11/20/2017

KJRI HK dan FLP HK Gelar Workshop Jurnalistik Tanpa Politik

Minggu, 7 November 2017, bekerja sama dengan KJRI HK, FLP HK mengadakan workshop kepenulisan yang dihadiri oleh sekitar 90 peserta yang kesemuanya adalah BMI Hong Kong. Dengan mengambil tema "Jurnalistik tanpa Politik", workshop kali itu menghadirkan narasumber M Aji Surya, seorang mantan jurnalis Tempo dan juga Arifin Asydhad, founder detik.com.

Sebagai mantan jurnalis yang sudah lama terjun ke dalam dunia tulis menulis, M Aji Surya yang saat ini menjabat sebagai Pensosbud Diklik di Korea Selatan itu memberikan tips menulis kepada para peserta di ruang Mezanin KJRI Hong Kong siang itu.

M Aji Surya. Foto FLP HK

‘’Tulisan apa yang menarik? Buatlah tulisan yang tidak diketahui oleh publik, tulisan yang membuat mereka terinspirasi, sedih, iba dan membuat orang lain ingin tahu,’’ tutur M Aji Surya.


‘’Karena media adalah urusan yang wow, maka akan sangat membantu penulis jika ia tahu tentang sesuatu yang sedang wow, atau istilahnya sedang trending. Sesuatu yang sedang dibicarakan oleh publik itu bisa dikaitkan dengan isi tulisan kita dan dipastikan itu bisa menjadi daya tarik orang lain untuk membaca dan penasaran dengan tulisan kita,’’ tambah M Aji.

Selain M Aji Surya, Arifin Asyhdad yang saat ini menjadi pimred Kumparan.com, juga membagikan kiat-kiat menulis kepada para peserta. Arifin mengatakan bahwa menulis itu harus bertanggung jawab.

Jangan jadi penulis yang tidak bertanggung jawab seperti yang sedang marak di media sosial belakangan ini, di mana judul dan foto tidak sesuai dengan isi berita. Juga jangan jadi penulis yang copas tanpa menyebutkan sumbernya. Karena itu seperti nyolong tulisan orang lain. Jika ketahuan bisa dilaporkan dan berurusan dengan hukum.


‘’Kiat yang kedua, pahami apa yang ditulis. Jangan sampai menulis sesuatu yang kelihatannya keren dengan bahasa tingkat tinggi namun tak tahu apa maksud tulisannya. Kiat yang ketiga adalah deskriptif, maksudnya ada data dan hal-hal yang dimasukkan.

Untuk kiat keempat, sempit dan fokus. Buat kalimat jangan panjang-panjang, maksimal 20 kata. Karena tulisan yang baik adalah tulisan yang mudah dipahami dan tidak membuat pembaca ngos-ngosan ketika membacanya. Dan untuk kiat yang terakhir adalah news value, buatlah tulisan yang mempunyai nilai lebih. Yang punya nilai jual,’’ tutur Arifin Arsyad.

Arifin Arsyad. Foto FLP HK


Selain kedua narasumber, ada juga wakil pimred kumparan.com, Rachmadin Ismail yang mengajak dan memberi semangat peserta untuk menulis. Rachmadin mengatakan, bahwa semua orang, termasuk BMI Hong Kong bisa menjadikan Kumparan sebagai tempat untuk latihan menulis.
Rachmadin kemudian mengajari peserta bagaimana caranya login ke kumparan.com, lalu menulis, dan ngepost tulisan.

Foto FLP HK


‘’Kumparan itu dijangkau oleh 900-an ribu pembaca. Jadi jika teman-teman menulis di sana, tulisannya bisa dibaca orang banyak. Kan lebih bermanfaat menulis di sana daripada pengalamannya ditulis di buku diary dan hanya dibaca sendiri,’’ tutur Rachmadin. (*)

9/30/2017

Kejutan dari Sarah

photo net

Sarah memang penuh kejutan. Setelah mengabaikan panggilanku puluhan kali, ia mengangkat telpon dan langsung berkata bahwa nanti kami akan bertemu di stasiun. Ia juga memintaku untuk tak menghubunginya lagi. Belum sempat kutanyakan ia memakai baju apa, telpon sudah diputus. Setelah itu ponselnya tidak aktif.

Aku menghubungi tante Emma untuk menanyakan foto Sarah. Tujuh tahun sejak Sarah pindah sekolah di Singapura, aku tak pernah bertemu dengannya. Aku khawatir tak mengenalinya lagi. Maka dengan melihat potret Sarah, pasti aku akan langsung tahu jika itu dirinya saat berpapasan nanti. Beberapa menit kemudian balasan dari tante Emma kuterima, tapi membaca isi pesan itu membuatku sedikit kecewa sebab gllery HP-nya hanya menyimpan foto Sarah saat masih kanak-kanak.

Aku tahu hubungan ibu-anak itu tak lagi harmonis sejak om Danu meninggal. Setelah kematian suaminya, tante Emma lebih banyak menghabiskan harinya di kantor daripada menemani anak tunggalnya itu di rumah.

‘’Biarkan Sarah tinggal di rumahku selagi kamu tidak ada, Em.’’ Pinta mama suatu hari sebab tak tega melihatnya.

‘’Di rumah ada bibi yang mengawasinya. Biarkan ia belajar mandiri.’’

‘’Ia juga bisa belajar mandiri di rumahku. Lagi pula tidak hanya bermain, ia juga bisa mengerjakan PR dan belajar bersama Raka. Aku akan mengawasinya. Bukankah begitu kamu bisa bekerja lebih tenang?’’

‘’Aku mau di sini, Ma.’’ Sarah merengek.

Tante Emma menggeleng.

‘’Sarah mau di sini sama tante Anna juga Kai.’’ Rengek Sarah lagi. Ia memasang wajah memelas dan membuat tante Emma terpaksa mengeluarkan kalimat persetujuan.

‘’Baiklah kalau itu yang Sarah inginkan. Tapi ingat, tidak boleh nakal dan membuat repot tante Anna.’’

Sarah mengangguk kegirangan.

Sejak hari itu Sarah sering tinggal di rumah kami yang berjarak beberapa atap dari rumahnya. Jika tante Emma keluar kota, ia akan tidur dengan mama. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Mama memperlakukan Sarah sama sepertiku. Konon aku tahu, dulu mama ingin sekali memiliki anak perempuan yang manis dan penurut seperti Sarah.

Sarah memang suka membuat kejutan. Seperti hari ini, ia bisa saja naik pesawat dari Singapura langsung turun di bandara Ahmad Yani yang jaraknya lebih dekat dengan kota kami. Tapi nyatanya ia turun di Jakarta, lalu perjalanan ke Semarang ditempuh dengan naik kereta, hingga akhirnya aku-lah yang menjadi tumbal ulahnya itu.

‘’Tolong jemput adikmu ya, Raka.’’ Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan permintaan tante Emma itu karena jujur aku tak mau terlibat dengan urusan persiapan pernikahan.

**
‘’Kereta dari stasiun Gambir ke Tawang datang Pukul 15.15.’’ Seorang wanita berwajah oval dari balik loket customer service menjawab pertanyaanku.

Aku memeriksa angka pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Masih ada sisa waktu dua puluh menit. Kakiku melangkah gontai sedang perasaanku gusar tak karuan. Aku masih bingung bagaimana caranya untuk menghubungi Sarah.

Cukup lama berjalan mondar-mandir tapi akhirnya aku menyerah. Aku duduk di bangku tunggu seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di sana. Di bangku itu orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada seorang ibu muda terkantuk-kantuk menggendong bayinya yang sudah lelap. Jarak dua kursi darinya seorang gadis mengenakan rok bermotif bunga dan atasan baju warna biru dongker, sedang menekuni deretan huruf dari buku yang dipegangnya.

Masih ada beberapa wanita muda dan orang dewasa yang duduk di sana, tapi aku tak bisa melihat apa yang mereka lakukan. Aku juga tak berniat mencari tahu, karena aku lebih tertarik untuk memerhatikan gadis yang duduk di deretan bangku yang sebaris denganku. Dia duduk di ujung kiri, sedang aku ada di ujung kanan.

Gadis itu mengenakan celana gunung warna hitam, dipadukan kaus putih yang dibalut hem kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai siku. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dan sebuah topi yang dipasang terbalik bertengger di atasnya. Gadis itu sepertinya tak terganggu dengan keramaian di stasiun, karena matanya fokus pada buku gambar kecil yang tengah dicoret-coret oleh tangan kanannya. Melihat apa yang tengah dilakukannya, tiba-tiba ide cemerlang untuk menemukan Sarah mampir ke tempurung kepalaku.

**
Suara gambang Semarang mengalun merdu di sudut ruangan, lalu disusul suara petugas melalui pengeras suara yang menginfokan bahwa kereta dari Jakarta hampir tiba. Mendengar itu aku mepraktekkan ideku tadi‒berdiri di dekat pintu penumpang keluar, lalu mengamati setiap penumpang wanita berusia kisaran dua puluhan tahun.

Berjejalan orang berjalan. Riuh suara anak kecil, ketepak sandal, dan suara roda koper kecil yang beradu dengan lantai membuat tempat itu berubah laksana pasar dadakan. Mataku berjelajah memerhatikan penumpang yang keluar satu per satu.

Cukup lama berdiri, tapi aku belum menemukan Sarah. Sebenarnya ada beberapa gadis yang kusapa, tapi diantara mereka tak ada yang mengaku bernama Sarah. Lama menunggu. Bau keringat orang-orang mulai hilang dan tempat itu menjadi lengang, tapi tak ada lagi sosok yang melewati pintu keluar selain petugas stasiun yang menatapku aneh.

Hatiku cemas. Tak mungkin aku pulang tanpa membawa Sarah karena melakukan itu sama saja dengan memancing amarah singa. Aku malas jika harus berhadapan dengan papa. Sudah hampir satu minggu ini aku enggan bertatap muka dengannya. Jika kami kebetulan sama-sama di rumah, aku lebih betah berdiam dalam kamar menghadapi kertas dan rancangan-rancangan yang kubuat untuk tugas kuliah .

Berkali-kali mataku melesat ke arah pintu keluar. Jari-jariku bertaut satu sama lain. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana jika Sarah ternyata sudah keluar lalu dijadikan bahan rebutan oleh para sopir taksi, sopir angkot dan sopir becak agar mau menggunakan jasa mereka. Bagaimana jika Sarah menurut lalu sopir itu memeras uang dan perhiasannya. Lalu bagaimana jika Sarah menolak memberikan lalu orang-orang itu melukai Sarah. Ah, aku pusing memikirkannya.

Sarah sudah besar, ia bisa menjaga dirinya sendiri.

Aku menasehati diriku sendiri untuk tak buru-buru terprovokasi dengan asumsi yang kubuat sendiri.

‘’Kai.’’

Langkahku terhenti ketika berjalan melewati bangku tunggu dan hendak menuju customer service lagi. Aku seperti mengenali panggilan itu.

‘’Kai.’’

Aku berhasil mengingat. Kai adalah kata pertama dan kedua dari nama Raka Inggil Prambudi yang disingkat. Ya, benar. Meski sudah lama sekali tak mendengar, tapi aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Dan orang yang memanggiku seperti itu hanyalah Sarah.

‘’Kai.’’

Suara itu diulang tiga kali. Aku menoleh dan kedua bola mataku cepat menemukan sosok gadis bertopi terbalik dan memakai celana gunung .

‘’Kamu…’’ Suaraku tertahan, sengaja membiarkan gadis itu mengungkap siapa dirinya.

‘’Sarah.’’

‘’Ini kamu, Sarah?’’ Sebisa mungkin mataku mengamati tiap inchi wajah di depanku itu. Tapi sedikitpun tak ada sisa wajah kecilnya yang kukenali dari wajah yang mulai dewasa itu.

Gadis itu meletakkan jari telunjuknya di atas hidung lalu menjulurkan lidah. Aku baru percaya jika ucapannya benar karena gerakan itu adalah hal yang sering kami lakukan di waktu kecil untuk saling mengejek.

‘’Kamu sudah di sini sejak lama, kan? Sebenarnya apa yang terjadi, hah?’’ tanyaku penuh kekhawatiran.

‘’Aku sudah mengenalimu sejak kau masuk.’’

‘’Lalu kenapa tak menyapaku? HP-mu juga nggak aktif?’’

Sarah menyodorkan buku gambarnya yang ketika halaman itu kubuka satu per satu tampak penuh dengan sketsa bangunan beserta aktivitas orang-orang di stasiun ini. Lalu, ketika tanganku sampai di lembar yang terakhir, aku melihat sebuah sketsa wajah laki-laki yang tengah mencuri pandang ke arahnya. Melihat itu sekonyong-konyong membuatku ingin tersedak. Laki- laki itu memiliki wajah oval dengan sedikit bulu di dagunya. Melhat ciri-cirinya, aku yakin bahwa laki-laki itu adalah orang yang tengah menahan malu yang kini berdiri di depannya.

‘’Jadi kamu tahu?’’

Ia terkekeh. Mengejek.

‘’Jadwal keretamu baru tiba beberapa menit yang lalu, tapi kau sudah di sini sejak lama. Sebenarnya apa yang terjadi?’’ Aku mengulang pertanyaan dengan tujuan mengalihkan pembicaraan.

‘’Aku naik kereta malam.’’

Lagi-lagi, Sarah memang penuh kejutan. Ia tak memberitahu siapapun tentang perubahan jadwal perjalanannya.

‘’Jadi kamu hampir seharian di sini? Kamu salah beli tiket? Kenapa tak memberitahu siapapun? Aku kan bisa menjemputmu lebih awal?’’

‘’Pertanyaanmu banyak sekali. Aku harus menjawab yang mana dulu?’’ jawabnya santai seolah tak mempedulikan kecemasanku.

‘’Tak ada yang perlu kau jawab. Sekarang ayo pulang.’’

‘’Pulang?’’Sarah tertawa hambar,”Pernikahan itu, apa kau menyetujuinya?’’

’’Setuju atau tidak, apakah akan ada yang berubah?’’ Dadaku sesak.

Sarah diam. Aku pun demikian. Hening untuk beberapa saat lamanya.

‘’Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Berikan kunci mobil dan ponselmu.’’ Sarah mematikan ponselku kemudian gegas menuju parkiran dan bodohnya aku menurut saja.

‘’Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dipikirkan orang dewasa.’’ Sarah duduk di belakang setir. Ia menyuruhku tidur di jok sebelahnya. Aku tak tahu kapan Sarah bisa menyetir, aku juga tak tahu kapan ia mengenali daerah ini dan aku juga tak tahu apa yang tengah direncanakan Sarah. Hanya saja yang aku tahu, besok adalah hari yang dipilih papa dan tante Emma untuk menikah. Mungkin nanti malam mereka akan kebingungan dan lapor polisi perihal hilangnya aku dan Sarah. Ah, iya aku lupa satu hal. Sarah bilang akan membangunkanku begitu kami tiba di tempat yang tak bisa ditemukan tante Emma dan papa. Mendengar kata-kata Sarah itu membuatku rindu akan senyum hangat seorang wanita yang bertahun-tahun tak pernah kulihat dan kini aku tak tahu dimana ia berada. Aku merindukan mama. (*)

*Cerpen ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK. 30-9-2017.

9/28/2017

Alysa dan Lelaki dalam Teng Teng

pixabay

Laki-laki itu melihat Alysa berdiri diantara barisan rapi penumpang masuk Teng Teng. Tak banyak penumpang di dalam kereta listrik yang lintas relnya di tengah itu. Alysa menaiki beberapa tangga menuju dek atas. Laki-laki itu duduk berjarak lima kursi di belakang Alysa. Dan gadis berwajah bulat telur itu tak tahu jika sedari tadi dirinya diikuti oleh seseorang.

Ponsel di tangannya bergetar. Tak diangkat. Dua jam yang lalu, hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini menghubunginya. Mbak Umi.

Sejak awal mbak Umi tak suka melihat Alysa dekat dengan Zad. Lelaki asal Negeri Kangguru yang mualaf empat tahun lalu. Apapun hal baik tentang Zad yang Alysa ceritakan pada mbak Umi tak pernah mendapat respon baik.

”Kenapa mbak selalu berpikiran negatif pada Zad? Bukankah kita dilarang su’udzon mbak?”

”Bukan su’udzon. Aku hanya mengingatkanmu agar lebih hati-hati, Sa.”

Alysa tak mengerti kenapa mbak Umi selalu menaruh curiga pada Zad. Lelaki bertubuh jangkung itu banyak mengalami perubahan menjadi lebih baik. Setiap hari Zad tak penah absen bertanya pada Alysa perihal agama yang baru dipeluknya itu melalui WA.

”Apa mbak Umi juga mencurigai Zad saat kita bertemu dia di masjid Wanchai?”

Alysa mengingatkan mbak Umi tentang pertemuan mereka dengan Zad setiap minggu di lantai dasar masjid Ammar Wanchai. Mbak Umi sebenarnya tahu lelaki berkulit putih itu belajar Islam dan belajar membaca huruf Hijaiyah di masjid yang merupakan simbol kekuatan syiar Islam di daerah yang disebut Red Zone oleh penduduk Hong Kong itu. Namun mbak Umi meragukan sorot yang terpancar dari mata biru lelaki itu.

”Aku tidak yakin, Sa.”

Mbak Umi masih tak percaya Zad. Teman yang dianggap Alysa sebagai kakak itu malah mengenalkan Alysa pada Hanif. Keponakannya yang bekerja di sebuah perusahaan finansial di Indonesia.

”Agamanya bagus, Sudah mapan dan dia sangat menyayangi keluarganya. Kalian cocok jika bersama.” Mbak Umi berharap Hanif bisa mengganti sosok Zad di hidup Alysa.

”Terimakasih mbak. Tapi ini kehidupanku. Aku yang memutuskan dan menjalaninya.’’

Alysa mulai tak suka kehidupan pribadinya dicampuri orang lain. Walau sebenarnya gadis itu tahu mbak Umi melakukan hal tersebut didorong oleh rasa khawatir. Alysa sudah banyak mendengar tentang gadis-gadis Indonesia yang bekerja di Negeri Beton memiliki cerita menyedihkan setelah mengenal laki-laki asing.

Gadis-gadis manis dan polos itu tergoda rayuan manis laki-laki berkulit putih. Setelah sang bule berhasil menjerat hati sang gadis, mereka menikahinya. Jika bule itu baik dan bertanggung jawab, mereka hidup bahagia. Namun jika nasib gadis tak beruntung, beberapa tahun setelah menikah, bule itu akan meninggalkan sang gadis yang sudah menjadi istrinya.

Selama menjadi istri bule, kebanyakan gadis itu lupa niat awal bekerja ke Negeri Beton. Mereka lupa keluarga dan uang gaji tiap bulan dihabiskan bersama suaminya. Jika gadis itu masih sadar, mereka akan menyesali dan memulai hidup baru dari awal. Namun jika luka yang tertoreh di hatinya sangat dalam, tak sedikit yang memilih hidup overstay. Kehidupannya dipenuhi keputusasaan. Mereka terjerat dalam dunia kelam. Mengenal minuman keras dan narkoba. Mbak umi tak ingin Alysa menjadi salah satu gadis dari golongan kedua.

Tak ada yang tahu jika selama ini Zad menyukai Alysa. Dari pembicaraan yang sering ditanyakan di WA, Zad tahu Alysa bukan gadis seperti umumnya. Gadis berhati lembut itu memegang teguh prinsip untuk tidak mau pacaran. Jika saling mencintai, maka menikah lebih utama. Tulis Alysa selalu dalam pesannya pada Zad.

”Keputusanmu terlalu cepat, Sa. Kamu belum benar-benar mengetahui dia yang sesungguhnya.”

Mbak Umi kaget ketika mendengar kabar Zad ingin mengkhitbah Alysa.

”Kurasa empat tahun bukan waktu yang singkat mbak.”

”Apa kamu sudah memberitahu keluargamu tentang hal ini?”

”Aku akan memberitahukan nanti.”

Mbak umi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa hal besar yang akan menentukan kehidupan Alysa ke belakang nanti, justru tak didiskusikan terlebih dahulu dengan keluarganya.

**
Teng Teng Teng Teng

Kendaraan itu bernama Tramways. Dalam bahasa kantonis disebut Tin Che. Namun tak sedikit orang yang menyebutnya Teng Teng. Hal itu dikarenakan bunyi bel-nya yang sedemikian rupa. Dan kini bel itu telah berbunyi yang kesekian kalinya. Banyak halte telah dilewati. Wajah-wajah berbeda penumpang turun dan masuk bergantian memenuhi kereta listrik yang hanya ada di daerah Hong Kong Island itu.

Susah payah seorang wanita paruh baya yang membawa beberapa tas belanjaan sampai di dek atas. Perempuan gendut itu menoleh kesana kemari namun mata sipitnya tak menemukan kursi kosong. Laki-laki itu berdiri. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh perempuan itu duduk di tempatnya. Laki-laki itu berdiri sedikit ke belakang. Matanya masih tetap menatap Alysa.

Alysa mendekatkan wajah bulat telurnya ke jendela yang daun pintunya hanya separuh. Angin sore bebas menyapu setiap inci wajah bulatnya dan mengerak-gerakkan ujung jilbabnya. Ponselnya bergetar lagi. Dari orang yang sangat mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Awalnya semua baik-baik saja. Dua jam yang lalu Zad menelpon Alysa dan meminta dengan sedikit memaksa agar bersedia makan malam di rumahnya. Zad ingin mengenalkan Alysa pada ayahnya. Alysa mengiyakan. Hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Kali ini kamu harus percaya, Sa!

Suara mbak Umi sungguh-sungguh di ujung telpon.

Mbak ngomongin apa sih? Alysa tak mengerti.

Aku sudah mengirimkan fotonya di WA. Kamu lihat sendiri.

”Apa maksud ini semua? Bagaimana Mbak Umi melakukan ini. Darimana ia mendapatkannya.”

Rupanya Alysa tidak tahu jika beberapa minggu belakangan mbak Umi sibuk mencari informasi tentang Zad. Diam-diam mbak Umi pergi ke lokasi yang kemungkinan didatangi Zad. Alysa tidak tahu jika beberapa minggu mbak Umi tak mau makan malam dengannya itu, bukan lantaran marah karena Alsa tak pernah mendengar nasehatnya. Namun setelah mereka bertemu dengan Zad di lantai dasar masjid Wanchai, mbak Umi diam-diam mengikuti laki-laki itu.

Alysa tak ingin percaya. Namun foto-foto berikutnya mengungkap kebenaran yang tak dapat dipungkiri. Laki-laki memakai jaket hitam yang tangannya merangkul wanita memakai tank top dan rok mini, laki-laki yang meminum segelas besar bir, juga laki-laki di lembar foto lainnya yang tengah menari-nari mengikuti kerlap-kerlip lampu bioskop itu Zad.


**
Teng Teng berhenti di halte depan library Causeway Bay. Sebuah perpustakaan terbesar yang ada di pusat kota Hong Kong. Laki-laki itu melihat Alysa beranjak dari kursinya. Menuruni beberapa tangga, menempelkan kartu octopus di mesin pembayaran. Setelah bunyi Tut dari mesin terdengar, Alysa keluar dari pintu depan tempat penumpang turun. Laki-laki itu melakukan hal yang sama.
Berdesakan penumpang turun. Lampu merah di kiri dan kanan halte masih menyala. Alysa tak sabar untuk segera menyeberangi jalanan itu. Begitu Teng Teng yang baru saja ia naiki berjalan, kakinya melangkah hendak menerobos lampu merah.

”Alysaa…!!” Laki-laki yang mengikuti Alysa itu berteriak dan menyeretnya ke belakang. Tubuhnya terpental. Hampir saja Alysa jatuh.

”Apa kau tak melihat lampu itu?!” Laki-laki itu memarahinya.

Semua orang memandang Alysa aneh. Beberapa penduduk lokal mengomel dan memarahinya karena sembrono. Alysa tidak tahu jika dari arah berlawanan ada Teng Teng melaju yang tidak terlihat karena tertutup Teng Teng yang baru saja dinaikinya.

”Maaf.” Alysa menyesal.

”Apa kau baik-baik saja?’’

Laki-laki jangkung berkulit putih itu berbahasa Indonesia.

”Tadi kau memanggil namaku. Apa kau mengenaliku?”

Laki-laki itu tak menjawab. Tangannya mengisyaratkan Alysa untuk jalan. Lampu telah berubah hijau.

”Ternyata kau lebih cantik daripada di foto.’’

”Apa kau mengenaliku?” Alysa mengulang pertanyaannya ketika mereka sampai di seberang.

”Senang bertemu denganmu. Aku Hanif.”

Alysa memutar kedua bola matanya. Mengingat-ingat nama yang akrab di telinganya itu.

”Hanif. Apa kamu keponakannya mbak Umi?”

Laki-laki itu mengangguk.”Bulek banyak bercerita tentangmu.”

Alysa mengernyitkan dahi.”Seberapa banyak mbak Umi bercerita?”

”Dulu bulek pernah mengalami. Seorang bule mualaf asal New Zealand menikahinya. Ketika kepulangan mereka ke Indonesia, bulek rela meminjam uang puluhan ribu dolar Hong Kong di bank. Tapi beberapa tahun selepas itu, bulek ditinggalkan begitu saja. Tak ada kabar sama sekali dari suaminya. Semua akses untuk menghubunginya terputus. Pengalaman itulah yang membuat bulek bersikeras memaksaku ke sini. Hanya untuk menemuimu.”

Dua bulir bening melandai di wajah bulatnya. Hatinya kebas. Rasa bersalah, haru dan terima kasih bercampur jadi satu. Aku menyayangimu tulus, Sa. Seperti kakak pada adiknya.Kalimat yang sering mbak Umi ucapkan itu mendengung di telinganya.

Alysa mempercepat langkah menyusuri Victoria Park agar cepat sampai di bawah tenda putih, di tempat mbak Umi kini berada. Dan laki-laki itu masih bersama Alysa. Tak lagi mengikuti namun menjejeri langkah gadis yang membuat hatinya bergetar ketika pertama kali melihat fotonya yang dikirim oleh buleknya. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK.

9/04/2017

Laki-laki itu Tengah Terlelap

photo net

Aku biasa mengenali kedatangannya dari bunyi derap sepatunya yang beradu dengan lantai. Biasa setelah menutup pintu, ia akan menautkan matanya dengan retinaku. Lalu menanyakan bagaimana kabarku, yang tak lupa disertai dengan seulas senyum hangat dari bibirnya yang kebiruan. Hari ini aku tak tahu ia tiba jam berapa. Aku tak mendengar suara sepatunya dan tak tahu kapan ia masuk. Tiba-tiba saja aku melihat laki-laki itu sudah terlelap di atas kursi separuh sofa berwarna abu-abu itu.

Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, sedang kedua kakinya terjulur ke lantai. Kepalanya menunduk dengan kedua bola mata yang mengatup sempurna. Dari gerak napasnya yang naik turun dengan tenang, tampak sekali ia tengah menikmati tidur dengan posisi duduk itu. Tak seperti aku yang jika tidur harus terbujur di atas kasur, ia bisa pulas di sembarang tempat.

Agaknya memang laki-laki itu diciptakan untuk mudah tidur. Aku ingat kala kami masih kanak-kanak, teman-teman jarang mau melibatkan ia ke dalam sebuah permainan yang mengharuskan untuk sembunyi.

”Aku ikut bermain,” pintanya pada teman-teman kala itu .

”Tidak! Kalau sembunyi kamu selalu ketiduran. Menjengkelkan sekali,” tolak salah satu teman kami.

”Kali ini aku tak akan tidur sembarangan.” Ia menempelkan jari kelingkingnya dengan ibu jari, sedang ketiga jari lainnya tegak lurus menghadap ke atas. Ia membuat janji.

Sebelum pendirian teman-teman goyah, laki-laki itu tak akan berhenti membujuk. Ia terus berkata-kata melafalkan janji-janjinya dengan suara berisik, yang pada akhirnya membuat teman-teman merasa risih dan laki-laki itu diterima untuk bergabung bermain.

Tiga kali putaran, permainan masih berjalan dengan baik. Tapi di putaran selanjutnya, janji yang diucapkan oleh laki-laki itu tinggal kata-kata belaka. Kami kembali dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali. Ya, lagi-lagi ia membuat aku dan teman-teman kelimpungan mencari tempat persembunyiannya.

Setelah lama dicari, salah seorang teman kami kadang memergokinya tengah berdiri dengan mata terpejam dan tubuhnya menempel di tembok dekat gang kecil yang menghubungkan rumahku dengan sumur belakang. Atau di lain waktu ia ditemukan sedang mendengkur di dekat tumpukan kayu kering yang akan dipakai sebagai bahan bakar untuk menggoreng krupuk. Pernah juga ia ketiduran di atas dahan pohon kopi di belakang rumahku. Laki-laki itu mudah sekali tidur. Mungkin itu imbas karena malamnya ia terjaga terlalu larut sebab setelah membungkusi krupuk di rumahku, ia harus belajar setelah sampai di rumahnya.

Laki-laki itu kadang memang menjengkelkan, tapi aku juga tak menampik kenyataan kalau aku sering diam-diam memperhatikannya ketika ia datang dengan sepeda onthel yang belnya selalu diputar berulang-ulang. Suaranya yang cempreng ketika menyapa bapak selalu membawa kakiku untuk cepat-cepat lari menuju jendela kaca berwarna hitam yang tak tembus pandang jika dilihat dari luar. Di pojokan jendela itu aku sesekali mengulum senyum sambil mengamati laki-laki itu yang dibantu bapak memasukkan krupuk-krupuk memenuhi dua keranjang belakang sepedanya.

”Ini catatannya. Hati-hati dan cepat pulang.” Pesan bapak.

”Enggeh pak.” Laki-laki itu menerima kertas dari bapak, mempelajarinya dengan cermat lalu memasukkan ke dalam tas slempang kecil berbahan kulit yang mulai mengelupas. Setelahnya, laki-laki itu gegas memutar sepeda onthel tuanya dan bersiap menyetorkan krupuk ke toko-toko sesuai dengan kertas yang berisi catatan tulisan tangan bapak itu.

**

Laki-laki itu masih terlelap. Beberapa kali kepalanya bergerak-gerak seakan hendak roboh, namun tidak jadi jatuh karena lekas tegak kembali. Melihatnya, aku jadi kasihan. Sepertinya ia mengantuk sekali atau barangkali sangat kelelahan.

Sebenarnya aku sudah sering menasehatinya agar lebih banyak istirahat di rumah. Berkali-kali pula kukatakan agar di usianya yang mulai senja itu, ia lebih fokus memperhatikan kesehatannya dan mengurangi pekerjaan di toko buku.

Agus dan Iwan sudah bekerja bertahun-tahun. Tabiat baik dan kejujurannya sudah tampak. Mereka amanah, percayakan saja urusan toko pada mereka. Kamu tak perlu pergi ke toko setiap hari,” kataku suatu hari.

”Aku pun memiliki pandangan sepertimu tentang mereka. Tapi masalahnya bukan percaya atau tidak. Hanya saja jika otak ini jika tak digunakan untuk bekerja sebagaimana mestinya, aku takut akan lebih cepat pikun sebelum waktunya. Bagaimana jika aku tak bisa mengenalimu lagi. Aku tak ingin hal itu terjadi padaku,” kilahnya menggodaku.

”Kamu kan bisa menghabiskan waktu dengan merawat taman di depan rumah, mencabuti rumputnya, dan memangkas tanaman yang keluar pagar.”

”Semua itu tak menyenangkan jika dilakukan sendirian. Lagipula belakangan toko ramai. Tenagaku cukup dibutuhkan disana.”

Laki-laki itu memang seorang pekerja keras. Bahkan ia sudah mandiri sejak kecil. Ketika anak-anak seusianya sibuk menadahkan tangan pada orangtuanya untuk meminta uang jajan, ia telah memiliki penghasilan sendiri. Upah membungkusi dan mengantar kerupuk yang diperoleh dari bapak cukup untuk memenuhi sakunya. Bahkan setelah dikumpulkan berbulan-bulan, bisa membantu ibunya untuk membayar bulanan sekolahnya sendiri.

Semua tahu jika laki-laki itu sudah lebih dewasa dari usianya. Ia menjaga ibu dan adik semata wayangnya dengan baik. Ia tak pernah membuat khawatir ibunya dan tak pernah membuat marah perempuan berbadan ringkih itu. Ia berubah menjadi laki-laki yang lebih tanggung jawab sejak bapaknya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun.

Laki-laki itu tak mau menyusahkan ibunya. Ia selalu berusaha menghasilkan uang sendiri. Sejauh yang kutahu, selama kuliah ia jarang menggunakan uang kiriman dari ibunya. Semester satu sampai tiga ia biayai kuliahnya dari upah kerja paruh waktu. Di semester lanjutan sampai akhir, ia menghasilkan uang dari berdagang. Ia berjualan apa saja. Kadang kulakan baju, celana atau sepatu untuk dijual pada teman kost atau teman kampusnya.

Aku mengetahui dengan baik perjuangan kerasnya itu, karena kebetulan kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal di tempat kost yang tak terlalu jauh. Ah bukan. Sebenarnya itu bukan kebetulan. Jika mengingat hal itu aku selalu merasa berhutang budi padanya.

”Ayolah tolong aku sekali ini. Hanya kamu yang bisa membantuku,” pintaku kala itu dengan wajah penuh pengharapan.

”Kenapa harus aku? Teman-teman lain juga ada yang kuliah di kota,” jawab laki-laki itu.

”Kau tahu sendiri kan, bapak sangat percaya padamu. Pasti bapak akan mengijinkanku kuliah di kota jika tahu bahwa kamu juga kuliah di kampus yang sama,”kataku berusaha menjelaskan tentang kekhawatiran bapak untuk melepasku hidup di kota.

Laki-laki itu tak memberi kepastian bahwa ia akan membantuku untuk membujuk bapak. Hanya saja dua hari setelahnya, bapak memberi kabar yang membuatku sangat bahagia. Aku diijinkan untuk kuliah di kampus yang kupilih. Agaknya laki-laki itu sudah berbicara dengan bapak.

**

Suara beberapa anak kecil yang berbicara di luar terdengar cukup berisik. Andai tanganku tak dipasangi selang-selang infus, pasti aku akan keluar lalu meminta mereka untuk memelankan suaranya agar tak mengganggu tidur laki-laki itu. Aku ingin melihatnya tidur lebih lama lagi.

”Alisa, kamu sudah bangun”’

Aku tergeragap mendengar suaranya yang tiba-tiba.

Laki-laki itu mendekat, ”Aku tadi tiba ketika kamu sedang tidur. Makanya kuputuskan menunggu sampai kamu bangun. Tapi akhirnya aku malah ketiduran.”

”Bagaimana keadaanmu hari ini?” tambahnya.

Ia tersenyum lalu menautkan retinanya dengan mataku. Aku menemukan tatapan dari pemilik mata kopi itu masih sama seperti tatapan puluhan tahun silam.

Puluhan tahun silam itu…

”Aku tak tahu seperti apa laki-laki itu. Aku tak bisa membayangkan sebuah kehidupan dengan seorang yang tak kukenal. Aku ingin menolak perjodohan itu tapi aku juga tak ingin melukai hati bapak.” Aku tergugu menceritakan perihal perjodohan antara aku dengan anak laki-laki pelanggan krupuk bapak.

”Lagi pula hatiku sudah menyimpan sebuah nama,” tambahku.

Laki-laki yang diam dengan wajah tak bisa kubaca itu menarik kursinya berhadapan denganku. Wajahnya sangat serius. ”Alisa, jawab sejujurnya apa yang kukatakan. Apakah nama yang kau simpan itu namaku?

Aku tak berani menjawab. Hanya mampu menutupkan kedua tangan ke wajahku yang penuh air.

”Sebelum semuanya terlambat, aku juga ingin memberitahumu satu hal. Aku mencintaimu, Alisa. Aku mencintaimu sejak saat itu. Sejak kamu mengintip aku melalui kaca depan rumahmu.”

Laki-laki itu membimbing tanganku turun perlahan-lahan hingga membuat tangisku pecah karena kaget dan malu. Setelahnya, aku pun menemukan sebuah ketulusan dan kehangatan di kedalaman matanya.

”Alisa, kamu melamun?” Kedua kalinya, suara laki-laki itu mengagetkanku.

”Tidak. Bukan,” kataku cepat. Aku berbohong.

”Dokter bilang seminggu lagi kamu boleh pulang. Aku sudah merindukan kopi buatanmu.” Sebuah senyum terkulum dari bibirnya yang membawa aroma kebahagiaan.

”Syukurlah. Aku juga sudah bosan terbaring di kamar ini berminggu-minggu,” jawabku tak kalah bahagianya.

”Lekas sehat ya, Sayang. Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu. Aku berjanji akan lebih banyak menemanimu di rumah. Membantumu membuat cake atau merawat tanaman di depan rumah.” Laki-laki itu menggenggam tanganku. Memilin-milin cincin pernikahan kami yang melingkar di jari manisku. Hingga kemudian punggung tanganku terasa hangat oleh sebuah kecupan.

”Aku mencintaimu,” bisiknya. (*)

*Tersiar di tabloid ApakabarPlus, HK 20 Agustus 2017.

7/02/2017

Sajadah Hijau Bapak

photo net

Sejak satu jam lalu hingga saat ini, Ahmad masih membantu mencari sajadah kesayangan bapak. Semua tempat sudah ia cari. Lemari, tempat cuci baju, jemuran belakang, bahkan kolong bawah ranjang tak ketinggalan diperiksa, tapi sajadah hijau itu belum juga mau menampakkan diri. Air muka bapak mulai keruh. Baju-baju yang sudah mulai berantakan kembali diperiksanya satu persatu.

Sebenarnya jika diamati tak ada yang istimewa darinya. Seperti sajadah lain, sajadah itu terbuat dari beludru berhias gambar masjid di tempat sujud. Warna hijau tuanya sudah pudar. Bahkan jahitan pinggir keempat sisinya sudah mulai lepas.

”Bapak nanti kan bisa memakai sajadah lainnya?” ucap Ahmad mencoba memberi saran pada bapak.

”Iya, Le. Tapi sayang kalau pakai sajadah lain. Jika kita beribadah memakai barang pemberian orang lain, maka orang yang memberi itu, Insya Allah juga akan mendapat pahala kebaikan karenanya.”

Sejak memori otaknya bisa mengingat dengan jelas, belum pernah sekalipun Ahmad melihat bapak sholat memakai sajadah lain. Ia sering heran kenapa bapak tidak mau ganti dengan sajadah bermotif serupa dan berwarna sama tapi lebih bagus dari sajadah kesayangannya itu. Kini keheranan Ahmad terjawab, dengan memakai sajadah itu beribadah, pasti bapak berharap di alam kuburnya sana, mbah Ripin juga mendapat pahala kebaikan seperti yang baru saja bapak katakan.

”Sajadah hijau itu dulu pemberian dari Almarhum mbah Ripin.” Cerita bapak suatu ketika saat memperkenalkan perihal sajadah kesayangannya itu.

Ahmad mengenali sosok mbah Ripin dengan melihat foto yang dipajang di bufet ruang tamu rumah mereka. Foto hitam putih yang tampak lawas dalam pigura berukuran kecil itu, mbah Ripin mengenakan baju koko dan peci berwarna hitam. Selembar sorban bermotif kotak-kotak menggantung di bahunya. Di dagu mbah Ripin ditumbuhi beberapa jambang tipis. Dan terlihat jelas, senyum lembut yang terbingkai dari wajah ramah mbah Ripin memancarkan ketenangan dan aura kewibawaan.

”Mbah Ripin dulu seorang guru ngaji.” Jelas bapak dengan wajah sumringah. Itu adalah ekspresi yang selalu Ahmad lihat pada raut muka bapak ketika menceritakan tentang sosok mbah Ripin. Dari kata-kata yang dituturkan bapak, terlihat jelas bahwa bapak sangat mengagumi dan menghormati mbah Ripin.

Masih menurut cerita bapak, dulu mbah Ripin adalah satu-satunya orang yang mengajari mengaji ketika banyak orang di desa mereka belum bisa membaca huruf hijaiyah. Mbah Ripin mengajari anak-anak kecil sepulangnya dari berladang atau dari sawah.

Tak hanya anak sekolahan dasar saja yang belajar kepada mbah Ripin, tapi muridnya juga dari kalangan pelajar di tingkat SMP dan beberapa yang sudah sekolah STM. Bahkan Saking banyaknya anak, kadang waktu ngaji antara jam empat sampai jelang waktu Maghrib itu tak cukup jika mbah Ripin harus mengajar sendirian. Maka agar semua murid selesai mengaji sebelum masuk waktu adzan Maghrib, mbah Ripin mengutus beberapa anak yang sudah besar dan benar bacaan hijaiyahnya untuk mengajari anak yang baru belajar di tahap dasar.

”Meski harus bergantian saat membaca Iqro’ dan Qur’an-nya, tapi kami belajar dengan semangat. Kami biasa adu cepat agar bisa datang paling awal ke langgar, karena siapa yang datang paling dulu artinya ia yang berkuasa atas Iqro’ atau Qur’an di langgar. Kau tahu arti dari berkuasa, kan? Maksudnya adalah berkesempatan untuk ngaji di urutan paling depan,” tambah bapak lagi dengan wajah yang berseri-seri.

”Kami berangkat cepat bukan hanya karena mengejar urutan ngaji paling awal saja, tapi kami juga mencari kesempatan agar bisa membersihkan dan menata tempat yang biasa digunakan mbah Ripin untuk duduk, lalu menimba air di sumur untuk wudhunya mbah Ripin. Kami selalu berlomba-lomba paling cepat menyiapkan apa-apa yang beliau perlukan. Bahkan saking hafalnya kebiasaan mbah Ripin, kami sudah lebih dulu bergerak sebelum beliau menyuruh.” Ada binar yang terpancar dari wajah bapak. Pasti bapak sedang mengingat kenangan indah bersama kawan-kawannya waktu mengaji bersama mbah Ripin.

”Bagi kami, mbah Ripin seperti orangtua yang harus kami senangkan dan hormati. Kami selalu berlomba untuk merebut hati dan mendapat perhatiannya. Mengingat saat itu, kadang aku merasa kasihan jika membandingkannya dengan anak di jaman sekarang.” Binar di wajah bapak seketika berubah menjadi nanar. Mungkin bapak sedang memikirkan zaman yang sangat bertolak belakang dengan masa kecilnya.

Ya, sebuah pemandangan getir memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di desa mereka. Dimana anak kecil kini sedikit sekali yang mau belajar ngaji. Orangtua semakin menekan anaknya untuk unggul di bidang akademis. Mereka menyuruh anak-anaknya les ini dan itu, berangkat pagi dan pulang jelang malam, namun mereka tak menyuruh anaknya untuk mengaji dan belajar agama. Ilmu di bidang akademis memang perlu, tapi bagaimanapun juga belajar agama itu sangat penting, sebab dengan belajar agama, manusia tahu bagaimana tatakrama berhubungan dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.

Jika di satu keluarga ada orangtua yang tak memberi ruang pada anaknya untuk bernafas, maka di atap lain juga ada orangtua yang malah memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk anak mereka. Orangtuanya sibuk bekerja sedang anaknya dilimpahi uang yang banyak. Orangtua tak pelit menggelontorkan dana jutaan rupiah ntuk membelikan gadget anaknya yang masih mengenyam bangku di sekolah dasar. Mereka tidak peduli jika hari-hari anaknya hanya habis dengan bermain gadget, bahkan mereka seolah berlomba-lomba agar bisa memiliki gedget yang keluaran terbaru.

Sungguh sebuah ketimpangan yang sedang melanda desa mereka. Kini sedikit sekali anak kecil dan anak muda yang tampak meramaiakan masjid dengan suara lengkingan mereka untuk mengeja huruf hijaiyah. Yang ada kini masjid dan langgar yang dibangun megah itu, setiap harinya hanya dihuni oleh beberapa orang yang sudah lanjut usia dengan wajah yang sama.

**
Suara merdu rekaman Syekh Misyari Rasyid yang membaca murota’al Surat Ar-Rahman telah mengalun dari speaker masjid. Dalam waktu lima belas menit yang akan datang, toa itu pasti akan mengumandangkan adzan maghrib. Hati Ahmad resah tak karuan, karena sungguh ia sudah sangat ingin berangkat ke masjid. Kata bapak yang menirukan ucapan mbah Ripin, seseorang yang menunggu datangnya waktu sholat dan dalam keadaan berwudhu, ia akan didoakan dan dimohonkan ampun oleh malaikat. Ahmad sangat menyayangkan jika harus kehilangan kesempatan berharga itu.

”Ah, ini semua gara-gara sajadah kesayangan bapak itu.” Gerutu Ahmad dalam hati. Ia merasa hilangnya sajadah laksana petaka baginya.

Sajadah kesayangan bapak itu selama ini ibu-lah yang mengurus dan merawatnya. Sebulan sekali sajadah hijau tua itu dicuci, ibu yang menjemur dan ibu pula yang melipat kemudian menaruhnya di kotak yang disiapkan khusus untuk menyimpan peralatan sholat. Ahmad dan bapak hars mencarinya sendiri karena siang tadi ibu dijemput Pakdhe pulang ke kampung halamannya, sebab kesehatan mbah putri memburuk. Ibu akan menginap di sana beberapa malam, sedang Ahmad dan bapak akan menyusulnya Sabtu lusa sepulang Ahmad dari sekolah.

Mengingat ibu, Ahmad jadi kepikiran untuk menelponnya. Ahmad sedikit merutuki keterlambatan itu, kenapa tidak dari tadi menanyakan hal itu pada ibu, barangkali ibu masih ingat sajadah itu ditaruh dimana. Ah, dalam keadaan panik, memang seringkali pikiran buntu dan tak bisa berpikir jernih.

Dari kamar bapak, Ahmad berjalan cepat-cepat menuju ruang tamu, dan di sana ia melihat bapak baru saja meletakkan gagang telpon.

”Ayo cepat berangkat, Le.” Ahmad melihat carut di wajah bapak sudah terang.

”Ke mana, Pak?”

”Ke masjid. Memangnya mau kemana lagi?”

”Sajadahnya sudah ketemu ?”

”Sajadahnya terbawa ibumu, tadi dia tak sadar memasukkan ke dalam tas bajunya.”

”Jadi bapak baru saja telponan sama ibu?”

Bapak mengangguk lalu menarik sajadah hijau berwarna hijau muda diantara tumpukan baju tatanannya yang sudah mulai berantakan. Ahmad menirukan dengan menarik sajadah lainnya. Mereka segera berangkat ke masjid. Ada sebentuk kebahagiaan menyeruak di dalam hati Ahmad. Kata bapak yang masih menirukan perkataan kakek, laki-laki sholat jama’ah di masjid lebih utama dari sholat di rumah. (*)

*Cerpen sederhana ini termuat di tabloid ApakabarPlus Edisi Juni 2017. HK, 10 Ramadhan 1438.

4/17/2017

Mbah Sarikem

photo net


Empat tujuh… Empat delapan… Empat sembilan… Lima puluh.

Samar-samar suara Umar terdengar dari belakang rumah mbah Sarikem. Dari balik tembok yang terbuat dari anyaman bambu itu, pelan Agung memiringkan kepalanya ke kiri, lalu mengarahkan matanya lurus ke depan. Aman.

Uhuk… Uhuuk…

Tubuh Agung menjingkat. Hatinya kesal sebab baru beberapa menit, persembunyiannya sudah ditemukan Umar. Ia menoleh tapi bernapas lega ketika tahu bahwa suara batuk lemah itu ternyata berasal dari seorang wanita tua yang duduk di atas dingklik kayu kecil di bawah pohon kopi.

”Mbah mengagetkanku saja,” ucap Agung lirih.

”Ngajinya belum mulai?” tanya mbah Sarikem mengabaikan ucapan Agung.

”Belum. Mbah Sardi belum datang.” Agung berjalan mendekati mbah Sarikem sembari menarik ujung kaosnya bagian depan. Ia benci bau langu kayu kelor yang disisiki mbah Sarikem.

”Kalau nggak suka baunya jangan dekat-dekat.”

Alih-alih menuruti perintah mbah Sarikem, Agung malah semakin mendekat lalu duduk tanpa alas di sebelah wanita yang punggungnya melengkung ke depan akibat terlalu banyak menggendong rumput itu.

”Daun kelornya buat makan kambing ya, Mbah?” Suara Agung tak selirih tadi. Sepertinya bocah laki-laki kelas enam SD itu lupa jika dirinya sedang bersembunyi.

”Iya.” Tangan mbah Sarikem yang kurus dan bergelambir tetap melakukan pekerjaannya.

”Kenapa nggak dijual saja kambingnya? Kasihan kalau tiap hari harus cari rumput.”

Agung memang tak tega melihat mbah Sarikem yang renta itu mengurusi tiga kambing peliharaannya sendirian. Biasa di pagi yang matahari saja belum mampu mengeringkan embun di atas daun, Agung melihat wanita tua itu sudah lebih dulu memasuki pagar yang ditumbuhi tanaman kembang biru di seberang rumah Agung.

Di kebon jagung milik haji Abdul itu itu sabit mbah Sarikem pelan-pelan membabat rumput yang warnanya sudah tak hijau lagi. Karena tenaganya tak setangkas saat muda dulu, maka mbah Sarikem bisa sampai berjam-jam di sana. Bahkan kadang di hari Jum’at dan Agung pulang lebih awal dari hari lainnya, ia masih mendengar suara batuk-batuk mbah Sarikem dan suara sabit beradu dengan tanah.

Mengetahui jika mbah Sarikem belum pulang, Agung yang masih berseragam sekolah gegas ke dapur mengambil kendi dan gelas beling untuk dibawa menemui mbah Sarikem. Hati Agung turut merasa segar saat melihat air dingin dari dalam kendi itu masuk mulut, lalu membasahi kerongkongan mbah Sarikem yang kering akibat sengatan terik matahari. Agung terbiasa berbagi dengan orang lain. Selain air minum, kadang ia juga membawakan mbah Sarikem tape singkong atau tempe yang digoreng ibunya. Agung selalu ingat nasehat ibu, bahwa membahagiakan orang lain, kebahagiaannya akan terasa berkali-kali lipat daripada hanya membahagiakan diri sendiri.

”Sekarang kan musim kemarau, susah cari rumput, makanya kambingnya dijual saja, Mbah. Nanti beli lagi kalau rumputnya sudah subur,”ujar Agung.

”Aku memang berencana menjual kambing-kambing itu. Tapi tidak sekarang.”

Uhuk… Uhukk…

”Tiga bulan lagi setelah mereka besar dan gemuk, aku akan menjualnya. Lalu uangnya akan kuberikan pada anak-anak yatim piatu di yayasan.”

Uhuk… Uhuukk…Uhuukkk

Mbah Sarikem memukul-mukul pelan dadanya bagian atas berharap batuknya mereda.

”Kau ingat kan ceramah mbah Sardi tempo hari, bahwa sedekah di dunia artinya menabung untuk kehidupan akherat kelak. Selagi masih diberi umur, aku ingin menabung sebanyak-banyaknya agar bekalku akheratku nanti banyak.”

Agung mengangguk-anggukkan kepala tanpa paham betul maksud kalimat panjang lebar yang diterangkan mbah Sarikem. Yang Agung tahu, ia merasa kasihan sekali melihat wanita tua yang sedari tadi batuk-batuk lemah yang berada di sampingnya itu. Ia tak bisa membayangkan, betapa sunyi hidup mbah Sarikem sebab tak ada satupun keluarga yang menemani dan bisa diajak berbagi cerita.

Agung pernah bertanya pada ibunya perihal mbah Sarikem. Sebenarnya mbah Sarikem dulu pernah menikah dan dikaruniai seorang anak. Namun suatu hari suami dan anaknya meninggal dalam kecelakaan angkot yang hendak membawa mereka ke kota untuk menjenguk ponakan mbah Sarikem yang sakit.

Sejak saat itu mbah Sarikem tinggal berteman sepi. Konon di desa itu ia tak memiliki saudara. Suaminya juga penduduk dari desa jauh. Sebenarnya mbah Sarikem masih memiliki tiga ponakannya yang tinggal di kota. Tapi mereka hanya sekali saja menjenguk mbah Sarikem. Kedatangan itu pun dengan maksud meminta warisan tanah milik mbah Sarikem.

Beberapa petak tanah yang dibeli dengan keringat mbah Sarikem dan suaminya direlakan dijual oleh ketiga ponakan mbah Sarikem. Lalu uangnya mereka bawa pulang ke kota dan hanya menyisakan mbah Sarikem yang tinggal di rumah mungil.

Tak ada lagi hasil sawah dan ladang yang biasa mencukupi kebutuhan hidup mbah Sarikem. Untuk makan pun ia mulai kesulitan. Maka dengan sedikit sisa uang yang ada, mbah Sarikem membeli kambing lalu merawatnya. Awalnya ia membeli kambing anakan, dirawat, lalu setelah besar dijual. Begitu seterusnya dan sampai sekarang.

**
Dari jarak dua puluh langkah kaki kecil itu Agung jongkok di belakang garis. Matanya fokus mencari posisi yang bagus. Tak lama, sebuah kelereng yang berada diantara pertemuan ibu jari dan jari tengahnya dijentikkan ke depan. Secepat kilat kelereng itu menggelinding mendekati lingkaran. Usai melakukan itu, Agung berpindah tempat. Beberapa anak lain yang hendak melakukan hal serupa yang sudah menunggu giliran.

Gaduh suara ketepak sandal yang biasa terdengar kini berganti suara kelereng yang saling berbenturan. Sudah dua hari ini Agung tak lagi harus lari pontang-panting seperti saat bermain petak umpet. Ia tak perlu lagi mengendap-endap dari balik tembok rumah mbah Sarikem. Mengingat wanita tua itu tiba-tiba Agung sadar jika sudah dua hari ia tak melihat mbah Sarikem lewat depan rumahnya saat berangkat atau pulang dari mencari rumput.

”Agung! Mau kemana?”

Agung mendengar teriakan temannya, namun ia terus berlari meninggalkan area bermain. Tempurung kepalanya dipenuhi oleh kekhawatiran.

”Mbah… Mbah Sarikem.” Napas Agung memburu.

Tak ada jawaban.

”Mbah…!” Agung mengetuk pintu kayu rumah mbah Sarikem dengan telapak tangannya.

Masih tak ada respon. Agung mendorong pintu pelan. Dikunci. Agung berjalan melewati halaman rumah sederhana itu menuju belakang.

Embeekk… Embeekkk…

Seketika kambing mbah Sarikem mengembik keras begitu melihat Agung. Mereka terus mengembik dan membuat gaduh dengan berlarian di dalam kandang. Agung tak mempedulikan mereka yang sepertinya kelaparan itu. Ia terus berjalan hingga mencapai pintu belakang rumah mbah Sarikem.

”Mbah… Mbah Sarikem ada di dalam?” Agung cemas.

Tak ada sahutan.

Agung mendorong pintu seperti yang dilakukannya pada pintu depan. Bergerak. Ia mendorongnya lagi hingga pintu itu sempurna terbuka.

Dapur dan ruang depan sudah diperiksa tapi kosong. Rasa khawatir yang memuncak membuat Agung memberanikan diri menyingkap kelambu kamar mbah Sarikem. Kasur kapuk itu tak berpenghuni, tapi kedua bola mata Agung menangkap sepasang sandal jepit yang berasa di bawah ranjang dan di sebelahnya mbah Sarikem yang masih mengenakan mkena terkulai di atas tikar.

Agung mencoba memanggil mbah Sarikem. Diteriaki agak keras dan badannya digoyang-goyangkan namun tak ada reaksi. Rasa takut, bingung dan khawatir berbaur menjadi satu memenuhi pikiran Agung terlebih ketika kulit mbah Sarikem seperti es saat ia menyentuhnya. Maka diambang ketakutan itu, Agung gegas lari keluar lalu melapor pada mbah Sardi yang kebetulan baru datang ke langgar.

”Innalillahi wainnailaihi roji’uun,” kata mbah Sardi.

Kabar meninggalnya mbah Sarikem secepat kilat tersebar ke penjuru kampung. Lalu malamnya tahlilan digelar di langgar. Dan sehari setelahnya keponakan mbah Sarikem yang tinggal di kota juga datang.

”Biarkan kami menjual ketiga kambing itu. Bukankah orang-orang yang tahlilan perlu diberi makan?” ujar ponakan mbah Sarikem yang paling besar kepada mbah Sardi malam itu.

”Urusan dana tak usah khawatir karena masyarakat sudah setuju untuk diambilkan dari khas desa.” Terang mbah Sardi yang diiyakan oleh beberapa tetangga dekat.

”Sepeninggal kami nanti tak ada yang mengurusi kambing-kambing itu. Biarkan kami menjualnya.” Kukuh kata ponakan mbah Sarikem yang kedua.

”Mbah Sarikem adalah budhe kami. Kami berhak menerima warisannya.” Ponakan mbah Sarikem yang ketiga menambahi.

Mbah Sardi hanya bisa terdiam menghadapi ketiga ponakan mbah Sarikem yang bersikukuh menjual kambing itu. Di dalam hatinya membenarkan bahwa yang berhak menerima warisan mbah Sarikem adalah mereka, tapi hati mbah Sardi juga agak kesal jika mengingat bahwa mereka bertiga dulu telah membuat hidup mbah Sarikem susah usai mereka minta bagian tanah.

Beberapa tetangga yang melihat hanya bisa mengelus dada. Rasa sedih sebagai tetangga akan kepergian mbah Sarikem saja masih belum hilang dari dada mereka, namun orang yang masih ada pertalian darah dengan mbah Sarikem malah sudah membicarakan warisan.

”Kalau itu yang kalian inginkan, aku tak bisa menghalangi.” Mbah Sardi menyerah.

Ketiga ponakan mbah Sarikem tersenyum penuh kemenangan.

”Mbah Sarikem ingin menjual kambing itu dan uangnya dibuat untuk menyantuni anak yatim. Kalian tak boleh menyentuh peninggalannya.”

Mata semua orang terarah pada sosok yang baru datang itu.

”Mbah Sarikem mengatakannya sendiri padaku. Tak ada yang berhak menyentuh kambing-kambing itu,” ucapnya lagi tegas.

Mbah Sardi dan beberapa tetangga tersenyum melihat sosok kecil yang berdiri di dekat pintu itu. Agung. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus Hong Kong edisi April 2017.
Yesi Armand Sha.

3/22/2017

Petrichor


Aku selalu ingin menangis ketika hujan turun, karena aroma tetes air yang dilepas langit itu selalu menyimpan rindu, cinta dan kenangan pada orang terkasih

Sekolahan sudah sepi, tapi ia masih berdiri di sana. Punggungnya disandarkan pada tembok perpustakaan, sedang jari-jarinya memilin ujung tali ransel. Sesekali ia mengangkat tangan kirinya sedikit ke atas, untuk melihat jam berapa.
Hujan masih menderas. Ia mulai berjalan ke kiri-kanan sambil menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai. Melihat apa yang tengah ia lakukan, tampak sekali kegelisahan menghuni sudut hatinya.

”Laluna.” Akhirnya kusapa dia. Karena selain kasihan, aku juga sudah bosan hanya memperhatikannya terlalu lama dari balik tembok perpustakaan.

Ia tak menjawab. Hanya memandangiku dengan tatapan menyelidik.

”Aku melihat tag name-mu.” Bohongku.

Dibanding dengan cewek-cewek di sekolah yang ingin mendapat perhatianku, Laluna memiliki paras di bawah mereka. Wajahnya biasa saja. Ia memiliki gigi yang tidak teratur di bagian atas tapi hal itu akan membuatnya terlihat manis ketika tersenyum. Sejauh pengamatanku, Laluna cewek yang pendiam, cuek dan tak terlihat memiliki teman dekat. Mungkin ia merasa tak butuh teman, karena selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendirian.

Aku baru benar-benar mengetahui tentang Laluna seminggu belakangan sejak aku mulai memikirkan syarat yang diajukan olehWanda, cewek adik satu tingkat yang kutaksir mati-matian sejak ia mendaftar masuk di sekolah. Di mata cowok-cowok seluruh sekolahan, Wanda adalah sosok gadis sempurna. Tak perlu kujelaskan bagaimana detailnya. Hanya saja siapapun yang melihatnya, pasti akan mengira bahwa ia adalah keturunan Jawa-Arab dan Korea. Tapi, asumsi itu salah besar karenaWanda asli berdarah Sunda.

Jika biasanya aku yang bosan menerima kiriman surat, coklat atau bunga dari cewek-cewek, dunia seakan terbalik ketika tiba giliranku yang terus menerus mencari perhatian Wanda. Demi dekat dengannya, aku rela membuang eksistensiku sebagai cowok favorit di sekolahan. Aku tak peduli dengan nilai rendah, kata gila dan bodoh yang diberikan oleh orang lain, karena pada akhirnya usaha yang sekian lama kulakuan membuahkan hasil. Wanda mulai melihatku, dan ia berkata akan menerima cintaku tapi dengan syarat aku harus menaklukan hati Laluna, memacari selama sebulan dan memutuskannya tiga hari sebelum ujian tengah semester.

”Hujannya deras sekali.” Aku menirukan mata Laluna yang memandang genangan air di depan kami.

Laluna bergeming. Beberapa menit tak ada reaksi, ia bersikap seolah tak ada makhluk hidup di sampingnya.

”Benar-benar cewek dingin.” Batinku.

”Iya, hampir lima belas menit seperti itu.” Suaranya terdengar lesu.

Salah! Bukan lima belas tapi hampir setengah jam, Laluna. Aku tahu betul di menit keberapa kamu berdiri di sini, karena aku telah mengikutimu sejak kau keluar dari kelas.

”Kamu nggak bawa payung?” tanyaku.

Ia diam.

”Pakai punyaku.” Kusodorkan payung yang sengaja kusiapkan.

Ia menggeleng. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

**
Aku menyesal kemarin telah meninggalkannya seorang diri, padahal saat itu kulihat carut belum hilang dari wajahnya. Kepalaku dipenuhi pikiran tentangnya karena tadi pagi ia tak terlihat melewati pintu gerbang sampai bel masuk berdering. Aku juga tak menemukannya ketika istirahat tadi diam-diam aku main ke kelasnya. Tiba-tiba aku khawatir dan takut sesuatu buruk terjadi padanya.

Brukk…

Sesosok tubuh mungil membuyarkan lamunanku. Ia mengambilkan kunci motor yang jatuh lalu menyerahkan padaku.

Mataku berubah cerlang begitu melihat sosok yang menabrak itu.”Laluna.”

”Maaf Kak. Aku nggak sengaja.”Sesalnya.

”Tak apa.”

”Syukurlah. Aku duluan ya.” Laluna gegas pergi tanpa menunggu persetujuanku.
Aku berusaha berjalan menyusul langkahnya yang cepat. Kulihat ada gelagat bersahabat pada sikapnya.

”Kupikir kamu hari ini tak masuk. Tadi pagi kamu berangkat jam berapa?” tanyaku.

”Seperti biasanya. Aku tak begitu ingat jam berapa.”

”Tapi kenapa aku tadi tak melihatmu masuk lewat pintu gerbang.”

Laluna menghentikan langkahnya. Ia menatapku lalu mengernyitkan dahi.

”Oh tidak. Mana mungkin aku menunggumu,” kataku seraya terbahak.

”Aku juga tak pernah kepikiran kakak menungguku.”

Aku tergeragap dan seketika aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia.

”Eee… Maksudku…’’ Aku kebingungan mencari kata yang tepat.

”Hujan akan turun. Kalau masih ada yang ingin kakak bicarakan, besok saja.”Laluna memotong kalimatku.

”Kamu nggak bawa payung lagi? Aku antar biar cepat sampai rumah.”

Ia menghentikan langkah. Mata jernihnya tajam menatapku. Aku menyesal mengucapkan kalimat itu karena aku takut ia tak suka ada orang yang tiba-tiba sok dekat dengannya.

”Kakak serius mau memberiku tumpangan?” tanyanya penuh harap.

”Apa ucapanku terdengar main-main?”

”Sekali ini, aku akan merepotkan kakak,” ujarnya dengan wajah yang menyiratkan terimakasih.

Kami pun membelokkan langkah menuju parkiran. Dan tak berapa lama motorku membawa tubuh kami keluar dari pagar sekolahan diikuti tatapan aneh cewek-cewek yang biasa mencari perhatianku.

Tak sampai dua puluh menit motorku berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau lumut. Begitu aku mematikan motor, Laluna gegas turun lalu berlari ke dalam rumah. Tak ada kata terimakasih atau ucapan mampir untuk sekedar minum teh hangat yang keluar dari mulutnya. Aku hampir meninggalkan rumah itu jika saja seorang wanita berusia senja yang punggungnya melengkung ke depan tak keluar dari rumah, menahanku dan menunjukkan bahwa gerimis telah mericis.

”Kamu temannya Laluna, kan? Terimakasih sudah mengantarkan pulang,” ucap wanita itu lemah. Ia menyerahkan segelas teh manis panas padaku yang duduk di kursi anyaman bambu depan rumah. Tak menunggu lama, cepat aku memindahkan gelas itu dari tangannya yang gemetaran karena usia.

”Kebetulan saya lewat sini,” Aku tak sedang berbohong karena jalan rumah kami ternyata searah, hanya saja aku harus belok memasuki perkampungan yang lumayan padat untuk sampai di rumah ini.

”Kemarin hujan turun lama sekali.”

Uhuk-uhuk…

”Ia pulang jelang malam.”

”Tapi kemarin sekolah bubaran seperti biasa.”Aku tak mengatakan jika kemarin sempat menyapa Laluna dan meninggalkannya sendirian di sekolah.

”Hujan deras tujuh tahun lalu ibu dan bapaknya meninggal karena tertabrak mobil saat mereka hendak menyeberang jalan,” tatapan wanita yang seluruh rambutnya telah memutih itu lurus ke depan seolah menembus hujan yang terus turun,”Hujan selalu membawa ingatannya pulang pada kejadian naas yang dilihat dengan mata kepalanya itu.”

**
Tiga bulan berlalu. Seminggu lagi kami akan menghadapi ujian tengah semester.

”Kenapa kak Bragi belum juga memacari lalu memutuskan Laluna?” Wanda menghentikan langkahku di jalan menuju parkiran.

”Kenapa aku harus melakukan itu?”

”Kak Bragi sudah lupa dengan kesepakatan kita?”

”Dengar ya Wanda, aku dekat dengan Laluna bukan karena mengikuti rencanamu.” Aku mengatakan yang sebenarnya karena sejak awal aku tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Wanda. Jika ia memang tulus mengharapkanku, kenapa harus ada kesepakatan. Bukankah cinta tak perlu syarat untuk menyatukan dua hati?

Hari dimana aku pertama kalinya menyapa Laluna itu, aku mulai memikirkan apa yang sebenarnya sedang direncanakan Wanda. Maka, tanpa sepengetahuan siapapun, aku diam-diam mencari informasi mengenai Wanda, tentang Wanda di kelas dan tentang hubungan Wanda dengan teman-temannya.

Pertanyaan yang kulontarkan tanpa menimbulkan kecurigaan pada teman-teman cewek Wanda akhirnya mendapat jawaban. Dari berbagai jawaban, aku bisa menyimpulkan bahwa Wanda benar menyukaiku dan Wanda sama sekali tak ada rasa padaku. Tapi dari kedua kesimpulan itu ada satu kesimpulan lagi yang lebih penting. Yakni Wanda ingin menggunakan aku untuk mengacaukan pikiran Laluna. Wanda ingin aku memacari Laluna lalu memutuskan jelang ujian tengah semester. Begitu konsentrasi Laluna pecah karena hatinya sedih sebab putus cinta, celah itu akan Wanda gunakan untuk mengalahkan teman sekelasnya itu.

Wanda termasuk siswa yang pandai. Tapi meski seberapa keras ia belajar dengan berbagai les tambahan, ia belum bisa mengungguli Laluna yang prestasinya selalu berada di posisi atas. Teman-teman di kelasnya juga heran, karena Laluna yang tak pernah mengikuti kursus di luar jam sekolah, bisa mengingat dengan baik pelajaran yang hanya sekali saja dipelajari. Laluna memiliki otak yang sangat encer.

”Jadi waktu itu semuanya bohong?”Suara Wanda naik beberapa oktaf.

”Bukan begitu, Nda. Hanya saja…,”

”Hanya saja kakak sekarang benar-benar menyukai Laluna?”

”Wanda, dunia ini akan lebih indah jika semuanya didasari oleh ketulusan dan kejujuran.”

”Kak Bragi nggak usah nasehatin Wanda. Ceramahi saja Laluna sana! ” Wanda pergi. Wajahnya merah.

Aku menarik napas panjang kemudian meneruskan langkahku yang sempat terhenti.

”Kak Bragi, buruan! Mau hujan,” teriak Laluna dari depan pintu parkiran.

Aku berlari-lari kecil ke arah adik kelasku itu,”Siap tuan putri.”

Laluna terkekeh, menunjukkan deretan giginya yang tidak teratur dan aku suka melihat pemandangan itu.

Musim sudah hendak kemarau, tapi hujan masih sering turun. Laluna masih tak menyukai aroma hujan atau aroma tanah kering yang basah. Laluna juga tak pernah membawa payung. Tapi ia tak lagi menunggu hujan reda sendirian, karena aku selalu menemaninya berdiri menyandarkan punggung di tembok perpustakaan atau jika tidak, motorku akan lebih cepat membawanya sampai rumah sebelum air langit itu menginjak bumi. (*)

* Cerpen ini pernah termuat di majalah Hong Kong Fairies edisi Maret 2017. Di edisi cetaknya mengalami revisi dari penjaga gawang majalah, dan ini versi aslinya. Semoga menghibur :)

1/31/2017

Tekongan

Untuk temanku yang sangat kurindukan...

di tabloid Berita Indonesia

Kata orang-orang, musim penghujan telah berlalu. Kini desa kami hari-harinya dihujani angin kering yang membuat pepohonan meranggas. Debu beterbangan dimana-mana. Menempel di permukaan daun yang kekuningan, di tiang listrik, di tembok rumah dan di kulit anak-anak yang saat ini sedang bermain tekongan.

Dua hari sejak kepulanganku dari Hong Kong, tidur siangku selalu dibangunkan oleh suara ramai anak-anak itu. Dalam keadaan antara sadar dan belum, sayup-sayup kudengar mereka meneriakkan kata ‘Tekong’ diikuti oleh suara ketepak pasang sandal. Ketika gaduh telah berganti sunyi seperti saat ini, aku membuka korden jendela kamar dan kulihat seorang bocah laki-laki berusia kisaran delapan tahun sedang menumpuk wingko di tengah bundaran. Itu adalah bocah yang sama yang kemarin kulihat bertugas sebagai pemain penjaga. Sepertinya permainan kemarin belum selesai dan dilanjut hari ini.

Saat semua wingko telah tertata meninggi, bocah itu berjalan dengan menajamkan penglihatannya untuk mencari pemain lain yang bersembunyi. Aku tak bisa menahan tawa ketika melihat ia berjalan menuju belakang mushola, tapi dari arah timur seorang bocah perempuan berambut pendek lari sangat cepat menuju bundaran.

”Tekong!” Pekik bocah perempuan itu seraya menyepak wingko.

Usai membuat wingko-wingko berantakan, bocah perempuan lari ke arah dari mana ia keluar, lalu tubuhnya hilang ditelan pagar depan mushola. Mengetahui hal itu, bocah laki-laki tadi kembali mendekati bundaran. Tangannya sigap memunguti wingko sedang mulutnya sibuk mengomel. Sepertinya ia tengah menahan kesal.

Melihat anak-anak itu bermain, membuat ingatanku berkeliaran menembus dinding waktu dan berhenti pada satu frame kehidupan di beberapa tahun silam. Aku dulu pernah seperti mereka. Pada jam-jam seperti ini membuat kegaduhan di tempat itu, di tanah cukup lebar yang memisahkan rumahku dengan mushola. Aku dan teman-teman bermain tekongan sembari menunggu mbah Sarto, guru yang mengajari kami mengaji datang.

Saat bermain tekongan aku suka sekali bersembunyi dengan Rahma. Tetangga dua rumah yang umurnya sebaya denganku. Rahma berbadan tinggi dan kurus. Karena memiliki kaki yang jenjang, membuat ia menjadi anak yang larinya paling cepat di antara kami.

”Ayo. Cepat, Tan!”Seru Rahma suatu kali seraya menarik tanganku.

Tarikan tangannya itu membuat kakiku yang pendek berusaha lari mengimbangi langkahnya yang panjang. Rahma tak mempedulikan aku yang lari keponthalan. Tangannya terus saja menarik tanganku dengan kuat dan membuatku sangat kelelahan. Tapi meski napasku tinggal satu dua, di dalam dadaku sana sesak oleh rasa bahagia karena kami berhasil sembunyi sebelum pemain penjaga sempurna menata semua wingko.

”Enak ya jadi kamu, kalau sembunyi selalu paling cepat,” pelan ucapku pada Rahma.

”Aku justru ingin seperti kamu, kalau sembunyi begini nggak susah.” Rahma terlihat sedikit kesulitan melipat kakinya. Maklum kami sembunyi di bawah palungan kandang kambing yang sekarang dipakai untuk menumpuk kayu kering.

Cresshh…

Kami saling berpandangan. Itu suara daun kering yang diinjak.

Creshh Creshh…

Rahma menempelkan jari telunjuknya di atas bibir. Seketika hening, kami mematung. Hanya suara napas yang mewakili kekhawatiran perasaan kami saja yang terdengar.

Creshh Creshh Creshh…

Dadaku berdebar-debar. Rahma menyentuh pundakku lalu mengangguk. Raut mimiknya yang serius itu menyiratkan pesan agar aku bersikap tenang dan memercayakan semua padanya. Rahma lantas memasang kuda-kuda, menyiapkan diri untuk lari jika keberadaan kami benar telah tercium oleh pemain penjaga.

”Rahma… Intan…”

Benar, itu suara pemain penjaga.

”Serbu…!” Rahma berteriak kencang seolah dirinya adalah komandan perang yang sedang memberi aba-aba pada pasukannya. Nada suaranya penuh semangat dan terdengar gembira sekali. Dari jauh aku melihatnya dengan tatapan geli. Hal yang paling disukai Rahma adalah saat-saat seperti itu. Saat dimana ia berlomba lari adu cepat dengan pemain lain. Tapi walau seberapa cepat pemain lain berlari, pada akhirnya Rahma tak terkalahkan. Rahma berhasil membuat wingko di dalam bundaran berserakan.

”Hore!”Beberapa pemain lain yang telah tertangkap bersorak senang, lalu mereka lari berpencar ke berbagai penjuru untuk sembunyi lagi. Aturan permainan tekongan memang seperti itu. Dimana pemain lain yang sudah tertangkap bisa bebas dan sembunyi lagi asal ada pemain lain yang berhasil menyepak wingko mendahului penjaga.

Bukan hanya bagiku, tapi bagi teman-teman lainnya, Rahma juga serupa payung yang menjaga mereka dari tetesan air hujan. Dimana ada Rahma, tempat itu seolah disulap serupa lingkaran pelindung.

Karena bersama Rahma selalu aman, maka aku tak pernah mau pisah dengannya. Rahma juga tak keberatan jika aku mengekorinya, tapi sifatnya yang penyayang itu akan berubah menjadi galak jika ia diikuti oleh anak lain.

”Sembunyi sama anak lain rawan berisik. Cepat ditemukan,” jawab Rahma suatu kali menanggapi pertanyaanku.

”Tapi kenapa kamu tak marah jika aku yang ikut?” tanyaku lagi.

”Entah. Aku hanya merasa nyaman saja denganmu.”

**
Rahma bukan hanya jago lari dan pintar memilih tempat sembunyi, tapi ia juga suka sekali mengusili pemain penjaga. Suatu kali saat semua pemain sudah melemparkan batu, lalu pemain yang batunya berada paling jauh dengan bundaran terpilih menjadi penjaga, Rahma gegas menarik tanganku. Aku keponthalan mengikutinya lari ke barat.

Kami sudah melewati belakang mushola. Kukira ia akan mengajakku sembunyi di kebun kopi. Aku sudah membayangkan kami akan bergelantungan di atas dahan pohon pemilik buah kecil-kecil itu. Tapi setibanya di sana ternyata Rahma tak menunjukkan sinyal hendak berhenti. Kami terus lari melewati kebon jagung, menuruni embong trabasan dengan beberapa undag-undag, menyeberangi kalen kecil yang airnya setinggi mata kaki, dan akhirnya berhenti di sebuah petak sawah.

Di petak yang penuh dengan tanaman kacang lanjar itu Rahma berjalan pelan sambil memeriksa beberapa pohon kacang. Tak lama berjalan, ia lalu berhenti.

”Sini Tan.’”Teriaknya memanggilku.

Aku mendekat.

”Sudah banyak yang masak.”

Mataku berbinar kala melihat genggaman tangan Rahma penuh dengan buah ciplukan berwarna kuning. Rahma lalu memindahkan buah itu ke tanganku. Rahma tahu aku suka sekali makan ciplukan. Maka sore itu ia lebih banyak menguliti buah itu buatku. Lama di sawah, kami sibuk berburu buah ciplukan dari pohon satu ke pohon lainnya. Bahkan saking asyiknya, kami sampai lupa bahwa matahari semakin miring ke barat dan mbah Sarto sudah datang ke mushola.

Keusilan Rahma bukan hanya itu saja. Suatu hari kami pernah membuat geger mbah Sarto dan teman-teman. Mereka mengira kami raib entah kemana karena sampai maghrib belum juga kembali. Mereka mencari kami ke mana-mana, ke seluruh desa, padahal kami dekat sekali. Aku dan Rahma ketiduran di dalam kamarku.

Awalnya kami main tekongan seperti biasa. Lalu Rahma mendesak untuk bersembunyi di dalam rumahku. Terang saja aku menolak, karena hal itu berarti melanggar perjanjian dengan teman-teman.

”Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,” tukas Rahma cepat.

Aku tak berdaya menolak permintaanya. Maka ketika tak ada yang melihat, kami gegas membelokkan kaki menuju belakang rumah. Aku mengambil kunci lalu membuka pintu.

”Ingin tanya apa?” tanyaku saat kami sudah berada di dalam.

”Aku minum dulu.” Rahma menyambar kendi di atas meja lalu menuangkan air ke dalam gelas. Bunyi tegukan seketika terdengar begitu air dingin itu membasahi tenggorokannya.

”Ajari aku tugas matematika yang tadi diterangkan bu guru. Aku tadi pagi kan telat masuk kelas.”

Aku mengajak Rahma masuk ke kamar. Aku mengeluarkan buku matematika dari dalam ransel lalu menerangkan bagian yang tak ia pahami.

Rahma seorang pembelajar yang cepat. Sekali saja kuterangkan, ia langsung paham. Rahma juga seorang yang memiliki semangat belajar tinggi. Buktinya, usai belajar matematika, ia mengajakku belajar mata pelajaran lain.

”Kenapa kamu suka sekali belajar?” tanyaku penasaran.

”Kata emak, kalau rajin belajar nanti akan jadi orang pintar.”

”Kalau sudah pintar mau ngapain?” tanyaku lagi.

”Aku ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan orang sakit. Aku tak ingin ada anak yang sedih karena kehilangan ibu atau bapaknya.” Suara Rahma bergetar.

Mendadak aku menyesal telah mengajukan pertanyaan itu. Rahma pasti sedih karena ia teringat peristiwa tiga tahun sebelumnya. Kala itu desa kami diserang wabah demam berdarah. Banyak nyawa warga yang tak tertolong. Penduduk di desa kami mayoritas kurang mampu. Tersebab hal itulah, ketiadaan dana menjadi kendala untuk mendapat penanganan medis yang memadai. Dan satu diantara yang meninggal itu adalah bapak Rahma.

Setelah bapak Rahma tiada, emaknya yang mengambil alih tugas sebagai tulang punggung. Emaknya yang berbadan ringkih dan sering sakit-sakitan itu bekerja apa saja. Berangkat pagi dan pulang jelang maghrib. Untuk itulah kenapa Rahma sering telat pergi ke sekolah, karena ia harus menyiapkan sarapan dan mengurusi kedua adik kembarnya yang masih TK.

**
Masa menyenangkan bersama karib memang paling indah. Tapi tak selamanya kita bisa selalu menghabiskan hari bersama orang yang kehadirannya kita harapkan, sebab waktu lebih berwenang membentang jarak. Dan jarak itu aku rasakan ketika aku dan Rahma sama-sama baru lulus SD.

Hari itu adalah hari wisuda kelulusan. Bibirku selalu membentuk sabit karena hari itu aku berhasil meraih juara satu. Aku juga bahagia karena usaha Rahma yang keras untuk belajar tak sia-sia. Ia meraih juara dua. Hanya saja sayangnya hari itu Rahma tak bisa datang ke sekolah sebab menunggui emaknya yang sedang sakit batuk dan mengeluarkan darah.

Aku membawakan pulang piala milik Rahma. Setibanya di rumahnya, aku tak menemukan wajah ceria Rahma seperti biasa. Carut itu masih kulihat bahkan setelah aku menyerahkan piala padanya.

”Besok aku akan ke Jakarta, Tan. Penyakit emak makin parah, aku harus bekerja untuk mencari biaya pengobatannya.” Suaranya parau.

”Kamu nggak melanjutkan sekolah?”tanyaku kaget.

”Saat ini aku tak punya pilihan lain. Emak lebih penting dari segalanya. Lagi pula jika emak tidak kerja, tak ada uang untuk makan juga untuk biaya sekolah kedua adikku. Biarlah satu yang mengalah, asal tiga lainnya terselamatkan.” Genangan bening yang lama menghuni sudut matanya jatuh. Aku hanya bisa memeluknya dengan erat saat ia menangis sesenggukan. Aku bisa merasakan betapa menyakitkannya memendam cita-citanya untuk sekolah tinggi.

Rahma benar-benar pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai penata laksana rumah tangga. Seminggu tanpa Rahma, aku sering menangis jika teringat saat-saat manis bersamanya. Sebulan kemudian, aku masih sering seperti itu. Lalu hari semakin bertambah dan aku mulai sibuk dengan jam sekolah yang padat, aku mulai terbiasa tanpanya.

Setengah tahun berjalan. Suatu hari datang sebuah surat atas namaku. Itu surat dari Jakarta dan di ampolnya tertulis pengirim dengan nama Rahma. Dalam surat itu Rahma bercerita, bahwa di Jakarta sana ia mempunyai majikan yang baik. Pekerjaan Rahma tidak begitu berat. Jika semua pekerjaan telah selesai, Rahma diijinkan untuk istirahat lebih awal. Rahma bahkan diijinkan untuk membaca buku yang ada di perpustakaan pribadi milik majikannya. Aku lega dan aku selalu percaya bahwa Tuhan memudahkan jalan seorang anak yang ingin membahagiakan keluarganya. Membaca goresan tulisan itu, aku merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Rahma.

Sebulan sekali kami saling bertukar surat. Aku menceritakan sekolahku yang super padat dengan pelajaran yang semakin sulit. Rahma menasehatiku untuk tak menyerah. Ia mengingatkan bahwa diluar sana banyak anak yang ingin sekolah tapi tak punya biaya, maka dari itu aku tak boleh menyerah dan harus terus semangat belajar. Lewat lembaran surat itu, aku merasa jarak tak menjadi penghalang pertemanan kami. Aku merasa Rahma seolah-olah sedang tak berada di belahan bumi lain. Rahma terasa dekat.

Purnama demi purnama berlalu. Tahun pun berganti dan itu membuat kami menjadi sosok yang bukan anak-anak lagi. Aku dan Rahma masih berkirim surat seperti biasa. Tapi di suratku di bulan itu, aku mengatakan bahwa mungkin itu terakhir kalinya aku mengirim surat untuknya. Aku sudah mengubur niat masuk perguruan tinggi dan memutuskan untuk bekerja ke Hong Kong, agar bisa membantu melunasi hutang bapak dikarenakan usahanya bangkrut. Mengubur mimpi masuk banku kuliah memang membuat sedih, tapi aku belajar ikhlas dari Rahma seperti saat ia bekerja ke Jakarta dan mengubur impiannya untuk sekolah.

Maka setelah masuk ke penampungan, aku berangkat ke negeri beton. Aku benar-benar tak berkirim surat padanya lagi dikarenakan ongkos kirim yang mahal. Lama aku tak mendengar kabar tentangnya. Tapi di suatu hari ketika aku menelpon keluarga, aku mendapat kabar yang membuat hatiku terasa dikerat seiris demi seiris.

**
Kini anak-anak di desa kami masih sering bermain tekongan sembari menunggu mbah Sarto yang umurnya semakin senja itu datang. Anak-anak itu juga membuat gaduh dan beberapa keributan kecil. Mereka sering bersembunyi di bawah palungan kandang kambing, di pohon kopi dan di belakang rumahku. Mereka melakukannya seperti masa kecilku dulu. Tapi kini aku tak bisa menemukan sosok yang selalu menarik tanganku. Aku tak bisa menemukan Rahma dan tak bisa memanggil namanya lagi. Hari di saat aku menelpon keluarga itu, aku mendapat kabar bahwa kereta yang membawa Rahma pulang dari Jakarta mengalami kecelakaan dan Rahma meninggal hari itu juga. Sejak saat itu semua tentang Rahma menjelma kenangan, dan kenangan tentangnya akan selalu indah melekat di hati. Aku selalu berdoa semoga ia mendapat kebahagiaan dalam tidurnya sana. (*)

* Juara 1 lomba cerpen FSMI FLP-HK 2016.
YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES