih sehat sepertimu. (*)

*Tersiar di koran Berita Indonesia edisi 211- Maret 2019. 
Yesi Armand Sha. HK, 14-3-2019.
 

3/06/2019

Mengunjungi Snoopy World, Mengunjungi Diri Kita di Masa Lalu


Beberapa waktu lalu, tepatnya saat Chinese New Year, saya, pesex (panggilan kesayangan tetangga sebelah), dan Titin (sohibnya pesex), menonton pertunjukan kembang api di Tsim Sha Shui. Pertunjukannya dimulai jam 7 malam, tapi kami berangkat jam 4-an karena ingin mendapat tempat yang pas untuk melihat.

Sesampainya di sana ternyata sudah banyak orang yang antri dan duduk mencari tempat. Tapi rupanya keberuntungan masih berpihak pada kami, karena kami mendapat tempat kosong yang strategis dan ditambah dua orang Cina di depan kami ramah dan baik. Kami bahkan saling bercengkerama, berbagi beberan tempat duduk dan berbagi cemilan yang kami bawa.

Selagi menunggu, kami berbincang-bincang dan ngoceh sana-sini. Sesekali menoleh kiri-kanan dan belakang untuk melihat orang-orang yang mulai berdatangan. Hingga akhirnya di tengah penantian itu, Titin tiba-tiba berseloroh bahwa kami sedang menonton layar tancap. Mendengarnya sontak saja kami langsung tertawa. Tapi memang benar, kondisinya sangat mirip seperti menonton layar tancap jaman bahuela.

Selorohan Titin merambah pada drama Wiro Sableng, Kera Sakti, Angling Darma dan Mak Lampir. Ditambah pula tentang tipi hitam putih milik tetangga yang untuk menghidupkannya harus memakai aki. Tak berhenti sampai di situ, bahasan berlanjut tentang permainan bongkar pasang, gedrik, nekeran, kaus kaki basah yang kemudian jadi bolong, berangkat sekolah sepatu dikalungkan di leher, pulang sekolah manjat pohon jambu milik tetangga yang baru berbuah dan berbagai keusilan-keusilan lainnya. Entah kenapa ya, hal-hal sepele di masa lalu itu menyenangkan sekali ketika kini dibicarakan. Kami menceritakannya dengan hati yang bahagia. Walau masa kecil kami sangat pahit, tapi ternyata manis saat sudah menjadi kenangan.

Mengingat tentang kenangan, di Hong Kong ada satu tempat permainan yang ketika sampeyan mengunjunginya, sampeyan akan merasa sedang nostalgia. Tempat itu namanya Snoopy World.



Snoopy sendiri adalah tokoh fiksi berupa anjing beagle peliharaan Charlie Brown dalam strip komik peanuts karya Charles M. Schulz. Awalnya Snoopy hanya digambarkan sebagai anjing biasa, tapi perlahan-lahan, Snoopy dijadikan karakter yang bisa berbicara, (melalui balon teks yang menginterpretasikan apa yang sedang dipikirkannya, sehingga nampak bisa berkomunikasi.

Sebenarnya saya dan anak lain yang lahir di tahun 90-an, adalah generasinya Tom and Jerry. Tapi saya sedikit banyak tahu tentang komik Snoopy, dan ketika mengingat Snoopy, secara spontan saya langsung teringat pada Tom and Jerry beserta hal-hal yang ada di masa lalu. Hinga akhirnya, mengingat Snoopy berarti mengingat diri saya di masa lalu. (Agak maksa ya hihi, tapi emang kayak gitu kok :D)



Di Snoopy wolrd Hong Kong ini, ada satu patung yang menonjol dan paling besar. Yakni patung Snoopy berukuran 5,5 x 3,3 yang bubuk manis di atas atap pintu masuk. Selain patung itu, ada patung-patung lainnya yang berjumlah 60 patung berwarna-warni di dalam area permainan ini.



Snoopy World ini berada di lantai tiga New Town Plaza, jantungnya Shatin. Jika kita datangnya dari arah mall, maka kita akan langsung disambut dengan tiang-tiang warna hijau yang ada patung snoopy di atasnya dan juga tanaman berbentuk tulisan ''Snoopy Wolrd'' disamping pintu masuk.

Setelah masuk lewat pintu utama, kita bisa melihat rak beserta tumpukan buku yang ada di kiri kita. Sedang di bagian kanan, tampak Charlie Brown sedang santai sambil menonton TV.



Selain patung-patung, ada juga arena permainan yang asyik  diperuntukkan buat pengunjung. Yakni baseball playground, bus sekolah berwarna kuning yang besar, peanut boulevard, snoopy wedding house, dan canal ride (naek perahu).



Selain itu ada kota bangunan-bangunan yang menyerupai kota mini, atau juga disebut mini town yang lengkap dengan keberadaan post office, bank, dan snoopy theatre.





Selain dekat dengan mall, Snoopy world ini juga dekat dengan perpustakaan Shatin, tenda putih yang bawahnya dibuat lesehan, gedung untuk menonton pertunjukan opera, taman Shatin yang luas, dan gak jauh juga dari Lek Yuen Bridge.

Lokasi tepat Snoopy World ini ada di:
Lantai 3 Shatin New Town Plaza, New Territories Hong Kong. MTR to station, exit A.
Jam bukanya mulai jam 11 pagi sampai 7 malam. Untuk naik perahu jam bukanya mulai jam 12 pagi sampai jam 6 malam.


Kalau misalnya sampeyan hendak kesana dan bingung rutenya. Sampeyan naek saja MTR Turun di Shatin exit A. Dari sana, sampeyan jalan lurus saja ke depan dan cari pintu keluar. Atau kalau bingung, tanya pada petugas yang duduk di beberapa sudut. :)

*Yesi Armand Sha, HK 6 Maret 2019.





12/18/2018

Melihat Potret Masa Lalu Hong Kong di Hong Kong Museum of History #1



Hong Kong Museum of History, artinya dalam bahasa Ibu adalah Museum Sejarah di Hong Kong. Entah kenapa ketika membaca nama museum ini saya jadi kepikiran, ternyata Hong Kong yang megah ini tidak ujug-ujug seperti ini, melainkan punya masa lalu juga. Dan ternyata, masa lalu bukan hanya milik mantan yang bikin sampeyan susah moveh on, ya... hihi *ngomong apasii*

Minggu 16 Desember kemarin saya berkesempatan mengunjungi museum ini. Etapi mau flash back sedikit ya, hehe. Aslinya ini kali pertama saya dan teman kesana. Sebelumnya, tak ada persiapan apapun karena kami janjiannya di Sabtu malam ketika sudah larut sekali. Minggu pagi saya juga tidak sempat mencari info atau minimal gugling petunjuk arah pergi kesana.

Jam dua siang kami tiba di MTR. Lalu berbekal GPS-nya ponsel teman saya, kami berjalan mengikuti tanda panah. Setelah jalan, muter-muter, lalu jalan lagi, kami malah terperangkap di The Hong Kong Polytechnic University  yang isinya anak-anak muda laki perempuan yang bawa ransel dan keren-kerenn *mupeng kuliah*.

Agak bingung ketika sampai di sana, karena panah ponsel teman saya ga jelas gitu. Tapi ditengah badai kekhawatiran ini, kami terselamatkan berkat pak dosen muda yang kami tanyai dan memberitahu dimana letaknya.

Awalnya pak dosen muda hanya menunjukkan bahwa tempatnya di sana, seraya menunjukkan tangan. Kami pun mengiyakan lalu terimakasih dan hendak mulai berjalan. Tapi entah ga tega atau kasihan sama kami atau malah sayang (skip), pak dosen tak membiarkan kami mencari sendiri. Pak dosen lalu jalan dan bilang kalau lewat sini. Kami pun mengikuti, dan disepanjang jalan, pak dosen sesekali menoleh ke belakang, mungkin untuk memastikan bahwa kami mengikutinya. Makasih sekali pak dosen yang baik hati heheh.



Entah, ngulik sejarah suatu tempat itu  rasanya menyenangkan sekali. Kita seakan jalan-jalan ke masa silam untuk menyelami sebuah kenangan. Dengan mata kepala sendiri, kita seakan melihat pergerakan, aktifitas dan bagaimana suatu tempat itu berproses. Mungkin semacam nonton tanyangan slide masa lampau. 

Kenangan tentang Hong Kong, sebagiannya terekam di dalam museum sejarah ini. Letak museumnya berada di Tsim Sha Shui bagian timur. Gedungnya besar sekali. Entah ada berapa lantai. kemarin nggak sempat ngitung hhehe.

Museum sejarah ini memiliki dua pintu utama. Yang pertama ada di lantai satu yang sering diakses pengunjung. Untuk menuju kesana, kita harus menaiki anak tangga yang lumayan tinggi. Tapi ada juga lift dan eskalatornya kok. Jadi yang takut capek, bisa pilih satu diantara dua alternatif ini.

Untuk pintu yang kedua berada di lantai dasar. Pintu utama yang ini terkesan dingin dan angkuh. Mungkin karena sedikit orang yang masuk lewat sini.Tapi kebetulan saya kemarin menjadi bagian yang sedikit ini. Saya masuknya lewat pintu ini.

Setelah masuk lewat pintu otomatis, kami lalu disambut hangat oleh petugas. Mungkin petugas itu sudah tahu maksud kedatangan kami, jadi kami langsung diinstruksikan untuk menaiki lift menuju lantai dua. Kami pun menurut, dan di lantai dua kami lalu disambut oleh petugas lain dengan ramah seraya menyilakan kami memasuki sebuah ruangan.

Ruangan terbuka itu minim cahaya tapi ramai karena banyak sekali pengunjung. Kebetulan pengunjung yang mendominasi ruangan itu adalah para orang-orang lanjut usia yang duduk di atas kursi roda, dan dengan masing-masing kursi didorong oleh seorang pemuda berjaket sama. Sepertinya pemuda ini adalah aktifis yang bertanggung jawab memandu tour kakek nenek itu.





Ruangan itu berisi puluhan replika benda-benda pada jaman dinasti Tang. Ada replika istana kaisar lengkap dengan tangganya yang mirip red karpet. Ada singgasana kaisar, tempat camilan, tempat meletakkan hewan kesayangan kaisar, dan ada tulisan Cina yang dihias indah dipajang di dinding ruangan itu.

Selain berbagai replika itu, ada juga kayu ukiran yang biasanya dipasang pada tiap ujung atap bangunan. Lalu di sebelah ukiran kayu itu, ada layar monitor cukup besar yang menempel di dinding yang memutar tentang proses pengukiran. Ternyata yang mereka lakukan pertama kali adalah menggambar terlebih dahulu. Setelah gambar jadi dan sesuai dengan yang diharapkan, gambar itu diletakkan di atas kayu yang telah disiapkan. Setelah itu, kayu diukir sesuai bentuk gambaran.





Selesai ngulik di ruangan minim cahaya itu, kami keluar lalu menaiki eskalator menuju ke ruang bawah tanah. Ruangan ini sebenarnya ada di lantai satu, tapi didesain mirip sekali seperti lantai bawah tanah. Pintu utamanya berupa batu melengkung yang diatasnya ada tulisan empat ratus juta tahun yang lalu. Entah batu itu batu asli atau bukan hehe.







Setelah bebatuan ini, masih ada lagi barang-barang lain yang jika ditulis disini, akan sangat panjang. Maka dari itu, tulisan tentang museum sejarah akan saya bagi menjadi dua bagian. Tulisan selanjutnya akan segera rilis:)

Oiya untuk akses ke museum ini ada tiga pilihan ;
1. MTR Jordan, keluar melalui exit D dan berjalan sepanjang Austin Road menuju Tsim Sha Shui selama 20 menit.
2. MTR Tsm Sha Shui, keluar exit P2, berjalan ke Catham Road South selama 10 menit.
3. MTR Hung Hom exit A1. Jalan lurus ke depan, lalu belok kiri mengikuti jembatan berwarna biru kuning.

Jam buka:
1. Senin, Rabu sd Sabtu buka dari jam 10.00 - 18.00.
2. Hari Minggu dan libur lainnya buka mulai jam 10.00 - 19.00.
3. Tutup setiap hari Selasa (kecuali hari libur)
4. Dua hari pertama Tahun baru Cina, tutup pada pukul 17.00.

Alamat: 100 Catham Road South, Tsim Sha Shui Timur, Kowloon, Hong Kong.


*Yesi Armand Sha, Tai Wai, 18-12-2019.







YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES