3/22/2017

Petrichor


Aku selalu ingin menangis ketika hujan turun, karena aroma tetes air yang dilepas langit itu selalu menyimpan rindu, cinta dan kenangan pada orang terkasih

Sekolahan sudah sepi, tapi ia masih berdiri di sana. Punggungnya disandarkan pada tembok perpustakaan, sedang jari-jarinya memilin ujung tali ransel. Sesekali ia mengangkat tangan kirinya sedikit ke atas, untuk melihat jam berapa.
Hujan masih menderas. Ia mulai berjalan ke kiri-kanan sambil menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai. Melihat apa yang tengah ia lakukan, tampak sekali kegelisahan menghuni sudut hatinya.

”Laluna.” Akhirnya kusapa dia. Karena selain kasihan, aku juga sudah bosan hanya memperhatikannya terlalu lama dari balik tembok perpustakaan.

Ia tak menjawab. Hanya memandangiku dengan tatapan menyelidik.

”Aku melihat tag name-mu.” Bohongku.

Dibanding dengan cewek-cewek di sekolah yang ingin mendapat perhatianku, Laluna memiliki paras di bawah mereka. Wajahnya biasa saja. Ia memiliki gigi yang tidak teratur di bagian atas tapi hal itu akan membuatnya terlihat manis ketika tersenyum. Sejauh pengamatanku, Laluna cewek yang pendiam, cuek dan tak terlihat memiliki teman dekat. Mungkin ia merasa tak butuh teman, karena selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendirian.

Aku baru benar-benar mengetahui tentang Laluna seminggu belakangan sejak aku mulai memikirkan syarat yang diajukan olehWanda, cewek adik satu tingkat yang kutaksir mati-matian sejak ia mendaftar masuk di sekolah. Di mata cowok-cowok seluruh sekolahan, Wanda adalah sosok gadis sempurna. Tak perlu kujelaskan bagaimana detailnya. Hanya saja siapapun yang melihatnya, pasti akan mengira bahwa ia adalah keturunan Jawa-Arab dan Korea. Tapi, asumsi itu salah besar karenaWanda asli berdarah Sunda.

Jika biasanya aku yang bosan menerima kiriman surat, coklat atau bunga dari cewek-cewek, dunia seakan terbalik ketika tiba giliranku yang terus menerus mencari perhatian Wanda. Demi dekat dengannya, aku rela membuang eksistensiku sebagai cowok favorit di sekolahan. Aku tak peduli dengan nilai rendah, kata gila dan bodoh yang diberikan oleh orang lain, karena pada akhirnya usaha yang sekian lama kulakuan membuahkan hasil. Wanda mulai melihatku, dan ia berkata akan menerima cintaku tapi dengan syarat aku harus menaklukan hati Laluna, memacari selama sebulan dan memutuskannya tiga hari sebelum ujian tengah semester.

”Hujannya deras sekali.” Aku menirukan mata Laluna yang memandang genangan air di depan kami.

Laluna bergeming. Beberapa menit tak ada reaksi, ia bersikap seolah tak ada makhluk hidup di sampingnya.

”Benar-benar cewek dingin.” Batinku.

”Iya, hampir lima belas menit seperti itu.” Suaranya terdengar lesu.

Salah! Bukan lima belas tapi hampir setengah jam, Laluna. Aku tahu betul di menit keberapa kamu berdiri di sini, karena aku telah mengikutimu sejak kau keluar dari kelas.

”Kamu nggak bawa payung?” tanyaku.

Ia diam.

”Pakai punyaku.” Kusodorkan payung yang sengaja kusiapkan.

Ia menggeleng. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

**
Aku menyesal kemarin telah meninggalkannya seorang diri, padahal saat itu kulihat carut belum hilang dari wajahnya. Kepalaku dipenuhi pikiran tentangnya karena tadi pagi ia tak terlihat melewati pintu gerbang sampai bel masuk berdering. Aku juga tak menemukannya ketika istirahat tadi diam-diam aku main ke kelasnya. Tiba-tiba aku khawatir dan takut sesuatu buruk terjadi padanya.

Brukk…

Sesosok tubuh mungil membuyarkan lamunanku. Ia mengambilkan kunci motor yang jatuh lalu menyerahkan padaku.

Mataku berubah cerlang begitu melihat sosok yang menabrak itu.”Laluna.”

”Maaf Kak. Aku nggak sengaja.”Sesalnya.

”Tak apa.”

”Syukurlah. Aku duluan ya.” Laluna gegas pergi tanpa menunggu persetujuanku.
Aku berusaha berjalan menyusul langkahnya yang cepat. Kulihat ada gelagat bersahabat pada sikapnya.

”Kupikir kamu hari ini tak masuk. Tadi pagi kamu berangkat jam berapa?” tanyaku.

”Seperti biasanya. Aku tak begitu ingat jam berapa.”

”Tapi kenapa aku tadi tak melihatmu masuk lewat pintu gerbang.”

Laluna menghentikan langkahnya. Ia menatapku lalu mengernyitkan dahi.

”Oh tidak. Mana mungkin aku menunggumu,” kataku seraya terbahak.

”Aku juga tak pernah kepikiran kakak menungguku.”

Aku tergeragap dan seketika aku merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia.

”Eee… Maksudku…’’ Aku kebingungan mencari kata yang tepat.

”Hujan akan turun. Kalau masih ada yang ingin kakak bicarakan, besok saja.”Laluna memotong kalimatku.

”Kamu nggak bawa payung lagi? Aku antar biar cepat sampai rumah.”

Ia menghentikan langkah. Mata jernihnya tajam menatapku. Aku menyesal mengucapkan kalimat itu karena aku takut ia tak suka ada orang yang tiba-tiba sok dekat dengannya.

”Kakak serius mau memberiku tumpangan?” tanyanya penuh harap.

”Apa ucapanku terdengar main-main?”

”Sekali ini, aku akan merepotkan kakak,” ujarnya dengan wajah yang menyiratkan terimakasih.

Kami pun membelokkan langkah menuju parkiran. Dan tak berapa lama motorku membawa tubuh kami keluar dari pagar sekolahan diikuti tatapan aneh cewek-cewek yang biasa mencari perhatianku.

Tak sampai dua puluh menit motorku berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau lumut. Begitu aku mematikan motor, Laluna gegas turun lalu berlari ke dalam rumah. Tak ada kata terimakasih atau ucapan mampir untuk sekedar minum teh hangat yang keluar dari mulutnya. Aku hampir meninggalkan rumah itu jika saja seorang wanita berusia senja yang punggungnya melengkung ke depan tak keluar dari rumah, menahanku dan menunjukkan bahwa gerimis telah mericis.

”Kamu temannya Laluna, kan? Terimakasih sudah mengantarkan pulang,” ucap wanita itu lemah. Ia menyerahkan segelas teh manis panas padaku yang duduk di kursi anyaman bambu depan rumah. Tak menunggu lama, cepat aku memindahkan gelas itu dari tangannya yang gemetaran karena usia.

”Kebetulan saya lewat sini,” Aku tak sedang berbohong karena jalan rumah kami ternyata searah, hanya saja aku harus belok memasuki perkampungan yang lumayan padat untuk sampai di rumah ini.

”Kemarin hujan turun lama sekali.”

Uhuk-uhuk…

”Ia pulang jelang malam.”

”Tapi kemarin sekolah bubaran seperti biasa.”Aku tak mengatakan jika kemarin sempat menyapa Laluna dan meninggalkannya sendirian di sekolah.

”Hujan deras tujuh tahun lalu ibu dan bapaknya meninggal karena tertabrak mobil saat mereka hendak menyeberang jalan,” tatapan wanita yang seluruh rambutnya telah memutih itu lurus ke depan seolah menembus hujan yang terus turun,”Hujan selalu membawa ingatannya pulang pada kejadian naas yang dilihat dengan mata kepalanya itu.”

**
Tiga bulan berlalu. Seminggu lagi kami akan menghadapi ujian tengah semester.

”Kenapa kak Bragi belum juga memacari lalu memutuskan Laluna?” Wanda menghentikan langkahku di jalan menuju parkiran.

”Kenapa aku harus melakukan itu?”

”Kak Bragi sudah lupa dengan kesepakatan kita?”

”Dengar ya Wanda, aku dekat dengan Laluna bukan karena mengikuti rencanamu.” Aku mengatakan yang sebenarnya karena sejak awal aku tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Wanda. Jika ia memang tulus mengharapkanku, kenapa harus ada kesepakatan. Bukankah cinta tak perlu syarat untuk menyatukan dua hati?

Hari dimana aku pertama kalinya menyapa Laluna itu, aku mulai memikirkan apa yang sebenarnya sedang direncanakan Wanda. Maka, tanpa sepengetahuan siapapun, aku diam-diam mencari informasi mengenai Wanda, tentang Wanda di kelas dan tentang hubungan Wanda dengan teman-temannya.

Pertanyaan yang kulontarkan tanpa menimbulkan kecurigaan pada teman-teman cewek Wanda akhirnya mendapat jawaban. Dari berbagai jawaban, aku bisa menyimpulkan bahwa Wanda benar menyukaiku dan Wanda sama sekali tak ada rasa padaku. Tapi dari kedua kesimpulan itu ada satu kesimpulan lagi yang lebih penting. Yakni Wanda ingin menggunakan aku untuk mengacaukan pikiran Laluna. Wanda ingin aku memacari Laluna lalu memutuskan jelang ujian tengah semester. Begitu konsentrasi Laluna pecah karena hatinya sedih sebab putus cinta, celah itu akan Wanda gunakan untuk mengalahkan teman sekelasnya itu.

Wanda termasuk siswa yang pandai. Tapi meski seberapa keras ia belajar dengan berbagai les tambahan, ia belum bisa mengungguli Laluna yang prestasinya selalu berada di posisi atas. Teman-teman di kelasnya juga heran, karena Laluna yang tak pernah mengikuti kursus di luar jam sekolah, bisa mengingat dengan baik pelajaran yang hanya sekali saja dipelajari. Laluna memiliki otak yang sangat encer.

”Jadi waktu itu semuanya bohong?”Suara Wanda naik beberapa oktaf.

”Bukan begitu, Nda. Hanya saja…,”

”Hanya saja kakak sekarang benar-benar menyukai Laluna?”

”Wanda, dunia ini akan lebih indah jika semuanya didasari oleh ketulusan dan kejujuran.”

”Kak Bragi nggak usah nasehatin Wanda. Ceramahi saja Laluna sana! ” Wanda pergi. Wajahnya merah.

Aku menarik napas panjang kemudian meneruskan langkahku yang sempat terhenti.

”Kak Bragi, buruan! Mau hujan,” teriak Laluna dari depan pintu parkiran.

Aku berlari-lari kecil ke arah adik kelasku itu,”Siap tuan putri.”

Laluna terkekeh, menunjukkan deretan giginya yang tidak teratur dan aku suka melihat pemandangan itu.

Musim sudah hendak kemarau, tapi hujan masih sering turun. Laluna masih tak menyukai aroma hujan atau aroma tanah kering yang basah. Laluna juga tak pernah membawa payung. Tapi ia tak lagi menunggu hujan reda sendirian, karena aku selalu menemaninya berdiri menyandarkan punggung di tembok perpustakaan atau jika tidak, motorku akan lebih cepat membawanya sampai rumah sebelum air langit itu menginjak bumi. (*)

* Cerpen ini pernah termuat di majalah Hong Kong Fairies edisi Maret 2017. Di edisi cetaknya mengalami revisi dari penjaga gawang majalah, dan ini versi aslinya. Semoga menghibur :)
YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES