5/12/2018

Bel di Rumah Nenek Berbunyi

di Berita Indonesia

Bel di rumah nenek berbunyi. Aku membuka pintu kayu dan tampak laki-laki berusia tujuh puluhan tahun berdiri di balik ditcak. Laki-laki yang sangat kukenal itu tersenyum. Matanya mengisyaratkan agar aku melihat ke arah tangan kirinya yang sedikit dinaikkan ke atas. Ke sebuah mangkuk cekung besar yang ditutup po sin toi. Aku mengernyitkan dahi, merasa aneh melihat ia bersikap baik.
   
‘’Mama, yao papak a.’’ Laporku pada nenek yang kujaga yang sedang menonton televisi. 
   
‘’Mesia?’’ tanya nenek. Nada suaranya tinggi dengan sedikit penekanan. Sepertinya nenek masih menyimpan kesal pada papak.
   
‘’Cu kiok keong jo. Jeng pei lei sik a,’’ jawab papak dengan senyum terulas dari bibirnya yang hitam sebab terlalu banyak menghisap asap tembakau.
   
Kulihat alis nenek yang berbentuk bulan sabit itu dinaikkan ke atas.
   
‘’Kali ini setan baik mana yang nyasar ke tubuhnya?’’ kata nenek pelan, berbisik di telingaku.   
   
Aku hanya bisa menahan tawa ketika mendengar nenek menyebut ‘setan baik’. Biasa perempuan berusia tujuh puluh tahun itu akan berkata ‘setan gila mana yang menyusup di ubun-ubunnya’ atau ‘Ia kerasukan setan kesasar dari mana’. Aku sangat hapal dengan kalimat-kalimat senada yang nenek ucapkan dan ditujukan untuk laki-laki yang suka marah-marah tak jelas di depan kami itu.
    
‘’Ngo sai loi sang bibi. Po liko pei ngo. Konceng le ka, ngo mei sik.’’ Papak meyakinkan.
   
Nenek melempar pandangannya tepat mengenai kedua bola mataku. Sebagai isyarat kata terserah, aku mengangkat bahu. Nenek menirukanku mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan menuju sofa tempatnya menonton televisi, tapi  akhirnya kudengar ia berkata,’’Hoi mun a.’’
   
Aku menuruti perintah nenek. Tanganku lantas meraih kunci di centelan di samping almanak bertuliskan huruf cina yang menggantung di tembok. Sebelum membuka pintu, aku sempat memandang sekilas ke arah papak lagi. Ia tersenyum, tapi simpul dari bibirnya tak lagi sama dengan senyum di awal. Tiba-tiba satu kata hinggap di tempurung kepalaku: curiga.
   
Aku teringat nasehat ibu bahwa tidak baik berpikiran negatif pada orang lain. Maka yang kulakukan selanjutnya adalah menepis kecurigaan itu sampai ke akarnya, lantas membuka kunci gembok. Dengan kekuatan seadanya, kudorong ditcak ke kiri, lalu terciptalah ruang yang cukup untuk dilalui satu orang. Papak yang sudah tak sabar, gegas masuk.
   
Kedua tanganku telah memegang mangkuk dingin yang sepertinya baru keluar dari lemari es. Aku berjalan menuju dapur hendak  mengganti mangkuk berwarna biru putih berhiaskan kesanggrahan cina itu dengan mangkuk beling milik nenek. Kata nenek tempo hari, cu kiok keong jo tidak boleh ditaruh di wadah yang terbuat dari plastik atau mika karena itu akan mengubah rasanya. Tapi belum juga kakiku sampai di depan pintu dapur, terdengar suara gaduh dan teriakan dari ruang tengah.
   
‘’Kaumenga…!’’
   
Aku panik melihat kaki nenek sedikit terkangkang dengan tubuh setengah berbaring di atas sofa. Tangan kanannya menahan tangan kiri papak. Sedang tangan kirinya menahan tangan kanan laki-laki itu yang ternyata membawa pisau yang sejak awal disembunyikannya dari kami. Secepat kilat kutaruh mangkuk di meja kayu di sebelahku. Aku lantas berlari dan sekuat tenaga menarik tangan kanan papak berusaha menjauhkan pisau dapur besar dan mengkilat yang hanya berjarak kisaran lima senti itu dari dahi nenek. 

**
   
Tiga jam yang lalu bel di rumah nenek berbunyi. Ketika pintu kayu kubuka, bau khas asap tembakau menerobos masuk ke dalam rumah. Di balik ditcak,  papak berdiri dengan gulungan asap berwarna putih yang keluar dari mulutnya.  Aku terbatuk-batuk kecil lalu menutup hidung dengan tangan kiri. Jika bukan karena nenek telah menunggunya di meja mahjeuk, pasti aku akan meminta papak menghabiskan rokoknya sampai puntung paling pendek. 
   
Lima menit kemudian, bel di rumah nenek berbunyi untuk kali yang kedua. Ketika aku mengintip dari lubang kecil yang ada di tengah-tengah pintu kayu, dua orang teman nenek sudah berada di luar. Aku mengulangi hal yang sama seperti yang kulakukan pada papak, yakni mempersilakan kedua teman nenek itu masuk. 
   
Empat loyanka duduk mengelilingi meja mahjeuk. Tak berapa lama, batu-batu mahjeuk yang bergambar simbol, tengkurap semua menghadap meja berwarna hijau. Permainan yang membutuhkan kecerdasan dan kepandaian mengatur strategi pun dimulai. Nenek dan teman-temannya mengacak memutar batu-batu itu.
   
Dalam sekejab rumah nenek berubah serupa pasar dadakan. Selain keramaian batu mahjeuk yang ditimbulkan akibat mereka saling berbenturan, suara nenek dan tiga temannya juga menambah ramai suasana pagi jelang siang itu. Aku sudah tidak kaget menghadapi hal seperti itu. Sebab setiap satu atau dua minggu sekali pasti hal itu selalu terulang. 
   
Jika sudah berhadapan dengan meja mahjeuk, empat loyanka itu seringkali lupa waktu. Bahkan perut nenek yang mudah sekali lapar, akan betah hanya diisi oleh lomai chi buatannya dan bercangkir-cangkir teh yang kutuang dari teko keramik berwarna putih. 
   
Selagi mereka bermain, aku melanjutkan pekerjaan. Dari tempatku bersih-bersih, tak jarang terdengar suara nenek berteriak girang karena menang, lalu disusul umpatan laki-laki. Hanya ada satu laki-laki di rumah, maka dapat dipastikan kata-kata serapah itu keluar dari mulut papak. Dan sudah bisa kutebak, pasti uang taruhan laki-laki tua itu telah habis berpindah ke kantong teman-temannya.
   
Darah panas sepertinya telah naik ke ubun-ubun papak. Laki-laki itu ngomel-ngomel tak jelas. Beberapa kali menggebrak meja, dan itu membuat batu-batu mahjeuk yang sudah tertata rapi menjadi berantakan lagi. Nenek geram. Adu mulut terjadi. 
   
Dua orang yang sama-sama keras kepala itu tak ada yang mau mengalah. Nenek dan papak menyebut berbagai nama hewan di kebun binatang untuk mengolok satu sama lain. Aku dan dua teman wanita nenek menengahi. Pertengkaran selesai ketika akhirnya papak kami suruh pulang dengan paksa.

**
   
Wajah nenek berpeluh. Keringat sebesar jagung mengalir di wajahnya. Suaranya mulai serak sebab kebanyakan menjerit dan berteriak. Aku juga berteriak minta tolong dengan suara lebih keras. Tapi percuma, di jam itu tak ada tetangga yang berada di rumah. Mereka masih bekerja.
   
‘’Fongsau a! Fongsau!’’ Nenek meronta.
   
Laki-laki berambut kelabu itu tak mengindahkan permintaan nenek. Kekuatannya semakin dilipat-gandakan. Semakin brutal. Ia bernafsu sekali mendaratkan pisau yang biasa dipakai untuk mencacah daging itu ke dahi nenek.
   
‘’Nek gigit tangannya, lalu cepat lari!’’
   
Nenek melakukan apa yang kukatakan. Papak mengerang kesakitan dan berang setelah nenek berhasil lolos dari cengkeramannya. Tanpa alas kaki, nenek berlari keluar lalu belok ke kiri menuju  lift untuk turun.
   
Papak hendak mengejar, tapi....
   
Bukk!!
   
Aku kurang kuat menahan tubuh papak yang tinggi besar itu, maka yang bisa kulakukan hanya memegangi kakinya dan menahan agar tak bisa mengejar nenek. Papak jatuh, wajahnya menjingga. Aku melepaskan kedua tanganku dari kaki kirinya setelah ia menakut-nakutiku dengan mengarahkan pisau ke arahku. Aku tahu betul, emosi orang marah selalu tak bisa dikontrol, maka aku tidak mau menjadi tumbal pisau itu karena aku yakin ancamannya tak main-main.
   
Papak bangkit. Ia terlihat semakin beringas dan bernafsu sekali meluapkan amarahnya pada nenek. Ia berlari menuruni tangga. Aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya di lantai dasar, Ayi penjaga ketakutan dan ikut panik melihat kami berlari-larian dan papak membawa pisau. Beberapa orang laki-laki ikut mengejar papak setelah mereka paham apa yang terjadi.

**
   
Bukannya bersembunyi, nenek masih terus berlari. Sepertinya ia terlalu bingung harus melakukan hal apa. Dan sialnya, hal itu sangat membantu penglihatan papak menemukannya. Nenek sudah selesai menuruni anak tangga. Jika tangga itu diibaratkan jalan yang lurus, maka jaraknya hanya beberapa puluh langkah saja.
   
Dari atas aku melihat nenek terhenti. Napasnya ngos-ngosan. Sepertinya usia senja membuat tubuhnya menjadi cepat lelah. Aku panik bukan kepalang saatmelihat papak hendak menuruni tangga itu. Dan tanpa berpikir dua kali, dari belakang aku berusaha merebut pisau itu. Papak kaget dan sedikit marah. Kami saling berebut dan tarik menarik. Orang-orang yang ikut mengejar, turut membantuku. Pisau lepas dari tangan papak, dan sebagai balasan karena aku selalu menghalangi niatnya, laki-laki itu mendorong tubuhku. Sebeum semuanya tampak buram dan gelap, aku semat merasakan bumi yang berputar-putar dan rasa sakit di sekujur tubuhku.

**
   
Mataku masih berat ketika mendapati seluruh ruangan telah berubah menjadi terang benderang penuh cahaya. Kukira aku sudah berada di dunia lain, tapi bau khas obat-obatan di ruangan itu membuatku langsung mengenali di mana aku berada. Rumah sakit.
   
‘’Kamu sudah bangun?’’ Seulas senyum terbingkai dari wajah lembut Dhai-dhai. Rautnya menyiratkan kelegaan.
   
‘’Aku tergeragap, menyadari apa yang baru terjadi.’’Nenek bagaimana?’’
   
‘’Nenek tidak apa-apa, hanya saja tadi sedikit shock. Ia sedang tidur, dirawat di ruang sebelah,’’Dhai-dhai menggenggam erat tanganku,’’Terimakasih telah menyelamatkannya.’’
   
‘’Sudah seharusnya aku melakukan itu, orang-orang juga banyak membantu. Tapi yang menyelamatkan bukan aku, melainkan Tuhan.’’
   
‘’Pokoknya aku sangat berterimakasih padamu.’’

Aku tersenyum,’’Tapi Dhai-dhai..., kenapa kakiku dibeginikan?’’
   
Dhai-dhai menoleh ke arah kakiku yang diperban dan agak digantung ke atas.
   
‘’Ah iya aku lupa memberitahu, jadi kakimu mengalami patah tulang. Dokter bilang tidak terlalu parah. Tapi agar cepat pulih, kau harus tinggal di sini selama dua mingguan.’’
   
Aku melongo,’’Tak bisakah aku istirahat di rumah saja? ’’
   
Dhai-dhai menggeleng. 
   
‘’Ah, di sini pasti membosankan.’’
   
Aku merajuk, tidak mau tinggal lebih lama di kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Dari film-film horor yang sering kutonton,  biasa hantu-hantu di rumah sakit akan keluar pada malam hari. Suara hantu bayi menangis, suster ngesot di lantai dan suara pintu diketuk tapi tidak ada orangnya, tiba-tiba membuat bulu kudukku berdiri. Aku merinding membayangkan itu semua.(*)



5/06/2018

Aruni

photo net
Meski tak sebagus karya cerpenis senior, semoga cerpen sederhana ini bisa sedikit membuat sampeyan-sampeyan terhibur. Terimakasih sudah berkenan membaca ;)

~*~

Kanvas di depan Aruni tak lagi putih. Kuas terakhir sudah ia letakkan dan celemek abu-abu tak membalut bajunya lagi. Kini gadis bergigi gingsul itu sedang memandangi hasil karyanya. Sebuah lukisan yang jika diamati dengan seksama, tampak beda dengan lukisan-lukisannya yang lain.
 
‘’Secangkir coklat panas sepertinya bisa menghangatkan tubuh di tengah hujan seperti ini.’’ Dewa keluar membawa nampan berisi, yang kemudian diletakkan di atas meja.
 
Mata Aruni melirik cangkir yang menyimpan asap dan cake beraroma keju di atas nmpan,’’Hujannya reda sepuluh menit yang lalu.’’
 
Yang Dewa ingat, hujan turun sangat deras ketika ia mulai menakar terigu tadi. Setelahnya ia terlalu fokus memasukkan telor, mentega, mengaduk adonan dan memanaskan oven. Lalu sekarang laki-laki pemilik mata kopi itu juga tak tertarik untuk melihat keadaan di luar, karena ia sudah penasaran dengan lukisan Aruni.
 
‘’Senja yang indah.’’ Mata dewa membesar. Laki-laki jangkung itu mendekatkan tubuhnya hingga hanya berjarak beberapa senti dengan lukisan.
 
‘’ Tapi... Tak ada nama?’’
 
‘’Seperti itu sudah cukup. Senja dengan segala keadaannya.’’ Aruni berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Ada senyum kecut yang samar menyertai kata-katanya, tapi ia meyakinkan diri bahwa pilihannya tepat.

**
 
Senja selalu membawa ingatan Aruni pulang pada sebuah kenangan. Tentang dua pasang kaki gadis beranjak dewasa yang berlarian di atas pasir putih yang halus. Tentang kaki-kaki telanjang yang sesekali disapu oleh air laut.
 
‘’Hampir tiba, Run. Lihat!’’
 
Suara renyah Ranti menuntun mata Aruni menangkap panorama lautan berwarna emas yang membentang luas di depan mereka, para nelayan dengan kapalnya yang mulai menepi, pohon-pohon kelapa yang berjajar rapi di seberang sana dan matahari yang hendak tenggelam di balik gunung.
 
Sepasang mata yang sedang menangkap berbagai pemandangan itu ganti menatap tak mengerti ke arah Ranti. Selain matahari yang hendak menyembunyikan terangnya, tak ada yang tersisa dari senja selain malam yang kian pekat. Gelap yang membuat bayang-bayang tubuh Aruni berwarna hitam. Aruni tak menyukai itu, karena malam telah membawa pergi ayahnya dan menyisakan dingin yang berkepanjangan di dalam rumah.
 
‘’Siang yang hendak pergi itu seperti mengucapkan selamat tinggal pada kita.’’
 
Angin berhembus kuat menerpa tubuh mereka.
 
‘’Kenapa kamu menyukainya?’’
 
‘’Senja maksudmu?’’
 
Aruni mengangguk.
 
‘’Coba lakukan sepertiku.’’ Ranti membentangkan kedua tangannya yang berjari-jari panjang ke samping, ‘’Pejamkan mata lalu tarik napas dalam, tahan sebentar dan lepaskan pelan-pelan.’’
 
Aruni menurut.
 
‘’Kadang kita tak perlu memikirkan apa-apa, Run.’’
 
Aruni mencoba lagi.
 
‘’Lepaskan semua hal yang telah berlalu. Kita perlu bahagia agar kuat menghadapi masa depan.’’
 
Mata Aruni mengerjap-ngerjap.
 
‘’Damai sekali, Run.’’
 
Aruni melakukannya berulang-ulang. Ia mulai merasakan itu. Ketenangan. Mungkin benar kata Ranti, ia hanya perlu melepas semuanya. Melupakan keputusan ayahnya yang meninggalkan rumah dan memilih pergi dengan wanita lain. Aruni hanya perlu bahagia agar lebih tangguh menghadapi masa depan dan melanjutkan hidup bersama ibu.
 
‘’Pasti menyenangkan jika bisa merasakan ini setiap hari.’’
 
Aruni ingin mengaminkan harapan yang tersirat dari perkataan Ranti, namun ia tahu hal itu tak mungkin terwujud, sebab cuaca yang tak menentu kadang menghalangi mereka menatap senja setiap hari.
 
Maka sebuah ide terbesit. Aruni pikir sebuah lukisan tentang senja bisa mewakili mereka untuk merasakan senja, tanpa harus berdiri di pinggir pantai saat hari dilanda hujan. Diam-diam Aruni membuat janji pada dirinya sendiri untuk membuat Ranti selalu tersenyum. Ia ingin bisa melukis yang bagus. Ia mulai belajar menggambar, dan keinginannya itu mempertemukan dirinya dengan seorang pemuda pemilik dagu persegi.
 
‘’Gambarmu bagus, Run. Ternyata kamu berbakat.’’
 
Pemuda itu bernama Pandu. Teman sekelasnya yang terkenal sering kena hukum gara-gara bajunya dikeluarkan atau dasi yang hanya disampirkan di bahu.
 
‘’Tapi masih bagus punyamu.’’ Aruni terus menunduk, pura-pura membenahi gambarnya. Aruni takut laki-laki yang ia mintai tolong untuk mengajarinya menggambar itu menemukan pipinya yang tengah merona.
 
‘’Kenapa kamu bersikeras belajar menggambar?’’Pandu menarik kursi di samping Aruni.
 
‘’Aku mempunyai janji pada diriku sendiri untuk membuat seseorang selalu tersenyum.’’
 
‘’Seseorang? Mungkinkah kamu sedang jatuh cinta?’’
 
‘’Tidak. Dia bukan laki-laki.’’ Reflek, Aruni menoleh. Dan mau tidak mau ia harus menemukan pemandangan itu¬: alis Pandu yang sedang terangkat ke atas, mata menyipit dan sebuah senyum manis yang menyisakan deretan gigi yang putih. Tiba-tiba dada Aruni berdegup cepat. Ia tak tahu degup itu karena alasan apa, yang Aruni tahu, ia harus cepat-cepat memalingkan wajahnya untuk kembali menekuni buku gambar.
 
‘’Tapi tunggu dulu, kenapa kamu membuat janji dengan dirimu sendiri? Ini terdengar lucu. Apa yang terjadi jika ternyata kamu melanggar janji itu?’’
 
Aruni menggeleng. Ia tak memberitahu. Tapi lebih tepatnya tak berani mendongakkan kepala dan juga tak menemukan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Pandu. Bagaimana jika ternyata Aruni tak menepati janji itu? Entah. Aruni terlalu gugup.
 
**
 
‘’Pernikahannya kapan?’’ Seiris cake kecil masuk ke dalam mulut Dewa.
 
‘’Dua minggu lagi, tapi besok aku pulang.’’
 
‘’Sepertinya membosankan melakukan perjalanan jauh sendirian. Perlu teman ngobrol?’’
 
‘’Tidak.’’Aruni menggeleng cepat.
 
‘’Tapi aku ada waktu, bagaimana kalau kutemani?’’
 
‘’Lalu toko roti ini akan ditutup dan membiarkan pelangganmu kabur?’’ Bibir Aruni basah oleh sisa coklat yang sudah berubah hangat.
 
‘’Bagaimana bisa mereka berpaling sedang lidah mereka sudah terpikat oleh resep yang kubuat.’’
 
Aruni tak menampik kata-kata Dewa, karena diakui atau tidak, ucapan itu memang benar adanya. Roti yang adonannya dibuat sendiri oleh Dewa itu rasanya sangat enak, pas di lidah dan ada cita rasa khas tersendiri. Aruni juga tahu jika roti-roti itu selalu ramai diserbu oleh pembeli.
 
‘’Tapi bukannya besok ada pelangganmu yang ulang tahun dan memintamu membuatkan cake?

‘’Aruni teringat cerita Dewa tempo hari.’’Lagipula aku ingin meminta tolong untuk memaketkan lukisannya.’’
 
‘’Ah aku hampir lupa,’’ ada gurat kekecewaan di wajah Dewa,’’Paket? Kemana?’’
 
‘’Nanti kutinggali alamatnya.’’
 
Pandangan mata Aruni terlempar keluar. Memperhatikan hujan yang mulai mericis lagi. Rintiknya yang kecil-kecil bergabung dengan genangan air di atas kelopak mawar. Semakin banyak, air itu luruh dan membuat kelopak mawar menjadi ringan kemudian berdiri kembali tanpa beban. Mungkin Aruni juga harus melakukan hal yang sama pada perasaannya seperti kelopak mawar dalam pot itu.

**
 
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Aruni melihat sekilas lalu memasukkan kembali ke dalam saku. Aruni tak bersemangat untuk membalas, sebab ia sibuk menyiapkan hati ketika jarak kakinya semakin dekat dengan rumah yang banyak memberi kenangan tentang masa lalunya. Rumah yang menjadi rumah kedua baginya setelah ibu meninggal.
 
‘’Aruni, itu kamu kan?’’
 
Seorang wanita berbadan gemuk keluar dari rumah menyambut Aruni yang tiba di depan pintu gerbang.
 
‘’Iya buk’e, ini Runi.’’ Aruni meraih tangan wanita itu lalu menciumnya. Ia lantas membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan wanita itu.
 
‘’Kenapa kamu baru pulang, Nduk? Buk’e kangen sekali.’’
 
Aruni diam. Ia lupa tak menyiapkan jawaban dari pertanyaan itu. Pulang? Aruni telah membuang jauh-jauh kata ‘pulang’ sejak ia meninggalkan tempat ini.
 
‘’Kukira setelah menjadi pelukis terkenal, kamu lupa pada kami. Kenapa baru datang? Ibu selalu menanyakanmu.’’ Sesosok gadis tinggi turut keluar menghampiri mereka. Nada suaranya terdengar ketus dan sewot, tapi Aruni tahu, itu hanya guyonan.
 
‘’Maafkan aku Ran. Sebenarnya aku sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu, tapi karena ada urusan, terpaksa menginap di rumah teman.’’
 
‘’Jahat sekali.’’ Ranti merajuk, tapi kemudian cepat memeluk Aruni.
 
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Aruni memperhatikan sekeliling. Semuanya masih sama. Terasa hangat dan tak ada yang berbeda selain ruang tengah yang kini diisi oleh pamandangan senja tak ada nama yang dilukis oleh Aruni.
 
‘’Kemarin datang. Lukisannya bagus sekali.’’
 

‘Kau suka?’’
 
Ranti mengangguk."Tentu.
 
Aruni melirik ke arah Ranti yang tengah memandangi lukisan. Perasaan Aruni lega, sebab pertanyaan Pandu kala itu telah terjawab hari ini. Janji Aruni pada dirinya sendiri untuk membuat seseorang selalu tersenyum berhasil ia tepati. Seseorang itu adalah Ranti. Aruni tahu, jauh sebelum dirinya menyukai Pandu, Ranti telah lebih dulu menyukai pemuda itu.

Kini Aruni telah melihat senyum Ranti. Senyum yang beberapa hari lagi pastinya lebih merekah karena Ranti dan Pandu duduk berdampingan di pelaminan. Dan kini tiba-tiba Aruni ingin membalas pesan yang masuk saat ia baru datang tadi. Pesan dari Dewa. Laki-laki yang lama menyukainya namun ia acuhkan.(*)

Yesi Armand Sha, HK 6 Mei 2018.

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES