1/26/2017

Langit Berwarna Hitam

di Republika

Langit berwarna hitam. Sepertinya hujan segera turun. Hari ini Getar tidak kerja. Ia meminta bibik tinggal di rumah dan ia sendiri yang menjemput Sakti. Sepuluh menit yang lalu sekolahan bubar. Kini Getar duduk di bangku kayu depan sekolahan.

Sakti tengah bermain kejar-kejaran dengan seorang anak gadis yang rambutnya dikuncir ekor kuda. Sakti gantian mengejar setelah bahunya berhasil disentuh oleh anak gadis itu. Mereka terus seperti itu. Berlarian. Bergantian menjadi pengejar dan dikejar. Getar tersenyum getir. Tingkah mereka seperti gambaran dirinya bersama Aluna di masa kecil.

Getar kecil suka sekali mengganggu Aluna yang sedang menggambar menggunakan cat cair.

”Ekor kuda…, Ekor kuda…,”

Setelah berhasil menarik rambut Aluna yang dikuncir ekor kuda, Getar menjulurkan lidah dan menempelkan kedua tangannya di telinga. Mengejek. Aluna marah. Gambar langit berwarna hitam yang hampir selesai ditinggalkan begitu saja. Lantas mengejar Getar yang lari ke taman belakang. Mereka kejar-kejaran hingga membuat pot tanaman mama bergeser dari tempatnya.

Mama marah mengetahui nasib pot tak di tempatnya. Sebagai hukuman, mereka harus membetulkan letak pot-pot itu, sekalian mencabuti rumput yang tumbuh. Setelah satu jam, mama memanggil mereka. Menyuruh cuci tangan dan masuk. Rupanya mama telah menyiapkan puding coklat susu saus vla vanila kesukaan mereka. Mama tidak benar-benar marah. Hukuman itu hanya pelajaran agar setelah dewasa nanti mereka bisa menjadi orang yang bertanggung jawab.

Tidak Aluna maupun Getar, mama akan memberi sangsi jika mereka bandel. Mama memperlakukan kedua anak seumuran itu tanpa pilih kasih. Meski bukan anaknya, mama menyayangi Aluna seperti sayangnya pada Getar. Aluna sering menginap dan tidur bersama mama jika ayahnya bertugas ke luar kota. Di rumahnya tak ada siapa-siapa. Ibu Aluna meninggal ketika melahirkan anak perempuan cerdas itu.

**
Dua puluh empat tahun usianya. Aluna sudah besar. Gadis itu tidak cantik, hanya sangat manis dengan lesung di kedua pipinya. Aluna juga mandiri dan pemberani. Tak lagi takut di rumah sendirian jika ayahnya pergi ke luar kota.

Bakat menggambar yang dimiliki sejak kecil mengantarkannya menjadi pelukis yang namanya diperbincangkan. Semua lukisannya laris diminati kolektor. Baru-baru ini ada yang terjual di luar negeri. Namun Aluna bukan seorang pelukis yang produktif. Ia hanya melukis ketika waktunya longgar. Dan waktu luang itu jarang ada, sebab hari-harinya habis bersama anak-anak yatim piatu. Ia relawan di sebuah yayasan sekaligus museum permainan anak di kota itu.

Tak ada yang lebih menggembirakan bagi seorang Aluna selain mendengar kabar sahabatnya akan pulang. Dua tahun setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta, Getar belum pernah kembali. Mama sangat rindu. Beruntung ada Aluna yang menghibur, yang tiap akhir pekan meluangkan waktu untuk menemani mama merawat tanaman dalam pot di taman belakang sembari mendengarkan mama bercerita.

Hari yang dinanti tiba. Sejak pagi Aluna membantu mama di dapur. Memasak makanan kesukaan Getar. Detik berjalan. Menit berganti. Jam berlalu. Dan bel berbunyi.

Dua tahun waktu yang singkat untuk membuat Getar tumbuh menjadi lelaki perkasa. Aroma kebahagiaan buncah memenuhi hati mama. Aluna juga bahagia. Ia terus tersenyum dan berusaha bersikap wajar walau ada sesuatu yang merongrong di sudut hatinya. Dadanya sesak melihat wanita yang berdiri di samping Getar dan dikenalkan sebagai kekasihnya.

Namanya Andini. Perempuan kota yang dari ujung kaki sampai ujung rambut telah disentuh kemodernisasian jaman. Perempuan pemilik bibir tipis bergincu merah merona. Rambutnya yang sebahu, lurus terurus dengan baik. Jari-jari tangannya panjang dengan cat merah disetiap kukunya. Tubuhnya tinggi langsing, tampak sekali hasil bentukan mesin-mesin gym.

**
”Wanita yang baik itu yang mau kotor-kotor dengan peralatan dapur.” Mama melirik Andini yang tiap selesai makan langsung meninggalkan meja dan duduk di depan televisi.

Sebenarnya mudah sekali mengambil hati mama yang penyayang itu. Hanya menjadi penurut dan bersedia sedikit saja membantu melakukan pekerjaan rumah, atau membantu merawat tanaman dalam pot, pasti mama akan menyayangi sepenuh hati. Namun Andini yang terbiasa dilayani pembantu dan suka berbuat semaunya, membuat mama enggan tersenyum padanya.

Watak dasarnya yang cuek membuat Andini tak merasa harus menghiraukan orang lain. Getar sangat mencintai Andini melebihi dirinya sendiri. Andini tahu itu. Getar rela berbuat apa saja yang ia minta. Bahkan beberapa kali ketika Andini mengancam putus, berkali-kali Getar meminta maaf dan memohon-mohon agar Andini tak melakukannya.

”Sebenarnya kamu disihir pakai apa sih sama perempuan kota itu, Tar?”

”Mama jangan ngomong gitu dong.”

”Kenapa anak mama bisa berubah seperti ini? Andini memang cantik. Tapi kecantikan saja tidak cukup, Tar. Mencari wanita juga harus yang memiliki budi pekerti yang baik. Tidak malas dan tidak memikirkan diri sendiri. Apa kamu mau jika punya anak nanti, anak kalian ditelantarkan di rumah, sedang waktu ibunya habis untuk jalan-jalan, pergi ke salon atau tempat gym? Wanita itu pengayom. Tempat pulang keluarganya.”

Ketenangan dan kebahagiaan yang dirindukan ketika tiba di rumah, justru melesat dari bayangannya. Getar serba salah. Mama sering menunjukkan sikap tak menyukai Andini. Dan perempuan kota itu tak peduli. Hingga puncak perang dingin itu terjadi pada suatu sore.

Sandal mama yang alasnya sudah tipis tak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh Andini. Mama terjengkang ke belakang. Beruntung tangan Aluna lebih sigap menahan badan mama. Namun kejadian yang tiba-tiba itu membuat Aluna kehilangan keseimbangan. Akhirnya mereka jatuh ke tanah dengan posisi badan mama di atas tubuh Aluna.

Mama baik-baik saja dan Aluna tidak terluka. Hanya saja malam saat hendak melukis, Aluna merasa sakit di pergelangan tangannya. Berkali-kali kuas yang dipegang jatuh. Tangannya seolah tak punya kekuatan untuk bergerak. Paginya ia memeriksakan ke rumah sakit karena mendapati memar di bagian bawah ibu jari. Ia shock. Dokter bilang tangannya mengalami patah tulang yang cukup serius.

Andini tak ingin terlibat lebih jauh. Ia memutuskan pulang ke Jakarta lebih dulu.

”Kini hidupnya tak secerah warna dalam lukisan-lukisannya. Ini semua gara-gara mama.”

”Semuanya kecelakaan. Aluna tidak marah. Mama jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu dong. Dia lebih kuat dari yang mama pikirkan.”

”Bagaimanapun juga, melukis tak bisa dipisahkan darinya. Kamu belum pernah tahu saat tiba-tiba ia tertawa atau matanya menetes di depan papan putih kosong itu. Kuasnya bergerak mengikuti kemelut hati, bercerita tentang hari-harinya, tentang kerinduan pada ibu yang belum pernah dilihat. Aluna tetap seorang wanita yang lemah. Ia lebih rapuh dari yang kita lihat, Tar.”

”Mama tak pernah minta apa-apa, Tar. Tapi jika kali ini mama minta sekali saja, apa kamu bersedia memenuhi? Tidak apa-apa jika keberatan. Dan anggap mama tak pernah mengatakan ini.”

”Permintaan apa, Ma?” Hati Getar cemas.

**
Pernikahan itu terjadi. Hanya keluarga dekat yang diundang. Akadnya dilakukan di masjid. Syukuran di gelar di yayasan tempat Aluna menjadi relawan. Getar mengabulkan permintaan mama untuk menikahi Aluna. Sahabat kecilnya sangat mama inginkan menjadi menantu.

”Tanaman mama dalam pot pelan-pelan tumbuh dan sekarang sudah tinggi. Begitulah cinta, akan tumbuh perlahan-lahan, Tar.”

Getar memboyong Aluna ke Jakarta. Ia baru mengabari Andini tentang pernikahan itu satu minggu kemudian.

”Maafkan aku, Din. Maafin aku banget.”

Berpuluh-puluh kali kata maaf keluar dari mulut Getar. Andini marah. Menangis. Memukul-mukul dada Getar. Ia merasa sangat bersalah pada Andini. Seharusnya ia menuruti perkataan mama untuk segera memberitahu Andini setelah akad itu terucap.

”Tega banget kamu khianatin aku, Tar.”

Andini tak mau kehilangan Getar. Ia baru menyadari jika dirinya benar-benar mencintai Getar. Kantor mereka bersebelahan. Andini selalu menemui Getar tiap istirahat dan pulang kerja. Tak jarang meminta Getar menemaninya jalan-jalan. Laki-laki itu mengiyakan, sebab dalam hatinya masih menyimpan nama Andini.

Rasa bosan menyergap Aluna yang tinggal sendiri di apartemen. Tak ada kanvas putih yang bisa dicoret-coret. Tak ada tanaman dalam pot yang perlu dirawat. Dan tak ada anak yayasan yang keceriaannya bisa mengusir sepi. Aluna hanya menonton televisi, membaca buku dan menunggu Getar yang kadang dua hari sekali baru pulang. Hidupnya terasa gelap. Ia stres. Dokter melarangnya banyak memikirkan sesuatu, sebab hal itu tak baik buat kandungannya.

**
Langit berwarna hitam. Hujan sudah turun. Rintiknya jatuh di atas payung lebar yang menaungi tubuh anak dan bapak itu. Sakti tidur di gendongan tangan kiri Getar. Bocah lucu empat tahun itu tak terganggu suara hujan yang berisik. Pulas ia tidur. Sesekali kepalanya miring ke kanan dan menyebabkan lesung di pipinya terlihat jelas ketika Getar menoleh hendak membetulkan posisi kepala anaknya.

Hujan semakin deras. Butirannya besar-besar jatuh. Baju Getar bagian lengan basah oleh air yang baru diusap dari matanya yang panas. Lesung pipi Sakti mengingatkannya pada Aluna.

Empat tahun lalu Getar mendapat telpon dari rumah sakit ketika langit sudah gelap. Mobilnya segera dilajukan berbalik haluan dari arah jalan menuju hotel yang telah Andini sebutkan. Kandungan Aluna sangat lemah dan ia mengalami banyak pendarahan. Getar terlambat. Sakti lahir namun Aluna menyerah.

Seminggu setelah Aluna meninggal, mama memberikan lukisan-lukisan Aluna yang sebulan sebelumnya dititipkan pada mama. Semua lukisan itu bergambar tentang seorang laki-laki dan perempuan. Lukisan tentang anak laki-laki menarik rambut anak gadis yang dikuncir ekor kuda. Lukisan tentang anak laki-laki dan anak gadis tengah berlarian di taman belakang rumah. Di lukisan lain anak laki-laki dan perempuan itu sudah remaja memakai seragam biru putih. Ada pula yang berseragam abu-abu.

”Aluna menyukaimu sejak kecil, Tar.” Getar melihat lukisan tentang seorang laki-laki yang sudah dewasa bersama seorang perempuan cantik. Itu bukan perempuan yang sama dengan lukisan-lukisan sebelumnya.

Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan hatinya yang hancur. Ia berjalan menuju kamar mandi. Mengunci pintu. Menyalakan kran air. Sesenggukan duduk di lantai sambil memeluk lukisan terakhir yang mama serahkan. Sebuah lukisan tentang langit berwarna hitam dan seorang anak perempuan kecil. Lukisan yang bercerita tentang rindu, sedih, sepi dan sunyi milik Aluna. (*)

* Cerpen sederhana ini Alhamdulillah terpilih menjadi juara 2 program Bilik Sastra RRI Voice of Indonesia tahun 2016.
Yesi Armand Sha.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES