5/06/2018

Aruni

photo net
Meski tak sebagus karya cerpenis senior, semoga cerpen sederhana ini bisa sedikit membuat sampeyan-sampeyan terhibur. Terimakasih sudah berkenan membaca ;)

~*~

Kanvas di depan Aruni tak lagi putih. Kuas terakhir sudah ia letakkan dan celemek abu-abu tak membalut bajunya lagi. Kini gadis bergigi gingsul itu sedang memandangi hasil karyanya. Sebuah lukisan yang jika diamati dengan seksama, tampak beda dengan lukisan-lukisannya yang lain.
 
‘’Secangkir coklat panas sepertinya bisa menghangatkan tubuh di tengah hujan seperti ini.’’ Dewa keluar membawa nampan berisi, yang kemudian diletakkan di atas meja.
 
Mata Aruni melirik cangkir yang menyimpan asap dan cake beraroma keju di atas nmpan,’’Hujannya reda sepuluh menit yang lalu.’’
 
Yang Dewa ingat, hujan turun sangat deras ketika ia mulai menakar terigu tadi. Setelahnya ia terlalu fokus memasukkan telor, mentega, mengaduk adonan dan memanaskan oven. Lalu sekarang laki-laki pemilik mata kopi itu juga tak tertarik untuk melihat keadaan di luar, karena ia sudah penasaran dengan lukisan Aruni.
 
‘’Senja yang indah.’’ Mata dewa membesar. Laki-laki jangkung itu mendekatkan tubuhnya hingga hanya berjarak beberapa senti dengan lukisan.
 
‘’ Tapi... Tak ada nama?’’
 
‘’Seperti itu sudah cukup. Senja dengan segala keadaannya.’’ Aruni berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Ada senyum kecut yang samar menyertai kata-katanya, tapi ia meyakinkan diri bahwa pilihannya tepat.

**
 
Senja selalu membawa ingatan Aruni pulang pada sebuah kenangan. Tentang dua pasang kaki gadis beranjak dewasa yang berlarian di atas pasir putih yang halus. Tentang kaki-kaki telanjang yang sesekali disapu oleh air laut.
 
‘’Hampir tiba, Run. Lihat!’’
 
Suara renyah Ranti menuntun mata Aruni menangkap panorama lautan berwarna emas yang membentang luas di depan mereka, para nelayan dengan kapalnya yang mulai menepi, pohon-pohon kelapa yang berjajar rapi di seberang sana dan matahari yang hendak tenggelam di balik gunung.
 
Sepasang mata yang sedang menangkap berbagai pemandangan itu ganti menatap tak mengerti ke arah Ranti. Selain matahari yang hendak menyembunyikan terangnya, tak ada yang tersisa dari senja selain malam yang kian pekat. Gelap yang membuat bayang-bayang tubuh Aruni berwarna hitam. Aruni tak menyukai itu, karena malam telah membawa pergi ayahnya dan menyisakan dingin yang berkepanjangan di dalam rumah.
 
‘’Siang yang hendak pergi itu seperti mengucapkan selamat tinggal pada kita.’’
 
Angin berhembus kuat menerpa tubuh mereka.
 
‘’Kenapa kamu menyukainya?’’
 
‘’Senja maksudmu?’’
 
Aruni mengangguk.
 
‘’Coba lakukan sepertiku.’’ Ranti membentangkan kedua tangannya yang berjari-jari panjang ke samping, ‘’Pejamkan mata lalu tarik napas dalam, tahan sebentar dan lepaskan pelan-pelan.’’
 
Aruni menurut.
 
‘’Kadang kita tak perlu memikirkan apa-apa, Run.’’
 
Aruni mencoba lagi.
 
‘’Lepaskan semua hal yang telah berlalu. Kita perlu bahagia agar kuat menghadapi masa depan.’’
 
Mata Aruni mengerjap-ngerjap.
 
‘’Damai sekali, Run.’’
 
Aruni melakukannya berulang-ulang. Ia mulai merasakan itu. Ketenangan. Mungkin benar kata Ranti, ia hanya perlu melepas semuanya. Melupakan keputusan ayahnya yang meninggalkan rumah dan memilih pergi dengan wanita lain. Aruni hanya perlu bahagia agar lebih tangguh menghadapi masa depan dan melanjutkan hidup bersama ibu.
 
‘’Pasti menyenangkan jika bisa merasakan ini setiap hari.’’
 
Aruni ingin mengaminkan harapan yang tersirat dari perkataan Ranti, namun ia tahu hal itu tak mungkin terwujud, sebab cuaca yang tak menentu kadang menghalangi mereka menatap senja setiap hari.
 
Maka sebuah ide terbesit. Aruni pikir sebuah lukisan tentang senja bisa mewakili mereka untuk merasakan senja, tanpa harus berdiri di pinggir pantai saat hari dilanda hujan. Diam-diam Aruni membuat janji pada dirinya sendiri untuk membuat Ranti selalu tersenyum. Ia ingin bisa melukis yang bagus. Ia mulai belajar menggambar, dan keinginannya itu mempertemukan dirinya dengan seorang pemuda pemilik dagu persegi.
 
‘’Gambarmu bagus, Run. Ternyata kamu berbakat.’’
 
Pemuda itu bernama Pandu. Teman sekelasnya yang terkenal sering kena hukum gara-gara bajunya dikeluarkan atau dasi yang hanya disampirkan di bahu.
 
‘’Tapi masih bagus punyamu.’’ Aruni terus menunduk, pura-pura membenahi gambarnya. Aruni takut laki-laki yang ia mintai tolong untuk mengajarinya menggambar itu menemukan pipinya yang tengah merona.
 
‘’Kenapa kamu bersikeras belajar menggambar?’’Pandu menarik kursi di samping Aruni.
 
‘’Aku mempunyai janji pada diriku sendiri untuk membuat seseorang selalu tersenyum.’’
 
‘’Seseorang? Mungkinkah kamu sedang jatuh cinta?’’
 
‘’Tidak. Dia bukan laki-laki.’’ Reflek, Aruni menoleh. Dan mau tidak mau ia harus menemukan pemandangan itu¬: alis Pandu yang sedang terangkat ke atas, mata menyipit dan sebuah senyum manis yang menyisakan deretan gigi yang putih. Tiba-tiba dada Aruni berdegup cepat. Ia tak tahu degup itu karena alasan apa, yang Aruni tahu, ia harus cepat-cepat memalingkan wajahnya untuk kembali menekuni buku gambar.
 
‘’Tapi tunggu dulu, kenapa kamu membuat janji dengan dirimu sendiri? Ini terdengar lucu. Apa yang terjadi jika ternyata kamu melanggar janji itu?’’
 
Aruni menggeleng. Ia tak memberitahu. Tapi lebih tepatnya tak berani mendongakkan kepala dan juga tak menemukan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Pandu. Bagaimana jika ternyata Aruni tak menepati janji itu? Entah. Aruni terlalu gugup.
 
**
 
‘’Pernikahannya kapan?’’ Seiris cake kecil masuk ke dalam mulut Dewa.
 
‘’Dua minggu lagi, tapi besok aku pulang.’’
 
‘’Sepertinya membosankan melakukan perjalanan jauh sendirian. Perlu teman ngobrol?’’
 
‘’Tidak.’’Aruni menggeleng cepat.
 
‘’Tapi aku ada waktu, bagaimana kalau kutemani?’’
 
‘’Lalu toko roti ini akan ditutup dan membiarkan pelangganmu kabur?’’ Bibir Aruni basah oleh sisa coklat yang sudah berubah hangat.
 
‘’Bagaimana bisa mereka berpaling sedang lidah mereka sudah terpikat oleh resep yang kubuat.’’
 
Aruni tak menampik kata-kata Dewa, karena diakui atau tidak, ucapan itu memang benar adanya. Roti yang adonannya dibuat sendiri oleh Dewa itu rasanya sangat enak, pas di lidah dan ada cita rasa khas tersendiri. Aruni juga tahu jika roti-roti itu selalu ramai diserbu oleh pembeli.
 
‘’Tapi bukannya besok ada pelangganmu yang ulang tahun dan memintamu membuatkan cake?

‘’Aruni teringat cerita Dewa tempo hari.’’Lagipula aku ingin meminta tolong untuk memaketkan lukisannya.’’
 
‘’Ah aku hampir lupa,’’ ada gurat kekecewaan di wajah Dewa,’’Paket? Kemana?’’
 
‘’Nanti kutinggali alamatnya.’’
 
Pandangan mata Aruni terlempar keluar. Memperhatikan hujan yang mulai mericis lagi. Rintiknya yang kecil-kecil bergabung dengan genangan air di atas kelopak mawar. Semakin banyak, air itu luruh dan membuat kelopak mawar menjadi ringan kemudian berdiri kembali tanpa beban. Mungkin Aruni juga harus melakukan hal yang sama pada perasaannya seperti kelopak mawar dalam pot itu.

**
 
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Aruni melihat sekilas lalu memasukkan kembali ke dalam saku. Aruni tak bersemangat untuk membalas, sebab ia sibuk menyiapkan hati ketika jarak kakinya semakin dekat dengan rumah yang banyak memberi kenangan tentang masa lalunya. Rumah yang menjadi rumah kedua baginya setelah ibu meninggal.
 
‘’Aruni, itu kamu kan?’’
 
Seorang wanita berbadan gemuk keluar dari rumah menyambut Aruni yang tiba di depan pintu gerbang.
 
‘’Iya buk’e, ini Runi.’’ Aruni meraih tangan wanita itu lalu menciumnya. Ia lantas membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan wanita itu.
 
‘’Kenapa kamu baru pulang, Nduk? Buk’e kangen sekali.’’
 
Aruni diam. Ia lupa tak menyiapkan jawaban dari pertanyaan itu. Pulang? Aruni telah membuang jauh-jauh kata ‘pulang’ sejak ia meninggalkan tempat ini.
 
‘’Kukira setelah menjadi pelukis terkenal, kamu lupa pada kami. Kenapa baru datang? Ibu selalu menanyakanmu.’’ Sesosok gadis tinggi turut keluar menghampiri mereka. Nada suaranya terdengar ketus dan sewot, tapi Aruni tahu, itu hanya guyonan.
 
‘’Maafkan aku Ran. Sebenarnya aku sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu, tapi karena ada urusan, terpaksa menginap di rumah teman.’’
 
‘’Jahat sekali.’’ Ranti merajuk, tapi kemudian cepat memeluk Aruni.
 
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Aruni memperhatikan sekeliling. Semuanya masih sama. Terasa hangat dan tak ada yang berbeda selain ruang tengah yang kini diisi oleh pamandangan senja tak ada nama yang dilukis oleh Aruni.
 
‘’Kemarin datang. Lukisannya bagus sekali.’’
 

‘Kau suka?’’
 
Ranti mengangguk."Tentu.
 
Aruni melirik ke arah Ranti yang tengah memandangi lukisan. Perasaan Aruni lega, sebab pertanyaan Pandu kala itu telah terjawab hari ini. Janji Aruni pada dirinya sendiri untuk membuat seseorang selalu tersenyum berhasil ia tepati. Seseorang itu adalah Ranti. Aruni tahu, jauh sebelum dirinya menyukai Pandu, Ranti telah lebih dulu menyukai pemuda itu.

Kini Aruni telah melihat senyum Ranti. Senyum yang beberapa hari lagi pastinya lebih merekah karena Ranti dan Pandu duduk berdampingan di pelaminan. Dan kini tiba-tiba Aruni ingin membalas pesan yang masuk saat ia baru datang tadi. Pesan dari Dewa. Laki-laki yang lama menyukainya namun ia acuhkan.(*)

Yesi Armand Sha, HK 6 Mei 2018.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES