7/02/2017

Sajadah Hijau Bapak

photo net

Sejak satu jam lalu hingga saat ini, Ahmad masih membantu mencari sajadah kesayangan bapak. Semua tempat sudah ia cari. Lemari, tempat cuci baju, jemuran belakang, bahkan kolong bawah ranjang tak ketinggalan diperiksa, tapi sajadah hijau itu belum juga mau menampakkan diri. Air muka bapak mulai keruh. Baju-baju yang sudah mulai berantakan kembali diperiksanya satu persatu.

Sebenarnya jika diamati tak ada yang istimewa darinya. Seperti sajadah lain, sajadah itu terbuat dari beludru berhias gambar masjid di tempat sujud. Warna hijau tuanya sudah pudar. Bahkan jahitan pinggir keempat sisinya sudah mulai lepas.

”Bapak nanti kan bisa memakai sajadah lainnya?” ucap Ahmad mencoba memberi saran pada bapak.

”Iya, Le. Tapi sayang kalau pakai sajadah lain. Jika kita beribadah memakai barang pemberian orang lain, maka orang yang memberi itu, Insya Allah juga akan mendapat pahala kebaikan karenanya.”

Sejak memori otaknya bisa mengingat dengan jelas, belum pernah sekalipun Ahmad melihat bapak sholat memakai sajadah lain. Ia sering heran kenapa bapak tidak mau ganti dengan sajadah bermotif serupa dan berwarna sama tapi lebih bagus dari sajadah kesayangannya itu. Kini keheranan Ahmad terjawab, dengan memakai sajadah itu beribadah, pasti bapak berharap di alam kuburnya sana, mbah Ripin juga mendapat pahala kebaikan seperti yang baru saja bapak katakan.

”Sajadah hijau itu dulu pemberian dari Almarhum mbah Ripin.” Cerita bapak suatu ketika saat memperkenalkan perihal sajadah kesayangannya itu.

Ahmad mengenali sosok mbah Ripin dengan melihat foto yang dipajang di bufet ruang tamu rumah mereka. Foto hitam putih yang tampak lawas dalam pigura berukuran kecil itu, mbah Ripin mengenakan baju koko dan peci berwarna hitam. Selembar sorban bermotif kotak-kotak menggantung di bahunya. Di dagu mbah Ripin ditumbuhi beberapa jambang tipis. Dan terlihat jelas, senyum lembut yang terbingkai dari wajah ramah mbah Ripin memancarkan ketenangan dan aura kewibawaan.

”Mbah Ripin dulu seorang guru ngaji.” Jelas bapak dengan wajah sumringah. Itu adalah ekspresi yang selalu Ahmad lihat pada raut muka bapak ketika menceritakan tentang sosok mbah Ripin. Dari kata-kata yang dituturkan bapak, terlihat jelas bahwa bapak sangat mengagumi dan menghormati mbah Ripin.

Masih menurut cerita bapak, dulu mbah Ripin adalah satu-satunya orang yang mengajari mengaji ketika banyak orang di desa mereka belum bisa membaca huruf hijaiyah. Mbah Ripin mengajari anak-anak kecil sepulangnya dari berladang atau dari sawah.

Tak hanya anak sekolahan dasar saja yang belajar kepada mbah Ripin, tapi muridnya juga dari kalangan pelajar di tingkat SMP dan beberapa yang sudah sekolah STM. Bahkan Saking banyaknya anak, kadang waktu ngaji antara jam empat sampai jelang waktu Maghrib itu tak cukup jika mbah Ripin harus mengajar sendirian. Maka agar semua murid selesai mengaji sebelum masuk waktu adzan Maghrib, mbah Ripin mengutus beberapa anak yang sudah besar dan benar bacaan hijaiyahnya untuk mengajari anak yang baru belajar di tahap dasar.

”Meski harus bergantian saat membaca Iqro’ dan Qur’an-nya, tapi kami belajar dengan semangat. Kami biasa adu cepat agar bisa datang paling awal ke langgar, karena siapa yang datang paling dulu artinya ia yang berkuasa atas Iqro’ atau Qur’an di langgar. Kau tahu arti dari berkuasa, kan? Maksudnya adalah berkesempatan untuk ngaji di urutan paling depan,” tambah bapak lagi dengan wajah yang berseri-seri.

”Kami berangkat cepat bukan hanya karena mengejar urutan ngaji paling awal saja, tapi kami juga mencari kesempatan agar bisa membersihkan dan menata tempat yang biasa digunakan mbah Ripin untuk duduk, lalu menimba air di sumur untuk wudhunya mbah Ripin. Kami selalu berlomba-lomba paling cepat menyiapkan apa-apa yang beliau perlukan. Bahkan saking hafalnya kebiasaan mbah Ripin, kami sudah lebih dulu bergerak sebelum beliau menyuruh.” Ada binar yang terpancar dari wajah bapak. Pasti bapak sedang mengingat kenangan indah bersama kawan-kawannya waktu mengaji bersama mbah Ripin.

”Bagi kami, mbah Ripin seperti orangtua yang harus kami senangkan dan hormati. Kami selalu berlomba untuk merebut hati dan mendapat perhatiannya. Mengingat saat itu, kadang aku merasa kasihan jika membandingkannya dengan anak di jaman sekarang.” Binar di wajah bapak seketika berubah menjadi nanar. Mungkin bapak sedang memikirkan zaman yang sangat bertolak belakang dengan masa kecilnya.

Ya, sebuah pemandangan getir memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di desa mereka. Dimana anak kecil kini sedikit sekali yang mau belajar ngaji. Orangtua semakin menekan anaknya untuk unggul di bidang akademis. Mereka menyuruh anak-anaknya les ini dan itu, berangkat pagi dan pulang jelang malam, namun mereka tak menyuruh anaknya untuk mengaji dan belajar agama. Ilmu di bidang akademis memang perlu, tapi bagaimanapun juga belajar agama itu sangat penting, sebab dengan belajar agama, manusia tahu bagaimana tatakrama berhubungan dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.

Jika di satu keluarga ada orangtua yang tak memberi ruang pada anaknya untuk bernafas, maka di atap lain juga ada orangtua yang malah memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk anak mereka. Orangtuanya sibuk bekerja sedang anaknya dilimpahi uang yang banyak. Orangtua tak pelit menggelontorkan dana jutaan rupiah ntuk membelikan gadget anaknya yang masih mengenyam bangku di sekolah dasar. Mereka tidak peduli jika hari-hari anaknya hanya habis dengan bermain gadget, bahkan mereka seolah berlomba-lomba agar bisa memiliki gedget yang keluaran terbaru.

Sungguh sebuah ketimpangan yang sedang melanda desa mereka. Kini sedikit sekali anak kecil dan anak muda yang tampak meramaiakan masjid dengan suara lengkingan mereka untuk mengeja huruf hijaiyah. Yang ada kini masjid dan langgar yang dibangun megah itu, setiap harinya hanya dihuni oleh beberapa orang yang sudah lanjut usia dengan wajah yang sama.

**
Suara merdu rekaman Syekh Misyari Rasyid yang membaca murota’al Surat Ar-Rahman telah mengalun dari speaker masjid. Dalam waktu lima belas menit yang akan datang, toa itu pasti akan mengumandangkan adzan maghrib. Hati Ahmad resah tak karuan, karena sungguh ia sudah sangat ingin berangkat ke masjid. Kata bapak yang menirukan ucapan mbah Ripin, seseorang yang menunggu datangnya waktu sholat dan dalam keadaan berwudhu, ia akan didoakan dan dimohonkan ampun oleh malaikat. Ahmad sangat menyayangkan jika harus kehilangan kesempatan berharga itu.

”Ah, ini semua gara-gara sajadah kesayangan bapak itu.” Gerutu Ahmad dalam hati. Ia merasa hilangnya sajadah laksana petaka baginya.

Sajadah kesayangan bapak itu selama ini ibu-lah yang mengurus dan merawatnya. Sebulan sekali sajadah hijau tua itu dicuci, ibu yang menjemur dan ibu pula yang melipat kemudian menaruhnya di kotak yang disiapkan khusus untuk menyimpan peralatan sholat. Ahmad dan bapak hars mencarinya sendiri karena siang tadi ibu dijemput Pakdhe pulang ke kampung halamannya, sebab kesehatan mbah putri memburuk. Ibu akan menginap di sana beberapa malam, sedang Ahmad dan bapak akan menyusulnya Sabtu lusa sepulang Ahmad dari sekolah.

Mengingat ibu, Ahmad jadi kepikiran untuk menelponnya. Ahmad sedikit merutuki keterlambatan itu, kenapa tidak dari tadi menanyakan hal itu pada ibu, barangkali ibu masih ingat sajadah itu ditaruh dimana. Ah, dalam keadaan panik, memang seringkali pikiran buntu dan tak bisa berpikir jernih.

Dari kamar bapak, Ahmad berjalan cepat-cepat menuju ruang tamu, dan di sana ia melihat bapak baru saja meletakkan gagang telpon.

”Ayo cepat berangkat, Le.” Ahmad melihat carut di wajah bapak sudah terang.

”Ke mana, Pak?”

”Ke masjid. Memangnya mau kemana lagi?”

”Sajadahnya sudah ketemu ?”

”Sajadahnya terbawa ibumu, tadi dia tak sadar memasukkan ke dalam tas bajunya.”

”Jadi bapak baru saja telponan sama ibu?”

Bapak mengangguk lalu menarik sajadah hijau berwarna hijau muda diantara tumpukan baju tatanannya yang sudah mulai berantakan. Ahmad menirukan dengan menarik sajadah lainnya. Mereka segera berangkat ke masjid. Ada sebentuk kebahagiaan menyeruak di dalam hati Ahmad. Kata bapak yang masih menirukan perkataan kakek, laki-laki sholat jama’ah di masjid lebih utama dari sholat di rumah. (*)

*Cerpen sederhana ini termuat di tabloid ApakabarPlus Edisi Juni 2017. HK, 10 Ramadhan 1438.
YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES