9/29/2019

Steam Ikan with Black Bean

Pada postingan kali ini saya menulis resep sederhana ala Hong Kong. Namanya steam ikan dengan black bean atau bahasa Kantonisnya Tausi (mohon maaf saya tidak tahu bahasa Indonesianya). Caranya mudah banget, mari lanjut ke bawah :)




Bahan:
1 ekor ikan.
2 siung bawang putih.
Jahe secukupnya.
Black bean secukupnya.
2 sdm kecap asin atau secukupnya.

Cara membuat:

1. Cuci ikan dan semua bahan.

2. Iris jahe berbentuk seperti korek api, lalu masukkan beberapa ke dalam perut ikan, dan beberapa ditata di atas ikan.

3. Geprek bawang putih, campurkan dengan black bean, cacah kasar, lalu tata di atas ikan.

4. Rebus air sampai mendidih, masukkan ikan. Steam kurang lebih 15-20 menit, tergantung besar kecil ikan. Setelah matang, tambahkan kecap asin. Siap dihidangkan. 


Bahan-bahan


Seperti ini penataannya


7/17/2019

Dapoer Kita, Restoran Indonesia ala Kafe yang Ada di Hong Kong

Sudah seabad rasanya tidak pergi ke Causeway Bay. Maka ketika ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, kemarin Minggu saya terpaksa pergi ke sana setelah sebelumnya menyelesaikan keperluan dengan orang Hong Kong di stasiun Kowloon Tong.




Dari Kowloon Tong ke Hung Hom, ada bis menuju Causeway Bay yang hanya memakan waktu tidak lebih dari lima belas menit saja untuk sampai di sana. Saya mengajak teman naik bis, tapi teman saya menggeleng mantap karena ia gampang mabok kendaraan. Maka sebagai teman yang baik dan pengertian, saya menurutinya naik kereta bawah tanah aka MTR meski mengharuskan kami oper kereta beberapa kali.

MTR Causeway Bay di hari Minggu tidak berubah sama sekali sejak seabad yang lalu. Masih sesak, penuh orang, terlalu ramai ditambah suara orang-orang bercampur suara pintu keluar masuk menuju area kereta yang mirip sarang lebah. Lumayan membuat pusing.

Kami keluar melalui exit F dengan perut yang sudah sangat keroncongan. Kami memang sengaja tidak memasukkan sesuatu apapun ke dalam perut karena kami sebelumnya sudah berencana akan langsung mencari makan begitu tiba di Causeway Bay. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, saya sering melakukannya hal ini di hari Minggu. Saya malas dan jarang sarapan karena lebih memilih merangkapnya dengan makan siang. Saya suka sekali menunggu perut sangat keroncongan, karena makan di saat kelaparan rasanya akan jauh lebih nikmat. Kebiasaan ini tapi tidak saya rekomendasikan buat sampeyan ya, karena berpotensi mengundang penyakit maagh :P



Namanya Restoran Dapoer Kita. Yang merekomendasikan tempat makan itu adalah teman saya. Sebagai seorang teman yang baik dan pengertian kedua kalinya, saya hanya manut saja menuruti keinginan teman saya agar dia bahagia *bhwahaha skip* Katanya warung makan ini baru buka dua mingguan. Lokasinya dari KJRI Hong Kong nyebrang ke arah deretan gedung kantornya Dompet Dhuafa Hong Kong, atau jalan ke arah jalan buntu. Di lantai dasar, gedung nomer dua dari jalan buntu. Tepatnya di bawah kanan palang gedung Shelternya Dompet Dhuafa.


Nasi ikan kuning pesanan teman saya datang lebih cepat dari ikan bakar yang saya pesan. Selagi menunggu, saya penasaran dan ikut incip-incip ikan kuning milik teman saya. Ketika ikan itu sampai di lidah, saya cukup kaget karena rasanya melebih apa yang saya harapkan. Enak, bumbunya pas dan rasa Endonesia banget.



Tak lama kemudian pesanan saya juga datang. Ikan bakar dengan sambal penuh menutupi seluruh ikan. Pertama kali yang saya lakukan adalah ndulit sambelnya. Saya dibuat kaget yang kedua kali. Rasa sambelnya manis, pedas dan tidak terlalu asin. Saya suka sambel tipe ini. Setelah itu saya lalu menyuwir ikan bakar yang warnanya kehitaman. Ikannya fresh dan terasa banget kalau sangat segar. Tapi kalau disuruh memberi nilai, dari total sepuluh saya terpaksa menyumbang angka 8,9.  Alasannya? Ikan bakar pesanan saya lumayan asin. Saya kurang suka sama jenis rasa ini. Eh tapi ini hanya penilaian saya saja loh ya, oranglain mungkin akan memberi nilai yang lebih tinggi. Semua hanya perbedaan selera hehe.

Selagi makan kami sempat berbincang-bincang sedikit dengan seorang ibu-ibu yang membantu di sana. Menurut ceritanya, pemilik restoran Dapoer Kita ini adalah pak Dody, berasal dari Bangka Belitung. Yang memasak adalah mantan chef dari warung Chandra di sebelah KJRI yang kini telah tutup. Sedang yang menjadi pegawai di Dapoer Kita ini adalah istri, anak dan menantunya pak Dody. Bisa dibilang ini seperti restoran keluarga . Pasti menyenangkan ya memiliki usaha yang pegawainya adalah keluarga sendiri. Setiap waktu bisa kumpul sama orang-orang terdekat dan tersayang hehehe.



Balik ke Dapoer Kita. Restoran ini tidak terlalu besar. Namun saya suka tempatnya yang nyaman, bersih dan enak dipandang. Desainnya ala kafe dengan pintu dan jendela terbuat dari kaca berwarna hitam besar tembus pandang luar dalam yang memenuhi bagian depan. Ada berbagai bebungaan dan dedaunan kering yang maaf saya tidak tahu apa itu namanya yang ditaruh di atas pot, di dalam botol beling dan di buat hiasan di bawah lampu. Tempat duduk dan mejanya mayoritas terbuat dari kayu. Ada tempat duduk dan meja tinggi tepat di depan peracikan makanan yang siap disajikan. Lalu di belakang peracikan makanan itu ada lemari kaca tinggi yang diisi dengan berbagai mocel cangkir, gelas, mangkuk dan beberapa sirup marjan yang dibuat hiasan.




Ada berbagai pilihan menu dan minuman yang bisa dipilih di daftar menu. Harga di Dapoer Kita ini agak murah di tempat makan lain yang sudah cukup terkenal di area Causeway Bay. Penyajian makanan dan minuman di rumah makan ini juga menarik. Mereka memakai tampah kecil yang diatasnya diberi kertas makan untu sajian nasi, lalapan dan sejenisnya. Lalu untuk minumannya, semuanya mereka memakai mangkuk atau gelas beling. Menjadi nilai plus karena di tempat lain ada yang beberapa masih memakai bahan yang mayoritas dari plastik dan stereofom.



Dapoer Kita ini bisa menjadi pilihan rumah makan untuk sampeyan yang ingin menikmati kuliner Indonesia di Hong Kong yang suasananya nyama, dan santai ala kekafean.

Alamat Rumah Makan Dapoer Kita: Causeway Bay, Haven Street Nomer 31. 


Yesi Armand Sha, HK, 16 Juli 2019.

7/08/2019

Kupi Pertama


Mulai bulan lalu saya nggupuhi teman ingin beli laptop. Sudah searching di Google, menonton rekomendasi di Youtube dan melihat-lihat di websitenya Fortress dan Broadway, tapi belum juga nemu yang ingin dibeli.

Sabtu siang saya mengontak teman lagi. Dia bilang Minggu sudah ada janji, tapi malamnya dia mengabari bahwa janjinya batal dan dia bersedia menemani saya. Membaca pesannya, saya girang bukan kepalang. Bukan tidak berani berangkat sendiri, hanya saja kurang percaya diri dan suka bingung memilih sendirian karena tidak ada yang diajak diskusi. Eh, sama saja kan ya? :D

Minggu, 7 Juli 2019, saya berangkat dari rumah menyesuaikan jam janjian yang telah kami buat. Setelah turun dari siupa/ mini bus, teman saya kirim WA mengabari bahwa diluar hujan. Belakangan cuaca memang sering membingungkan. Sebentar hujan deras turun, lalu berhenti, matahari muncul, agak lama, lalu hujan lagi, lalu matahari muncul lagi, dan begitu seterusnya. Saya tidak kaget dan tidak terlalu khawatir karena di dalam ransel sudah ada sebuah payung kecil.

Saya telat sepuluh menit. Teman saya sudah menunggu di dalam tempat makan fast food. Ia duduk di dekat tiang besar yang kursinya hanya satu. Kursi itu dibaginya dengan saya. Di sekeliling sudah penuh.

Duduk sebentar, teman menawari makanan tapi saya tolak karena sedang tidak ingin makan sesuatu dan saya lebih tertarik ketika melihat stand kopi di dalam fast food itu.

Sebenarnya saya tidak bisa minum kopi. Tubuh saya suka gemetaran selepas minum. Tapi rasa kepengen siang itu lebih kuat daripada ketakutan saya. Toh sudah sekian tahun tidak minum. Tapi bagaimanapun juga saat ingin beli, maju mundur. Melihat saya galau, teman saya  menyarankan beli yang cappucino saja, rasanya tidak terlalu strong. Saya menurut.

Setelah memesan, membayar lalu menunggu sebentar, segelas cappucino disodorkan pada saya. Tidak di dalam cangkir yang krimernya dibentuk cantik lalu bisa difoto dan  tampak instagramable, kopi saya berada di dalam cangkir  plastik yang jika difoto tidak secantik cangkir beling. Sengaja memilih demikian karena takut tidak habis di tempat. Jika memang demikian kan bisa dibawa keluar. Tapi ternyata tandas dalam sekali duduk. Siang itu, secangkir kopi mengisi perut saya yang sebelumnya belum diisi sesuatu.

Cappucino yang saya beli, di atasnya ada creamnya. Rasanya pahit. Ini adalah kali pertama saya mencobanya. Menurut saya rasanya masih enakan kopi buatan emak yang buahnya dipetik sendiri dari ladang di belakang rumah. Kopi orang kota itu tidak bersahabat dengan lidah udik saya.

Urusan perut sudah selesai. Beberapa menit kemudian kami meninggalkan fast food. Diluar, hujan masih meninggalkan sisa-sisanya. Jalanan aspal basah, trotoar paving di depan pertokoan juga basah. Tapi beruntung hujan sudah benar-benar berhenti, jadi kami tidak perlu membuka payung.

Tujuan kami adalah Mong Kok Computer Centre. Beberapa waktu yang lalu saya pernah kesana, tapi kami masih harus mencari lagi karena ingatan saya kurang baik tentang tempat itu. Setelah sempat sedikit salah jalan, lagi-lagi kami mengandalkan GPS teman saya. Berjalan beberapa menit akhirnya ketemu, tempatnya tak jauh dari fast food.

Mong Kok Computer Centre, tempat ini cukup ramai dan terkenal menjadi rujukan orang-orang yang mencari perlengkapan komputer. Terdiri dari tiga lantai, tidak terlalu besar sebenarnya, tapi lokasi yang cukup sederhana justru memudahkan pembeli untuk cepat menemukan apa yang ingin mereka beli.

Beberapa toko yang menjual laptop sudah kami datangi. Belum nemu yang sesuai keinginan dan kantong. Setelah mentok dari lantai tiga, kami turun ke lantai dasar dan keluar. Belum pulang, kami memiliki dua tujuan lagi yakni Broadway dan Fortress.

Di dua toko elektronik besar di Hong Kong itu kami melihat-lihat semua laptop yang mereka jual. Nasibnya seperti laptop di Mong Kok Computer Centre. Ada yang cocok di hati, namun tidak cocok di kantong. Ada yang cocok di kantong, tapi tidak cocok di hati. Manusia memang ribet bin beliebet, terutama saya.

Hari sudah semakin gelap. Tidak ada laptop yang jadi di beli. Bukan tidak jadi beli laptop, lebih tepatnya menunda beli. Tidak ada satu pun yang sreg, takutnya jika dipaksa membeli justru akan menyesal di kemudian hari.

Langit semakin memekat. Perut kami sudah mulai keroncongan, akhirnya kaki kami yang lelah karena wira-wiri berakhir di sebuah tempat makan yang cukup penuh pengunjungnya. Makan sembari istirahat, kami menghabiskan waktu kisaran satu jam di sana. Setelah menandaskan semua makanan, kami berpisah lalu pulang ke rumah masing-masing.

Setelah turun dari MTR, saya mampir ke restoran sebentar untuk membelikan makan malam buat nenek. Saya memilih menu ikan tumis brokoli. Sampai di rumah sudah malam. Nenek menyantap makan malamnya, saya langsung mandi.

Setelah keluat dari kamar mandi, saya istirahat sejenak, duduk di samping nenek di depan televisi. Nenek menawari saya makan, tapi langsung saya tolak. Perut saya penuh.

Pukul sebelas malam saya mematikan lampu. Nenek sudah lebih dulu tidur beberapa menit yang lalu. Saya kemudian naik ke ranjang di atas nenek, mengatur tempat tidur, merebahkan badan, membaca doa lalu memejamkan mata.

Beberapa menit berlalu. Saya merasa tubuh dan kaki sangat lelah. Pikiran gelisah dan tubuh mulai gemetaran. Pikiran saya berputar-putar, kira-kira gerangan apa yang membuat seperti itu. Lalu secangkir cappucino siang tadi melintas di benak saya. Ah, ini pasti karena kopi itu.

Hari ini  senin 8 Juli 2019, pukul lima sore waktu Hong Kong. Kopi yang saya teguk kemarin, efeknya masih terasa sampai sekarang. Tidak separah kemarin, tapi masih membuat tubuh saya gemetaran.

Kopi pertama adalah judul tulisan di blog setelah beberapa waktu lalu. Saat ngecek blog, ternyata sudah tiga bulan saya membiarkan blog ini tak tersentuh. Bhwaaa malas sekali saya ini.

Yesi Armand Sha, HK 8 Juli 2019.



4/30/2019

Choi Hung Estate, Rumah Pelangi yang Instagramable di Hong Kong




Hong Kong memiliki satu wilayah yang bernama Choi Hung. Jika diperhatikan dengan seksama, daerah di Choi Hung ini sangat berbeda dengan daerah Hong Kong lainnya. Hal paling umum yang bisa kita lihat adalah dari stasiun MTR-nya. Jika stasiun lain temboknya berwarna biru, kuning, merah atau hijau, maka di stasiun Choi Hung semua warna ini ada. Usut punya usut kenapa dibuat demikian, karena agar sesuai dengan namanya. Choi Hung sendiri adalah simbol dari warna warni tersebut. Dari bahasa Kantonis, Choi Hung berarti pelangi. Pernah nggak sampeyan kepikiran demikian? Pasti enggak kan? Sebelum saya riset mengenai tempat yang ada di tulisan ini, saya juga tidak kepikiran kok hihi.

Ketika membicarakan pelangi, di Choi Hung ini ada satu tempat yang berwarna-warni dan sangat terkenal. Tempat ini juga instagrambale banget. Salah satu spot foto yang wajib sampeyan kunjungi kalau maen ke Hong Kong. Iya loh, wajib! Secara, Hong Kong kan terkenal dengan sebutan ''Negeri Beton'', yang bisa dimaknai dengan negeri yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Jadi jangan ngaku pernah ke Hong Kong kalau belum narsis sama salah satu gedungnya, hihi maksa banget ya... Oiya tempat yang saya maksud instagramable banget ini namanya Rainbow Building, atau saya suka menyebutnya dengan Rumah Pelangi :D


polae anak jaman now :D



Jika hari Minggu atau hari libur, Rumah Pelangi ini selalu ramai oleh pengunjung. Saking terkenalnya, bukan hanya warga lokal dan mbak-mbak Te Ka We saja yang datang, tapi turis dari Cina dan Western juga kemari. Tapi mayoritas yang datang ke sini adalah anak-anak muda. Biasa mereka adalah yang hobi traveller, youtuber atau yang hobi update foto di Instagram *termasuk yang nulis* gubrakkk.





Jika dilihat-lihat, sebenarnya Choi Hung Rainbow Buliding ini hanyalah lapangan basket yang luas dengan background gedung-gedung hunian di kiri kanannya. Sebenarnya tak sedikit Hong Kong memiliki bangunan serupa, namun yang membedakan adalah lapangan dan gedung-gedung hunian ini dicat dengan warna-warna yang serasi dan membuattnya nampak eye catching banget.


Choi Hung Building ini dibangun pada tahun 1994. Lokasinya berada di Distrik Wong Tai Sin, Kowloon. Untuk akses ke sana bisa pergi dengan kereta bawah tanah/MTR turun di stasiun Choi Hung keluar melalui exit C4. Jalan keluar melewati semacam subway kecil dan ketika sampai diluar belok ke kiri, melewati Choi Hung Estate,Secondary School. Lokasi Choi Hung Rainbow Building ini tepat di atas parkir di depan sekolahan. Dari sekolahan perlu menyeberang dan menaiki beberapa anak tangga untuk sampai.

sampai di ujung belok ke kiri

menyeberang lalu menaiki tangga



Oiya tips untuk yang pengen fotonya nampak eye catcing banget, kalau kesana gunakan pakaian yang colourful, misal kuning kayak mbak-mbak di atas ini, agar warnaya lebih menyatu dengan bcakground :D (*)

*Yesi Armand Sha
HK, 1 Mei 2019.
YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES