9/30/2017

Kejutan dari Sarah

photo net

Sarah memang penuh kejutan. Setelah mengabaikan panggilanku puluhan kali, ia mengangkat telpon dan langsung berkata bahwa nanti kami akan bertemu di stasiun. Ia juga memintaku untuk tak menghubunginya lagi. Belum sempat kutanyakan ia memakai baju apa, telpon sudah diputus. Setelah itu ponselnya tidak aktif.

Aku menghubungi tante Emma untuk menanyakan foto Sarah. Tujuh tahun sejak Sarah pindah sekolah di Singapura, aku tak pernah bertemu dengannya. Aku khawatir tak mengenalinya lagi. Maka dengan melihat potret Sarah, pasti aku akan langsung tahu jika itu dirinya saat berpapasan nanti. Beberapa menit kemudian balasan dari tante Emma kuterima, tapi membaca isi pesan itu membuatku sedikit kecewa sebab gllery HP-nya hanya menyimpan foto Sarah saat masih kanak-kanak.

Aku tahu hubungan ibu-anak itu tak lagi harmonis sejak om Danu meninggal. Setelah kematian suaminya, tante Emma lebih banyak menghabiskan harinya di kantor daripada menemani anak tunggalnya itu di rumah.

‘’Biarkan Sarah tinggal di rumahku selagi kamu tidak ada, Em.’’ Pinta mama suatu hari sebab tak tega melihatnya.

‘’Di rumah ada bibi yang mengawasinya. Biarkan ia belajar mandiri.’’

‘’Ia juga bisa belajar mandiri di rumahku. Lagi pula tidak hanya bermain, ia juga bisa mengerjakan PR dan belajar bersama Raka. Aku akan mengawasinya. Bukankah begitu kamu bisa bekerja lebih tenang?’’

‘’Aku mau di sini, Ma.’’ Sarah merengek.

Tante Emma menggeleng.

‘’Sarah mau di sini sama tante Anna juga Kai.’’ Rengek Sarah lagi. Ia memasang wajah memelas dan membuat tante Emma terpaksa mengeluarkan kalimat persetujuan.

‘’Baiklah kalau itu yang Sarah inginkan. Tapi ingat, tidak boleh nakal dan membuat repot tante Anna.’’

Sarah mengangguk kegirangan.

Sejak hari itu Sarah sering tinggal di rumah kami yang berjarak beberapa atap dari rumahnya. Jika tante Emma keluar kota, ia akan tidur dengan mama. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Mama memperlakukan Sarah sama sepertiku. Konon aku tahu, dulu mama ingin sekali memiliki anak perempuan yang manis dan penurut seperti Sarah.

Sarah memang suka membuat kejutan. Seperti hari ini, ia bisa saja naik pesawat dari Singapura langsung turun di bandara Ahmad Yani yang jaraknya lebih dekat dengan kota kami. Tapi nyatanya ia turun di Jakarta, lalu perjalanan ke Semarang ditempuh dengan naik kereta, hingga akhirnya aku-lah yang menjadi tumbal ulahnya itu.

‘’Tolong jemput adikmu ya, Raka.’’ Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan permintaan tante Emma itu karena jujur aku tak mau terlibat dengan urusan persiapan pernikahan.

**
‘’Kereta dari stasiun Gambir ke Tawang datang Pukul 15.15.’’ Seorang wanita berwajah oval dari balik loket customer service menjawab pertanyaanku.

Aku memeriksa angka pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Masih ada sisa waktu dua puluh menit. Kakiku melangkah gontai sedang perasaanku gusar tak karuan. Aku masih bingung bagaimana caranya untuk menghubungi Sarah.

Cukup lama berjalan mondar-mandir tapi akhirnya aku menyerah. Aku duduk di bangku tunggu seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di sana. Di bangku itu orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada seorang ibu muda terkantuk-kantuk menggendong bayinya yang sudah lelap. Jarak dua kursi darinya seorang gadis mengenakan rok bermotif bunga dan atasan baju warna biru dongker, sedang menekuni deretan huruf dari buku yang dipegangnya.

Masih ada beberapa wanita muda dan orang dewasa yang duduk di sana, tapi aku tak bisa melihat apa yang mereka lakukan. Aku juga tak berniat mencari tahu, karena aku lebih tertarik untuk memerhatikan gadis yang duduk di deretan bangku yang sebaris denganku. Dia duduk di ujung kiri, sedang aku ada di ujung kanan.

Gadis itu mengenakan celana gunung warna hitam, dipadukan kaus putih yang dibalut hem kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai siku. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dan sebuah topi yang dipasang terbalik bertengger di atasnya. Gadis itu sepertinya tak terganggu dengan keramaian di stasiun, karena matanya fokus pada buku gambar kecil yang tengah dicoret-coret oleh tangan kanannya. Melihat apa yang tengah dilakukannya, tiba-tiba ide cemerlang untuk menemukan Sarah mampir ke tempurung kepalaku.

**
Suara gambang Semarang mengalun merdu di sudut ruangan, lalu disusul suara petugas melalui pengeras suara yang menginfokan bahwa kereta dari Jakarta hampir tiba. Mendengar itu aku mepraktekkan ideku tadi‒berdiri di dekat pintu penumpang keluar, lalu mengamati setiap penumpang wanita berusia kisaran dua puluhan tahun.

Berjejalan orang berjalan. Riuh suara anak kecil, ketepak sandal, dan suara roda koper kecil yang beradu dengan lantai membuat tempat itu berubah laksana pasar dadakan. Mataku berjelajah memerhatikan penumpang yang keluar satu per satu.

Cukup lama berdiri, tapi aku belum menemukan Sarah. Sebenarnya ada beberapa gadis yang kusapa, tapi diantara mereka tak ada yang mengaku bernama Sarah. Lama menunggu. Bau keringat orang-orang mulai hilang dan tempat itu menjadi lengang, tapi tak ada lagi sosok yang melewati pintu keluar selain petugas stasiun yang menatapku aneh.

Hatiku cemas. Tak mungkin aku pulang tanpa membawa Sarah karena melakukan itu sama saja dengan memancing amarah singa. Aku malas jika harus berhadapan dengan papa. Sudah hampir satu minggu ini aku enggan bertatap muka dengannya. Jika kami kebetulan sama-sama di rumah, aku lebih betah berdiam dalam kamar menghadapi kertas dan rancangan-rancangan yang kubuat untuk tugas kuliah .

Berkali-kali mataku melesat ke arah pintu keluar. Jari-jariku bertaut satu sama lain. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana jika Sarah ternyata sudah keluar lalu dijadikan bahan rebutan oleh para sopir taksi, sopir angkot dan sopir becak agar mau menggunakan jasa mereka. Bagaimana jika Sarah menurut lalu sopir itu memeras uang dan perhiasannya. Lalu bagaimana jika Sarah menolak memberikan lalu orang-orang itu melukai Sarah. Ah, aku pusing memikirkannya.

Sarah sudah besar, ia bisa menjaga dirinya sendiri.

Aku menasehati diriku sendiri untuk tak buru-buru terprovokasi dengan asumsi yang kubuat sendiri.

‘’Kai.’’

Langkahku terhenti ketika berjalan melewati bangku tunggu dan hendak menuju customer service lagi. Aku seperti mengenali panggilan itu.

‘’Kai.’’

Aku berhasil mengingat. Kai adalah kata pertama dan kedua dari nama Raka Inggil Prambudi yang disingkat. Ya, benar. Meski sudah lama sekali tak mendengar, tapi aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Dan orang yang memanggiku seperti itu hanyalah Sarah.

‘’Kai.’’

Suara itu diulang tiga kali. Aku menoleh dan kedua bola mataku cepat menemukan sosok gadis bertopi terbalik dan memakai celana gunung .

‘’Kamu…’’ Suaraku tertahan, sengaja membiarkan gadis itu mengungkap siapa dirinya.

‘’Sarah.’’

‘’Ini kamu, Sarah?’’ Sebisa mungkin mataku mengamati tiap inchi wajah di depanku itu. Tapi sedikitpun tak ada sisa wajah kecilnya yang kukenali dari wajah yang mulai dewasa itu.

Gadis itu meletakkan jari telunjuknya di atas hidung lalu menjulurkan lidah. Aku baru percaya jika ucapannya benar karena gerakan itu adalah hal yang sering kami lakukan di waktu kecil untuk saling mengejek.

‘’Kamu sudah di sini sejak lama, kan? Sebenarnya apa yang terjadi, hah?’’ tanyaku penuh kekhawatiran.

‘’Aku sudah mengenalimu sejak kau masuk.’’

‘’Lalu kenapa tak menyapaku? HP-mu juga nggak aktif?’’

Sarah menyodorkan buku gambarnya yang ketika halaman itu kubuka satu per satu tampak penuh dengan sketsa bangunan beserta aktivitas orang-orang di stasiun ini. Lalu, ketika tanganku sampai di lembar yang terakhir, aku melihat sebuah sketsa wajah laki-laki yang tengah mencuri pandang ke arahnya. Melihat itu sekonyong-konyong membuatku ingin tersedak. Laki- laki itu memiliki wajah oval dengan sedikit bulu di dagunya. Melhat ciri-cirinya, aku yakin bahwa laki-laki itu adalah orang yang tengah menahan malu yang kini berdiri di depannya.

‘’Jadi kamu tahu?’’

Ia terkekeh. Mengejek.

‘’Jadwal keretamu baru tiba beberapa menit yang lalu, tapi kau sudah di sini sejak lama. Sebenarnya apa yang terjadi?’’ Aku mengulang pertanyaan dengan tujuan mengalihkan pembicaraan.

‘’Aku naik kereta malam.’’

Lagi-lagi, Sarah memang penuh kejutan. Ia tak memberitahu siapapun tentang perubahan jadwal perjalanannya.

‘’Jadi kamu hampir seharian di sini? Kamu salah beli tiket? Kenapa tak memberitahu siapapun? Aku kan bisa menjemputmu lebih awal?’’

‘’Pertanyaanmu banyak sekali. Aku harus menjawab yang mana dulu?’’ jawabnya santai seolah tak mempedulikan kecemasanku.

‘’Tak ada yang perlu kau jawab. Sekarang ayo pulang.’’

‘’Pulang?’’Sarah tertawa hambar,”Pernikahan itu, apa kau menyetujuinya?’’

’’Setuju atau tidak, apakah akan ada yang berubah?’’ Dadaku sesak.

Sarah diam. Aku pun demikian. Hening untuk beberapa saat lamanya.

‘’Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Berikan kunci mobil dan ponselmu.’’ Sarah mematikan ponselku kemudian gegas menuju parkiran dan bodohnya aku menurut saja.

‘’Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dipikirkan orang dewasa.’’ Sarah duduk di belakang setir. Ia menyuruhku tidur di jok sebelahnya. Aku tak tahu kapan Sarah bisa menyetir, aku juga tak tahu kapan ia mengenali daerah ini dan aku juga tak tahu apa yang tengah direncanakan Sarah. Hanya saja yang aku tahu, besok adalah hari yang dipilih papa dan tante Emma untuk menikah. Mungkin nanti malam mereka akan kebingungan dan lapor polisi perihal hilangnya aku dan Sarah. Ah, iya aku lupa satu hal. Sarah bilang akan membangunkanku begitu kami tiba di tempat yang tak bisa ditemukan tante Emma dan papa. Mendengar kata-kata Sarah itu membuatku rindu akan senyum hangat seorang wanita yang bertahun-tahun tak pernah kulihat dan kini aku tak tahu dimana ia berada. Aku merindukan mama. (*)

*Cerpen ini pernah termuat di tabloid ApakabarPlus-HK. 30-9-2017.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES