6/21/2018

Kaum Moh Rekoso dan Mbak Pengatur Shaf



Tubuhnya masih lemah. Tapi mau bagaimana lagi, Romlah sudah kadung janji dengan mbak Siti untuk mengambil peralatan yang akan digunakan untuk belajar di minggu depan.

Setelah mengambil kereta jurusan Hung Hom dan keluar Melalui exit A2, Romlah lalu belok kanan dan kemudian menuruni beberapa anak tangga. Bersamaan dengan itu, sebuah bis tingkat nomer 102 berhenti di tempat pemberhentian paling awal. Romlah lari-lari kecil menyusul penumpang paling belakang yang ada di depannya. Begitu tubuhnya terangkut bis, Romlah merasa sangat beruntung. Andai menunggu terlalu lama dan bis tak kunjung datang, tubuhnya yang lemah itu bisa-bisa makin sempoyongan saja.

Beberapa menit perjalanan, sampailah di Causeway Bay. Romlah turun dan langsung disambut oleh terik matahari yang menyengat kulitnya. Panas bukan main.

Romlah lalu mengecek ponsel. Masih jam sebelas lebih, padahal mbak Siti baru bisa ditemui jam tiga-an. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia jika menunggu hanya dengan duduk-duduk saja di taman. Lagipula, di taman sangat panas. Belum lagi nanti Romlah harus shalat dhuhur dan makan siang. Maka bayangan tentang shalat dhuhur berjamaah sekaligus ngisis di masjid Wanchai langsung berkelebat di pikirannya.

Setelah naik tram dan berjalan beberapa menit, sampai juga Romlah di bawah masjid Wanchai. Sebenarnya, masjid itu tak tampak menonjol jika disebut masjid, sebab lebih tampak seperti apartemen bertingkat. Hanya saja, sedikit yang membedakan dengan bangunan di sekitarnya adalah warna hijau, desain melengkung dan tulisan arab di atas pintu masuk.

Usai mengambil wudhu, Romlah naik ke tempat shalat wanita. Hal pertama yang selanjutnya ia lakukan adalah mencari mukena. Jika berlibur ke daerah Koswebean memang Romlah jarang membawa mukena. Jika waktu sholat tiba, ia hanya perlu berjalan menuju mushola KJRI atau bank Mandiri. Disana disediakan tempat untuk sholat berikut peminjaman mukena. Atau jika ia sedang berada di lokasi yang dekat dengan Wanchai, Romlah hanya perlu pergi ke masjid Wanchai seperti yang ia lakukan hari ini.

Jarang membawa mukena atau malah tak pernah membawa, agaknya tidak hanya dilakukan oleh Romlah saja. Banyak sekali mbak-mbak lain yang jika waktu sholat tiba, mereka lebih rela mengantri panjang untuk meminjam mukena sekaligus sholat. Mukena kemudian seperti barang berharga yang ramai diperebutkan. Dan perebutan itu ternyata tak hanya terjadi di mushola KJRI atau bank Mandiri saja, di masjid Wanchai pun juga terjadi.

Setelah mencari ke dalam loker, memeriksa lemari, memeriksa gantungan dan tanya mbak-mbak pengurus, ternyata tak ada satupun mukena yang tersisa. Mata Romlah lalu iseng meneliti mbak-mbak yang memakai mukena masjid yang sedang duduk membentuk lingkaran yang sedang membaca shalawat dan istighfar. Jumlahnya sedikit. Lantas kemana perginya mukena-mukena masjid yang banyak itu?

Ada sedikit kecewa di dadanya. Tapi Romlah masih bisa menyuruh dirinya untuk tenang. Beruntung dari rumah tadi ia memakai pakaian dan jilbab yang lebar dan panjang. Maka, meski tanpa mukena, ia tetap bisa ikut shalat berjamaah dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya itu.

Urusan mukena sudah dilupakan. Romlah kemudian bergabung dengan mbak-mbak yang duduk melingkar. Hawa dingin AC dan puji-pujian kepada Allah dan kanjeng nabi, langsung membuat hati Romlah terasa adem, bahagia dan damai. Sebuah ketenangan hati yang tak ia temukan di tempat lain. Ya benar, memangnya dimana lagi bisa merasakan kelapangan hati jika bukan disuatu tempat yang mana orang-orangnya tulus memohon ampunan dan mendekat pada Sang Pencipta?

Empat puluh lima menit berlalu. Waktu dhuhur sudah hampir tiba. Tempat-tempat yang kosong di dekat Romlah kemudian menjadi penuh diduduki oleh mbak-mbak yang baru masuk. Semakin lama tempat itu semakin sesak. Bahkan kaki Romlah yang semula bisa diselonjorkan, kini hanya bisa dilipat.

Tempat yang semula tenang kemudian agak ramai. Mbak-mbak yang baru saja datang sibuk dengan diri mereka sendiri. Ada yang berbicara dengan temannya, ada yang menutuli ponselnya, dan ada yang memakai mukena yang dikeluarkan dari dalam tasnya.

Beberapa saat diam, Romlah lantas menyadari sesuatu. Mukena bermotif yang sangat Romlah kenali itu adalah mukena milik masjid.

“Lho mbak, ngambil mukena dimana? Mukenanya masih ada?” tanya Romlah penasaran.

“Hehe... Ini ngambilnya tadi. Sudah habis mukenanya.”

“Ah...Begitu rupanya.''Romlah baru tahu jika ternyata ada kuasa baru atas mukena masjid.

**
Suara adzan sudah mengalun dari speaker masjid. Lingkaran istighfar dan shalawatan sudah bubar. Mbak-mbak kemudian memencar, mencari tempat dan bersiap untuk shalat dhuhur.

Satu diantara mbak-mbak itu adalah Romlah. Ia sudah anteng dan mendapat tempat shalat yang nyaman. Tapi sembari menjawab adzan yang masih berkumandang, hati Romlah masih cemas tak karuan. Ia lantas berjalan memeriksa lemari, loker dan gantungan mukena. Berharap ada satu saja mukena yang tersisa. Romlah tak terbiasa shalat tanpa mukena. Rasanya tak nyaman saja.

‘’Mbak ada mukena nggak ya?’’ tanya Romlah pada seorang mbak yang berjilbab kotak-kota.

‘’Kalau di gantungan dan loker sudah habis. Coba periksa di dalam lemari,’ jawab mbak itu ramah.

‘’Sudah habis mbak.’’ Suara Romlah lesu.

‘’Emm... sebentar.’’ Mbak berjilbab kotak-kotak kemudian berjalan menuju tumpukan buku dan mengambil kantong kecil kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

‘’Ini punya saya pakai saja. Nanti kalau sudah selesai taruh saja disini,’ ucap mbak itu seraya menyerahkan mukena.

‘’Terimakasih banyak mbak. Eh, tapi mbak nggak sholat?’’

‘’Belum bersih,’’ jawab mbak itu dengan senyum masih menempel di wajahnya.

‘’Kalau begitu saya pakai ya mbak. Nanti saya kembalikan ke sini.’’ Romlah yang bahagia lalu kembali ke tempat semula.

‘’Dapat mukena?’’ tanya mbak berbadan kurus yang ada di sebelah kanan Romlah.

‘’Iya. Alhamdulillah, dipinjami sama mbak   itu,’’ jawab Romlah sembari menunjuk mbak berjilbab kotak-kotak yang sedang mengatur shaf dan memindai tas milik mbak-mbak yang ditaruh di samping atau di atas tempat sujud mereka.

“Mbak itu sudah mengatur shaf, masih mau memindai tas milik mbak-mbak itu ke pinggir. Ia mencarikan tempat untuk orang-orang agar bisa shalat dengan nyaman. Mbak itu pahalanya pasti banyak. Mungkin bahkan lebih banyak dari kita.” Mbak sebelah Romlah tiba-tiba bercelutuk.

Romlah mengangguk. Ia kemudian teringat ceramah seorang kiai ttentangseorang santri yang mendapat kucuran rahmat, ilmu dan berkah “lebih” dari santri lainnya lantaran santri itu khidmah(melayani) pada keluarga ndalem.

Agaknya mbak berjilbab kotak-kotak itu paham betul akan makna dari melayani. Tiba-tiba Romlah merasa kagum pada mbak itu dan juga malu pada dirinya sendiri. Romlah tak berani mendongakkan kepala.(*)

*Yesi Armand Sha. HK, 7 Syawal 1439 H.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES