9/30/2017

Kejutan dari Sarah

foto Daniel Nebreda via Pixabay

Sarah memang penuh kejutan. Setelah mengabaikan panggilanku puluhan kali, ia mengangkat telpon dan langsung berkata bahwa nanti kami akan bertemu di stasiun. Ia juga memintaku untuk tak menghubunginya lagi. Belum sempat kutanyakan ia memakai baju apa, telpon sudah diputus. Setelah itu ponselnya tidak aktif.

Aku menghubungi tante Emma untuk menanyakan foto Sarah. Tujuh tahun sejak Sarah pindah sekolah di Singapura, aku tak pernah bertemu dengannya. Aku khawatir tak mengenalinya lagi. Maka dengan melihat potret Sarah, pasti aku akan langsung tahu jika itu dirinya saat berpapasan nanti. Beberapa menit kemudian balasan dari tante Emma kuterima, tapi membaca isi pesan itu membuatku sedikit kecewa sebab gllery HP-nya hanya menyimpan foto Sarah saat masih kanak-kanak.

Aku tahu hubungan ibu-anak itu tak lagi harmonis sejak om Danu meninggal. Setelah kematian suaminya, tante Emma lebih banyak menghabiskan harinya di kantor daripada menemani anak tunggalnya itu di rumah.

‘’Biarkan Sarah tinggal di rumahku selagi kamu tidak ada, Em.’’ Pinta mama suatu hari sebab tak tega melihatnya.

‘’Di rumah ada bibi yang mengawasinya. Biarkan ia belajar mandiri.’’

‘’Ia juga bisa belajar mandiri di rumahku. Lagi pula tidak hanya bermain, ia juga bisa mengerjakan PR dan belajar bersama Raka. Aku akan mengawasinya. Bukankah begitu kamu bisa bekerja lebih tenang?’’

‘’Aku mau di sini, Ma.’’ Sarah merengek.

Tante Emma menggeleng.

‘’Sarah mau di sini sama tante Anna juga Kai.’’ Rengek Sarah lagi. Ia memasang wajah memelas dan membuat tante Emma terpaksa mengeluarkan kalimat persetujuan.

‘’Baiklah kalau itu yang Sarah inginkan. Tapi ingat, tidak boleh nakal dan membuat repot tante Anna.’’

Sarah mengangguk kegirangan.

Sejak hari itu Sarah sering tinggal di rumah kami yang berjarak beberapa atap dari rumahnya. Jika tante Emma keluar kota, ia akan tidur dengan mama. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Mama memperlakukan Sarah sama sepertiku. Konon aku tahu, dulu mama ingin sekali memiliki anak perempuan yang manis dan penurut seperti Sarah.

Sarah memang suka membuat kejutan. Seperti hari ini, ia bisa saja naik pesawat dari Singapura langsung turun di bandara Ahmad Yani yang jaraknya lebih dekat dengan kota kami. Tapi nyatanya ia turun di Jakarta, lalu perjalanan ke Semarang ditempuh dengan naik kereta, hingga akhirnya aku-lah yang menjadi tumbal ulahnya itu.

‘’Tolong jemput adikmu ya, Raka.’’ Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan permintaan tante Emma itu karena jujur aku tak mau terlibat dengan urusan persiapan pernikahan.

**
‘’Kereta dari stasiun Gambir ke Tawang datang Pukul 15.15.’’ Seorang wanita berwajah oval dari balik loket customer service menjawab pertanyaanku.

Aku memeriksa angka pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Masih ada sisa waktu dua puluh menit. Kakiku melangkah gontai sedang perasaanku gusar tak karuan. Aku masih bingung bagaimana caranya untuk menghubungi Sarah.

Cukup lama berjalan mondar-mandir tapi akhirnya aku menyerah. Aku duduk di bangku tunggu seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di sana. Di bangku itu orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada seorang ibu muda terkantuk-kantuk menggendong bayinya yang sudah lelap. Jarak dua kursi darinya seorang gadis mengenakan rok bermotif bunga dan atasan baju warna biru dongker, sedang menekuni deretan huruf dari buku yang dipegangnya.

Masih ada beberapa wanita muda dan orang dewasa yang duduk di sana, tapi aku tak bisa melihat apa yang mereka lakukan. Aku juga tak berniat mencari tahu, karena aku lebih tertarik untuk memerhatikan gadis yang duduk di deretan bangku yang sebaris denganku. Dia duduk di ujung kiri, sedang aku ada di ujung kanan.

Gadis itu mengenakan celana gunung warna hitam, dipadukan kaus putih yang dibalut hem kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai siku. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dan sebuah topi yang dipasang terbalik bertengger di atasnya. Gadis itu sepertinya tak terganggu dengan keramaian di stasiun, karena matanya fokus pada buku gambar kecil yang tengah dicoret-coret oleh tangan kanannya. Melihat apa yang tengah dilakukannya, tiba-tiba ide cemerlang untuk menemukan Sarah mampir ke tempurung kepalaku.

**
Suara gambang Semarang mengalun merdu di sudut ruangan, lalu disusul suara petugas melalui pengeras suara yang menginfokan bahwa kereta dari Jakarta hampir tiba. Mendengar itu aku mepraktekkan ideku tadi‒berdiri di dekat pintu penumpang keluar, lalu mengamati setiap penumpang wanita berusia kisaran dua puluhan tahun.

Berjejalan orang berjalan. Riuh suara anak kecil, ketepak sandal, dan suara roda koper kecil yang beradu dengan lantai membuat tempat itu berubah laksana pasar dadakan. Mataku berjelajah memerhatikan penumpang yang keluar satu per satu.

Cukup lama berdiri, tapi aku belum menemukan Sarah. Sebenarnya ada beberapa gadis yang kusapa, tapi diantara mereka tak ada yang mengaku bernama Sarah. Lama menunggu. Bau keringat orang-orang mulai hilang dan tempat itu menjadi lengang, tapi tak ada lagi sosok yang melewati pintu keluar selain petugas stasiun yang menatapku aneh.

Hatiku cemas. Tak mungkin aku pulang tanpa membawa Sarah karena melakukan itu sama saja dengan memancing amarah singa. Aku malas jika harus berhadapan dengan papa. Sudah hampir satu minggu ini aku enggan bertatap muka dengannya. Jika kami kebetulan sama-sama di rumah, aku lebih betah berdiam dalam kamar menghadapi kertas dan rancangan-rancangan yang kubuat untuk tugas kuliah .

Berkali-kali mataku melesat ke arah pintu keluar. Jari-jariku bertaut satu sama lain. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana jika Sarah ternyata sudah keluar lalu dijadikan bahan rebutan oleh para sopir taksi, sopir angkot dan sopir becak agar mau menggunakan jasa mereka. Bagaimana jika Sarah menurut lalu sopir itu memeras uang dan perhiasannya. Lalu bagaimana jika Sarah menolak memberikan lalu orang-orang itu melukai Sarah. Ah, aku pusing memikirkannya.

Sarah sudah besar, ia bisa menjaga dirinya sendiri.

Aku menasehati diriku sendiri untuk tak buru-buru terprovokasi dengan asumsi yang kubuat sendiri.

‘’Kai.’’

Langkahku terhenti ketika berjalan melewati bangku tunggu dan hendak menuju customer service lagi. Aku seperti mengenali panggilan itu.

‘’Kai.’’

Aku berhasil mengingat. Kai adalah kata pertama dan kedua dari nama Raka Inggil Prambudi yang disingkat. Ya, benar. Meski sudah lama sekali tak mendengar, tapi aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Dan orang yang memanggiku seperti itu hanyalah Sarah.

‘’Kai.’’

Suara itu diulang tiga kali. Aku menoleh dan kedua bola mataku cepat menemukan sosok gadis bertopi terbalik dan memakai celana gunung .

‘’Kamu…’’ Suaraku tertahan, sengaja membiarkan gadis itu mengungkap siapa dirinya.

‘’Sarah.’’

‘’Ini kamu, Sarah?’’ Sebisa mungkin mataku mengamati tiap inchi wajah di depanku itu. Tapi sedikitpun tak ada sisa wajah kecilnya yang kukenali dari wajah yang mulai dewasa itu.

Gadis itu meletakkan jari telunjuknya di atas hidung lalu menjulurkan lidah. Aku baru percaya jika ucapannya benar karena gerakan itu adalah hal yang sering kami lakukan di waktu kecil untuk saling mengejek.

‘’Kamu sudah di sini sejak lama, kan? Sebenarnya apa yang terjadi, hah?’’ tanyaku penuh kekhawatiran.

‘’Aku sudah mengenalimu sejak kau masuk.’’

‘’Lalu kenapa tak menyapaku? HP-mu juga nggak aktif?’’

Sarah menyodorkan buku gambarnya yang ketika halaman itu kubuka satu per satu tampak penuh dengan sketsa bangunan beserta aktivitas orang-orang di stasiun ini. Lalu, ketika tanganku sampai di lembar yang terakhir, aku melihat sebuah sketsa wajah laki-laki yang tengah mencuri pandang ke arahnya. Melihat itu sekonyong-konyong membuatku ingin tersedak. Laki- laki itu memiliki wajah oval dengan sedikit bulu di dagunya. Melhat ciri-cirinya, aku yakin bahwa laki-laki itu adalah orang yang tengah menahan malu yang kini berdiri di depannya.

‘’Jadi kamu tahu?’’

Ia terkekeh. Mengejek.

‘’Jadwal keretamu baru tiba beberapa menit yang lalu, tapi kau sudah di sini sejak lama. Sebenarnya apa yang terjadi?’’ Aku mengulang pertanyaan dengan tujuan mengalihkan pembicaraan.

‘’Aku naik kereta malam.’’

Lagi-lagi, Sarah memang penuh kejutan. Ia tak memberitahu siapapun tentang perubahan jadwal perjalanannya.

‘’Jadi kamu hampir seharian di sini? Kamu salah beli tiket? Kenapa tak memberitahu siapapun? Aku kan bisa menjemputmu lebih awal?’’

‘’Pertanyaanmu banyak sekali. Aku harus menjawab yang mana dulu?’’ jawabnya santai seolah tak mempedulikan kecemasanku.

‘’Tak ada yang perlu kau jawab. Sekarang ayo pulang.’’

‘’Pulang?’’Sarah tertawa hambar,”Pernikahan itu, apa kau menyetujuinya?’’

’’Setuju atau tidak, apakah akan ada yang berubah?’’ Dadaku sesak.

Sarah diam. Aku pun demikian. Hening untuk beberapa saat lamanya.

‘’Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Berikan kunci mobil dan ponselmu.’’ Sarah mematikan ponselku kemudian gegas menuju parkiran dan bodohnya aku menurut saja.

‘’Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dipikirkan orang dewasa.’’ Sarah duduk di belakang setir. Ia menyuruhku tidur di jok sebelahnya. Aku tak tahu kapan Sarah bisa menyetir, aku juga tak tahu kapan ia mengenali daerah ini dan aku juga tak tahu apa yang tengah direncanakan Sarah. Hanya saja yang aku tahu, besok adalah hari yang dipilih papa dan tante Emma untuk menikah. Mungkin nanti malam mereka akan kebingungan dan lapor polisi perihal hilangnya aku dan Sarah. Ah, iya aku lupa satu hal. Sarah bilang akan membangunkanku begitu kami tiba di tempat yang tak bisa ditemukan tante Emma dan papa. Mendengar kata-kata Sarah itu membuatku rindu akan senyum hangat seorang wanita yang bertahun-tahun tak pernah kulihat dan kini aku tak tahu dimana ia berada. Aku merindukan mama. (*)

*Cerpen ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK. 30-9-2017.

9/28/2017

Alysa dan Lelaki dalam Teng Teng

pixabay

Laki-laki itu melihat Alysa berdiri diantara barisan rapi penumpang masuk Teng Teng. Tak banyak penumpang di dalam kereta listrik yang lintas relnya di tengah itu. Alysa menaiki beberapa tangga menuju dek atas. Laki-laki itu duduk berjarak lima kursi di belakang Alysa. Dan gadis berwajah bulat telur itu tak tahu jika sedari tadi dirinya diikuti oleh seseorang.

Ponsel di tangannya bergetar. Tak diangkat. Dua jam yang lalu, hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini menghubunginya. Mbak Umi.

Sejak awal mbak Umi tak suka melihat Alysa dekat dengan Zad. Lelaki asal Negeri Kangguru yang mualaf empat tahun lalu. Apapun hal baik tentang Zad yang Alysa ceritakan pada mbak Umi tak pernah mendapat respon baik.

”Kenapa mbak selalu berpikiran negatif pada Zad? Bukankah kita dilarang su’udzon mbak?”

”Bukan su’udzon. Aku hanya mengingatkanmu agar lebih hati-hati, Sa.”

Alysa tak mengerti kenapa mbak Umi selalu menaruh curiga pada Zad. Lelaki bertubuh jangkung itu banyak mengalami perubahan menjadi lebih baik. Setiap hari Zad tak penah absen bertanya pada Alysa perihal agama yang baru dipeluknya itu melalui WA.

”Apa mbak Umi juga mencurigai Zad saat kita bertemu dia di masjid Wanchai?”

Alysa mengingatkan mbak Umi tentang pertemuan mereka dengan Zad setiap minggu di lantai dasar masjid Ammar Wanchai. Mbak Umi sebenarnya tahu lelaki berkulit putih itu belajar Islam dan belajar membaca huruf Hijaiyah di masjid yang merupakan simbol kekuatan syiar Islam di daerah yang disebut Red Zone oleh penduduk Hong Kong itu. Namun mbak Umi meragukan sorot yang terpancar dari mata biru lelaki itu.

”Aku tidak yakin, Sa.”

Mbak Umi masih tak percaya Zad. Teman yang dianggap Alysa sebagai kakak itu malah mengenalkan Alysa pada Hanif. Keponakannya yang bekerja di sebuah perusahaan finansial di Indonesia.

”Agamanya bagus, Sudah mapan dan dia sangat menyayangi keluarganya. Kalian cocok jika bersama.” Mbak Umi berharap Hanif bisa mengganti sosok Zad di hidup Alysa.

”Terimakasih mbak. Tapi ini kehidupanku. Aku yang memutuskan dan menjalaninya.’’

Alysa mulai tak suka kehidupan pribadinya dicampuri orang lain. Walau sebenarnya gadis itu tahu mbak Umi melakukan hal tersebut didorong oleh rasa khawatir. Alysa sudah banyak mendengar tentang gadis-gadis Indonesia yang bekerja di Negeri Beton memiliki cerita menyedihkan setelah mengenal laki-laki asing.

Gadis-gadis manis dan polos itu tergoda rayuan manis laki-laki berkulit putih. Setelah sang bule berhasil menjerat hati sang gadis, mereka menikahinya. Jika bule itu baik dan bertanggung jawab, mereka hidup bahagia. Namun jika nasib gadis tak beruntung, beberapa tahun setelah menikah, bule itu akan meninggalkan sang gadis yang sudah menjadi istrinya.

Selama menjadi istri bule, kebanyakan gadis itu lupa niat awal bekerja ke Negeri Beton. Mereka lupa keluarga dan uang gaji tiap bulan dihabiskan bersama suaminya. Jika gadis itu masih sadar, mereka akan menyesali dan memulai hidup baru dari awal. Namun jika luka yang tertoreh di hatinya sangat dalam, tak sedikit yang memilih hidup overstay. Kehidupannya dipenuhi keputusasaan. Mereka terjerat dalam dunia kelam. Mengenal minuman keras dan narkoba. Mbak umi tak ingin Alysa menjadi salah satu gadis dari golongan kedua.

Tak ada yang tahu jika selama ini Zad menyukai Alysa. Dari pembicaraan yang sering ditanyakan di WA, Zad tahu Alysa bukan gadis seperti umumnya. Gadis berhati lembut itu memegang teguh prinsip untuk tidak mau pacaran. Jika saling mencintai, maka menikah lebih utama. Tulis Alysa selalu dalam pesannya pada Zad.

”Keputusanmu terlalu cepat, Sa. Kamu belum benar-benar mengetahui dia yang sesungguhnya.”

Mbak Umi kaget ketika mendengar kabar Zad ingin mengkhitbah Alysa.

”Kurasa empat tahun bukan waktu yang singkat mbak.”

”Apa kamu sudah memberitahu keluargamu tentang hal ini?”

”Aku akan memberitahukan nanti.”

Mbak umi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa hal besar yang akan menentukan kehidupan Alysa ke belakang nanti, justru tak didiskusikan terlebih dahulu dengan keluarganya.

**
Teng Teng Teng Teng

Kendaraan itu bernama Tramways. Dalam bahasa kantonis disebut Tin Che. Namun tak sedikit orang yang menyebutnya Teng Teng. Hal itu dikarenakan bunyi bel-nya yang sedemikian rupa. Dan kini bel itu telah berbunyi yang kesekian kalinya. Banyak halte telah dilewati. Wajah-wajah berbeda penumpang turun dan masuk bergantian memenuhi kereta listrik yang hanya ada di daerah Hong Kong Island itu.

Susah payah seorang wanita paruh baya yang membawa beberapa tas belanjaan sampai di dek atas. Perempuan gendut itu menoleh kesana kemari namun mata sipitnya tak menemukan kursi kosong. Laki-laki itu berdiri. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh perempuan itu duduk di tempatnya. Laki-laki itu berdiri sedikit ke belakang. Matanya masih tetap menatap Alysa.

Alysa mendekatkan wajah bulat telurnya ke jendela yang daun pintunya hanya separuh. Angin sore bebas menyapu setiap inci wajah bulatnya dan mengerak-gerakkan ujung jilbabnya. Ponselnya bergetar lagi. Dari orang yang sangat mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Awalnya semua baik-baik saja. Dua jam yang lalu Zad menelpon Alysa dan meminta dengan sedikit memaksa agar bersedia makan malam di rumahnya. Zad ingin mengenalkan Alysa pada ayahnya. Alysa mengiyakan. Hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Kali ini kamu harus percaya, Sa!

Suara mbak Umi sungguh-sungguh di ujung telpon.

Mbak ngomongin apa sih? Alysa tak mengerti.

Aku sudah mengirimkan fotonya di WA. Kamu lihat sendiri.

”Apa maksud ini semua? Bagaimana Mbak Umi melakukan ini. Darimana ia mendapatkannya.”

Rupanya Alysa tidak tahu jika beberapa minggu belakangan mbak Umi sibuk mencari informasi tentang Zad. Diam-diam mbak Umi pergi ke lokasi yang kemungkinan didatangi Zad. Alysa tidak tahu jika beberapa minggu mbak Umi tak mau makan malam dengannya itu, bukan lantaran marah karena Alsa tak pernah mendengar nasehatnya. Namun setelah mereka bertemu dengan Zad di lantai dasar masjid Wanchai, mbak Umi diam-diam mengikuti laki-laki itu.

Alysa tak ingin percaya. Namun foto-foto berikutnya mengungkap kebenaran yang tak dapat dipungkiri. Laki-laki memakai jaket hitam yang tangannya merangkul wanita memakai tank top dan rok mini, laki-laki yang meminum segelas besar bir, juga laki-laki di lembar foto lainnya yang tengah menari-nari mengikuti kerlap-kerlip lampu bioskop itu Zad.


**
Teng Teng berhenti di halte depan library Causeway Bay. Sebuah perpustakaan terbesar yang ada di pusat kota Hong Kong. Laki-laki itu melihat Alysa beranjak dari kursinya. Menuruni beberapa tangga, menempelkan kartu octopus di mesin pembayaran. Setelah bunyi Tut dari mesin terdengar, Alysa keluar dari pintu depan tempat penumpang turun. Laki-laki itu melakukan hal yang sama.
Berdesakan penumpang turun. Lampu merah di kiri dan kanan halte masih menyala. Alysa tak sabar untuk segera menyeberangi jalanan itu. Begitu Teng Teng yang baru saja ia naiki berjalan, kakinya melangkah hendak menerobos lampu merah.

”Alysaa…!!” Laki-laki yang mengikuti Alysa itu berteriak dan menyeretnya ke belakang. Tubuhnya terpental. Hampir saja Alysa jatuh.

”Apa kau tak melihat lampu itu?!” Laki-laki itu memarahinya.

Semua orang memandang Alysa aneh. Beberapa penduduk lokal mengomel dan memarahinya karena sembrono. Alysa tidak tahu jika dari arah berlawanan ada Teng Teng melaju yang tidak terlihat karena tertutup Teng Teng yang baru saja dinaikinya.

”Maaf.” Alysa menyesal.

”Apa kau baik-baik saja?’’

Laki-laki jangkung berkulit putih itu berbahasa Indonesia.

”Tadi kau memanggil namaku. Apa kau mengenaliku?”

Laki-laki itu tak menjawab. Tangannya mengisyaratkan Alysa untuk jalan. Lampu telah berubah hijau.

”Ternyata kau lebih cantik daripada di foto.’’

”Apa kau mengenaliku?” Alysa mengulang pertanyaannya ketika mereka sampai di seberang.

”Senang bertemu denganmu. Aku Hanif.”

Alysa memutar kedua bola matanya. Mengingat-ingat nama yang akrab di telinganya itu.

”Hanif. Apa kamu keponakannya mbak Umi?”

Laki-laki itu mengangguk.”Bulek banyak bercerita tentangmu.”

Alysa mengernyitkan dahi.”Seberapa banyak mbak Umi bercerita?”

”Dulu bulek pernah mengalami. Seorang bule mualaf asal New Zealand menikahinya. Ketika kepulangan mereka ke Indonesia, bulek rela meminjam uang puluhan ribu dolar Hong Kong di bank. Tapi beberapa tahun selepas itu, bulek ditinggalkan begitu saja. Tak ada kabar sama sekali dari suaminya. Semua akses untuk menghubunginya terputus. Pengalaman itulah yang membuat bulek bersikeras memaksaku ke sini. Hanya untuk menemuimu.”

Dua bulir bening melandai di wajah bulatnya. Hatinya kebas. Rasa bersalah, haru dan terima kasih bercampur jadi satu. Aku menyayangimu tulus, Sa. Seperti kakak pada adiknya.Kalimat yang sering mbak Umi ucapkan itu mendengung di telinganya.

Alysa mempercepat langkah menyusuri Victoria Park agar cepat sampai di bawah tenda putih, di tempat mbak Umi kini berada. Dan laki-laki itu masih bersama Alysa. Tak lagi mengikuti namun menjejeri langkah gadis yang membuat hatinya bergetar ketika pertama kali melihat fotonya yang dikirim oleh buleknya. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK.

9/04/2017

Laki-laki itu Tengah Terlelap

photo net

Aku biasa mengenali kedatangannya dari bunyi derap sepatunya yang beradu dengan lantai. Biasa setelah menutup pintu, ia akan menautkan matanya dengan retinaku. Lalu menanyakan bagaimana kabarku, yang tak lupa disertai dengan seulas senyum hangat dari bibirnya yang kebiruan. Hari ini aku tak tahu ia tiba jam berapa. Aku tak mendengar suara sepatunya dan tak tahu kapan ia masuk. Tiba-tiba saja aku melihat laki-laki itu sudah terlelap di atas kursi separuh sofa berwarna abu-abu itu.

Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, sedang kedua kakinya terjulur ke lantai. Kepalanya menunduk dengan kedua bola mata yang mengatup sempurna. Dari gerak napasnya yang naik turun dengan tenang, tampak sekali ia tengah menikmati tidur dengan posisi duduk itu. Tak seperti aku yang jika tidur harus terbujur di atas kasur, ia bisa pulas di sembarang tempat.

Agaknya memang laki-laki itu diciptakan untuk mudah tidur. Aku ingat kala kami masih kanak-kanak, teman-teman jarang mau melibatkan ia ke dalam sebuah permainan yang mengharuskan untuk sembunyi.

”Aku ikut bermain,” pintanya pada teman-teman kala itu .

”Tidak! Kalau sembunyi kamu selalu ketiduran. Menjengkelkan sekali,” tolak salah satu teman kami.

”Kali ini aku tak akan tidur sembarangan.” Ia menempelkan jari kelingkingnya dengan ibu jari, sedang ketiga jari lainnya tegak lurus menghadap ke atas. Ia membuat janji.

Sebelum pendirian teman-teman goyah, laki-laki itu tak akan berhenti membujuk. Ia terus berkata-kata melafalkan janji-janjinya dengan suara berisik, yang pada akhirnya membuat teman-teman merasa risih dan laki-laki itu diterima untuk bergabung bermain.

Tiga kali putaran, permainan masih berjalan dengan baik. Tapi di putaran selanjutnya, janji yang diucapkan oleh laki-laki itu tinggal kata-kata belaka. Kami kembali dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali. Ya, lagi-lagi ia membuat aku dan teman-teman kelimpungan mencari tempat persembunyiannya.

Setelah lama dicari, salah seorang teman kami kadang memergokinya tengah berdiri dengan mata terpejam dan tubuhnya menempel di tembok dekat gang kecil yang menghubungkan rumahku dengan sumur belakang. Atau di lain waktu ia ditemukan sedang mendengkur di dekat tumpukan kayu kering yang akan dipakai sebagai bahan bakar untuk menggoreng krupuk. Pernah juga ia ketiduran di atas dahan pohon kopi di belakang rumahku. Laki-laki itu mudah sekali tidur. Mungkin itu imbas karena malamnya ia terjaga terlalu larut sebab setelah membungkusi krupuk di rumahku, ia harus belajar setelah sampai di rumahnya.

Laki-laki itu kadang memang menjengkelkan, tapi aku juga tak menampik kenyataan kalau aku sering diam-diam memperhatikannya ketika ia datang dengan sepeda onthel yang belnya selalu diputar berulang-ulang. Suaranya yang cempreng ketika menyapa bapak selalu membawa kakiku untuk cepat-cepat lari menuju jendela kaca berwarna hitam yang tak tembus pandang jika dilihat dari luar. Di pojokan jendela itu aku sesekali mengulum senyum sambil mengamati laki-laki itu yang dibantu bapak memasukkan krupuk-krupuk memenuhi dua keranjang belakang sepedanya.

”Ini catatannya. Hati-hati dan cepat pulang.” Pesan bapak.

”Enggeh pak.” Laki-laki itu menerima kertas dari bapak, mempelajarinya dengan cermat lalu memasukkan ke dalam tas slempang kecil berbahan kulit yang mulai mengelupas. Setelahnya, laki-laki itu gegas memutar sepeda onthel tuanya dan bersiap menyetorkan krupuk ke toko-toko sesuai dengan kertas yang berisi catatan tulisan tangan bapak itu.

**

Laki-laki itu masih terlelap. Beberapa kali kepalanya bergerak-gerak seakan hendak roboh, namun tidak jadi jatuh karena lekas tegak kembali. Melihatnya, aku jadi kasihan. Sepertinya ia mengantuk sekali atau barangkali sangat kelelahan.

Sebenarnya aku sudah sering menasehatinya agar lebih banyak istirahat di rumah. Berkali-kali pula kukatakan agar di usianya yang mulai senja itu, ia lebih fokus memperhatikan kesehatannya dan mengurangi pekerjaan di toko buku.

Agus dan Iwan sudah bekerja bertahun-tahun. Tabiat baik dan kejujurannya sudah tampak. Mereka amanah, percayakan saja urusan toko pada mereka. Kamu tak perlu pergi ke toko setiap hari,” kataku suatu hari.

”Aku pun memiliki pandangan sepertimu tentang mereka. Tapi masalahnya bukan percaya atau tidak. Hanya saja jika otak ini jika tak digunakan untuk bekerja sebagaimana mestinya, aku takut akan lebih cepat pikun sebelum waktunya. Bagaimana jika aku tak bisa mengenalimu lagi. Aku tak ingin hal itu terjadi padaku,” kilahnya menggodaku.

”Kamu kan bisa menghabiskan waktu dengan merawat taman di depan rumah, mencabuti rumputnya, dan memangkas tanaman yang keluar pagar.”

”Semua itu tak menyenangkan jika dilakukan sendirian. Lagipula belakangan toko ramai. Tenagaku cukup dibutuhkan disana.”

Laki-laki itu memang seorang pekerja keras. Bahkan ia sudah mandiri sejak kecil. Ketika anak-anak seusianya sibuk menadahkan tangan pada orangtuanya untuk meminta uang jajan, ia telah memiliki penghasilan sendiri. Upah membungkusi dan mengantar kerupuk yang diperoleh dari bapak cukup untuk memenuhi sakunya. Bahkan setelah dikumpulkan berbulan-bulan, bisa membantu ibunya untuk membayar bulanan sekolahnya sendiri.

Semua tahu jika laki-laki itu sudah lebih dewasa dari usianya. Ia menjaga ibu dan adik semata wayangnya dengan baik. Ia tak pernah membuat khawatir ibunya dan tak pernah membuat marah perempuan berbadan ringkih itu. Ia berubah menjadi laki-laki yang lebih tanggung jawab sejak bapaknya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun.

Laki-laki itu tak mau menyusahkan ibunya. Ia selalu berusaha menghasilkan uang sendiri. Sejauh yang kutahu, selama kuliah ia jarang menggunakan uang kiriman dari ibunya. Semester satu sampai tiga ia biayai kuliahnya dari upah kerja paruh waktu. Di semester lanjutan sampai akhir, ia menghasilkan uang dari berdagang. Ia berjualan apa saja. Kadang kulakan baju, celana atau sepatu untuk dijual pada teman kost atau teman kampusnya.

Aku mengetahui dengan baik perjuangan kerasnya itu, karena kebetulan kami kuliah di kampus yang sama dan tinggal di tempat kost yang tak terlalu jauh. Ah bukan. Sebenarnya itu bukan kebetulan. Jika mengingat hal itu aku selalu merasa berhutang budi padanya.

”Ayolah tolong aku sekali ini. Hanya kamu yang bisa membantuku,” pintaku kala itu dengan wajah penuh pengharapan.

”Kenapa harus aku? Teman-teman lain juga ada yang kuliah di kota,” jawab laki-laki itu.

”Kau tahu sendiri kan, bapak sangat percaya padamu. Pasti bapak akan mengijinkanku kuliah di kota jika tahu bahwa kamu juga kuliah di kampus yang sama,”kataku berusaha menjelaskan tentang kekhawatiran bapak untuk melepasku hidup di kota.

Laki-laki itu tak memberi kepastian bahwa ia akan membantuku untuk membujuk bapak. Hanya saja dua hari setelahnya, bapak memberi kabar yang membuatku sangat bahagia. Aku diijinkan untuk kuliah di kampus yang kupilih. Agaknya laki-laki itu sudah berbicara dengan bapak.

**

Suara beberapa anak kecil yang berbicara di luar terdengar cukup berisik. Andai tanganku tak dipasangi selang-selang infus, pasti aku akan keluar lalu meminta mereka untuk memelankan suaranya agar tak mengganggu tidur laki-laki itu. Aku ingin melihatnya tidur lebih lama lagi.

”Alisa, kamu sudah bangun”’

Aku tergeragap mendengar suaranya yang tiba-tiba.

Laki-laki itu mendekat, ”Aku tadi tiba ketika kamu sedang tidur. Makanya kuputuskan menunggu sampai kamu bangun. Tapi akhirnya aku malah ketiduran.”

”Bagaimana keadaanmu hari ini?” tambahnya.

Ia tersenyum lalu menautkan retinanya dengan mataku. Aku menemukan tatapan dari pemilik mata kopi itu masih sama seperti tatapan puluhan tahun silam.

Puluhan tahun silam itu…

”Aku tak tahu seperti apa laki-laki itu. Aku tak bisa membayangkan sebuah kehidupan dengan seorang yang tak kukenal. Aku ingin menolak perjodohan itu tapi aku juga tak ingin melukai hati bapak.” Aku tergugu menceritakan perihal perjodohan antara aku dengan anak laki-laki pelanggan krupuk bapak.

”Lagi pula hatiku sudah menyimpan sebuah nama,” tambahku.

Laki-laki yang diam dengan wajah tak bisa kubaca itu menarik kursinya berhadapan denganku. Wajahnya sangat serius. ”Alisa, jawab sejujurnya apa yang kukatakan. Apakah nama yang kau simpan itu namaku?

Aku tak berani menjawab. Hanya mampu menutupkan kedua tangan ke wajahku yang penuh air.

”Sebelum semuanya terlambat, aku juga ingin memberitahumu satu hal. Aku mencintaimu, Alisa. Aku mencintaimu sejak saat itu. Sejak kamu mengintip aku melalui kaca depan rumahmu.”

Laki-laki itu membimbing tanganku turun perlahan-lahan hingga membuat tangisku pecah karena kaget dan malu. Setelahnya, aku pun menemukan sebuah ketulusan dan kehangatan di kedalaman matanya.

”Alisa, kamu melamun?” Kedua kalinya, suara laki-laki itu mengagetkanku.

”Tidak. Bukan,” kataku cepat. Aku berbohong.

”Dokter bilang seminggu lagi kamu boleh pulang. Aku sudah merindukan kopi buatanmu.” Sebuah senyum terkulum dari bibirnya yang membawa aroma kebahagiaan.

”Syukurlah. Aku juga sudah bosan terbaring di kamar ini berminggu-minggu,” jawabku tak kalah bahagianya.

”Lekas sehat ya, Sayang. Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu. Aku berjanji akan lebih banyak menemanimu di rumah. Membantumu membuat cake atau merawat tanaman di depan rumah.” Laki-laki itu menggenggam tanganku. Memilin-milin cincin pernikahan kami yang melingkar di jari manisku. Hingga kemudian punggung tanganku terasa hangat oleh sebuah kecupan.

”Aku mencintaimu,” bisiknya. (*)

*Tersiar di tabloid ApakabarPlus, HK 20 Agustus 2017.
YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES