9/28/2017

Alysa dan Lelaki dalam Teng Teng

pixabay

Laki-laki itu melihat Alysa berdiri diantara barisan rapi penumpang masuk Teng Teng. Tak banyak penumpang di dalam kereta listrik yang lintas relnya di tengah itu. Alysa menaiki beberapa tangga menuju dek atas. Laki-laki itu duduk berjarak lima kursi di belakang Alysa. Dan gadis berwajah bulat telur itu tak tahu jika sedari tadi dirinya diikuti oleh seseorang.

Ponsel di tangannya bergetar. Tak diangkat. Dua jam yang lalu, hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini menghubunginya. Mbak Umi.

Sejak awal mbak Umi tak suka melihat Alysa dekat dengan Zad. Lelaki asal Negeri Kangguru yang mualaf empat tahun lalu. Apapun hal baik tentang Zad yang Alysa ceritakan pada mbak Umi tak pernah mendapat respon baik.

”Kenapa mbak selalu berpikiran negatif pada Zad? Bukankah kita dilarang su’udzon mbak?”

”Bukan su’udzon. Aku hanya mengingatkanmu agar lebih hati-hati, Sa.”

Alysa tak mengerti kenapa mbak Umi selalu menaruh curiga pada Zad. Lelaki bertubuh jangkung itu banyak mengalami perubahan menjadi lebih baik. Setiap hari Zad tak penah absen bertanya pada Alysa perihal agama yang baru dipeluknya itu melalui WA.

”Apa mbak Umi juga mencurigai Zad saat kita bertemu dia di masjid Wanchai?”

Alysa mengingatkan mbak Umi tentang pertemuan mereka dengan Zad setiap minggu di lantai dasar masjid Ammar Wanchai. Mbak Umi sebenarnya tahu lelaki berkulit putih itu belajar Islam dan belajar membaca huruf Hijaiyah di masjid yang merupakan simbol kekuatan syiar Islam di daerah yang disebut Red Zone oleh penduduk Hong Kong itu. Namun mbak Umi meragukan sorot yang terpancar dari mata biru lelaki itu.

”Aku tidak yakin, Sa.”

Mbak Umi masih tak percaya Zad. Teman yang dianggap Alysa sebagai kakak itu malah mengenalkan Alysa pada Hanif. Keponakannya yang bekerja di sebuah perusahaan finansial di Indonesia.

”Agamanya bagus, Sudah mapan dan dia sangat menyayangi keluarganya. Kalian cocok jika bersama.” Mbak Umi berharap Hanif bisa mengganti sosok Zad di hidup Alysa.

”Terimakasih mbak. Tapi ini kehidupanku. Aku yang memutuskan dan menjalaninya.’’

Alysa mulai tak suka kehidupan pribadinya dicampuri orang lain. Walau sebenarnya gadis itu tahu mbak Umi melakukan hal tersebut didorong oleh rasa khawatir. Alysa sudah banyak mendengar tentang gadis-gadis Indonesia yang bekerja di Negeri Beton memiliki cerita menyedihkan setelah mengenal laki-laki asing.

Gadis-gadis manis dan polos itu tergoda rayuan manis laki-laki berkulit putih. Setelah sang bule berhasil menjerat hati sang gadis, mereka menikahinya. Jika bule itu baik dan bertanggung jawab, mereka hidup bahagia. Namun jika nasib gadis tak beruntung, beberapa tahun setelah menikah, bule itu akan meninggalkan sang gadis yang sudah menjadi istrinya.

Selama menjadi istri bule, kebanyakan gadis itu lupa niat awal bekerja ke Negeri Beton. Mereka lupa keluarga dan uang gaji tiap bulan dihabiskan bersama suaminya. Jika gadis itu masih sadar, mereka akan menyesali dan memulai hidup baru dari awal. Namun jika luka yang tertoreh di hatinya sangat dalam, tak sedikit yang memilih hidup overstay. Kehidupannya dipenuhi keputusasaan. Mereka terjerat dalam dunia kelam. Mengenal minuman keras dan narkoba. Mbak umi tak ingin Alysa menjadi salah satu gadis dari golongan kedua.

Tak ada yang tahu jika selama ini Zad menyukai Alysa. Dari pembicaraan yang sering ditanyakan di WA, Zad tahu Alysa bukan gadis seperti umumnya. Gadis berhati lembut itu memegang teguh prinsip untuk tidak mau pacaran. Jika saling mencintai, maka menikah lebih utama. Tulis Alysa selalu dalam pesannya pada Zad.

”Keputusanmu terlalu cepat, Sa. Kamu belum benar-benar mengetahui dia yang sesungguhnya.”

Mbak Umi kaget ketika mendengar kabar Zad ingin mengkhitbah Alysa.

”Kurasa empat tahun bukan waktu yang singkat mbak.”

”Apa kamu sudah memberitahu keluargamu tentang hal ini?”

”Aku akan memberitahukan nanti.”

Mbak umi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa hal besar yang akan menentukan kehidupan Alysa ke belakang nanti, justru tak didiskusikan terlebih dahulu dengan keluarganya.

**
Teng Teng Teng Teng

Kendaraan itu bernama Tramways. Dalam bahasa kantonis disebut Tin Che. Namun tak sedikit orang yang menyebutnya Teng Teng. Hal itu dikarenakan bunyi bel-nya yang sedemikian rupa. Dan kini bel itu telah berbunyi yang kesekian kalinya. Banyak halte telah dilewati. Wajah-wajah berbeda penumpang turun dan masuk bergantian memenuhi kereta listrik yang hanya ada di daerah Hong Kong Island itu.

Susah payah seorang wanita paruh baya yang membawa beberapa tas belanjaan sampai di dek atas. Perempuan gendut itu menoleh kesana kemari namun mata sipitnya tak menemukan kursi kosong. Laki-laki itu berdiri. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh perempuan itu duduk di tempatnya. Laki-laki itu berdiri sedikit ke belakang. Matanya masih tetap menatap Alysa.

Alysa mendekatkan wajah bulat telurnya ke jendela yang daun pintunya hanya separuh. Angin sore bebas menyapu setiap inci wajah bulatnya dan mengerak-gerakkan ujung jilbabnya. Ponselnya bergetar lagi. Dari orang yang sangat mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Awalnya semua baik-baik saja. Dua jam yang lalu Zad menelpon Alysa dan meminta dengan sedikit memaksa agar bersedia makan malam di rumahnya. Zad ingin mengenalkan Alysa pada ayahnya. Alysa mengiyakan. Hati gadis berlesung pipit itu dipenuhi kebahagiaan. Namun aroma kebahagiaan itu menguar setelah ia mendapat panggilan masuk dari orang yang saat ini mengkhawatirkannya. Mbak Umi.

Kali ini kamu harus percaya, Sa!

Suara mbak Umi sungguh-sungguh di ujung telpon.

Mbak ngomongin apa sih? Alysa tak mengerti.

Aku sudah mengirimkan fotonya di WA. Kamu lihat sendiri.

”Apa maksud ini semua? Bagaimana Mbak Umi melakukan ini. Darimana ia mendapatkannya.”

Rupanya Alysa tidak tahu jika beberapa minggu belakangan mbak Umi sibuk mencari informasi tentang Zad. Diam-diam mbak Umi pergi ke lokasi yang kemungkinan didatangi Zad. Alysa tidak tahu jika beberapa minggu mbak Umi tak mau makan malam dengannya itu, bukan lantaran marah karena Alsa tak pernah mendengar nasehatnya. Namun setelah mereka bertemu dengan Zad di lantai dasar masjid Wanchai, mbak Umi diam-diam mengikuti laki-laki itu.

Alysa tak ingin percaya. Namun foto-foto berikutnya mengungkap kebenaran yang tak dapat dipungkiri. Laki-laki memakai jaket hitam yang tangannya merangkul wanita memakai tank top dan rok mini, laki-laki yang meminum segelas besar bir, juga laki-laki di lembar foto lainnya yang tengah menari-nari mengikuti kerlap-kerlip lampu bioskop itu Zad.


**
Teng Teng berhenti di halte depan library Causeway Bay. Sebuah perpustakaan terbesar yang ada di pusat kota Hong Kong. Laki-laki itu melihat Alysa beranjak dari kursinya. Menuruni beberapa tangga, menempelkan kartu octopus di mesin pembayaran. Setelah bunyi Tut dari mesin terdengar, Alysa keluar dari pintu depan tempat penumpang turun. Laki-laki itu melakukan hal yang sama.
Berdesakan penumpang turun. Lampu merah di kiri dan kanan halte masih menyala. Alysa tak sabar untuk segera menyeberangi jalanan itu. Begitu Teng Teng yang baru saja ia naiki berjalan, kakinya melangkah hendak menerobos lampu merah.

”Alysaa…!!” Laki-laki yang mengikuti Alysa itu berteriak dan menyeretnya ke belakang. Tubuhnya terpental. Hampir saja Alysa jatuh.

”Apa kau tak melihat lampu itu?!” Laki-laki itu memarahinya.

Semua orang memandang Alysa aneh. Beberapa penduduk lokal mengomel dan memarahinya karena sembrono. Alysa tidak tahu jika dari arah berlawanan ada Teng Teng melaju yang tidak terlihat karena tertutup Teng Teng yang baru saja dinaikinya.

”Maaf.” Alysa menyesal.

”Apa kau baik-baik saja?’’

Laki-laki jangkung berkulit putih itu berbahasa Indonesia.

”Tadi kau memanggil namaku. Apa kau mengenaliku?”

Laki-laki itu tak menjawab. Tangannya mengisyaratkan Alysa untuk jalan. Lampu telah berubah hijau.

”Ternyata kau lebih cantik daripada di foto.’’

”Apa kau mengenaliku?” Alysa mengulang pertanyaannya ketika mereka sampai di seberang.

”Senang bertemu denganmu. Aku Hanif.”

Alysa memutar kedua bola matanya. Mengingat-ingat nama yang akrab di telinganya itu.

”Hanif. Apa kamu keponakannya mbak Umi?”

Laki-laki itu mengangguk.”Bulek banyak bercerita tentangmu.”

Alysa mengernyitkan dahi.”Seberapa banyak mbak Umi bercerita?”

”Dulu bulek pernah mengalami. Seorang bule mualaf asal New Zealand menikahinya. Ketika kepulangan mereka ke Indonesia, bulek rela meminjam uang puluhan ribu dolar Hong Kong di bank. Tapi beberapa tahun selepas itu, bulek ditinggalkan begitu saja. Tak ada kabar sama sekali dari suaminya. Semua akses untuk menghubunginya terputus. Pengalaman itulah yang membuat bulek bersikeras memaksaku ke sini. Hanya untuk menemuimu.”

Dua bulir bening melandai di wajah bulatnya. Hatinya kebas. Rasa bersalah, haru dan terima kasih bercampur jadi satu. Aku menyayangimu tulus, Sa. Seperti kakak pada adiknya.Kalimat yang sering mbak Umi ucapkan itu mendengung di telinganya.

Alysa mempercepat langkah menyusuri Victoria Park agar cepat sampai di bawah tenda putih, di tempat mbak Umi kini berada. Dan laki-laki itu masih bersama Alysa. Tak lagi mengikuti namun menjejeri langkah gadis yang membuat hatinya bergetar ketika pertama kali melihat fotonya yang dikirim oleh buleknya. (*)

*Cerpen sederhana ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES