1/31/2017

Tekongan

Untuk temanku yang sangat kurindukan...

di tabloid Berita Indonesia

Kata orang-orang, musim penghujan telah berlalu. Kini desa kami hari-harinya dihujani angin kering yang membuat pepohonan meranggas. Debu beterbangan dimana-mana. Menempel di permukaan daun yang kekuningan, di tiang listrik, di tembok rumah dan di kulit anak-anak yang saat ini sedang bermain tekongan.

Dua hari sejak kepulanganku dari Hong Kong, tidur siangku selalu dibangunkan oleh suara ramai anak-anak itu. Dalam keadaan antara sadar dan belum, sayup-sayup kudengar mereka meneriakkan kata ‘Tekong’ diikuti oleh suara ketepak pasang sandal. Ketika gaduh telah berganti sunyi seperti saat ini, aku membuka korden jendela kamar dan kulihat seorang bocah laki-laki berusia kisaran delapan tahun sedang menumpuk wingko di tengah bundaran. Itu adalah bocah yang sama yang kemarin kulihat bertugas sebagai pemain penjaga. Sepertinya permainan kemarin belum selesai dan dilanjut hari ini.

Saat semua wingko telah tertata meninggi, bocah itu berjalan dengan menajamkan penglihatannya untuk mencari pemain lain yang bersembunyi. Aku tak bisa menahan tawa ketika melihat ia berjalan menuju belakang mushola, tapi dari arah timur seorang bocah perempuan berambut pendek lari sangat cepat menuju bundaran.

”Tekong!” Pekik bocah perempuan itu seraya menyepak wingko.

Usai membuat wingko-wingko berantakan, bocah perempuan lari ke arah dari mana ia keluar, lalu tubuhnya hilang ditelan pagar depan mushola. Mengetahui hal itu, bocah laki-laki tadi kembali mendekati bundaran. Tangannya sigap memunguti wingko sedang mulutnya sibuk mengomel. Sepertinya ia tengah menahan kesal.

Melihat anak-anak itu bermain, membuat ingatanku berkeliaran menembus dinding waktu dan berhenti pada satu frame kehidupan di beberapa tahun silam. Aku dulu pernah seperti mereka. Pada jam-jam seperti ini membuat kegaduhan di tempat itu, di tanah cukup lebar yang memisahkan rumahku dengan mushola. Aku dan teman-teman bermain tekongan sembari menunggu mbah Sarto, guru yang mengajari kami mengaji datang.

Saat bermain tekongan aku suka sekali bersembunyi dengan Rahma. Tetangga dua rumah yang umurnya sebaya denganku. Rahma berbadan tinggi dan kurus. Karena memiliki kaki yang jenjang, membuat ia menjadi anak yang larinya paling cepat di antara kami.

”Ayo. Cepat, Tan!”Seru Rahma suatu kali seraya menarik tanganku.

Tarikan tangannya itu membuat kakiku yang pendek berusaha lari mengimbangi langkahnya yang panjang. Rahma tak mempedulikan aku yang lari keponthalan. Tangannya terus saja menarik tanganku dengan kuat dan membuatku sangat kelelahan. Tapi meski napasku tinggal satu dua, di dalam dadaku sana sesak oleh rasa bahagia karena kami berhasil sembunyi sebelum pemain penjaga sempurna menata semua wingko.

”Enak ya jadi kamu, kalau sembunyi selalu paling cepat,” pelan ucapku pada Rahma.

”Aku justru ingin seperti kamu, kalau sembunyi begini nggak susah.” Rahma terlihat sedikit kesulitan melipat kakinya. Maklum kami sembunyi di bawah palungan kandang kambing yang sekarang dipakai untuk menumpuk kayu kering.

Cresshh…

Kami saling berpandangan. Itu suara daun kering yang diinjak.

Creshh Creshh…

Rahma menempelkan jari telunjuknya di atas bibir. Seketika hening, kami mematung. Hanya suara napas yang mewakili kekhawatiran perasaan kami saja yang terdengar.

Creshh Creshh Creshh…

Dadaku berdebar-debar. Rahma menyentuh pundakku lalu mengangguk. Raut mimiknya yang serius itu menyiratkan pesan agar aku bersikap tenang dan memercayakan semua padanya. Rahma lantas memasang kuda-kuda, menyiapkan diri untuk lari jika keberadaan kami benar telah tercium oleh pemain penjaga.

”Rahma… Intan…”

Benar, itu suara pemain penjaga.

”Serbu…!” Rahma berteriak kencang seolah dirinya adalah komandan perang yang sedang memberi aba-aba pada pasukannya. Nada suaranya penuh semangat dan terdengar gembira sekali. Dari jauh aku melihatnya dengan tatapan geli. Hal yang paling disukai Rahma adalah saat-saat seperti itu. Saat dimana ia berlomba lari adu cepat dengan pemain lain. Tapi walau seberapa cepat pemain lain berlari, pada akhirnya Rahma tak terkalahkan. Rahma berhasil membuat wingko di dalam bundaran berserakan.

”Hore!”Beberapa pemain lain yang telah tertangkap bersorak senang, lalu mereka lari berpencar ke berbagai penjuru untuk sembunyi lagi. Aturan permainan tekongan memang seperti itu. Dimana pemain lain yang sudah tertangkap bisa bebas dan sembunyi lagi asal ada pemain lain yang berhasil menyepak wingko mendahului penjaga.

Bukan hanya bagiku, tapi bagi teman-teman lainnya, Rahma juga serupa payung yang menjaga mereka dari tetesan air hujan. Dimana ada Rahma, tempat itu seolah disulap serupa lingkaran pelindung.

Karena bersama Rahma selalu aman, maka aku tak pernah mau pisah dengannya. Rahma juga tak keberatan jika aku mengekorinya, tapi sifatnya yang penyayang itu akan berubah menjadi galak jika ia diikuti oleh anak lain.

”Sembunyi sama anak lain rawan berisik. Cepat ditemukan,” jawab Rahma suatu kali menanggapi pertanyaanku.

”Tapi kenapa kamu tak marah jika aku yang ikut?” tanyaku lagi.

”Entah. Aku hanya merasa nyaman saja denganmu.”

**
Rahma bukan hanya jago lari dan pintar memilih tempat sembunyi, tapi ia juga suka sekali mengusili pemain penjaga. Suatu kali saat semua pemain sudah melemparkan batu, lalu pemain yang batunya berada paling jauh dengan bundaran terpilih menjadi penjaga, Rahma gegas menarik tanganku. Aku keponthalan mengikutinya lari ke barat.

Kami sudah melewati belakang mushola. Kukira ia akan mengajakku sembunyi di kebun kopi. Aku sudah membayangkan kami akan bergelantungan di atas dahan pohon pemilik buah kecil-kecil itu. Tapi setibanya di sana ternyata Rahma tak menunjukkan sinyal hendak berhenti. Kami terus lari melewati kebon jagung, menuruni embong trabasan dengan beberapa undag-undag, menyeberangi kalen kecil yang airnya setinggi mata kaki, dan akhirnya berhenti di sebuah petak sawah.

Di petak yang penuh dengan tanaman kacang lanjar itu Rahma berjalan pelan sambil memeriksa beberapa pohon kacang. Tak lama berjalan, ia lalu berhenti.

”Sini Tan.’”Teriaknya memanggilku.

Aku mendekat.

”Sudah banyak yang masak.”

Mataku berbinar kala melihat genggaman tangan Rahma penuh dengan buah ciplukan berwarna kuning. Rahma lalu memindahkan buah itu ke tanganku. Rahma tahu aku suka sekali makan ciplukan. Maka sore itu ia lebih banyak menguliti buah itu buatku. Lama di sawah, kami sibuk berburu buah ciplukan dari pohon satu ke pohon lainnya. Bahkan saking asyiknya, kami sampai lupa bahwa matahari semakin miring ke barat dan mbah Sarto sudah datang ke mushola.

Keusilan Rahma bukan hanya itu saja. Suatu hari kami pernah membuat geger mbah Sarto dan teman-teman. Mereka mengira kami raib entah kemana karena sampai maghrib belum juga kembali. Mereka mencari kami ke mana-mana, ke seluruh desa, padahal kami dekat sekali. Aku dan Rahma ketiduran di dalam kamarku.

Awalnya kami main tekongan seperti biasa. Lalu Rahma mendesak untuk bersembunyi di dalam rumahku. Terang saja aku menolak, karena hal itu berarti melanggar perjanjian dengan teman-teman.

”Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,” tukas Rahma cepat.

Aku tak berdaya menolak permintaanya. Maka ketika tak ada yang melihat, kami gegas membelokkan kaki menuju belakang rumah. Aku mengambil kunci lalu membuka pintu.

”Ingin tanya apa?” tanyaku saat kami sudah berada di dalam.

”Aku minum dulu.” Rahma menyambar kendi di atas meja lalu menuangkan air ke dalam gelas. Bunyi tegukan seketika terdengar begitu air dingin itu membasahi tenggorokannya.

”Ajari aku tugas matematika yang tadi diterangkan bu guru. Aku tadi pagi kan telat masuk kelas.”

Aku mengajak Rahma masuk ke kamar. Aku mengeluarkan buku matematika dari dalam ransel lalu menerangkan bagian yang tak ia pahami.

Rahma seorang pembelajar yang cepat. Sekali saja kuterangkan, ia langsung paham. Rahma juga seorang yang memiliki semangat belajar tinggi. Buktinya, usai belajar matematika, ia mengajakku belajar mata pelajaran lain.

”Kenapa kamu suka sekali belajar?” tanyaku penasaran.

”Kata emak, kalau rajin belajar nanti akan jadi orang pintar.”

”Kalau sudah pintar mau ngapain?” tanyaku lagi.

”Aku ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan orang sakit. Aku tak ingin ada anak yang sedih karena kehilangan ibu atau bapaknya.” Suara Rahma bergetar.

Mendadak aku menyesal telah mengajukan pertanyaan itu. Rahma pasti sedih karena ia teringat peristiwa tiga tahun sebelumnya. Kala itu desa kami diserang wabah demam berdarah. Banyak nyawa warga yang tak tertolong. Penduduk di desa kami mayoritas kurang mampu. Tersebab hal itulah, ketiadaan dana menjadi kendala untuk mendapat penanganan medis yang memadai. Dan satu diantara yang meninggal itu adalah bapak Rahma.

Setelah bapak Rahma tiada, emaknya yang mengambil alih tugas sebagai tulang punggung. Emaknya yang berbadan ringkih dan sering sakit-sakitan itu bekerja apa saja. Berangkat pagi dan pulang jelang maghrib. Untuk itulah kenapa Rahma sering telat pergi ke sekolah, karena ia harus menyiapkan sarapan dan mengurusi kedua adik kembarnya yang masih TK.

**
Masa menyenangkan bersama karib memang paling indah. Tapi tak selamanya kita bisa selalu menghabiskan hari bersama orang yang kehadirannya kita harapkan, sebab waktu lebih berwenang membentang jarak. Dan jarak itu aku rasakan ketika aku dan Rahma sama-sama baru lulus SD.

Hari itu adalah hari wisuda kelulusan. Bibirku selalu membentuk sabit karena hari itu aku berhasil meraih juara satu. Aku juga bahagia karena usaha Rahma yang keras untuk belajar tak sia-sia. Ia meraih juara dua. Hanya saja sayangnya hari itu Rahma tak bisa datang ke sekolah sebab menunggui emaknya yang sedang sakit batuk dan mengeluarkan darah.

Aku membawakan pulang piala milik Rahma. Setibanya di rumahnya, aku tak menemukan wajah ceria Rahma seperti biasa. Carut itu masih kulihat bahkan setelah aku menyerahkan piala padanya.

”Besok aku akan ke Jakarta, Tan. Penyakit emak makin parah, aku harus bekerja untuk mencari biaya pengobatannya.” Suaranya parau.

”Kamu nggak melanjutkan sekolah?”tanyaku kaget.

”Saat ini aku tak punya pilihan lain. Emak lebih penting dari segalanya. Lagi pula jika emak tidak kerja, tak ada uang untuk makan juga untuk biaya sekolah kedua adikku. Biarlah satu yang mengalah, asal tiga lainnya terselamatkan.” Genangan bening yang lama menghuni sudut matanya jatuh. Aku hanya bisa memeluknya dengan erat saat ia menangis sesenggukan. Aku bisa merasakan betapa menyakitkannya memendam cita-citanya untuk sekolah tinggi.

Rahma benar-benar pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai penata laksana rumah tangga. Seminggu tanpa Rahma, aku sering menangis jika teringat saat-saat manis bersamanya. Sebulan kemudian, aku masih sering seperti itu. Lalu hari semakin bertambah dan aku mulai sibuk dengan jam sekolah yang padat, aku mulai terbiasa tanpanya.

Setengah tahun berjalan. Suatu hari datang sebuah surat atas namaku. Itu surat dari Jakarta dan di ampolnya tertulis pengirim dengan nama Rahma. Dalam surat itu Rahma bercerita, bahwa di Jakarta sana ia mempunyai majikan yang baik. Pekerjaan Rahma tidak begitu berat. Jika semua pekerjaan telah selesai, Rahma diijinkan untuk istirahat lebih awal. Rahma bahkan diijinkan untuk membaca buku yang ada di perpustakaan pribadi milik majikannya. Aku lega dan aku selalu percaya bahwa Tuhan memudahkan jalan seorang anak yang ingin membahagiakan keluarganya. Membaca goresan tulisan itu, aku merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Rahma.

Sebulan sekali kami saling bertukar surat. Aku menceritakan sekolahku yang super padat dengan pelajaran yang semakin sulit. Rahma menasehatiku untuk tak menyerah. Ia mengingatkan bahwa diluar sana banyak anak yang ingin sekolah tapi tak punya biaya, maka dari itu aku tak boleh menyerah dan harus terus semangat belajar. Lewat lembaran surat itu, aku merasa jarak tak menjadi penghalang pertemanan kami. Aku merasa Rahma seolah-olah sedang tak berada di belahan bumi lain. Rahma terasa dekat.

Purnama demi purnama berlalu. Tahun pun berganti dan itu membuat kami menjadi sosok yang bukan anak-anak lagi. Aku dan Rahma masih berkirim surat seperti biasa. Tapi di suratku di bulan itu, aku mengatakan bahwa mungkin itu terakhir kalinya aku mengirim surat untuknya. Aku sudah mengubur niat masuk perguruan tinggi dan memutuskan untuk bekerja ke Hong Kong, agar bisa membantu melunasi hutang bapak dikarenakan usahanya bangkrut. Mengubur mimpi masuk banku kuliah memang membuat sedih, tapi aku belajar ikhlas dari Rahma seperti saat ia bekerja ke Jakarta dan mengubur impiannya untuk sekolah.

Maka setelah masuk ke penampungan, aku berangkat ke negeri beton. Aku benar-benar tak berkirim surat padanya lagi dikarenakan ongkos kirim yang mahal. Lama aku tak mendengar kabar tentangnya. Tapi di suatu hari ketika aku menelpon keluarga, aku mendapat kabar yang membuat hatiku terasa dikerat seiris demi seiris.

**
Kini anak-anak di desa kami masih sering bermain tekongan sembari menunggu mbah Sarto yang umurnya semakin senja itu datang. Anak-anak itu juga membuat gaduh dan beberapa keributan kecil. Mereka sering bersembunyi di bawah palungan kandang kambing, di pohon kopi dan di belakang rumahku. Mereka melakukannya seperti masa kecilku dulu. Tapi kini aku tak bisa menemukan sosok yang selalu menarik tanganku. Aku tak bisa menemukan Rahma dan tak bisa memanggil namanya lagi. Hari di saat aku menelpon keluarga itu, aku mendapat kabar bahwa kereta yang membawa Rahma pulang dari Jakarta mengalami kecelakaan dan Rahma meninggal hari itu juga. Sejak saat itu semua tentang Rahma menjelma kenangan, dan kenangan tentangnya akan selalu indah melekat di hati. Aku selalu berdoa semoga ia mendapat kebahagiaan dalam tidurnya sana. (*)

* Juara 1 lomba cerpen FSMI FLP-HK 2016.

1/26/2017

Langit Berwarna Hitam

di Republika

Langit berwarna hitam. Sepertinya hujan segera turun. Hari ini Getar tidak kerja. Ia meminta bibik tinggal di rumah dan ia sendiri yang menjemput Sakti. Sepuluh menit yang lalu sekolahan bubar. Kini Getar duduk di bangku kayu depan sekolahan.

Sakti tengah bermain kejar-kejaran dengan seorang anak gadis yang rambutnya dikuncir ekor kuda. Sakti gantian mengejar setelah bahunya berhasil disentuh oleh anak gadis itu. Mereka terus seperti itu. Berlarian. Bergantian menjadi pengejar dan dikejar. Getar tersenyum getir. Tingkah mereka seperti gambaran dirinya bersama Aluna di masa kecil.

Getar kecil suka sekali mengganggu Aluna yang sedang menggambar menggunakan cat cair.

”Ekor kuda…, Ekor kuda…,”

Setelah berhasil menarik rambut Aluna yang dikuncir ekor kuda, Getar menjulurkan lidah dan menempelkan kedua tangannya di telinga. Mengejek. Aluna marah. Gambar langit berwarna hitam yang hampir selesai ditinggalkan begitu saja. Lantas mengejar Getar yang lari ke taman belakang. Mereka kejar-kejaran hingga membuat pot tanaman mama bergeser dari tempatnya.

Mama marah mengetahui nasib pot tak di tempatnya. Sebagai hukuman, mereka harus membetulkan letak pot-pot itu, sekalian mencabuti rumput yang tumbuh. Setelah satu jam, mama memanggil mereka. Menyuruh cuci tangan dan masuk. Rupanya mama telah menyiapkan puding coklat susu saus vla vanila kesukaan mereka. Mama tidak benar-benar marah. Hukuman itu hanya pelajaran agar setelah dewasa nanti mereka bisa menjadi orang yang bertanggung jawab.

Tidak Aluna maupun Getar, mama akan memberi sangsi jika mereka bandel. Mama memperlakukan kedua anak seumuran itu tanpa pilih kasih. Meski bukan anaknya, mama menyayangi Aluna seperti sayangnya pada Getar. Aluna sering menginap dan tidur bersama mama jika ayahnya bertugas ke luar kota. Di rumahnya tak ada siapa-siapa. Ibu Aluna meninggal ketika melahirkan anak perempuan cerdas itu.

**
Dua puluh empat tahun usianya. Aluna sudah besar. Gadis itu tidak cantik, hanya sangat manis dengan lesung di kedua pipinya. Aluna juga mandiri dan pemberani. Tak lagi takut di rumah sendirian jika ayahnya pergi ke luar kota.

Bakat menggambar yang dimiliki sejak kecil mengantarkannya menjadi pelukis yang namanya diperbincangkan. Semua lukisannya laris diminati kolektor. Baru-baru ini ada yang terjual di luar negeri. Namun Aluna bukan seorang pelukis yang produktif. Ia hanya melukis ketika waktunya longgar. Dan waktu luang itu jarang ada, sebab hari-harinya habis bersama anak-anak yatim piatu. Ia relawan di sebuah yayasan sekaligus museum permainan anak di kota itu.

Tak ada yang lebih menggembirakan bagi seorang Aluna selain mendengar kabar sahabatnya akan pulang. Dua tahun setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta, Getar belum pernah kembali. Mama sangat rindu. Beruntung ada Aluna yang menghibur, yang tiap akhir pekan meluangkan waktu untuk menemani mama merawat tanaman dalam pot di taman belakang sembari mendengarkan mama bercerita.

Hari yang dinanti tiba. Sejak pagi Aluna membantu mama di dapur. Memasak makanan kesukaan Getar. Detik berjalan. Menit berganti. Jam berlalu. Dan bel berbunyi.

Dua tahun waktu yang singkat untuk membuat Getar tumbuh menjadi lelaki perkasa. Aroma kebahagiaan buncah memenuhi hati mama. Aluna juga bahagia. Ia terus tersenyum dan berusaha bersikap wajar walau ada sesuatu yang merongrong di sudut hatinya. Dadanya sesak melihat wanita yang berdiri di samping Getar dan dikenalkan sebagai kekasihnya.

Namanya Andini. Perempuan kota yang dari ujung kaki sampai ujung rambut telah disentuh kemodernisasian jaman. Perempuan pemilik bibir tipis bergincu merah merona. Rambutnya yang sebahu, lurus terurus dengan baik. Jari-jari tangannya panjang dengan cat merah disetiap kukunya. Tubuhnya tinggi langsing, tampak sekali hasil bentukan mesin-mesin gym.

**
”Wanita yang baik itu yang mau kotor-kotor dengan peralatan dapur.” Mama melirik Andini yang tiap selesai makan langsung meninggalkan meja dan duduk di depan televisi.

Sebenarnya mudah sekali mengambil hati mama yang penyayang itu. Hanya menjadi penurut dan bersedia sedikit saja membantu melakukan pekerjaan rumah, atau membantu merawat tanaman dalam pot, pasti mama akan menyayangi sepenuh hati. Namun Andini yang terbiasa dilayani pembantu dan suka berbuat semaunya, membuat mama enggan tersenyum padanya.

Watak dasarnya yang cuek membuat Andini tak merasa harus menghiraukan orang lain. Getar sangat mencintai Andini melebihi dirinya sendiri. Andini tahu itu. Getar rela berbuat apa saja yang ia minta. Bahkan beberapa kali ketika Andini mengancam putus, berkali-kali Getar meminta maaf dan memohon-mohon agar Andini tak melakukannya.

”Sebenarnya kamu disihir pakai apa sih sama perempuan kota itu, Tar?”

”Mama jangan ngomong gitu dong.”

”Kenapa anak mama bisa berubah seperti ini? Andini memang cantik. Tapi kecantikan saja tidak cukup, Tar. Mencari wanita juga harus yang memiliki budi pekerti yang baik. Tidak malas dan tidak memikirkan diri sendiri. Apa kamu mau jika punya anak nanti, anak kalian ditelantarkan di rumah, sedang waktu ibunya habis untuk jalan-jalan, pergi ke salon atau tempat gym? Wanita itu pengayom. Tempat pulang keluarganya.”

Ketenangan dan kebahagiaan yang dirindukan ketika tiba di rumah, justru melesat dari bayangannya. Getar serba salah. Mama sering menunjukkan sikap tak menyukai Andini. Dan perempuan kota itu tak peduli. Hingga puncak perang dingin itu terjadi pada suatu sore.

Sandal mama yang alasnya sudah tipis tak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh Andini. Mama terjengkang ke belakang. Beruntung tangan Aluna lebih sigap menahan badan mama. Namun kejadian yang tiba-tiba itu membuat Aluna kehilangan keseimbangan. Akhirnya mereka jatuh ke tanah dengan posisi badan mama di atas tubuh Aluna.

Mama baik-baik saja dan Aluna tidak terluka. Hanya saja malam saat hendak melukis, Aluna merasa sakit di pergelangan tangannya. Berkali-kali kuas yang dipegang jatuh. Tangannya seolah tak punya kekuatan untuk bergerak. Paginya ia memeriksakan ke rumah sakit karena mendapati memar di bagian bawah ibu jari. Ia shock. Dokter bilang tangannya mengalami patah tulang yang cukup serius.

Andini tak ingin terlibat lebih jauh. Ia memutuskan pulang ke Jakarta lebih dulu.

”Kini hidupnya tak secerah warna dalam lukisan-lukisannya. Ini semua gara-gara mama.”

”Semuanya kecelakaan. Aluna tidak marah. Mama jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu dong. Dia lebih kuat dari yang mama pikirkan.”

”Bagaimanapun juga, melukis tak bisa dipisahkan darinya. Kamu belum pernah tahu saat tiba-tiba ia tertawa atau matanya menetes di depan papan putih kosong itu. Kuasnya bergerak mengikuti kemelut hati, bercerita tentang hari-harinya, tentang kerinduan pada ibu yang belum pernah dilihat. Aluna tetap seorang wanita yang lemah. Ia lebih rapuh dari yang kita lihat, Tar.”

”Mama tak pernah minta apa-apa, Tar. Tapi jika kali ini mama minta sekali saja, apa kamu bersedia memenuhi? Tidak apa-apa jika keberatan. Dan anggap mama tak pernah mengatakan ini.”

”Permintaan apa, Ma?” Hati Getar cemas.

**
Pernikahan itu terjadi. Hanya keluarga dekat yang diundang. Akadnya dilakukan di masjid. Syukuran di gelar di yayasan tempat Aluna menjadi relawan. Getar mengabulkan permintaan mama untuk menikahi Aluna. Sahabat kecilnya sangat mama inginkan menjadi menantu.

”Tanaman mama dalam pot pelan-pelan tumbuh dan sekarang sudah tinggi. Begitulah cinta, akan tumbuh perlahan-lahan, Tar.”

Getar memboyong Aluna ke Jakarta. Ia baru mengabari Andini tentang pernikahan itu satu minggu kemudian.

”Maafkan aku, Din. Maafin aku banget.”

Berpuluh-puluh kali kata maaf keluar dari mulut Getar. Andini marah. Menangis. Memukul-mukul dada Getar. Ia merasa sangat bersalah pada Andini. Seharusnya ia menuruti perkataan mama untuk segera memberitahu Andini setelah akad itu terucap.

”Tega banget kamu khianatin aku, Tar.”

Andini tak mau kehilangan Getar. Ia baru menyadari jika dirinya benar-benar mencintai Getar. Kantor mereka bersebelahan. Andini selalu menemui Getar tiap istirahat dan pulang kerja. Tak jarang meminta Getar menemaninya jalan-jalan. Laki-laki itu mengiyakan, sebab dalam hatinya masih menyimpan nama Andini.

Rasa bosan menyergap Aluna yang tinggal sendiri di apartemen. Tak ada kanvas putih yang bisa dicoret-coret. Tak ada tanaman dalam pot yang perlu dirawat. Dan tak ada anak yayasan yang keceriaannya bisa mengusir sepi. Aluna hanya menonton televisi, membaca buku dan menunggu Getar yang kadang dua hari sekali baru pulang. Hidupnya terasa gelap. Ia stres. Dokter melarangnya banyak memikirkan sesuatu, sebab hal itu tak baik buat kandungannya.

**
Langit berwarna hitam. Hujan sudah turun. Rintiknya jatuh di atas payung lebar yang menaungi tubuh anak dan bapak itu. Sakti tidur di gendongan tangan kiri Getar. Bocah lucu empat tahun itu tak terganggu suara hujan yang berisik. Pulas ia tidur. Sesekali kepalanya miring ke kanan dan menyebabkan lesung di pipinya terlihat jelas ketika Getar menoleh hendak membetulkan posisi kepala anaknya.

Hujan semakin deras. Butirannya besar-besar jatuh. Baju Getar bagian lengan basah oleh air yang baru diusap dari matanya yang panas. Lesung pipi Sakti mengingatkannya pada Aluna.

Empat tahun lalu Getar mendapat telpon dari rumah sakit ketika langit sudah gelap. Mobilnya segera dilajukan berbalik haluan dari arah jalan menuju hotel yang telah Andini sebutkan. Kandungan Aluna sangat lemah dan ia mengalami banyak pendarahan. Getar terlambat. Sakti lahir namun Aluna menyerah.

Seminggu setelah Aluna meninggal, mama memberikan lukisan-lukisan Aluna yang sebulan sebelumnya dititipkan pada mama. Semua lukisan itu bergambar tentang seorang laki-laki dan perempuan. Lukisan tentang anak laki-laki menarik rambut anak gadis yang dikuncir ekor kuda. Lukisan tentang anak laki-laki dan anak gadis tengah berlarian di taman belakang rumah. Di lukisan lain anak laki-laki dan perempuan itu sudah remaja memakai seragam biru putih. Ada pula yang berseragam abu-abu.

”Aluna menyukaimu sejak kecil, Tar.” Getar melihat lukisan tentang seorang laki-laki yang sudah dewasa bersama seorang perempuan cantik. Itu bukan perempuan yang sama dengan lukisan-lukisan sebelumnya.

Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan hatinya yang hancur. Ia berjalan menuju kamar mandi. Mengunci pintu. Menyalakan kran air. Sesenggukan duduk di lantai sambil memeluk lukisan terakhir yang mama serahkan. Sebuah lukisan tentang langit berwarna hitam dan seorang anak perempuan kecil. Lukisan yang bercerita tentang rindu, sedih, sepi dan sunyi milik Aluna. (*)

* Cerpen sederhana ini Alhamdulillah terpilih menjadi juara 2 program Bilik Sastra RRI Voice of Indonesia tahun 2016.
Yesi Armand Sha.

1/23/2017

Jilbab Hijau Muda

photo net

Setengah tergesa Wien menyusuri beberapa anak tangga di depan pintu masuk pasar Wan Chai. Tas belanja yang penuh dengan sayuran menggantung di pundak kanan. Beratnya beban membuat tubuhnya yang kecil berjalan sedikit lambat.

Belasan wanita berkulit sawo matang seperti dirinya tengah bergerombol di depan toko yang hendak ia tuju. Wien melongokkan kepala. Matanya berjelajah ke dalam, mencari-cari sesuatu.

“Apa mungkin jilbabnya sudah laku?’’ tanya Wien pada dirinya sendiri. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak saat ia teringat perkataan laki-laki berwajah Pakistan pemilik toko itu tempo hari, bahwa jilbab hijau muda itu hanya tersisa satu dan sudah tidak produksi lagi.

“Lima hari lagi aku gajian, tolong simpankan jilbab ini buatku, Brother.’’ Pinta Wien di suatu pagi tempo hari.

“Maaf aku tak bisa melakukannya. Jika kau ingin aku menyimpannya, paling lama hanya sampai nanti sore, atau besok pagi.’’

“Tolonglah, Brother. Bulan ini semua gajiku sudah kukirim pulang karena ibuku sakit dan kedua adikku membutuhkan biaya sekolah. Nanti begitu gajian dan memegang uang, aku pasti akan langsung membelinya.’’

“Sekali lagi maaf, aku tak bisa. Jika jilbab ini sudah laku terbeli orang lain, itu tandanya tidak berjodoh denganmu, Sister. Yang perlu kamu lakukan hanya mengikhlaskannya.’’

Walau kecewa, Wien mengangguk. Hatinya membenarkan perkataan laki-laki itu.

**

Jilbab itu lebar berbentuk segiempat. Bermotif bunga kecil-kecil dihiasi manik-manik indah di pinggirnya. Sebenarnya Wien sudah menyukainya saat pertama kali melihat, tapi ia ingin membeli jilbab itu untuk diberikan pada mbak Alif sebagai hadiah ulangtahun mbak Alif yang keduapuluh lima. Wien sering membayangkan saat jilbab hijau muda yang cerah itu beradu dengan kulit wajah mbak Alif yang putih, pasti akan membuat gadis kalem yang lebih tua tiga dua tahun darinya itu terlihat semakin cantik.

Di negeri Bauhinia yang sebatangkara ini Wien menganggap mbak Alif layaknya saudara. Mbak Alif sangat baik, mau menasehati dan menegur Wien saat ia salah. Mbak Alif juga selalu ada untuk Wien apapun keadaannya.

‘’Kenapa ya mbak, teman seringkali dekat kalau ada maunya.’’ Tanya Wien pada mbak Alif suatu kali.

“Tidak semua teman seperti itu. Makanya kita harus pandai memilih teman. Kalau kita berteman karena kebaikan, tak akan ada cerita tentang udang di balik rempeyek.’’

Wien tersenyum menanggapi candaan mbak Alif itu, tapi beberapa detik kemudian tatapannya kembali nanar. Ia teringat saat puncak musim dingin tahun lalu semua teman-temannya menjauh secara bersamaan. Padahal saat itu mereka tahu Wien yang baru diinterminit belum juga mendapat majikan baru dan visa-nya hanya tinggal dua hari. Wien juga tak memiliki persediaan uang banyak karena gajinya telah ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya itu di restoran mahal tepat tiga hari sebelum ia diinterminit.

Hari terakhir sebelum esoknya Wien harus meninggalkan Hong Kong, ia tak sengaja bertemu dengan mbak Alif di kantor agen. Mbak Alif yang saat itu hendak renew kontrak seolah mengerti masalah dan keresahan yang dirasakan Wien.

‘’Kebetulan neneknya majikanku mencari cece. Orangnya baik sekali, kalau kamu mau, aku bisa mengenalkannya.’’

‘’Saya mau mbak. Jaga apa saja saya mau, asal cepat mendapat majikan,’’ ucap Wien sungguh-sungguh.

‘’Jangan seperti itu, kamu harus ketemu dulu agar hatimu lebih mantap dan tak menyesal di kemudian hari.’’

‘’Baik mbak. Hari ini bisa ketemu nenek, kan?’’

‘’Aku bisa mengantarkan. Tapi nenek sukanya sama orang yang sederhana dan tidak neko-neko. Apa kamu tidak keberatan jika hanya berpenampilan biasa saja?’’

‘’Tentu, mbak.’’

Wien pamit ke kamar mandi dan gegas membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan make-up di wajahnya. Rambut yang tadinya diikat dua menyerupai girlband asal negeri Ginseng pun sudah rapi dengan kuncir simpul satu di belakang. Ia merasa beruntung bertemu dengan mbak Alif, karena perempuan berjilbab itu mau membantunya tanpa melihat penampilan Wien yang saat itu seperti anak punk dan urakan.

Lalu pada akhirnya setelah pertemuan itu, Wien bekerja di tempat nenek yang rumahnya satu flat tapi beda lantai dengan majikannya mbak Alif. Wien yang polos, yang mudah terpengaruh teman dan mudah berubah pendirian akhirnya menemukan teman yang tepat. Tidak ada alasan bagi Wien untuk tak dekat dengan mbak Alif, sang sosok panutan itu. Waktu libur Wien tak lagi habis di bar atau club lagi, tapi detik tiap jamnya ia gunakan untuk mengaji di masjid bersama mbak Alif.

**

Wien memaksa kakinya yang terasa tak memiliki kekuatan untuk terus melangkah masuk, dan kedatangannya langsung diketahui olek laki-laki Pakistan pemilik toko.

‘’Jilbabnya baru saja dibeli orang, Sister. Sepertinya memang tidak berjodoh denganmu.’’

‘’Sayang sekali, padahal aku kemari hendak membelinya.’’ Wien menunduk, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang murung.

‘’Masih ada jilbab lain bermotif sama tapi warnanya merah marun. Kamu lihat dulu barangkali suka.’’

Tangan laki-laki Pakistan itu lihai mencari-cari jilbab yang ia maksud diantara jilbab-jilbab lain yang digantung memanjang. Dan setelah ketemu, ia memperlihatkan pada Wien.

“Lihat, ini juga bagus, Sister.’’

Wien menerima jilbab itu. Mengamati, membolak-balik dan membayangkan apakah jilbab itu cocok dipakai mbak Alif.

“Baiklah aku ambil, Brother.’’

Sebelum pulang, Wien menyempatkan mampir ke toko yang menjual alat tulis untuk membeli kertas kado. Rencananya nanti malam ia akan membungkus jilbab itu dan esoknya akan di berikan pada mbak Alif. Tepat di hari ulangtahun perempuan itu.

**

‘’Selamat hari lahir ya Mbak. Semoga umurnya berkah dan kebaikan selalu menyertai hari-hari Mbak.’’

Mbak Alif memasukkan bingkisan dari Wien ke dalam tas, lalu tangannya menarik sesuatu yang dibungkus kertas kado berwarna pink dari dalam tas itu. Sesuatu itu ganti disodorkan pada Wien.

‘’Terimakasih, Wien. Ini aku juga ada sesuatu buat kamu.’’

‘’Apa ini mbak?’’ tanya Wien polos.

Mbak Alif tersenyum.’’Dibuka saja biar tidak penasaran.’’

Wien menurut. Tangannya terampil membuka isolasi yang merekatkan tiap ujung kertas. Mata Wien terbuka lebar dan dahinya berkerut saat bungkusan itu telah sempurna terbuka.

‘’Jilbab ini…’’ Wien menggantung kalimatnya. Sengaja membiarkan mbak Alif memberi penjelasan.

‘’Saat itu aku melihatmu ingin membelinya, tapi waktu itu aku juga belum mempunyai uang. Dan kemarin setelah aku gajian, saat ke pasar, aku melihat jilbab itu masih ada.’’ Terang mbak Alif.

‘’Jadi mbak Alif yang membelinya?’’

Mbak Alif tersenyum lantas mengangguk. Ia tidak tahu jika sebenarnya Wien ingin membelikan jilbab hijau muda itu untuk dirinya. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di Tabloid ApakabarPlus HK, Edisi Agustus 2016.

*Yesi Armand Sha.

1/19/2017

Taman Tulip

photo net

Arumi berjalan menyusuri jalan bebatuan berwarna kehijauan. Ia tak percaya jika dirinya tengah berada di taman luas penuh warna-warni tulip. Ada putih, hijau, merah, kuning, oranye, biru dan ungu. Sepanjang matanya memandang, bunga itu tampak menghampar luas. Beberapa masih kuncup, sebagiannya mulai bermekaran. Ia memutar badannya pelan-pelan, sambil membiarkan mata coklatnya menelanjangi bunga-bunga asal Asia Tengah di kiri kanannya itu.

Dengan kaki telanjang, ia berlari-lari kecil pada gang pembatas yang tanahnya sedikit becek. Kedua tangannya dibentangkan ke atas. Mata beningnya berbinar. Warna-warni bunga itu seakan menerbangkannya tinggi-tinggi. Dadanya penuh letupan kekaguman. Ia kehabisan kata untuk mengungkapkan keindahan taman yang telah menghipnotisnya itu. Dalam keterpesonaan, ia berteriak-teriak keras. Suaranya membahana ke segala penjuru. Dan itu membuatnya sadar, ternyata tak ada seorangpun selain dirinya di sana.

Gadis itu berteriak lagi. Lebih keras. Tak ada sahutan pun suara orang lain. Yang terdengar hanya pantulan suaranya sendiri. Perasaannya mulai cemas. Ia bingung dan berlarian tak tentu arah. Tanpa sadar kakinya berpijak di atas tumbuhan berbunga itu.
Bunga-bunga yang diinjaknya rusak. Bunganya, daunnya dan batangnya patah, terputus sendiri-sendiri. Mereka seolah bertingkah seperti manusia, berlarian dan berlompatan kesana-kemari mencari susunannya. Ia mendengar mereka mengerang kesakitan, berteriak, memaki dan menyalahkannya. Suara itu mengganggu dan membuatnya ketakutan. Matanya dipejamkan seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat. Sejenak kemudian ia menangis meraung-raung.

‘’Arumi! Arumi!’’

Ia masih menangis.

‘’Arumi.’’

Samar-samar terdengar, ia memasang telinganya baik-baik. Namanya kembali dipanggil. Ia mengenali suara itu. Saat matanya terbuka, dilihatnya ibu tengah berdiri tak jauh di depan sana. Sosok itu mengenakan baju serba putih. Wajah teduhnya tersenyum lembut. Serta merta Arumi berlari menujunya dan kembali menginjak tulip-tulip indah.

**
‘’Rum. Arumi!’’

Arumi membuka mata, ditemukannya wajah Eva penuh kekhawatiran.

‘’Mimpi lagi?’’

Yang diajak bicara hanya bergeming, kemudian mengelap keringat di dahi.

‘’ Ini minum dulu.’’

Ia meneguk air putih yang diulurkan Eva. Sahabatnya itu kini kembali ke ranjang susun di atasnya. Sementara ia duduk bersandarkan bantal yang diberdirikan di belakang punggungnya. Tatapannya lurus. Ia terbayang senyum dan tatapan sendu pada wajah ibu. Wajah yang sangat dirindukan tapi takkan pernah ada kesempatan untuk melihat lagi. Ada sebersit rasa sedih dalam hati. Di pikiranya memutar bayangan kejadian lalu. Ia rindu bapak juga adik-adiknya.

Kala itu setelah ibu meninggal dan bapak sakit-sakitan, sebagai anak tertua dari empat bersaudara, ia merasa ikut bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga. Selain mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia juga harus membiayai sekolah adik-adiknya. Keadaan terpaksa itulah yang membuatnya membulatkan tekad melarung nasib ke negeri beton.

Dalam hidup kadang cara Tuhan sulit dipahami. Lalu karena ketidaksabaran, manusia tergelincir dalam tindakan nekad. Seperti itulah yang dialami Arumi. Di negeri beton nasibnya tak sebaik teman-temannya. Dalam waktu dua tahun, ia mengalami tiga kali pemutusan kontrak kerja. Selain break juga diinterminit.

Awalnya ia selalu yakin, bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Tapi kemudahan yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia tak bisa lagi bersabar, sebab visa tinggalnya sudah habis tapi belum juga mendapat majikan. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk mengikuti jejak temannya yang overstay. Overstay adalah sebutan untuk PMI yang tidak memiliki ijin tinggal resmi di negeri beton ini.

Empat tahun overstay, ia hidup kucing-kucingan dengan imigrasi dan polisi Hong Kong. Kemanapun pergi harus hati-hati, sebab sewaktu-waktu bisa saja tertangkap oleh mereka. Dan selama itu pula, ia selalu mengirim uang ke Indonesia dua kali bahkan kadang tiga kali lipat lebih banyak dari gaji sebagai PMI. Oleh bapak, uang itu dibuat untuk membangun rumah, membeli ladang, sawah dan ditabung. Arumi bekerja serabutan. Menjadi tukang bersih-bersih tempat penginapan, tukang cuci piring di restoran dan bekerja di bar. Namun pundi-pundi dolar terbesar mengalir dari lelaki bermata biru.

Lelaki bermata biru itu berasal dari negeri kincir angin. Mark namanya. Malam itu Mark berkunjung ke bar di daerah Wan Chai. Tujuannya datang ke tempat hiburan bukan demi kesenangan dan kepuasan, melainkan mencari teman yang bisa diajak bicara dan bercerita. Di tengah kehidupan Hong Kong yang gemerlap, lelaki pendiam itu merasa sendiri dan kesepian. Lalu takdir mempertemukannya pada gadis Indonesia itu. Di mata Arumi, lelaki bertubuh tinggi, kurus dan pemilik rahang tegas itu sosok yang ramah dan sopan.

Sering bertemu, akhirnya Arumi mengerti kepribadian Mark. Lelaki pemilik hidung tinggi yang menunjukkan ketegasan karakternya itu seolah jiplakan dirinya. Jiplakan akan prinsip yang selalu Arumi terapkan untuk berpegang teguh pada adat ketimuran. Ya, meski tiap malam akrab dengan aroma alkohol, rokok dan hentakan musik keras, tapi ia tak pernah menjadi bagian dari dunia gemerlap itu. Ia juga tak rela jika tubuh semampainya dijamah lelaki asing meski diberi imbalan berlembar-lembar dolar.

Mark yang cerdas, pandai dan berpengetahuan luas, laksana pintu bagi Arumi untuk menjelajah ke dalam dunia penuh wawasan. Pun sebaliknya, lelaki berkulit putih itu terpesona pada sosok Arumi yang pendengar, suka mengalah dan menyenangkan. Gadis berkulit langsat itu bisa mengimbangi Mark. Pembicaraan keduanya selalu nyambung. Seringkali jika terlalu asik bercengkerama di balkon apartemen Mark, mereka tak sadar jika malam telah berganti pagi.

**
‘’Wajahmu pucat. Apa kau tak enak badan?’’ Tanya Eva saat menatap wajah sahabatnya dalam cermin.

Arumi menggeleng dengan senyum lemah.

Eva meraba dahi Arumi, ‘’Kau sakit Rumi! Kau harus istirahat!’’

Arumi tak mendengarkan perintah Eva untuk tinggal. Ia hanya merasa sedikit kelelahan, dan keadaan itu akan membaik dengan sendirinya. Ah, itu alibi, sebenarnya ia ingin bertemu Mark. Ya, malam itu jadwalnya berkunjung ke apartemen Mark. Di sana ia akan menemani lelaki itu memasak, makan malam bersama dan mendengarkan Mark bercerita, ia akan mendapat upah dua kali lipat dari bekerja di bar dan jadi tukang cuci piring. Moment itu sayang kalau dilewatkan.

Gadis berkulit langsat itu naik MTR jurusan Tsuen Wan, dan kereta bawah tanah itu sudah berhenti di stasiun Jordan. Arumi keluar dari ular besi yang mengantarkannya. Namun sejenak hatinya ragu. Tak seperti biasanya. Entah kenapa malam itu pikirannya bimbang. Ia berjalan pelan menaiki eskalator. Langkahnya terasa berat saat tulisan Exit sudah terlihat. Ia merasa seperti ada seseorang yang menahan kakinya melangkah.

Apartemen mewah yang menjulang tinggi itu sudah terlihat oleh mata gadisnya. Ia masih memaksa kakinya berjalan. Tapi entah apa yang ada dipikiran gadis itu, seharusnya ia menyeberang jalan raya kemudian berjalan melewati deretan penjual makanan ringan, dan ia akan sampai di bawah apartemen, namun ia malah berbelok ke kanan menekuri jalan panjang, menanjak, menurun, kemudian belok kiri dan setelahnya memasuki subway.

Langkahnya terhenti saat ia keluar dari subway dan tiba di sebuah taman kecil. Ia duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu. Di taman itu ada banyak loyanka duduk. Juga anak-anak kecil yang bermain bersama teman dan orang tuanya. Ia memandangi mereka lama. Tiba-tiba diantara orang-orang itu ia melihat sosok ibu. Berpakaian putih, tersenyum dengan tatapan bahagia. Tatapan yang beda saat ia lihat di taman tulip dalam mimpi yang datang tiga malam berturut-turut.

Hawa Hong Kong di tengah musim panas malam itu cukup dingin. Malam semakin beranjak. Taman mulai sepi. Satu per satu orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. Dalam pencahayaan yang terang, ia melihat dua orang berseragam berjalan santai. Ia buru-buru beranjak agar tak ketahuan, sebab dua laki-laki itu polisi. Arumi pergi dan ia baru sadar dari ketidaksadarannya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 23.45.

**
Akhirnya gadis itu sampai di bawah apartemen Mark. Setelah diijinkan oleh satpam, ia segera masuk lift. Ketika lift yang dinaikinya berbunyi, pintu itu terbuka dan ia langsung disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya kaget. Mata gadisnya melihat garis pembatas panjang berwarna kuning, beberapa orang polisi, dan kerumunan wartawan lokal tepat di depan pintu apartemen.

‘’Pukul 20.00 tadi, bapak tukang sampah menemukan dua koper di depan apartemen ini. Masing-masing koper ada dua mayat perempuan tanpa busana dengan luka-luka di seluruh tubuh. Laki-laki pemilik apartemen itu sudah ditangkap. Ia mengakui pembunuhan itu.’’ Jawab seorang wartawan wanita yang ia tanyai.

‘’Tak mungkin! Aku kenal baik dengan lelaki itu!’’ Arumi tak percaya. Ia membela Mark.

‘’Polisi menduga lelaki itu memiliki penyakit kejiwaan. Ia terlihat baik dan manis, tapi ada saat di mana ia tak punya hati dan menjadi iblis. Ia pandai sekali menutupi sisi busuk dirinya.’’

Lutut Arumi terkulai lemas. Mau tidak mau ia harus mempercayai itu. Namun hatinya mengucap kalimat syukur. Ia tak bisa membayangkan seperti apa nasibnya jika tadi ia langsung menuju apartemen Mark. Ia ingat pukul tujuh tadi ia keluar dari MTR dan kemudian entah bagaimana ceritanya ia bisa sampai di taman dekat subway.

Seorang polisi berbadan kekar melihat Arumi. Ia berjalan ke arahnya. Belum sempat polisi itu bertanya, Arumi lebih dulu menyela: Saya seorang overstay, saya ingin pulang ke negara saya dan sekarang saya ingin menyerahkan diri.(*)

*Yesi Armand Sha

*Termuat di ApakabarPlus-HK. Cerpen ini ditulis karena tragedi Wanchai pada November 2014.

1/16/2017

Nan Lian Garden, Taman Klasik ala Dinasti Tang

Image result for nan lian garden
foto tripadvisor


Hari minggu itu dalam rangka menyelamatkan dompet saya yang sudah semaput agar tidak bertambah sakaratul maut, saya tidak menerima kode-kodean dari para karib untuk berlibur ke Kampungnya Wong Jowo di Causeway Bay. Tapi saya juga tidak ingin berdiam di rumah sepanjang hari. Maka setelah melewati pemikiran yang panjang, sepanjang hubungan kita yang entah dimana ujungnya :p, saya menemukan tempat yang asyik untuk berlibur di minggu yang panas itu.

Pilihan saya jatuh ke taman kece badai di Diamond Hill, Kowloon. Sebenarnya saya sudah dua kali ke taman itu, tapi karena saat itu saya ke sana dengan banyak teman, saya tidak benar-benar menikmati pemandangan dan tidak bisa puas mengabadikan moment *Selfi maksudnya* #Plakkss.

Setelah naik Siupa dari rumah ke MTR Tai Wai, saya mengambil kereta jurusan Tiu Keng Leng, berhenti di Stasiun Diamond Hill dan keluar melalui exit C2. Usai mengetutkan patadong lalu menaiki eskalator dan tiba diluar stasiun, saya disambut eskalator panjang lagi menuju New Town Plaza. Tapi saya tidak menaiki tangga berjalan itu, karena saya harus belok ke kanan, belok kiri dengan track sedikit menanjak, lalu menyeberang pertigaan lampu merah hingga tibalah saya di tempat tujuan yakni Nan Lian Garden.

Seperti apa Nan Lian Garden itu? Simaq oret-oretan di bawah ini yaa

Nan Lian Garden adalah sebuah replika dari taman Yishouju dari taman Dinasti Tang. Taman klasik ini adalah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan jika kamu berkunjung ke Hong Kong. Di tengah kepadatan dan ramainya negeri Buhinia, taman ini menjadi tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu bagi kamu, para pendamba kenyamanan dan ketenangan. Taman ini berdiri diatas tanah seluas 3,5 hektar, dibangun pada tahun 2003 dan selesai pada tahun 2006.

Tata letak taman berbasis air dengan tema alam ini setiap petak tanahnya dibangun dengan rancangan tertentu . Begitu memasuki pintu gerbang yang terbuat dari kayu penuh ukiran, kamu akan merasakan suasana khas negeri Tiongkok masa dulu.

Kolaburasi jalan setapak yang pinggirnya ditanami aneka macam pepohonan rindang yang dirawat dengan apik, semilir angin, bukit-bukit kecil buatan, fitur air, batu-batuan hias dan suara alat musik cina yang terdengar di sepanjang taman, membuat kamu seakan-akan sedang menjadi putri keraton atau pangeran yang sedang jalan-jalan di taman istana.

Taman eksotis yang dirancang dalam satu arah melingkar ini memiliki banyak bangunan paviliun terbuat dari kayu yang kokoh dengan struktur yang sangat indah. Diantara banyak paviliun itu ada satu yang sangat menarik mata. Saya menyebutnya Pagoda Emas *Entah benar atau salah, saya tetap menyebutnya demikian :D*. Pagoda ini berwarna kuning layaknya emas murni mengkilat dan memiliki jembatan berwarna orange yang terhubung dari depan dan belakang.

Semakin indah dipandang karena pagoda emas ini dikelilingi oleh air tidak mengalir yang menyerupai kolam dengan tumbuhan air yang merambat diatasnya. Letak pagoda ini berhadapan dengan Lotus Terrace dan jembatan menuju Chi Lin Nunnery.

Dari pagoda emas berjalan lurus ke depan kamu bakal disambut oleh paviliun yang di sebelahnya terdapat kincir dari kayu lengkap dengan air yang mengalir dari tempat yang cukup tinggi. Tempat ini bagus banget buat foto-foto dengan background seperti air terjun yang tenang.

Berada di taman ini, kamu tidak perlu takut kelaparan, karena di taman ini terdapat rumah makan vegetarian dan tempat yam cha-sebutan minum teh untuk orang cina. Lalu ada juga toko souvenir yang menjual berbagai macam kerajinan tradisional cina, tembikar dan porselen.

Dari pagoda emas, lotus terrace lalu melewati jembatan, kamu bakal sampai di Chi Lin Nunnery. Sebenarnya Nan Lian Garden dan Chi Lin Nunnery adalah dua tempat yang terpisahkan oleh jalan raya. Tapi dengan adanya jembatan penghubung yang didominasi warna putih itu, kamu ga bakal tahu jika di bawah jembatan yang kamu lewati itu banyak sekali kendaraan berseliweran.

Chi Lin Nunnery sendiri adalah rumah mirip biara yang memiliki lorong-lorong panjang, yang mana tiap lorong terdapat patung-patung budha dan aneka bebatuan hias bertuliskan huruf cina yang dipajang di teras. Di tempat ini kamu bakal melihat orang-orang beragama budha berdiri di depan patung dengan tangan menangkup di dada dan beberapa gerakan sembahyang lainnya menurut ajaran mereka.Meski tempat ini digunakan sebagai tempat sembahyangan dengan bebauan dupa di beberapa sudut, tapi tempat ini jauh sekali dari kesan mistis.

Tak seperti Nan Lian yang dirancang melingkar, Chi Lin Nunnery dirancang berbentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi. Di tengah-tengah bangunan terdapat taman dengan jalan meliuk-liuk mengitari kolam bunga teratai dan juga beberapa tanaman hias beraneka warna di dalam pot besar.

Untuk menjaga kenyamanan pengunjung lain, maka di beberapa tempat kamu bakal melihat Ayi atau Asuk penjaga. Di tempat ini kamu ga boleh bicara keras, makan, merokok, membawa anjing dan berfoto memakai tongsing. *Untuk yang terakhir ini pengalaman saya sendiri* #eaakkk.

* Yesi Armand Sha. Ditulis tahun 2016.

1/10/2017

Pilihan Kumala

photo net

Lengang. Tak ada suara TV atau orang berbicara. Hanya dentingan sumpit beradu dengan mangkuk dari arah Sinsang yang sesekali memecah kesunyian itu. Aku menyumpit joisam, kugigit separuh, sisanya kumasukkan kedalam mangkukku yang masih kosong. Sayur itu kudiamkan dalam mulut. Tak ada kekuatan untuk mengunyah. Mulutku serasa terkunci.

Dhai-dhai yang sedari tadi diam mulai menggerakkan tangannya. Dia menyumpit brokoli. Belum halus sayur itu dikunyah, dia berdiri.

‘’Ngo sikyunfan lah!’’ Dia beranjak dari kursinya, berjalan menuju kamar.

‘’Jumpo ti sung em ngam. Mo wai hau sikfan!’’ Sophia meninggalkan meja makan, yang kemudian diikuti oleh Stephi, saudara kembarnya.

‘’Ngo sikyun lah. Lei man-man sik a?” perintah Sinsang dengan nada tanya yang kujawab anggukan.’

**
Langit-langit kamarku seakan menyempit. Aku memandangi setiap sisi dan sudutnya dengan seksama. Aku baru sadar ternyata sudah sepuluh tahun menempatinya. Ruangan ini menjadi saksi sebagian perjalanan hidupku. Juga banyak cerita yang kuukir di dalamnya, namun esok pagi cerita itu hanya akan menjadi sebuah kenangan.

Kelebat wajah Sophia dan Stephi hadir dalam bayangan. Sepertinya baru kemarin aku melihat mereka lahir, tapi kini sudah beranjak dewasa. Aku sangat beruntung bisa merawat keduanya, karena dengan adanya mereka, aku bisa belajar mencintai, menyayangi dan memahami orang lain. Mereka berdua sangat dekat padaku, kami seperti memiliki ikatan yang kuat. Bahkan menurut orang-orang, kami bertiga memiliki wajah yang mirip.

Aku masih memaksa memejamkan mata. Setelah kedua anak asuhku, kini giliran kedua majikanku yang datang bergantian mengusik pikiran. Mataku panas saat mengingat semua perlakuan baik majikanku itu. Bukan perlakuan baik layaknya majikan ke pekerjanya, tapi perlakuan seperti saudara sendiri.

Di sini pekerjaanku hanya mengurus anak-anak. Pekerjaan rumah kukerjakan sesempatku. Bahkan di empat tahun terakhir, ketika aku mengambil kuliah di universitas terbuka Indonesia yang ada di Hong Kong, Dhai-dhai dan Sinsang yang sering merampungkan pekerjaan rumah. Ketika urusan anak-anak selesai, mereka menyuruh istirahat lebih awal agar aku bisa belajar.

Kadang timbul rasa sungkan pada mereka, sebab pekerjaanku yang ringan selalu diberi lebih banyak dari gaji yang semestinya. Mereka membiayai kuliahku. Dan saat wisuda kelulusan, mereka rela mengeluarkan uang untuk mendatangkan orangtuaku ke negeri beton ini. Selain kebaikan-kebaian itu, masih banyak kebaikan lain yang tak mampu kusebutkan. Mengingatnya hanya akan membuat hatiku menjadi ciut. Bingung memilih antara kemudahan mendapat uang atau tanah air.

**
HP-ku berbunyi. Ada pesan masuk di WhatsApp. Pesan dari Dhai-dhai yang berisi emoticon seseorang sedang bersedih.

Ma’am, Bagaimana anak-anak, apakah mereka baik-baik saja?

Aku kepikiran dua saudara kembar itu. Sudah sembilan hari mereka marah dan tak mau denganku, tapi aku tahu sikap itu hanya bentuk lain dari kesedihan yang tengah mereka rasakan.

Mereka baru saja tidur setelah merengek-rengek memintaku untuk membujukmu. Mala, apa kau tak bisa merubah keputusan itu?

Maaf Ma’am.

Oke. Aku mengerti. Apakah Alan menghubungimu?

Alan adalah adik dan satu-satunya saudara Dhai-dhai. Mengingat nama dokter berwajah teduh yang berada di negeri Gingseng itu, memunculkan kembali desiran aneh dalam hati. Desiran yang sama seperti saat ia menyatakan rasa sukanya padaku. Tujuh tahun lalu.

Terakhir kami komunikasi satu bulan yang lalu.

Sejak kecil aku dan dia selalu bersama. Aku mengenal sifat Alan melebihi dirinya sendiri. Dia bukan tipe laki-laki yang mudah menjatuhkan hatinya pada wanita. Tapi saat jatuh cinta, dia akan memperjuangkan apa yang menjadi pilihan hatinya. Seperti pilihan saat ia menjadi mualaf, seperti itu pula pilihan saat dia mencintaimu. Mala, jika kamu mau menerimanya, kamu tidak perlu bersusah payah mencari uang. Kamu bisa tinggal dengannya di Korea. Atau jika tak mau, kalian bisa menetap di Hong Kong setelah masa tugasnya di sana selesai.

**
Aku tidak membalas pesan terakhir Dhai-dhai. Aku tidak mau keputusanku yang telah mantap, goyah karenanya. Dan aku masih memaksa mengatupkan mata. Mencoba berdamai dengan gelap. Ah bukan, lebih tepatnya berdamai dengan hatiku sendiri. Aku harus mengakui, di dalam sana ada dua kekuatan yang saling tarik menarik.

Keraguan muncul kembali. Selama ini Dhai-dhai dan Sinsang sangat merestui jika aku menerima Alan. Aku tahu Alan juga sangat mencintaiku. Ia tetap setia menungguku dengan rasa yang sama selama tujuh tahun, walau selama itu pula aku selalu berkata tidak. Sebenarnya jika boleh jujur, aku juga selalu merasakan debar yang hebat saat melihat laki-laki penyayang itu tiap kali datang mengunjungi kakaknya.

Alan adalah seorang mualaf. Ia bercerita, pilihan itu awalnya karena aku. Dia rela melakukan berbagai cara demi agar bisa mengimbangiku. Tapi itu hanya di awal-awal saja, sebab semakin dalam belajar islam, ia merasa menemukan ketenangan dan kedamaian yang selama ini tak ditemukannya dalam hidup. Alan laki-laki yang berhati lembut, tampan, sudah mapan dan sangat menginginkanku. Bodohkah aku karena telah menolaknya?

**
Mobil Alphard hitam itu telah mengantarakanku sampai di Bandar udara Chek Lap Kok. Aku turun dari mobil mengambil koper kecil di bagasi. Tak banyak barang bawaanku, sebab sebulan yang lalu semua baju dan oleh-oleh sudah kupaketkan semuanya. Sinsang meraih koper itu, lalu menyuruh aku menggandeng kedua anak kembarnya. Meski tersimpan kesedihan di wajah mereka, tapi keduanya tak marah lagi.

Kegalauan dan kekacauan pikiranku semalam, pagi ini ntelah terjawab dengan mantap. Aku memilih tujuan awal kenapa aku bisa sampai di negeri beton ini. Niatku kala itu hanya bekerja, mengumpulkan uang yang banyak, membeli tanah dan aku punya cita-cita untuk mengabdi dan turut serta memajukan desaku yang masih terpencil dan terbelakang karena tingkat kemiskinan yang masih banyak. Aku ingin melihat desaku berkembang.

Aku selalu yakin bahwa niat baik, sekalipun belum terlaksana, akan dicatat satu kebaikan oleh Malaikat. Untuk itu aku tak pernah berhenti berdoa. Dan lambat laun, Alhamdulillah, keinginan serta mimpi-mimpi itu satu-per satu dikabulkan. Tuhan mengirimkan padaku dua sahabat kecil yang memiliki pemikiran dan impian sama.

Kami bertiga merintis semuanya dari nol. Setelah dana dari berbagai donator, dan dari teman-teman seperjuanganku di Hongkong terkumpul. Juga semua keperluan serta ijin dari aparat desa telah kami kantongi, akhirnya pada satu hari berdirilah Madrasah Ibtidaiyah atau sekolahan setara dengan Sekolah Dasar. Sekolah gratis itu kami dedikasikan untuk anak-anak yatim, anak putus sekolah dan kurang mampu agar mereka terbebas dari buta baca dan tulis. Kami ingin berpartisipasi memulai perubahan Indonesia itu dengan melakukan hal yang paling dasar.

Setelah pembangunan selesai, sekolahan itu berjalan sebagimana fungsinya. Kami memiliki total lima puluhan siswa dari kelas satu sampai kelas enam. Selain kedua temanku, ada dua teman lainnya yang bersedia membantu mengajar dengan sukarela. Dan ini adalah awal tahun ajaran kedua, dimana aku ingin sekali berpartisipasi di dalamnya. Untuk itulah aku pulang.

**
Kedua majikanku menyuruh check in lebih awal. Setelahnya mereka mengajakku yum cha. Restoran itu masih sepi. Di tengah acara makan, ponsel Dhai-dhai berbunyi. Dia mengangkat panggilan itu dengan suara pelan, kemudian bercakap sedikit menjauh dari kami.

Dhai-dhai datang. Dia menatap Sophia dan Stephi sambil menggerakkan kedua alisnya. Kedua anak itu tiba-tiba berkata ingin ke toilet. Aku sudah menggeser kursiku ke belakang, tapi kedua majikanku lebih sigap membawa kedua anaknya pergi. Mereka menyuruh aku menunggu saja, sebab mereka juga ingin ke toilet. Aku menangkap ada gelagat aneh pada tingkah mereka.

**
Aku sedang membalas pesan teman-teman di Facebook, hingga tanpa kusadari seseorang tengah berdiri di sampingku. Aku masih acuh sebab kukira dia adalah pelayan restoran yang mengantarkan pesanan makanan kami. Tapi seseorang dengan parfum yang kukenal itu duduk di kursi sebelahku. Aku menoleh kaget. Alan?

‘’Apa yang kamu lakukan di sini?’’ Aku tidak sadar bahwa ini adalah bandara. Siapapun boleh berada di sini.

‘’Kenapa kamu pulang tak memberitahuku? Apa aku sebegitu tak berartinya buatmu?’’ Nada bicaranya lembut seperti biasanya, tapi aku menangkap kesungguhan pada kalimat itu.

‘’Aku…’’ kalimatku terputus. Aku belum menemukan kata yang tepat untuk menjawabnya.

‘’Mala, dengarkan aku baik-baik. Kamu adalah wanita pertama yang bisa membuat hatiku berdebar dan kamu juga wanita yang selamanya aku ingin bersama.’’

‘’Tapi kehidupan kita beda. Kenapa kamu keras kepala sekali? Diluar sana ada banyak gadis yang lebih cantik dan lebih segalanya. Kamu bisa memilih yang lebih baik dari aku, Alan.’’

‘’Kenapa kamu juga keras kepala sekali ingin pulang? Kenapa kamu mau bersuyah payah untuk anak-anak itu? Bukankah mereka tak memberimu bayaran?’’

‘’Di dunia ini, ada beberapa hal yang tak bisa dibeli dengan uang, salah satunya kebahagiaan. Dan jalan lain untuk membuat diri kita bahagia adalah dengan membahagiakan orang lain, membantu mereka dan berbagi dengan setulus hati. Saat kita melakukannya dengan cinta, kita akan mendapatkan kepuasan yang orang lain tak pernah bisa merasakan karena tak melakukannya.’’ Aku menjawab penuh semangat hingga tak kusadari Alan tengah tersenyum memperhatikanku.

‘’Meski kau tak secantik teman-teman gadisku, tapi kau selalu bisa membuat orang lain jatuh cinta. Kau melakukannya dengan hati, dengan cinta, itu yang tak kutemukan pada mereka. Tapi kau gadis yang manis dan tak membuat bosan. Itulah kenapa selama tujuh tahu aku hanya melihat kepadamu saja.’’

Aku tidak tahu kapan laki-laki pemilik rahang tegas ini pandai menuturkan kata sanjungan. Dan mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum dengan pipi yang memerah, menahan malu.

‘’Penerbanganmu pukul 10.25 kan?’’

Aku melihat jam di aplikasi Hp-ku. Ya, waktuku tinggal dua puluh menit. Aku segera berdiri dan menambil tas ranselku. Bersamaan dengan itu, kedua majikan dan kedua anaknya datang. Majikan yang sudah mengetahui situasi itu segera menyuruhku cepat meninggalkan restoran. Mereka berempat memandang Alan dengan senyum penuh arti.

‘’Ayo cepat.’’ Alan menjejeriku berjalan.

‘’Kamu mau kemana?’’

‘’Indonesia. Meminta restu orang tuamu.’’

Kaget. Aku menghentikan langkah.

‘’Matamu tak pernah bisa membohongiku, Mala. Kamu memiliki rasa yang sama denganku. Tapi jawabanmu selalu penolakan dengan alasan kita berbeda. Aku tahu apa yang kamu maksud beda. Aku bisa melakukan apapun demi kamu. Aku sudah memikirkan ini lama. Aku akan tinggal di Indonesia bersamamu. Seperti yang kamu katakana, aku juga ingin merasakan kebahagiaan dengan cara berbagi. Aku bisa menjadi dokter sukarela di tempat tinggalmu sana.’’

‘’Apa?’’ kekagetanku bertambah.

‘’Tapi maaf, kali ini aku hanya bisa tinggal selama empat hari disana. Aku akan melamarmu. Aku sudah mengurus semuanya. Masa berakhir tugasku di Korea bisa dipercepat. Empat bulan setelah ini, aku akan datang menikahimu.’’

Alan menarik tanganku. Ia memilih memegang pergelangan tangan yang terhalang oleh lengan panjang sehingga kulit kami tak bersentuhan. Kami berlari-lari kecil megejar waktu. Bibirku melengkungkan senyum kebahagiaan tanpa diketahuinya. Aku tak bisa berkata apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Akhirnya Tuhan memberiku keduanya, yaitu cinta yang selama tujuh tahun menginginkanku dan kemudahan jalan agar bisa menjadi bagian dan membantu anak-anak di desaku untuk mewujudkan impian mereka.(*)

*Juara 3 lomba cerpen  FSMI FLP-HK 2015.
YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES