6/06/2018

Lek Yuen Bridge, Salah Satu Landmark di Shatin

dok pribadi

Kalau Wanchai punya patung bunga emas, Causeway Bay punya jembatan melingkar, dan Choi Hung punya taman Nan Lian, maka sesuatu yang bakal terbayang-bayang di pikiran jika disebutkan tentang Shatin, salah satunya adalah tentang Lek Yuen Bridge.

Awal saya tahu perihal jembatan ini karena ketidaksengajaan. Minggu sore itu niatnya cuma mau nyambangi basecamp tempat libur teman tetangga flat yang katanya di bawah tenda putih, Shatin. Dia sudah ngirim petunjuk arah menuju kesana. Tapi karena saya ngga paham babar blas tentang seluk beluk Shatin, akhirnya ya saya kesasar. 

Sebenarnya Tai Wai (tempat saya bekerja) dan Shatin itu ibaratnya jari telunjuk dengan jari tengah. Dekat sekali. Sangat dekat. Tapi karena rute saya kalau libur arahnya lebih sering ke Koswebean, jadi saya lebih bisa njawab kalau ditanyai tentang cara pergi ke Causeway Bay dengan naik bis nomer berapa setelah sampai di Hung Hom, daripada tentang 'tetangga' satu itu.

Setelah lama kesasar dan jalan cuma muter-muter saja, akhirnya saya papasan sama mbak-mbak Indo. Saya tanya sama mbak itu, apakah tahu tempat yang saya maksud. Si mbak mengangguk. Trus dengan perangai wajahnya yang khas ala orang indonesia, atau maksudnya pasang wajah ramah kalau ditanyai oleh seseorang, mbak-nya menunjukkan jalan yang harus saya lewati.

Saya pun nurut sama kata si mbak dan akhirnya ketemu. Saya excited banget ketika tahu kalau ternyata tempat nongkrong teman saya ini dekat dengan jembatan Lek Yuen ini. 

Setelah dua kali maen kesana, saya baru tahu kalau jembatan ini ternyata dekat banget sama New Town Plaza dan rumah Snoopy. Makanya, kalau sampeyan kebetulan maen ke Shatin, jangan lupa mampir barang sebentar buat tengok jembatan ini. Suasananya damai, asri dan tenang. Eh, tapi perginya jangan pas musim panas di siang hari jam 12 sampai jam 2 an yaaa, takutnya sampeyan bakal meleleh. *kan saya ngga tega*

Lek Yuen Bridge ini adalah jembatan beton yang dibangun di atas sungai Shing Mun pada tahun 1988. Jembatan ini menghubungkan daerah bagian selatan dan bagian utaranya sungai Shing Mun, yang mana dua tempat itu adalah kawasan hunian dan pusat perbelanjaan. Konon nama Lek Yuen diambil dari nama salah satu nama jalan di kawasan tersebut.

Jembatan Lek Yuen ini didominasi oleh warna putih dilengkapi beberapa tiang tinggi menyangga lampu. Berbentuk melengkung dengan pagar hias khas gaya Cina, yang akan membuatnya terlihat anggun jika dilihat dari kejauhan. Panjang jembatan ini sekitar 160 m dengan luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi.

Jembatan Lek Yuen ini adalah jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki dan sepeda. Tapi disana juga diperbolehkan untuk memancing dan selfi lho. Iya selfi. *lha itu kan emang tempat umum, ya wajar saja lah kalau boleh selfi* Eh, tapi betul kok, foto disana nggak bakalan rugi. Karena background gedung warna-warni yang menjulang tinggi dan air sungai yang tenang, akan membuat foto sampeyan tampak instagramable. Eh, tapi hal ini juga tergantung pada kepandaian si pengambil foto juga ding. Kalau tukang fotonya ngga pinter ngambil angel, kayak saya, ya hasil fotonya bakal miring-miring dan munyer-munyer mirip orang di iklan puyer cap tiga delapan . 

Jembatan Lek Yuen ini berdekatan dengan tempat penyewaan sepeda dan taman Shatin. Di hari minggu biasa lokasi ini ramai sekali karena banyak warga lokal atau pun mbak-mbak Indo yang main sepeda. Kalau hari biasa, pagi dan sore juga ngga kalah rame. Orang-orang biasa sepedahan, lari dan senam.

Selain melakukan aktivitas itu semua, ada juga orang-orang yang cuma duduk-duduk di taman di sebelah jembatan ini. Duduk sekedar istirahat, atau duduk santai sambil ngobrol ngalur ngidul dengan temannya, atau duduk sambil memikirkan kiranya kapan masa jomblonya bakal berakhir, mirip yang saya lakukan waktu itu. *diantem bakiak*



atasnya taman, bawahnya buat sepedahan



desain oleh...


(seperti) pertelon, (bukan) trilogi


sekali2 dolan, biar ga mumet mikir pemilu *halah*

nyewa sepedanya agak mehong, 50 dolar perjam

ingstagramable mblo


*Yesi Amand Sha. HK, 07.06.2018.



No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES