1/19/2017

Taman Tulip

photo net

Arumi berjalan menyusuri jalan bebatuan berwarna kehijauan. Ia tak percaya jika dirinya tengah berada di taman luas penuh warna-warni tulip. Ada putih, hijau, merah, kuning, oranye, biru dan ungu. Sepanjang matanya memandang, bunga itu tampak menghampar luas. Beberapa masih kuncup, sebagiannya mulai bermekaran. Ia memutar badannya pelan-pelan, sambil membiarkan mata coklatnya menelanjangi bunga-bunga asal Asia Tengah di kiri kanannya itu.

Dengan kaki telanjang, ia berlari-lari kecil pada gang pembatas yang tanahnya sedikit becek. Kedua tangannya dibentangkan ke atas. Mata beningnya berbinar. Warna-warni bunga itu seakan menerbangkannya tinggi-tinggi. Dadanya penuh letupan kekaguman. Ia kehabisan kata untuk mengungkapkan keindahan taman yang telah menghipnotisnya itu. Dalam keterpesonaan, ia berteriak-teriak keras. Suaranya membahana ke segala penjuru. Dan itu membuatnya sadar, ternyata tak ada seorangpun selain dirinya di sana.

Gadis itu berteriak lagi. Lebih keras. Tak ada sahutan pun suara orang lain. Yang terdengar hanya pantulan suaranya sendiri. Perasaannya mulai cemas. Ia bingung dan berlarian tak tentu arah. Tanpa sadar kakinya berpijak di atas tumbuhan berbunga itu.
Bunga-bunga yang diinjaknya rusak. Bunganya, daunnya dan batangnya patah, terputus sendiri-sendiri. Mereka seolah bertingkah seperti manusia, berlarian dan berlompatan kesana-kemari mencari susunannya. Ia mendengar mereka mengerang kesakitan, berteriak, memaki dan menyalahkannya. Suara itu mengganggu dan membuatnya ketakutan. Matanya dipejamkan seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat. Sejenak kemudian ia menangis meraung-raung.

‘’Arumi! Arumi!’’

Ia masih menangis.

‘’Arumi.’’

Samar-samar terdengar, ia memasang telinganya baik-baik. Namanya kembali dipanggil. Ia mengenali suara itu. Saat matanya terbuka, dilihatnya ibu tengah berdiri tak jauh di depan sana. Sosok itu mengenakan baju serba putih. Wajah teduhnya tersenyum lembut. Serta merta Arumi berlari menujunya dan kembali menginjak tulip-tulip indah.

**
‘’Rum. Arumi!’’

Arumi membuka mata, ditemukannya wajah Eva penuh kekhawatiran.

‘’Mimpi lagi?’’

Yang diajak bicara hanya bergeming, kemudian mengelap keringat di dahi.

‘’ Ini minum dulu.’’

Ia meneguk air putih yang diulurkan Eva. Sahabatnya itu kini kembali ke ranjang susun di atasnya. Sementara ia duduk bersandarkan bantal yang diberdirikan di belakang punggungnya. Tatapannya lurus. Ia terbayang senyum dan tatapan sendu pada wajah ibu. Wajah yang sangat dirindukan tapi takkan pernah ada kesempatan untuk melihat lagi. Ada sebersit rasa sedih dalam hati. Di pikiranya memutar bayangan kejadian lalu. Ia rindu bapak juga adik-adiknya.

Kala itu setelah ibu meninggal dan bapak sakit-sakitan, sebagai anak tertua dari empat bersaudara, ia merasa ikut bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga. Selain mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia juga harus membiayai sekolah adik-adiknya. Keadaan terpaksa itulah yang membuatnya membulatkan tekad melarung nasib ke negeri beton.

Dalam hidup kadang cara Tuhan sulit dipahami. Lalu karena ketidaksabaran, manusia tergelincir dalam tindakan nekad. Seperti itulah yang dialami Arumi. Di negeri beton nasibnya tak sebaik teman-temannya. Dalam waktu dua tahun, ia mengalami tiga kali pemutusan kontrak kerja. Selain break juga diinterminit.

Awalnya ia selalu yakin, bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Tapi kemudahan yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia tak bisa lagi bersabar, sebab visa tinggalnya sudah habis tapi belum juga mendapat majikan. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk mengikuti jejak temannya yang overstay. Overstay adalah sebutan untuk PMI yang tidak memiliki ijin tinggal resmi di negeri beton ini.

Empat tahun overstay, ia hidup kucing-kucingan dengan imigrasi dan polisi Hong Kong. Kemanapun pergi harus hati-hati, sebab sewaktu-waktu bisa saja tertangkap oleh mereka. Dan selama itu pula, ia selalu mengirim uang ke Indonesia dua kali bahkan kadang tiga kali lipat lebih banyak dari gaji sebagai PMI. Oleh bapak, uang itu dibuat untuk membangun rumah, membeli ladang, sawah dan ditabung. Arumi bekerja serabutan. Menjadi tukang bersih-bersih tempat penginapan, tukang cuci piring di restoran dan bekerja di bar. Namun pundi-pundi dolar terbesar mengalir dari lelaki bermata biru.

Lelaki bermata biru itu berasal dari negeri kincir angin. Mark namanya. Malam itu Mark berkunjung ke bar di daerah Wan Chai. Tujuannya datang ke tempat hiburan bukan demi kesenangan dan kepuasan, melainkan mencari teman yang bisa diajak bicara dan bercerita. Di tengah kehidupan Hong Kong yang gemerlap, lelaki pendiam itu merasa sendiri dan kesepian. Lalu takdir mempertemukannya pada gadis Indonesia itu. Di mata Arumi, lelaki bertubuh tinggi, kurus dan pemilik rahang tegas itu sosok yang ramah dan sopan.

Sering bertemu, akhirnya Arumi mengerti kepribadian Mark. Lelaki pemilik hidung tinggi yang menunjukkan ketegasan karakternya itu seolah jiplakan dirinya. Jiplakan akan prinsip yang selalu Arumi terapkan untuk berpegang teguh pada adat ketimuran. Ya, meski tiap malam akrab dengan aroma alkohol, rokok dan hentakan musik keras, tapi ia tak pernah menjadi bagian dari dunia gemerlap itu. Ia juga tak rela jika tubuh semampainya dijamah lelaki asing meski diberi imbalan berlembar-lembar dolar.

Mark yang cerdas, pandai dan berpengetahuan luas, laksana pintu bagi Arumi untuk menjelajah ke dalam dunia penuh wawasan. Pun sebaliknya, lelaki berkulit putih itu terpesona pada sosok Arumi yang pendengar, suka mengalah dan menyenangkan. Gadis berkulit langsat itu bisa mengimbangi Mark. Pembicaraan keduanya selalu nyambung. Seringkali jika terlalu asik bercengkerama di balkon apartemen Mark, mereka tak sadar jika malam telah berganti pagi.

**
‘’Wajahmu pucat. Apa kau tak enak badan?’’ Tanya Eva saat menatap wajah sahabatnya dalam cermin.

Arumi menggeleng dengan senyum lemah.

Eva meraba dahi Arumi, ‘’Kau sakit Rumi! Kau harus istirahat!’’

Arumi tak mendengarkan perintah Eva untuk tinggal. Ia hanya merasa sedikit kelelahan, dan keadaan itu akan membaik dengan sendirinya. Ah, itu alibi, sebenarnya ia ingin bertemu Mark. Ya, malam itu jadwalnya berkunjung ke apartemen Mark. Di sana ia akan menemani lelaki itu memasak, makan malam bersama dan mendengarkan Mark bercerita, ia akan mendapat upah dua kali lipat dari bekerja di bar dan jadi tukang cuci piring. Moment itu sayang kalau dilewatkan.

Gadis berkulit langsat itu naik MTR jurusan Tsuen Wan, dan kereta bawah tanah itu sudah berhenti di stasiun Jordan. Arumi keluar dari ular besi yang mengantarkannya. Namun sejenak hatinya ragu. Tak seperti biasanya. Entah kenapa malam itu pikirannya bimbang. Ia berjalan pelan menaiki eskalator. Langkahnya terasa berat saat tulisan Exit sudah terlihat. Ia merasa seperti ada seseorang yang menahan kakinya melangkah.

Apartemen mewah yang menjulang tinggi itu sudah terlihat oleh mata gadisnya. Ia masih memaksa kakinya berjalan. Tapi entah apa yang ada dipikiran gadis itu, seharusnya ia menyeberang jalan raya kemudian berjalan melewati deretan penjual makanan ringan, dan ia akan sampai di bawah apartemen, namun ia malah berbelok ke kanan menekuri jalan panjang, menanjak, menurun, kemudian belok kiri dan setelahnya memasuki subway.

Langkahnya terhenti saat ia keluar dari subway dan tiba di sebuah taman kecil. Ia duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu. Di taman itu ada banyak loyanka duduk. Juga anak-anak kecil yang bermain bersama teman dan orang tuanya. Ia memandangi mereka lama. Tiba-tiba diantara orang-orang itu ia melihat sosok ibu. Berpakaian putih, tersenyum dengan tatapan bahagia. Tatapan yang beda saat ia lihat di taman tulip dalam mimpi yang datang tiga malam berturut-turut.

Hawa Hong Kong di tengah musim panas malam itu cukup dingin. Malam semakin beranjak. Taman mulai sepi. Satu per satu orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. Dalam pencahayaan yang terang, ia melihat dua orang berseragam berjalan santai. Ia buru-buru beranjak agar tak ketahuan, sebab dua laki-laki itu polisi. Arumi pergi dan ia baru sadar dari ketidaksadarannya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 23.45.

**
Akhirnya gadis itu sampai di bawah apartemen Mark. Setelah diijinkan oleh satpam, ia segera masuk lift. Ketika lift yang dinaikinya berbunyi, pintu itu terbuka dan ia langsung disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya kaget. Mata gadisnya melihat garis pembatas panjang berwarna kuning, beberapa orang polisi, dan kerumunan wartawan lokal tepat di depan pintu apartemen.

‘’Pukul 20.00 tadi, bapak tukang sampah menemukan dua koper di depan apartemen ini. Masing-masing koper ada dua mayat perempuan tanpa busana dengan luka-luka di seluruh tubuh. Laki-laki pemilik apartemen itu sudah ditangkap. Ia mengakui pembunuhan itu.’’ Jawab seorang wartawan wanita yang ia tanyai.

‘’Tak mungkin! Aku kenal baik dengan lelaki itu!’’ Arumi tak percaya. Ia membela Mark.

‘’Polisi menduga lelaki itu memiliki penyakit kejiwaan. Ia terlihat baik dan manis, tapi ada saat di mana ia tak punya hati dan menjadi iblis. Ia pandai sekali menutupi sisi busuk dirinya.’’

Lutut Arumi terkulai lemas. Mau tidak mau ia harus mempercayai itu. Namun hatinya mengucap kalimat syukur. Ia tak bisa membayangkan seperti apa nasibnya jika tadi ia langsung menuju apartemen Mark. Ia ingat pukul tujuh tadi ia keluar dari MTR dan kemudian entah bagaimana ceritanya ia bisa sampai di taman dekat subway.

Seorang polisi berbadan kekar melihat Arumi. Ia berjalan ke arahnya. Belum sempat polisi itu bertanya, Arumi lebih dulu menyela: Saya seorang overstay, saya ingin pulang ke negara saya dan sekarang saya ingin menyerahkan diri.(*)

*Yesi Armand Sha

*Termuat di ApakabarPlus-HK. Cerpen ini ditulis karena tragedi Wanchai pada November 2014.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES