6/29/2018

Lepet Ketan dalam Kenangan


Kemarin sore bapak tiba-tiba bilang ingin makan lepet. Makanya semalam Ranum merendam ketan.
   
Di luar hujan deras. Berisik, seperti suara televisi di ruang tengah. Ranum menghalau asap yang keluar dari tutup yang dibuka. Pelan-pelan ketan yang sudah dicampuri kelapa parut dan garam, dimasukkan ke dalam dandang yang bawahnya berisi air mendidih. Ketan akan dimasak setengah matang.
   
Beberapa kayu kering baru saja dimasukkan ke dalam perapian. Sebenarnya Ranum lebih suka merebus lepet menggunakan kompor. Karena selain praktis, bajunya juga aman dari asap yang baunya lumayan menyengat. Tapi kata bapak, rasa lepet lebih enak kalau direbus dengan api dari tungku.
   
‘’Rasanya biar seperti yang dibuat ibumu.’’
   
Lepet ketan buatan ibu yang dibungkus daun pisang. Dulu ibu membuatnya tak pernah memakai janur. Katanya kalau pakai janur, tak ada aroma daun yang terasa ketika lepet digigit.
   
Ranum dan bapak hanya suka lepet buatan ibu. Selain aroma daun yang membuat enak, rasanya juga lebih punel dan tanek. Mungkin karena ketannya dimasak dua kali, berbeda dengan orang-orang yang hanya merebusnya sekali matang.
   
‘’Apa kalian bertengkar?’’
   
Bapak tak biasa bertanya. Tapi melihat Ranum pulang sendiri dan sudah berdiam tiga hari di rumah, cukup menjelaskan kalau sedang terjadi sesuatu dengan rumah tangga anaknya.
   
‘’Pertengkaran dalam pernikahan itu hal yang lumrah. Harus ada satu yang mau mengalah.’’
   
Suara bapak cukup keras, terdengar sampai dapur. Ranum tak menjawab. Ia belum cerita, tapi ia tahu, Pandu pasti sudah menghubungi bapak untuk menanyakan apakah Ranum pulang, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. 
   
Ketan yang sudah dipindahkan ke dalam panci kini disiram dengan air mendidih. Dibiarkan sepuluh menit agar medok, setelahnya akan dibungkusi dengan daun pisang yang sudah di lap bersih lalu diikat dengan merang. Dulu Ranum sering membantu ibu membuat lepet. Maka meski ibu telah tiada, cara-cara itu masih diingatnya dengan baik.

**
   
Hujan sudah agak reda. Bapak menekan tombol remot bagian tengah yang ada tanda panah ke bawah, membuat volume televisi mengecil. Setelahnya, bapak berjalan ke dapur. Duduk di atas dingklik kayu kecil di depan tungku. Tangannya mendorong kayu yang keluar dari mulut tungku, membuat bara api semakin besar. Di atasnya, lepet yang sudah dibungkusi daun sedang direbus. 
   
‘’Pandu itu laki-laki baik. Kalau tidak baik, mana mungkin dulu bapak dan ibumu memilihnya.’’ 
   
Ranum tampak mengingat sesuatu. Dulu ada empat orang yang mendekati. Selain Pandu, Pras, Eko dan Rudi pernah datang ke rumah. Ranum meminta ibu dan bapak yang memilihkan. Pilihan orangtua pasti yang terbaik untuk anaknya, begitu pikir Ranum. Lalu nama itu jatuh pada laki-laki yang pendiam. Pandu, anak seorang pensiunan guru SD.
   
Sepertinya kata-kata bapak ada benarnya. Andai Ranum menjadi istri Pras, pasti sekarang ia sudah menjadi janda muda yang bingung menghidupi diri dan satu anaknya. Tiga tahun setelah menikah, Pras yang berbadan atletis itu terjerat cinta pada gadis kota yang cantik dan masih muda. Pras minggat dari rumah.
   
Atau jika menikah dengan Eko, tiap bulan pasti Ranum  bingung harus bersusah payah menghemat uang belanja. Cerita tentang gaji Eko yang besar namun memberi jatah bulanan yang kurang dari cukup pada istrinya itu sudah bukan menjadi rahasia lagi. Ranum lebih tak bisa membayangkan lagi andai dulu ia memilih Rudi. Bisa-bisa wajahnya akan terlihat lebih tua dari umurnya karena setiap hari harus menghadapi Rudi yang berwatak keras dan suka main tangan.
   
Dialah Pandu. Laki-laki pilihan ibu dan bapak yang tak banyak bicara. Kehidupannya rutin dengan hal-hal itu saja. Setelah pulang kerja, mandi, makan malam bersama, shalat berjama’ah dan ngaji semaan dengan Ranum. Setelah ritual itu semua, Pandu biasa menghabiskan waktunya di depan laptop. Katanya, banyak tugas kantor yang perlu dikerjakan.
   
‘’Jadi istri itu harus pandai membuat perasaan suaminya tenang, jangan sebaliknya.’’
   
Sepertinya bapak semangat sekali membahas Pandu. Laki-laki yang kaku dan dan kadang membuat Ranum kesal karena tak pandai berbasa-basi dan membuat kata-kata manis untuk menyenangkan hati istrinya. Pandu yang jujur akan mengatakan kalau Ranum mulai tampak gemuk, atau berkata terlalu asin, kurang manis dan terlalu pedas pada masakan Ranum jika memang kenyataannya seperti itu. Pandu yang tak romantis, yang pada dirinya tersimpan banyak kekurangan. 
   
Tapi Ranum juga tahu, ialah Pandu, laki-laki yang sabar menghadapi segala kerewelan tingah lakunya. Laki-laki yang tak mengeluh untuk mencuci piring kotor di dapur hanya karena Ranum tengah asyik menonton televisi. Laki-laki yang selalu khawatir dan begadang semalaman ketika Ranum sedang sakit.  Dialah Pandu, laki-laki bermata kopi yang hangat tatapan matanya hanya menyimpan cinta untuk Ranum seorang. Tiba-tiba Ranum merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
   
‘’Dulu ibumu pernah bilang, kalau sudah dibungkus daun, merebus lepetnya sampai matang saja. Jangan terlalu lama, karena kalau kematangan rasanya justru tidak enak. Semua ada porisnya, Num. Marah pun sama.’’ 
   
Kata-kata bapak membuat pikiran Ranum terbang mundur pada hari-hari sebelum ia kabur. Seminggu sebelum hari itu ia gampang sekali marah. Emosinya mudah meledak-ledak hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan Pandu. Ia benci kebiasaan Pandu yang suka menggantung handuk basah kecil untuk lap wajah di pinggir jendela, meninggalkan tusuk gigi yang telah di pakai di pinggir wastafel kamar mandi, atau mendengar suara kumur-kumur Pandu ketika menggosok gigi. Ranum tak menyukai itu semua, padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja.
   
Dan sebenarnya masalahnya sepele. Sore itu bayangan tentang soto ayam di dekat kantor Pandu tampak begitu menggoda. Ranum mengirimi pesan agar Pandu membelikannya ketika pulang. Tapi pekerjaan hari senin yang melelahkan ternyata membuat Pandu lupa. Melihat suaminya pulang dengan tangan kosong, amarah Ranum kembali meledak. Ia kesal, tak mau mendengarkan janji Pandu yang akan membelikannya besok. Semalaman Ranum diam dan esok paginya ia pulang ke rumah bapak tanpa pamit pada Pandu yang tengah berada di kantor.

**
   
Lepet sudah matang. Dandang sudah diangkat dari tungku. Satu per satu lepet dipindahkan ke dalam tampah yang terbuat dari anyaman bambu. Ranum meletakkan tiga bungkus lepet ke dalam piring beling berwarna putih tulang. Ia melepas ikatan merang, membuka bungkusnya, lalu mengangsurkan piring itu pada bapak.
   
‘’Mau sampai kapan kamu seperti ini? Pandu sudah lelah kerja untuk mencari nafkah. Tapi kamu masih seperti anak kecil begini,’’ ucap bapak seraya berjalan menuju sofa di depan televisi.
   
Kata-kata bapak membuat hati Ranum panas. Sejenak ia lalu sadar, mungkin selama ini memang ia sudah terlalu rewel atau bahkan egois.
   
Setelah semua lepet diangkat, Ranum gegas ke kamar untuk mencari ponselnya yang sudah dua hari dimatikan. Ada puluhan pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Pandu. Tak menunggu lama, Ranum ganti menekan tombol yang bisa menyambungkan dengan ponsel Pandu. Tapi tiga kali di telpon hanya suara cutomer service yang terdengar. Ranum ganti menelpon ke rumah dan hasilnya sama, tak ada yang mengangkat.
   
‘’Kenapa tak diangkat?’’ Ranum gelisah.
   
‘’Jangan panik, kamu harus tetap tenang dalam kondisi apapun.’’
   
Kali ini Ranum tak bisa menuruti kata-kata bapak. Bagaimana bisa tenang jika pikirannya sudah dibayangi dengan hal yang tidak-tidak. Genangan air dipelupuk matanya tak bisa lagi ditahan. Sesenggukan, air itu berjatuhan ketika ia membayangkan sebuah kehilangan. Ranum tiba-tiba merasa jika laki-laki pendiam itu adalah segalanya buatnya.
   
‘’Kamu mau kemana?’’
   
‘’Pulang. Ranum tak bisa hanya berdiam menunggu kabar.’’ Ranum memasukkan dompet, kunci rumah dan beberapa peralatan penting ke dalam tas. 
   
Hatinya dipenuhi oleh rasa marah pada diri sendiri dan berbagai macam penyesalan. Jika tak ada acara kabur, mungkin ia tak harus menanggung perasaan semacam itu. Tiba-tiba Ranum merasa perutnya mual, tubuhnya gemetaran dan lemas, sebuah kejadian yang ia rasakan sama seperti hari-hari seminggu sebelum ia kabur dari rumah. 
   
‘’Ini sudah sore dan hari akan gelap. Tunggulah, mungkin sebentar lagi Pandu akan menghubungi,’’ ucap bapak tenang. 
   
Pikiran bapak memang tenang seperti wajahnya saat ini, karena usai shalat Ashar tadi, Pandu sudah menghubungi bapak dan mengatakan jika sebentar lagi akan tiba.Bukannya menyambut, tapi bapak malah meminta Pandu istirahat dulu di mushola dan pulang ketika bapak sudah menghubunginya. Kata bapak, biar Ranum tahu bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang ia sayangi.
   
Dan kini kekhawatiran itu benar terjadi. Bapak sengaja membiarkan Ranum seperti itu, karena bapak berencana akan menghubungi Pandu setelah ia menandaskan lepet yang kini akan digigitnya. Lepet ketan berbungkus daun pisang yang rasanya tak pernah sama dengan lepet buatan ibu. Bapak tahu itu, karena sebenarnya bukan lepet yang dirindukan bapak, tapi ibu. Kini bapak menyeka matanya yang berair. (*)



*Yesi Armand Sha. Tai Wai, 29.06.2018

6/21/2018

Kaum Moh Rekoso dan Mbak Pengatur Shaf

photo net
Tubuhnya masih lemah. Tapi mau bagaimana lagi, Romlah sudah kadung janji dengan mbak Siti untuk mengambil peralatan yang akan digunakan untuk belajar di minggu depan.

Setelah mengambil kereta jurusan Hung Hom dan keluar Melalui exit A2, Romlah lalu belok kanan dan kemudian menuruni beberapa anak tangga. Bersamaan dengan itu, sebuah bis tingkat nomer 102 berhenti di tempat pemberhentian paling awal. Romlah lari-lari kecil menyusul penumpang paling belakang yang ada di depannya. Begitu tubuhnya terangkut bis, Romlah merasa sangat beruntung. Andai menunggu terlalu lama dan bis tak kunjung datang, tubuhnya yang lemah itu bisa-bisa makin sempoyongan saja.

Beberapa menit perjalanan, sampailah di Causeway Bay. Romlah turun dan langsung disambut oleh terik matahari yang menyengat kulitnya. Panas bukan main.

Romlah lalu mengecek ponsel. Masih jam sebelas lebih, padahal mbak Siti baru bisa ditemui jam tiga-an. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia jika menunggu hanya dengan duduk-duduk saja di taman. Lagipula, di taman sangat panas. Belum lagi nanti Romlah harus shalat dhuhur dan makan siang. Maka bayangan tentang shalat dhuhur berjamaah sekaligus ngisis di masjid Wanchai langsung berkelebat di pikirannya.

Setelah naik tram dan berjalan beberapa menit, sampai juga Romlah di bawah masjid Wanchai. Sebenarnya, masjid itu tak tampak menonjol jika disebut masjid, sebab lebih tampak seperti apartemen bertingkat. Hanya saja, sedikit yang membedakan dengan bangunan di sekitarnya adalah warna hijau, desain melengkung dan tulisan arab di atas pintu masuk.

Usai mengambil wudhu, Romlah naik ke tempat shalat wanita. Hal pertama yang selanjutnya ia lakukan adalah mencari mukena. Jika berlibur ke daerah Koswebean memang Romlah jarang membawa mukena. Jika waktu sholat tiba, ia hanya perlu berjalan menuju mushola KJRI atau bank Mandiri. Disana disediakan tempat untuk sholat berikut peminjaman mukena. Atau jika ia sedang berada di lokasi yang dekat dengan Wanchai, Romlah hanya perlu pergi ke masjid Wanchai seperti yang ia lakukan hari ini.

Jarang membawa mukena atau malah tak pernah membawa, agaknya tidak hanya dilakukan oleh Romlah saja. Banyak sekali mbak-mbak lain yang jika waktu sholat tiba, mereka lebih rela mengantri panjang untuk meminjam mukena sekaligus sholat. Mukena kemudian seperti barang berharga yang ramai diperebutkan. Dan perebutan itu ternyata tak hanya terjadi di mushola KJRI atau bank Mandiri saja, di masjid Wanchai pun juga terjadi.

Setelah mencari ke dalam loker, memeriksa lemari, memeriksa gantungan dan tanya mbak-mbak pengurus, ternyata tak ada satupun mukena yang tersisa. Mata Romlah lalu iseng meneliti mbak-mbak yang memakai mukena masjid yang sedang duduk membentuk lingkaran yang sedang membaca shalawat dan istighfar. Jumlahnya sedikit. Lantas kemana perginya mukena-mukena masjid yang banyak itu?

Ada sedikit kecewa di dadanya. Tapi Romlah masih bisa menyuruh dirinya untuk tenang. Beruntung dari rumah tadi ia memakai pakaian dan jilbab yang lebar dan panjang. Maka, meski tanpa mukena, ia tetap bisa ikut shalat berjamaah dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya itu.

Urusan mukena sudah dilupakan. Romlah kemudian bergabung dengan mbak-mbak yang duduk melingkar. Hawa dingin AC dan puji-pujian kepada Allah dan kanjeng nabi, langsung membuat hati Romlah terasa adem, bahagia dan damai. Sebuah ketenangan hati yang tak ia temukan di tempat lain. Ya benar, memangnya dimana lagi bisa merasakan kelapangan hati jika bukan disuatu tempat yang mana orang-orangnya tulus memohon ampunan dan mendekat pada Sang Pencipta?

Empat puluh lima menit berlalu. Waktu dhuhur sudah hampir tiba. Tempat-tempat yang kosong di dekat Romlah kemudian menjadi penuh diduduki oleh mbak-mbak yang baru masuk. Semakin lama tempat itu semakin sesak. Bahkan kaki Romlah yang semula bisa diselonjorkan, kini hanya bisa dilipat.

Tempat yang semula tenang kemudian agak ramai. Mbak-mbak yang baru saja datang sibuk dengan diri mereka sendiri. Ada yang berbicara dengan temannya, ada yang menutuli ponselnya, dan ada yang memakai mukena yang dikeluarkan dari dalam tasnya.

Beberapa saat diam, Romlah lantas menyadari sesuatu. Mukena bermotif yang sangat Romlah kenali itu adalah mukena milik masjid.

“Lho mbak, ngambil mukena dimana? Mukenanya masih ada?” tanya Romlah penasaran.

“Hehe... Ini ngambilnya tadi. Sudah habis mukenanya.”

“Ah...Begitu rupanya.''Romlah baru tahu jika ternyata ada kuasa baru atas mukena masjid.

**
Suara adzan sudah mengalun dari speaker masjid. Lingkaran istighfar dan shalawatan sudah bubar. Mbak-mbak kemudian memencar, mencari tempat dan bersiap untuk shalat dhuhur.

Satu diantara mbak-mbak itu adalah Romlah. Ia sudah anteng dan mendapat tempat shalat yang nyaman. Tapi sembari menjawab adzan yang masih berkumandang, hati Romlah masih cemas tak karuan. Ia lantas berjalan memeriksa lemari, loker dan gantungan mukena. Berharap ada satu saja mukena yang tersisa. Romlah tak terbiasa shalat tanpa mukena. Rasanya tak nyaman saja.

‘’Mbak ada mukena nggak ya?’’ tanya Romlah pada seorang mbak yang berjilbab kotak-kota.

‘’Kalau di gantungan dan loker sudah habis. Coba periksa di dalam lemari,’ jawab mbak itu ramah.

‘’Sudah habis mbak.’’ Suara Romlah lesu.

‘’Emm... sebentar.’’ Mbak berjilbab kotak-kotak kemudian berjalan menuju tumpukan buku dan mengambil kantong kecil kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

‘’Ini punya saya pakai saja. Nanti kalau sudah selesai taruh saja disini,’ ucap mbak itu seraya menyerahkan mukena.

‘’Terimakasih banyak mbak. Eh, tapi mbak nggak sholat?’’

‘’Belum bersih,’’ jawab mbak itu dengan senyum masih menempel di wajahnya.

‘’Kalau begitu saya pakai ya mbak. Nanti saya kembalikan ke sini.’’ Romlah yang bahagia lalu kembali ke tempat semula.

‘’Dapat mukena?’’ tanya mbak berbadan kurus yang ada di sebelah kanan Romlah.

‘’Iya. Alhamdulillah, dipinjami sama mbak   itu,’’ jawab Romlah sembari menunjuk mbak berjilbab kotak-kotak yang sedang mengatur shaf dan memindai tas milik mbak-mbak yang ditaruh di samping atau di atas tempat sujud mereka.

“Mbak itu sudah mengatur shaf, masih mau memindai tas milik mbak-mbak itu ke pinggir. Ia mencarikan tempat untuk orang-orang agar bisa shalat dengan nyaman. Mbak itu pahalanya pasti banyak. Mungkin bahkan lebih banyak dari kita.” Mbak sebelah Romlah tiba-tiba bercelutuk.

Romlah mengangguk. Ia kemudian teringat ceramah seorang kiai ttentangseorang santri yang mendapat kucuran rahmat, ilmu dan berkah “lebih” dari santri lainnya lantaran santri itu khidmah(melayani) pada keluarga ndalem.

Agaknya mbak berjilbab kotak-kotak itu paham betul akan makna dari melayani. Tiba-tiba Romlah merasa kagum pada mbak itu dan juga malu pada dirinya sendiri. Romlah tak berani mendongakkan kepala.(*)

*Yesi Armand Sha. HK, 7 Syawal 1439 H.

6/18/2018

Pernikahan yang Tak Diinginkan

Untuk orang yang sedang dalam kemayu (bukan payung teduh). Selamat membaca yhaw~
pixabay

Bagaimanapun, aku masih belum terbiasa untuk berbagi kamar dengannya. Pria bermata cekung dengan sedikit jambang di wajah, yang kini tengah meringkuk di atas karpet di sebelah ranjangku. Pria yang tujuh hari lalu menikahiku. Dialah Mas Adam.

Mas Adam menarik-narik ujung selimut. Sepertinya hawa malam yang beradu dengan lantai keramik membuat tubuhnya bertambah kedinginan. Melihatnya demikian, kadang ingin membangunkan dan menyuruhnya berpindah tidur di atas ranjang. Tapi kalimat itu tak pernah terucap, sebab hatiku masih tak menerima.

Aku ingat kala itu mas Adam yang semula duduk, berjalan ke depanku. Membiarkan kedua lututnya beradu dengan lantai café.

‘’Astaga,apa yang mas lakukan? Kita bicara baik-baik, tapi mas berdiri dulu,’’ aku memapahnya berdiri dan duduk ke kursinya.

‘’Kumohon lakukan demi mama, Put.’’

Aku terbayang wajah pucat tante Ratna. Bagaimanapun juga ada sebentuk rasa tak tega saat menolak keinginan teman dekat mama yang menyayangiku layaknya anak sendiri itu, agar aku bersedia menikah dengan anak semata wayangnya. Apalagi saat keadaannya sedang buruk, terbaring lemah di rumah sakit karena kanker yang di deritanya.

‘’Mas Adam pastinya tahu kan jika aku belum ingin menikah? Lalu apakah tidak apa-apa jika pernikahan itu hanya kepura-puraan yang kita tunjukkan di depan keluarga kita?’’ aku melunak, menanyai-nya dengan hati-hati. 

‘’Apapun syaratnya aku terima, Put. Menikah denganmu, membuat keadaan mama lebih baik, aku yakin. Ataupun jika harus pergi, setidaknya mama bisa pulang dengan tenang setelah melihat kita menikah,’’ jawabnya sungguh-sungguh. Kulihat keruh di wajahnya menjadi lebih terang.

**
Beberapa minggu usai akad, aku kembali ke Bandung. Di kota kembang ini artinya kebebasan buatku untuk berlepas dari kepura-puraan menjadi istri yang baik. Aku tinggal di rumah mas Adam yang dibelinya tahun lalu. Beruntung jarak rumah dengan kampus lumayan jauh, jadi aku bisa bernafas lega sebab tak ada yang menemukan jika aku telah menikah.

Hari demi hari terus berjalan. Meski begitu, hubunganku dengan mas Adam  belum membaik. Aku merasa pria pemilik rahang tegas ini telah merenggut masa remajaku yang belum genap dua puluh tahun. Bila mengingat pernikahan, aku selalu ingin marah. Dan imbas dari kekesalan hatiku itulah, kadang aku marah-marah tak jelas dan ngambek saat ada sedikit saja kesalahan yang diperbuatnya.

Melihat mas Adam menjadi kambing hitam kekesalanku, sering kumarahi diriku sendiri. Aku tak tahu kenapa hubunganku dengan laki-laki yang pernah menjadi teman kecilku itu menjadi buruk. Teman kecil? Iya,  dulu tante Ratna dan mas Adam sering sekali datang ke rumah. Aku lebih suka bermain dengannya daripada dengan keempat kakak laki-lakiku. Ia membantuku merangkai lego dan aku mengajarinya membuat puding. Ia orang yang menyenangkan. Tapi itu dulu sekali, saat aku belum berusia lima belas tahun dan sebelum mas Adam kuliah di Singapura.                             

Memasuki hari ke tiga ratus dua puluh empat, barulah aku bisa menerima kehadirannnya kembali. Bukan suami tapi masih sebatas teman. Berteman dengan mas Adam berarti membangun lagi komunikasi yang dulu padam. Memang ada rasa canggung saat awal memulai percakapan, namun hal itu hilang sendiri seiring berjalannya waktu.       

Pembicaraan kami mencair. Aku juga sering membantunya melakukan perkerjaan rumah, memotong rumput atau sesekali menawarkan bantuan memasak. Eits, untuk hal terakhir, mas Adam hanya akan tersenyum dan mengucapkan terimakasih lalu menyuruhku duduk di ruang tamu. Mas Adam tahu jika aku tak bisa memasak.

**
Minggu pagi aku dan teman-teman menonton film religi terbaru yang diadaptasi dari novel karya penulis kesayanganku. Dalam perjalanan pulang melewati toko buku, kulihat seorang laki-laki sedang memilih-milih buku bersama seorang wanita. Aku seperti mengenalnya. Saat kutamatkan, ternyata laki-laki itu mas Adam. Wanita itu siapa? Pikirku dalam hati.

Aku sudah berada di dalam mobil temanku. Tapi entah kenapa pikiranku di bayang-bayangi oleh mas Adam dan wanita tadi. Sebenarnya aku tak hendak peduli, tapi hatiku di bagian lain terasa ada yang mengusik. Aku pun memutar otak, pamitan padanya bahwa ada sesuatu yang harus kukerjakan. Aku turun di tepi jalan yang tak jauh dari mall.

 Aku kembali ke toko buku. Mas Adam masih di sana, sedang membayar di kasir. Bersama wanita itu, ia berjalan meninggalkan toko buku. Aku berjalan pelan di belakangnya dengan jarak yang tak terlalu jauh, tapi masih bisa melihat mereka.

Mereka berjalan menuju sebuah restoran. Aku melakukan hal yang sama, namun memilih meja yang berlawanan dan tersembunyi. Dari jauh aku bisa mengamati mereka. Meski tak bisa mendengar apa yang dibicarakan, tapi aku bisa melihat kedekatan mereka. Ya, untuk hal ini aku tahu dengan pasti. Mas Adam bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain. Ia hanya akan dekat dengan orang yang memiliki hubungan khusus dengannya.

Sejak minggu itu, Kulihat perubahan pada sikap mas Adam.  Kehidupannya tak lagi di dalam rumah. Jika tak pulang larut, ia bisa tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Di hari libur pun ia lebih memilih menghabiskan waktu di luar. Ia seolah menjadi orang lain. Tubuhnya kian kurus, mata cekungnya makin cekung dan jambang di wajahnya lebat tak terurus.

**
Sepertinya baru kemarin hubunganku dengan mas Adam membaik. Tapi komunikasi kami dingin kembali. Tak ada lagi pembicaraan. Kami seperti dua orang yang tak saling mengenal. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi suatu hari, aku pernah punya niatan untuk menyapanya terlebih dahulu. Aku mengiriminya SMS dan menanyakan kapan pulang. Tak lama setelah terkirim, balasan darinya masuk: Besok siang.

Rumah sudah bersih, ruangan kusemprot wangi memakai parfum favorit mas Adam. Tak lupa aku membelikan makanan kesukaannya. Dan aku sudah menyiapkan kata-kata apa yang hendak kuucapkan saat ia datang. Lalu, saat bel rumah berbunyi, aku buru-buru membuka pintunya. Tapi orang yang berdiri di baliknya bukan mas Adam seperti yang kubayangkan, melainkan wanita itu. Ia yang kulihat bersama mas Adam di toko buku tempo hari.

Kepalaku dijejali pikiran-pikiran negatif tentang wanita itu. Berani-beraninya ia menampakkan wajahnya setelah mendekati suamiku. Suami? Ya, akhirnya aku harus mengakui bahwa ternyata aku telah mencintainya. Lalu, pikiran negatif tentang Diana kubuang jauh-jauh. Aku teringat perkataan mama, bahwa tidak baik untuk buru-buru menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahui kebenarannya. Aku menyilahkannya masuk. Ia memperkenalkan diri bernama Diana, seorang dokter saraf, teman kuliah mas Adam di Singapura.

**
Aku berjalan buru-buru menyusuri koridor rumah sakit. Pada perawat yang bertugas kutanyakan dimana mas Adam di rawat. Menahan hati yang terasa remuk, aku setengah berlari menuju kamarnya. Aku tak kuasa menahan air yang terus tumpah dari kedua mataku. Ucapan Diana tadi siang masih terdengar jelas di telinga. 

‘’Adam menderita hematoma epidural sebab kecelakaan sewaktu kuliah di Singapura dulu. Satu bulan terakhir ini keadaannya drop. Sebenarnya beberapa kali ia sudah mau dirawat di rumah sakit.  Tapi saat kondisinya mulai membaik, ia memaksa pulang sebab menghawatirkan mbak di rumah sendirian.’’

‘’Ia tak mau melakukan operasi sebab takut ingatannya tak akan kembali. Ia takut tak akan mengenali mbak lagi. Ia telah mencintai mbak sejak pertama kali mbak mengajarinya membuat puding.’’

Aku sudah berdiri di depan pintu bercat hijau daun bertuliskan nomor 102. Dari kaca yang ada di tengah pintu itu, nampak mas Adam tengah tertidur pulas. Wajah pucatnya semakin tirus, bibirnya pucat kebiruan. Air mataku masih mengalir. Dadaku sesak. Saat sudah bisa mengendalikan perasaanku, pintu kayu itu kubuka pelan.

Rupanya mas Adam tidak tidur. Ia menoleh kaget saat melihatku datang. Kepalang basah, ia memaksa untuk tersenyum, seolah tak terjadi apa-apa. Namun senyum dari bibir biru itu lemah sekali. Dan sebelum aku berhasil mencapai bangsalnya, pria pendiam itu memegangi kepala dengan kedua tangannya. Ia tengah kesakitan.

**
Akhirnya mas Adam membuka matanya setelah satu jam yang lalu Diana memberikan suntikan penahan rasa sakit padanya. Ia menatap wajahku kemudian beralih pada tangan kanannya yang tengah kugenggam erat.

‘’Kenapa tidak pernah bilang?’’ tanyaku sambil menempelkan tangannya di pipiku.

‘’Aku tidak sakit,’’ ia tersenyum lemah.

‘’Bukan itu.’’

‘’Lalu?’’

‘’Kenapa tak pernah bilang jika mas mencintaiku?’’

‘’Aku terlalu bahagia saat di sampingmu.’’

‘’Lalu, maukah mas berjanji untuk selalu bahagia bersamaku?’’ 

Mas Adam  menempelkan dan mengaitkan kelingkingnya dengan jari kelingkingku yang kuulurkan padanya. Kami membuat ikatan perjanjian.

‘’Aku berdoa dulu untuk operasi mas nanti malam,’’ kukecup keningnya lembut, lalu bergegas keluar menuju mushola rumah sakit, sebab panggilan untuk melaksanakan sholat maghrib telah berkumandang. (*)



*Pernah tersiar di majalah Iqro.
  Yesi Armand Sha. Tai Wai, 18.06.2018.

6/07/2018

MTR Atau Cacing sih?

photo net

 Punya teman kerja yang tinggalnya satu lantai itu seperti mendapat air segar di tengah padang gersang. Pembaca Apakabar tahu nggak kenapa? Sebab dengan adanya teman itu, kita bisa barter rasa saat masak masakan Indo, kita juga bisa gantian membelikan sesuatu di pasar saat lupa beli sewaktu belanja.
 
Urusan lupa beli sesuatu, saya jadi teringat hari minggu itu. Jadi saat libur itu saya pulang agak sore. Sesampainya di taman bawah rumah dan hendak menelpon ibu di kampung, saya lupa jika belum beli pulsa. Maka saya mengirimi pesan via WA untuk memintai tolong membelikan pulsa dulu lalu mengganti uangnya nanti, pada teman saya satu lantai itu. Sebut saja namanya Mawar.
 
Balasan dari Mawar cepat saya terima. Dia bilang sedang hendak naik MTR di stasiun Hung Hom.
 
‘’Oke, aku tunggu di taman bawah rumah.’’ Balas saya padanya.
 
Sambil menunggu, saya memutar Youtube. Tapi hampir satu jam film yang saya tonton itu berjalan, kok Mawar belum menampakkan ujung jilbabnya. Akhirnya saya mengirimi pesan lagi.
 
‘’Masih di MTR nih.’’ Balasnya.
 
‘’MTR mana kok lama banget. Aku biasa naik MTR dari Hung Hom ke Tai Wai ga sampek dua puluh menit.’’ Balas saya.
 
‘’Ya mana aku tahu. MTR-nya yang kayak gitu.’’
 
‘’Itu MTR apa cacing sih, kok jalannya lelet banget.’’
 
Beberapa menit tak ada balasan. Lalu, klutik...
 
Pesan dari Mawar masuk ,’’Eh, ini kok di Fanling ya?’’
 
‘’Apa?’’ Saya teriak keras seolah-olah Mawar ada di depan saya.
 
‘’Pantesan nggak sampek-sampek lawong kamu kebablasan enam stasiun dari Tai Wai. Ternyata bukan MTR-nya yang lelet, tapi otak kamu.’’ Canda saya membalas pesannya dengan bubuhan emo ketawa guling-guling. (*)




Pernah tersiar di rubrik Ada-ada Saja, ApakabarPlus
Yesi Armand Sha. HK, 5 Juni 2018.

Nenek Ikan Salmon

photo net

Sudah tiga hari sejak nenek dirawat di rumah sakit, saya selalu riwa riwi ke rumah sakit berangkat pukul tujuh dan pulang jam delapan malam. Menjaga nenek sakit di rumah sakit ternyata rasa capeknya dua kali lipat daripada menjaga nenek jika di rumah, namun terlepas dari rasa lelah yang mendera, ada hal lain yang menyenangkan yang saya dapat selama berada di rumah sakit. Yakni saya memiliki teman baru, yaitu cece-cece Indonesia yang bertugas sama seperti saya, dan teman baru lainnya adalah nenek-nenek lain yang dirawat satu ruangan dengan nenek yang saya jaga.
 
Ada delapan nenek baru yang saya kenal yang satu ruangan dengan nenek. Mereka orangnya baik-baik, suka menolong satu sama lain jika membutuhkan dan suka bercanda. Dan satu nenek yang suka dicandai oleh nenek-nenek lain itu adalah nenek yang paling cantik dan mungil. Saya memanggilnya nenek imut, namun nenek lain memanggilnya ‘’Saman yi cece’’. Dipanggil demikian karena nenek imut ini tak pernah mau makan makanan rumah sakit. Setiap kali suster datang dan tanya kenapa makanannya tidak dimakan, nenek lain berkelakar,’’Ia menunggu ikan salmon datang.’’
 
Dan benar, saat jam besuk tiba dan anak atau menantunya datang menjenguk, mereka selalu membawa beberapa iris ikan salmon. Lalu melihat hal itu, nenek lain menggoda nenek imut lagi,’’Tuh ikan salmonnya datang.’’ Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah nenek imut dan menertawainya.
 
Mungkin nenek lain akan tidak terima jika ia digoda sedemikian rupa. Tapi tak begitu dengan nenek imut. Wajah nenek imut tak pernah berubah merah, sebuah warna yang biasanya dilambangkan sebagai kemarahan. Nenek imut juga selalu ikut tersenyum kala melihat sabit melengkung di bibir teman sekamarnya itu. Melihat nenek imut, agaknya ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik, yakni jangan membenci orang lain jika tidak ingin hati kita lelah.
 
Nenek imut tak hanya murah senyum dan ramah, tapi ia juga baik dan tidak pelit. Meski sering digoda, ia selalu menawari teman-temannya buah ketika anaknya datang membawakan buah. Saya yang ada di ruangan itu pun juga di tawari. Dan sebagai timbal balikd ari keramahannya itu, ketika suatu kali ia kesulitan menyibak tirai, saya mendekatinya dan berniat membantu.

‘’Tirainya mau dibuka atau ditutup, Nek?’’ tanya saya yang ternyata hanya dijawab dengan sebuah senyuman.
 
Saya mengulang pertanyaan yang sama kedua kalinya, dan dijawab dengan hal serupa seperti pertanyaan pertama. Melihat itu, lalu nenek lain berkata pada saya,’’Pendengarannya rusak, kalau ngomong, deketin ke telinganya.’’

Owww jadi begitu? Pantesan nenek imut tak pernah marah kalau digoda. Hhe



Pernah tersiar di rubrik Ada-ada saja, ApakabarPlus.
Yesi Armand Sha, HK. 08-06-2018.

6/06/2018

Lek Yuen Bridge, Salah Satu Landmark di Shatin

dok pribadi

Kalau Wanchai punya patung bunga emas, Causeway Bay punya jembatan melingkar, dan Choi Hung punya taman Nan Lian, maka sesuatu yang bakal terbayang-bayang di pikiran jika disebutkan tentang Shatin, salah satunya adalah tentang Lek Yuen Bridge.

Awal saya tahu perihal jembatan ini karena ketidaksengajaan. Minggu sore itu niatnya cuma mau nyambangi basecamp tempat libur teman tetangga flat yang katanya di bawah tenda putih, Shatin. Dia sudah ngirim petunjuk arah menuju kesana. Tapi karena saya ngga paham babar blas tentang seluk beluk Shatin, akhirnya ya saya kesasar. 

Sebenarnya Tai Wai (tempat saya bekerja) dan Shatin itu ibaratnya jari telunjuk dengan jari tengah. Dekat sekali. Sangat dekat. Tapi karena rute saya kalau libur arahnya lebih sering ke Koswebean, jadi saya lebih bisa njawab kalau ditanyai tentang cara pergi ke Causeway Bay dengan naik bis nomer berapa setelah sampai di Hung Hom, daripada tentang 'tetangga' satu itu.

Setelah lama kesasar dan jalan cuma muter-muter saja, akhirnya saya papasan sama mbak-mbak Indo. Saya tanya sama mbak itu, apakah tahu tempat yang saya maksud. Si mbak mengangguk. Trus dengan perangai wajahnya yang khas ala orang indonesia, atau maksudnya pasang wajah ramah kalau ditanyai oleh seseorang, mbak-nya menunjukkan jalan yang harus saya lewati.

Saya pun nurut sama kata si mbak dan akhirnya ketemu. Saya excited banget ketika tahu kalau ternyata tempat nongkrong teman saya ini dekat dengan jembatan Lek Yuen ini. 

Setelah dua kali maen kesana, saya baru tahu kalau jembatan ini ternyata dekat banget sama New Town Plaza dan rumah Snoopy. Makanya, kalau sampeyan kebetulan maen ke Shatin, jangan lupa mampir barang sebentar buat tengok jembatan ini. Suasananya damai, asri dan tenang. Eh, tapi perginya jangan pas musim panas di siang hari jam 12 sampai jam 2 an yaaa, takutnya sampeyan bakal meleleh. *kan saya ngga tega*

Lek Yuen Bridge ini adalah jembatan beton yang dibangun di atas sungai Shing Mun pada tahun 1988. Jembatan ini menghubungkan daerah bagian selatan dan bagian utaranya sungai Shing Mun, yang mana dua tempat itu adalah kawasan hunian dan pusat perbelanjaan. Konon nama Lek Yuen diambil dari nama salah satu nama jalan di kawasan tersebut.

Jembatan Lek Yuen ini didominasi oleh warna putih dilengkapi beberapa tiang tinggi menyangga lampu. Berbentuk melengkung dengan pagar hias khas gaya Cina, yang akan membuatnya terlihat anggun jika dilihat dari kejauhan. Panjang jembatan ini sekitar 160 m dengan luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi.

Jembatan Lek Yuen ini adalah jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki dan sepeda. Tapi disana juga diperbolehkan untuk memancing dan selfi lho. Iya selfi. *lha itu kan emang tempat umum, ya wajar saja lah kalau boleh selfi* Eh, tapi betul kok, foto disana nggak bakalan rugi. Karena background gedung warna-warni yang menjulang tinggi dan air sungai yang tenang, akan membuat foto sampeyan tampak instagramable. Eh, tapi hal ini juga tergantung pada kepandaian si pengambil foto juga ding. Kalau tukang fotonya ngga pinter ngambil angel, kayak saya, ya hasil fotonya bakal miring-miring dan munyer-munyer mirip orang di iklan puyer cap tiga delapan . 

Jembatan Lek Yuen ini berdekatan dengan tempat penyewaan sepeda dan taman Shatin. Di hari minggu biasa lokasi ini ramai sekali karena banyak warga lokal atau pun mbak-mbak Indo yang main sepeda. Kalau hari biasa, pagi dan sore juga ngga kalah rame. Orang-orang biasa sepedahan, lari dan senam.

Selain melakukan aktivitas itu semua, ada juga orang-orang yang cuma duduk-duduk di taman di sebelah jembatan ini. Duduk sekedar istirahat, atau duduk santai sambil ngobrol ngalur ngidul dengan temannya, atau duduk sambil memikirkan kiranya kapan masa jomblonya bakal berakhir, mirip yang saya lakukan waktu itu. *diantem bakiak*



atasnya taman, bawahnya buat sepedahan



desain oleh...


(seperti) pertelon, (bukan) trilogi


sekali2 dolan, biar ga mumet mikir pemilu *halah*

nyewa sepedanya agak mehong, 50 dolar perjam

ingstagramable mblo


*Yesi Amand Sha. HK, 07.06.2018.



YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES