1/10/2017

Pilihan Kumala

foto pixabay

Lengang. Tak ada suara TV atau orang berbicara. Hanya dentingan sumpit beradu dengan mangkuk dari arah Sinsang yang sesekali memecah kesunyian itu. Aku menyumpit joisam, kugigit separuh, sisanya kumasukkan kedalam mangkukku yang masih kosong. Sayur itu kudiamkan dalam mulut. Tak ada kekuatan untuk mengunyah. Mulutku serasa terkunci.

Dhai-dhai yang sedari tadi diam mulai menggerakkan tangannya. Dia menyumpit brokoli. Belum halus sayur itu dikunyah, dia berdiri.

‘’Ngo sikyunfan lah!’’ Dia beranjak dari kursinya, berjalan menuju kamar.

‘’Jumpo ti sung em ngam. Mo wai hau sikfan!’’ Sophia meninggalkan meja makan, yang kemudian diikuti oleh Stephi, saudara kembarnya.

‘’Ngo sikyun lah. Lei man-man sik a?” perintah Sinsang dengan nada tanya yang kujawab anggukan.’

**
Langit-langit kamarku seakan menyempit. Aku memandangi setiap sisi dan sudutnya dengan seksama. Aku baru sadar ternyata sudah sepuluh tahun menempatinya. Ruangan ini menjadi saksi sebagian perjalanan hidupku. Juga banyak cerita yang kuukir di dalamnya, namun esok pagi cerita itu hanya akan menjadi sebuah kenangan.

Kelebat wajah Sophia dan Stephi hadir dalam bayangan. Sepertinya baru kemarin aku melihat mereka lahir, tapi kini sudah beranjak dewasa. Aku sangat beruntung bisa merawat keduanya, karena dengan adanya mereka, aku bisa belajar mencintai, menyayangi dan memahami orang lain. Mereka berdua sangat dekat padaku, kami seperti memiliki ikatan yang kuat. Bahkan menurut orang-orang, kami bertiga memiliki wajah yang mirip.

Aku masih memaksa memejamkan mata. Setelah kedua anak asuhku, kini giliran kedua majikanku yang datang bergantian mengusik pikiran. Mataku panas saat mengingat semua perlakuan baik majikanku itu. Bukan perlakuan baik layaknya majikan ke pekerjanya, tapi perlakuan seperti saudara sendiri.

Di sini pekerjaanku hanya mengurus anak-anak. Pekerjaan rumah kukerjakan sesempatku. Bahkan di empat tahun terakhir, ketika aku mengambil kuliah di universitas terbuka Indonesia yang ada di Hong Kong, Dhai-dhai dan Sinsang yang sering merampungkan pekerjaan rumah. Ketika urusan anak-anak selesai, mereka menyuruh istirahat lebih awal agar aku bisa belajar.

Kadang timbul rasa sungkan pada mereka, sebab pekerjaanku yang ringan selalu diberi lebih banyak dari gaji yang semestinya. Mereka membiayai kuliahku. Dan saat wisuda kelulusan, mereka rela mengeluarkan uang untuk mendatangkan orangtuaku ke negeri beton ini. Selain kebaikan-kebaian itu, masih banyak kebaikan lain yang tak mampu kusebutkan. Mengingatnya hanya akan membuat hatiku menjadi ciut. Bingung memilih antara kemudahan mendapat uang atau tanah air.

**
HP-ku berbunyi. Ada pesan masuk di WhatsApp. Pesan dari Dhai-dhai yang berisi emoticon seseorang sedang bersedih.

Ma’am, Bagaimana anak-anak, apakah mereka baik-baik saja?

Aku kepikiran dua saudara kembar itu. Sudah sembilan hari mereka marah dan tak mau denganku, tapi aku tahu sikap itu hanya bentuk lain dari kesedihan yang tengah mereka rasakan.

Mereka baru saja tidur setelah merengek-rengek memintaku untuk membujukmu. Mala, apa kau tak bisa merubah keputusan itu?

Maaf Ma’am.

Oke. Aku mengerti. Apakah Alan menghubungimu?

Alan adalah adik dan satu-satunya saudara Dhai-dhai. Mengingat nama dokter berwajah teduh yang berada di negeri Gingseng itu, memunculkan kembali desiran aneh dalam hati. Desiran yang sama seperti saat ia menyatakan rasa sukanya padaku. Tujuh tahun lalu.

Terakhir kami komunikasi satu bulan yang lalu.

Sejak kecil aku dan dia selalu bersama. Aku mengenal sifat Alan melebihi dirinya sendiri. Dia bukan tipe laki-laki yang mudah menjatuhkan hatinya pada wanita. Tapi saat jatuh cinta, dia akan memperjuangkan apa yang menjadi pilihan hatinya. Seperti pilihan saat ia menjadi mualaf, seperti itu pula pilihan saat dia mencintaimu. Mala, jika kamu mau menerimanya, kamu tidak perlu bersusah payah mencari uang. Kamu bisa tinggal dengannya di Korea. Atau jika tak mau, kalian bisa menetap di Hong Kong setelah masa tugasnya di sana selesai.

**
Aku tidak membalas pesan terakhir Dhai-dhai. Aku tidak mau keputusanku yang telah mantap, goyah karenanya. Dan aku masih memaksa mengatupkan mata. Mencoba berdamai dengan gelap. Ah bukan, lebih tepatnya berdamai dengan hatiku sendiri. Aku harus mengakui, di dalam sana ada dua kekuatan yang saling tarik menarik.

Keraguan muncul kembali. Selama ini Dhai-dhai dan Sinsang sangat merestui jika aku menerima Alan. Aku tahu Alan juga sangat mencintaiku. Ia tetap setia menungguku dengan rasa yang sama selama tujuh tahun, walau selama itu pula aku selalu berkata tidak. Sebenarnya jika boleh jujur, aku juga selalu merasakan debar yang hebat saat melihat laki-laki penyayang itu tiap kali datang mengunjungi kakaknya.

Alan adalah seorang mualaf. Ia bercerita, pilihan itu awalnya karena aku. Dia rela melakukan berbagai cara demi agar bisa mengimbangiku. Tapi itu hanya di awal-awal saja, sebab semakin dalam belajar islam, ia merasa menemukan ketenangan dan kedamaian yang selama ini tak ditemukannya dalam hidup. Alan laki-laki yang berhati lembut, tampan, sudah mapan dan sangat menginginkanku. Bodohkah aku karena telah menolaknya?

**
Mobil Alphard hitam itu telah mengantarakanku sampai di Bandar udara Chek Lap Kok. Aku turun dari mobil mengambil koper kecil di bagasi. Tak banyak barang bawaanku, sebab sebulan yang lalu semua baju dan oleh-oleh sudah kupaketkan semuanya. Sinsang meraih koper itu, lalu menyuruh aku menggandeng kedua anak kembarnya. Meski tersimpan kesedihan di wajah mereka, tapi keduanya tak marah lagi.

Kegalauan dan kekacauan pikiranku semalam, pagi ini ntelah terjawab dengan mantap. Aku memilih tujuan awal kenapa aku bisa sampai di negeri beton ini. Niatku kala itu hanya bekerja, mengumpulkan uang yang banyak, membeli tanah dan aku punya cita-cita untuk mengabdi dan turut serta memajukan desaku yang masih terpencil dan terbelakang karena tingkat kemiskinan yang masih banyak. Aku ingin melihat desaku berkembang.

Aku selalu yakin bahwa niat baik, sekalipun belum terlaksana, akan dicatat satu kebaikan oleh Malaikat. Untuk itu aku tak pernah berhenti berdoa. Dan lambat laun, Alhamdulillah, keinginan serta mimpi-mimpi itu satu-per satu dikabulkan. Tuhan mengirimkan padaku dua sahabat kecil yang memiliki pemikiran dan impian sama.

Kami bertiga merintis semuanya dari nol. Setelah dana dari berbagai donator, dan dari teman-teman seperjuanganku di Hongkong terkumpul. Juga semua keperluan serta ijin dari aparat desa telah kami kantongi, akhirnya pada satu hari berdirilah Madrasah Ibtidaiyah atau sekolahan setara dengan Sekolah Dasar. Sekolah gratis itu kami dedikasikan untuk anak-anak yatim, anak putus sekolah dan kurang mampu agar mereka terbebas dari buta baca dan tulis. Kami ingin berpartisipasi memulai perubahan Indonesia itu dengan melakukan hal yang paling dasar.

Setelah pembangunan selesai, sekolahan itu berjalan sebagimana fungsinya. Kami memiliki total lima puluhan siswa dari kelas satu sampai kelas enam. Selain kedua temanku, ada dua teman lainnya yang bersedia membantu mengajar dengan sukarela. Dan ini adalah awal tahun ajaran kedua, dimana aku ingin sekali berpartisipasi di dalamnya. Untuk itulah aku pulang.

**
Kedua majikanku menyuruh check in lebih awal. Setelahnya mereka mengajakku yum cha. Restoran itu masih sepi. Di tengah acara makan, ponsel Dhai-dhai berbunyi. Dia mengangkat panggilan itu dengan suara pelan, kemudian bercakap sedikit menjauh dari kami.

Dhai-dhai datang. Dia menatap Sophia dan Stephi sambil menggerakkan kedua alisnya. Kedua anak itu tiba-tiba berkata ingin ke toilet. Aku sudah menggeser kursiku ke belakang, tapi kedua majikanku lebih sigap membawa kedua anaknya pergi. Mereka menyuruh aku menunggu saja, sebab mereka juga ingin ke toilet. Aku menangkap ada gelagat aneh pada tingkah mereka.

**
Aku sedang membalas pesan teman-teman di Facebook, hingga tanpa kusadari seseorang tengah berdiri di sampingku. Aku masih acuh sebab kukira dia adalah pelayan restoran yang mengantarkan pesanan makanan kami. Tapi seseorang dengan parfum yang kukenal itu duduk di kursi sebelahku. Aku menoleh kaget. Alan?

‘’Apa yang kamu lakukan di sini?’’ Aku tidak sadar bahwa ini adalah bandara. Siapapun boleh berada di sini.

‘’Kenapa kamu pulang tak memberitahuku? Apa aku sebegitu tak berartinya buatmu?’’ Nada bicaranya lembut seperti biasanya, tapi aku menangkap kesungguhan pada kalimat itu.

‘’Aku…’’ kalimatku terputus. Aku belum menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya.

‘’Mala, dengarkan aku baik-baik. Kamu adalah wanita pertama yang bisa membuat hatiku berdebar dan kamu juga wanita yang selamanya aku ingin bersama.’’

‘’Tapi kehidupan kita beda. Kenapa kamu keras kepala sekali? Diluar sana ada banyak gadis yang lebih cantik dan lebih segalanya. Kamu bisa memilih yang lebih baik dari aku, Alan.’’

‘’Kenapa kamu juga keras kepala sekali ingin pulang? Kenapa kamu mau bersuyah payah untuk anak-anak itu? Bukankah mereka tak memberimu bayaran?’’

‘’Di dunia ini, ada beberapa hal yang tak bisa dibeli dengan uang, salah satunya kebahagiaan. Dan jalan lain untuk membuat diri kita bahagia adalah dengan membahagiakan orang lain, membantu mereka dan berbagi dengan setulus hati. Saat kita melakukannya dengan cinta, kita akan mendapatkan kepuasan yang orang lain tak pernah bisa merasakan karena tak melakukannya.’’ Aku menjawab penuh semangat hingga tak kusadari Alan tengah tersenyum memperhatikanku.

‘’Meski kau tak secantik teman-teman gadisku, tapi kau selalu bisa membuat orang lain jatuh cinta. Kau melakukannya dengan hati, dengan cinta, itu yang tak kutemukan pada mereka. Tapi kau gadis yang manis dan tak membuat bosan. Itulah kenapa selama tujuh tahu aku hanya melihat kepadamu saja.’’

Aku tidak tahu kapan laki-laki pemilik rahang tegas ini pandai menuturkan kata sanjungan. Dan mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum dengan pipi yang memerah, menahan malu.

‘’Penerbanganmu pukul 10.25 kan?’’

Aku melihat jam di aplikasi Hp-ku. Ya, waktuku tinggal dua puluh menit. Aku segera berdiri dan menambil tas ranselku. Bersamaan dengan itu, kedua majikan dan kedua anaknya datang. Majikan yang sudah mengetahui situasi itu segera menyuruhku cepat meninggalkan restoran. Mereka berempat memandang Alan dengan senyum penuh arti.

‘’Ayo cepat.’’ Alan menjejeriku berjalan.

‘’Kamu mau kemana?’’

‘’Indonesia. Meminta restu orang tuamu.’’

Kaget. Aku menghentikan langkah.

‘’Matamu tak pernah bisa membohongiku, Mala. Kamu memiliki rasa yang sama denganku. Tapi jawabanmu selalu penolakan dengan alasan kita berbeda. Aku tahu apa yang kamu maksud beda. Aku bisa melakukan apapun demi kamu. Aku sudah memikirkan ini lama. Aku akan tinggal di Indonesia bersamamu. Seperti yang kamu katakana, aku juga ingin merasakan kebahagiaan dengan cara berbagi. Aku bisa menjadi dokter sukarela di tempat tinggalmu sana.’’

‘’Apa?’’ kekagetanku bertambah.

‘’Tapi maaf, kali ini aku hanya bisa tinggal selama empat hari disana. Aku akan melamarmu. Aku sudah mengurus semuanya. Masa berakhir tugasku di Korea bisa dipercepat. Empat bulan setelah ini, aku akan datang menikahimu.’’

Alan menarik tanganku. Ia memilih memegang pergelangan tangan yang terhalang oleh lengan panjang sehingga kulit kami tak bersentuhan. Kami berlari-lari kecil megejar waktu. Bibirku melengkungkan senyum kebahagiaan tanpa diketahuinya. Aku tak bisa berkata apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Akhirnya Tuhan memberiku keduanya, yaitu cinta yang selama tujuh tahun menginginkanku dan kemudahan jalan agar bisa menjadi bagian dan membantu anak-anak di desaku untuk mewujudkan impian mereka.(*)

*Juara 3 lomba cerpen  FSMI FLP-HK 2015.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES