1/23/2017

Jilbab Hijau Muda

photo net

Setengah tergesa Wien menyusuri beberapa anak tangga di depan pintu masuk pasar Wan Chai. Tas belanja yang penuh dengan sayuran menggantung di pundak kanan. Beratnya beban membuat tubuhnya yang kecil berjalan sedikit lambat.

Belasan wanita berkulit sawo matang seperti dirinya tengah bergerombol di depan toko yang hendak ia tuju. Wien melongokkan kepala. Matanya berjelajah ke dalam, mencari-cari sesuatu.

“Apa mungkin jilbabnya sudah laku?’’ tanya Wien pada dirinya sendiri. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak saat ia teringat perkataan laki-laki berwajah Pakistan pemilik toko itu tempo hari, bahwa jilbab hijau muda itu hanya tersisa satu dan sudah tidak produksi lagi.

“Lima hari lagi aku gajian, tolong simpankan jilbab ini buatku, Brother.’’ Pinta Wien di suatu pagi tempo hari.

“Maaf aku tak bisa melakukannya. Jika kau ingin aku menyimpannya, paling lama hanya sampai nanti sore, atau besok pagi.’’

“Tolonglah, Brother. Bulan ini semua gajiku sudah kukirim pulang karena ibuku sakit dan kedua adikku membutuhkan biaya sekolah. Nanti begitu gajian dan memegang uang, aku pasti akan langsung membelinya.’’

“Sekali lagi maaf, aku tak bisa. Jika jilbab ini sudah laku terbeli orang lain, itu tandanya tidak berjodoh denganmu, Sister. Yang perlu kamu lakukan hanya mengikhlaskannya.’’

Walau kecewa, Wien mengangguk. Hatinya membenarkan perkataan laki-laki itu.

**

Jilbab itu lebar berbentuk segiempat. Bermotif bunga kecil-kecil dihiasi manik-manik indah di pinggirnya. Sebenarnya Wien sudah menyukainya saat pertama kali melihat, tapi ia ingin membeli jilbab itu untuk diberikan pada mbak Alif sebagai hadiah ulangtahun mbak Alif yang keduapuluh lima. Wien sering membayangkan saat jilbab hijau muda yang cerah itu beradu dengan kulit wajah mbak Alif yang putih, pasti akan membuat gadis kalem yang lebih tua tiga dua tahun darinya itu terlihat semakin cantik.

Di negeri Bauhinia yang sebatangkara ini Wien menganggap mbak Alif layaknya saudara. Mbak Alif sangat baik, mau menasehati dan menegur Wien saat ia salah. Mbak Alif juga selalu ada untuk Wien apapun keadaannya.

‘’Kenapa ya mbak, teman seringkali dekat kalau ada maunya.’’ Tanya Wien pada mbak Alif suatu kali.

“Tidak semua teman seperti itu. Makanya kita harus pandai memilih teman. Kalau kita berteman karena kebaikan, tak akan ada cerita tentang udang di balik rempeyek.’’

Wien tersenyum menanggapi candaan mbak Alif itu, tapi beberapa detik kemudian tatapannya kembali nanar. Ia teringat saat puncak musim dingin tahun lalu semua teman-temannya menjauh secara bersamaan. Padahal saat itu mereka tahu Wien yang baru diinterminit belum juga mendapat majikan baru dan visa-nya hanya tinggal dua hari. Wien juga tak memiliki persediaan uang banyak karena gajinya telah ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya itu di restoran mahal tepat tiga hari sebelum ia diinterminit.

Hari terakhir sebelum esoknya Wien harus meninggalkan Hong Kong, ia tak sengaja bertemu dengan mbak Alif di kantor agen. Mbak Alif yang saat itu hendak renew kontrak seolah mengerti masalah dan keresahan yang dirasakan Wien.

‘’Kebetulan neneknya majikanku mencari cece. Orangnya baik sekali, kalau kamu mau, aku bisa mengenalkannya.’’

‘’Saya mau mbak. Jaga apa saja saya mau, asal cepat mendapat majikan,’’ ucap Wien sungguh-sungguh.

‘’Jangan seperti itu, kamu harus ketemu dulu agar hatimu lebih mantap dan tak menyesal di kemudian hari.’’

‘’Baik mbak. Hari ini bisa ketemu nenek, kan?’’

‘’Aku bisa mengantarkan. Tapi nenek sukanya sama orang yang sederhana dan tidak neko-neko. Apa kamu tidak keberatan jika hanya berpenampilan biasa saja?’’

‘’Tentu, mbak.’’

Wien pamit ke kamar mandi dan gegas membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan make-up di wajahnya. Rambut yang tadinya diikat dua menyerupai girlband asal negeri Ginseng pun sudah rapi dengan kuncir simpul satu di belakang. Ia merasa beruntung bertemu dengan mbak Alif, karena perempuan berjilbab itu mau membantunya tanpa melihat penampilan Wien yang saat itu seperti anak punk dan urakan.

Lalu pada akhirnya setelah pertemuan itu, Wien bekerja di tempat nenek yang rumahnya satu flat tapi beda lantai dengan majikannya mbak Alif. Wien yang polos, yang mudah terpengaruh teman dan mudah berubah pendirian akhirnya menemukan teman yang tepat. Tidak ada alasan bagi Wien untuk tak dekat dengan mbak Alif, sang sosok panutan itu. Waktu libur Wien tak lagi habis di bar atau club lagi, tapi detik tiap jamnya ia gunakan untuk mengaji di masjid bersama mbak Alif.

**

Wien memaksa kakinya yang terasa tak memiliki kekuatan untuk terus melangkah masuk, dan kedatangannya langsung diketahui olek laki-laki Pakistan pemilik toko.

‘’Jilbabnya baru saja dibeli orang, Sister. Sepertinya memang tidak berjodoh denganmu.’’

‘’Sayang sekali, padahal aku kemari hendak membelinya.’’ Wien menunduk, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang murung.

‘’Masih ada jilbab lain bermotif sama tapi warnanya merah marun. Kamu lihat dulu barangkali suka.’’

Tangan laki-laki Pakistan itu lihai mencari-cari jilbab yang ia maksud diantara jilbab-jilbab lain yang digantung memanjang. Dan setelah ketemu, ia memperlihatkan pada Wien.

“Lihat, ini juga bagus, Sister.’’

Wien menerima jilbab itu. Mengamati, membolak-balik dan membayangkan apakah jilbab itu cocok dipakai mbak Alif.

“Baiklah aku ambil, Brother.’’

Sebelum pulang, Wien menyempatkan mampir ke toko yang menjual alat tulis untuk membeli kertas kado. Rencananya nanti malam ia akan membungkus jilbab itu dan esoknya akan di berikan pada mbak Alif. Tepat di hari ulangtahun perempuan itu.

**

‘’Selamat hari lahir ya Mbak. Semoga umurnya berkah dan kebaikan selalu menyertai hari-hari Mbak.’’

Mbak Alif memasukkan bingkisan dari Wien ke dalam tas, lalu tangannya menarik sesuatu yang dibungkus kertas kado berwarna pink dari dalam tas itu. Sesuatu itu ganti disodorkan pada Wien.

‘’Terimakasih, Wien. Ini aku juga ada sesuatu buat kamu.’’

‘’Apa ini mbak?’’ tanya Wien polos.

Mbak Alif tersenyum.’’Dibuka saja biar tidak penasaran.’’

Wien menurut. Tangannya terampil membuka isolasi yang merekatkan tiap ujung kertas. Mata Wien terbuka lebar dan dahinya berkerut saat bungkusan itu telah sempurna terbuka.

‘’Jilbab ini…’’ Wien menggantung kalimatnya. Sengaja membiarkan mbak Alif memberi penjelasan.

‘’Saat itu aku melihatmu ingin membelinya, tapi waktu itu aku juga belum mempunyai uang. Dan kemarin setelah aku gajian, saat ke pasar, aku melihat jilbab itu masih ada.’’ Terang mbak Alif.

‘’Jadi mbak Alif yang membelinya?’’

Mbak Alif tersenyum lantas mengangguk. Ia tidak tahu jika sebenarnya Wien ingin membelikan jilbab hijau muda itu untuk dirinya. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di Tabloid ApakabarPlus HK, Edisi Agustus 2016.

*Yesi Armand Sha.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES