6/29/2018

Lepet Ketan dalam Kenangan


Kemarin sore bapak tiba-tiba bilang ingin makan lepet. Makanya semalam Ranum merendam ketan.
   
Di luar hujan deras. Berisik, seperti suara televisi di ruang tengah. Ranum menghalau asap yang keluar dari tutup yang dibuka. Pelan-pelan ketan yang sudah dicampuri kelapa parut dan garam, dimasukkan ke dalam dandang yang bawahnya berisi air mendidih. Ketan akan dimasak setengah matang.
   
Beberapa kayu kering baru saja dimasukkan ke dalam perapian. Sebenarnya Ranum lebih suka merebus lepet menggunakan kompor. Karena selain praktis, bajunya juga aman dari asap yang baunya lumayan menyengat. Tapi kata bapak, rasa lepet lebih enak kalau direbus dengan api dari tungku.
   
‘’Rasanya biar seperti yang dibuat ibumu.’’
   
Lepet ketan buatan ibu yang dibungkus daun pisang. Dulu ibu membuatnya tak pernah memakai janur. Katanya kalau pakai janur, tak ada aroma daun yang terasa ketika lepet digigit.
   
Ranum dan bapak hanya suka lepet buatan ibu. Selain aroma daun yang membuat enak, rasanya juga lebih punel dan tanek. Mungkin karena ketannya dimasak dua kali, berbeda dengan orang-orang yang hanya merebusnya sekali matang.
   
‘’Apa kalian bertengkar?’’
   
Bapak tak biasa bertanya. Tapi melihat Ranum pulang sendiri dan sudah berdiam tiga hari di rumah, cukup menjelaskan kalau sedang terjadi sesuatu dengan rumah tangga anaknya.
   
‘’Pertengkaran dalam pernikahan itu hal yang lumrah. Harus ada satu yang mau mengalah.’’
   
Suara bapak cukup keras, terdengar sampai dapur. Ranum tak menjawab. Ia belum cerita, tapi ia tahu, Pandu pasti sudah menghubungi bapak untuk menanyakan apakah Ranum pulang, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. 
   
Ketan yang sudah dipindahkan ke dalam panci kini disiram dengan air mendidih. Dibiarkan sepuluh menit agar medok, setelahnya akan dibungkusi dengan daun pisang yang sudah di lap bersih lalu diikat dengan merang. Dulu Ranum sering membantu ibu membuat lepet. Maka meski ibu telah tiada, cara-cara itu masih diingatnya dengan baik.

**
   
Hujan sudah agak reda. Bapak menekan tombol remot bagian tengah yang ada tanda panah ke bawah, membuat volume televisi mengecil. Setelahnya, bapak berjalan ke dapur. Duduk di atas dingklik kayu kecil di depan tungku. Tangannya mendorong kayu yang keluar dari mulut tungku, membuat bara api semakin besar. Di atasnya, lepet yang sudah dibungkusi daun sedang direbus. 
   
‘’Pandu itu laki-laki baik. Kalau tidak baik, mana mungkin dulu bapak dan ibumu memilihnya.’’ 
   
Ranum tampak mengingat sesuatu. Dulu ada empat orang yang mendekati. Selain Pandu, Pras, Eko dan Rudi pernah datang ke rumah. Ranum meminta ibu dan bapak yang memilihkan. Pilihan orangtua pasti yang terbaik untuk anaknya, begitu pikir Ranum. Lalu nama itu jatuh pada laki-laki yang pendiam. Pandu, anak seorang pensiunan guru SD.
   
Sepertinya kata-kata bapak ada benarnya. Andai Ranum menjadi istri Pras, pasti sekarang ia sudah menjadi janda muda yang bingung menghidupi diri dan satu anaknya. Tiga tahun setelah menikah, Pras yang berbadan atletis itu terjerat cinta pada gadis kota yang cantik dan masih muda. Pras minggat dari rumah.
   
Atau jika menikah dengan Eko, tiap bulan pasti Ranum  bingung harus bersusah payah menghemat uang belanja. Cerita tentang gaji Eko yang besar namun memberi jatah bulanan yang kurang dari cukup pada istrinya itu sudah bukan menjadi rahasia lagi. Ranum lebih tak bisa membayangkan lagi andai dulu ia memilih Rudi. Bisa-bisa wajahnya akan terlihat lebih tua dari umurnya karena setiap hari harus menghadapi Rudi yang berwatak keras dan suka main tangan.
   
Dialah Pandu. Laki-laki pilihan ibu dan bapak yang tak banyak bicara. Kehidupannya rutin dengan hal-hal itu saja. Setelah pulang kerja, mandi, makan malam bersama, shalat berjama’ah dan ngaji semaan dengan Ranum. Setelah ritual itu semua, Pandu biasa menghabiskan waktunya di depan laptop. Katanya, banyak tugas kantor yang perlu dikerjakan.
   
‘’Jadi istri itu harus pandai membuat perasaan suaminya tenang, jangan sebaliknya.’’
   
Sepertinya bapak semangat sekali membahas Pandu. Laki-laki yang kaku dan dan kadang membuat Ranum kesal karena tak pandai berbasa-basi dan membuat kata-kata manis untuk menyenangkan hati istrinya. Pandu yang jujur akan mengatakan kalau Ranum mulai tampak gemuk, atau berkata terlalu asin, kurang manis dan terlalu pedas pada masakan Ranum jika memang kenyataannya seperti itu. Pandu yang tak romantis, yang pada dirinya tersimpan banyak kekurangan. 
   
Tapi Ranum juga tahu, ialah Pandu, laki-laki yang sabar menghadapi segala kerewelan tingah lakunya. Laki-laki yang tak mengeluh untuk mencuci piring kotor di dapur hanya karena Ranum tengah asyik menonton televisi. Laki-laki yang selalu khawatir dan begadang semalaman ketika Ranum sedang sakit.  Dialah Pandu, laki-laki bermata kopi yang hangat tatapan matanya hanya menyimpan cinta untuk Ranum seorang. Tiba-tiba Ranum merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
   
‘’Dulu ibumu pernah bilang, kalau sudah dibungkus daun, merebus lepetnya sampai matang saja. Jangan terlalu lama, karena kalau kematangan rasanya justru tidak enak. Semua ada porisnya, Num. Marah pun sama.’’ 
   
Kata-kata bapak membuat pikiran Ranum terbang mundur pada hari-hari sebelum ia kabur. Seminggu sebelum hari itu ia gampang sekali marah. Emosinya mudah meledak-ledak hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan Pandu. Ia benci kebiasaan Pandu yang suka menggantung handuk basah kecil untuk lap wajah di pinggir jendela, meninggalkan tusuk gigi yang telah di pakai di pinggir wastafel kamar mandi, atau mendengar suara kumur-kumur Pandu ketika menggosok gigi. Ranum tak menyukai itu semua, padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja.
   
Dan sebenarnya masalahnya sepele. Sore itu bayangan tentang soto ayam di dekat kantor Pandu tampak begitu menggoda. Ranum mengirimi pesan agar Pandu membelikannya ketika pulang. Tapi pekerjaan hari senin yang melelahkan ternyata membuat Pandu lupa. Melihat suaminya pulang dengan tangan kosong, amarah Ranum kembali meledak. Ia kesal, tak mau mendengarkan janji Pandu yang akan membelikannya besok. Semalaman Ranum diam dan esok paginya ia pulang ke rumah bapak tanpa pamit pada Pandu yang tengah berada di kantor.

**
   
Lepet sudah matang. Dandang sudah diangkat dari tungku. Satu per satu lepet dipindahkan ke dalam tampah yang terbuat dari anyaman bambu. Ranum meletakkan tiga bungkus lepet ke dalam piring beling berwarna putih tulang. Ia melepas ikatan merang, membuka bungkusnya, lalu mengangsurkan piring itu pada bapak.
   
‘’Mau sampai kapan kamu seperti ini? Pandu sudah lelah kerja untuk mencari nafkah. Tapi kamu masih seperti anak kecil begini,’’ ucap bapak seraya berjalan menuju sofa di depan televisi.
   
Kata-kata bapak membuat hati Ranum panas. Sejenak ia lalu sadar, mungkin selama ini memang ia sudah terlalu rewel atau bahkan egois.
   
Setelah semua lepet diangkat, Ranum gegas ke kamar untuk mencari ponselnya yang sudah dua hari dimatikan. Ada puluhan pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Pandu. Tak menunggu lama, Ranum ganti menekan tombol yang bisa menyambungkan dengan ponsel Pandu. Tapi tiga kali di telpon hanya suara cutomer service yang terdengar. Ranum ganti menelpon ke rumah dan hasilnya sama, tak ada yang mengangkat.
   
‘’Kenapa tak diangkat?’’ Ranum gelisah.
   
‘’Jangan panik, kamu harus tetap tenang dalam kondisi apapun.’’
   
Kali ini Ranum tak bisa menuruti kata-kata bapak. Bagaimana bisa tenang jika pikirannya sudah dibayangi dengan hal yang tidak-tidak. Genangan air dipelupuk matanya tak bisa lagi ditahan. Sesenggukan, air itu berjatuhan ketika ia membayangkan sebuah kehilangan. Ranum tiba-tiba merasa jika laki-laki pendiam itu adalah segalanya buatnya.
   
‘’Kamu mau kemana?’’
   
‘’Pulang. Ranum tak bisa hanya berdiam menunggu kabar.’’ Ranum memasukkan dompet, kunci rumah dan beberapa peralatan penting ke dalam tas. 
   
Hatinya dipenuhi oleh rasa marah pada diri sendiri dan berbagai macam penyesalan. Jika tak ada acara kabur, mungkin ia tak harus menanggung perasaan semacam itu. Tiba-tiba Ranum merasa perutnya mual, tubuhnya gemetaran dan lemas, sebuah kejadian yang ia rasakan sama seperti hari-hari seminggu sebelum ia kabur dari rumah. 
   
‘’Ini sudah sore dan hari akan gelap. Tunggulah, mungkin sebentar lagi Pandu akan menghubungi,’’ ucap bapak tenang. 
   
Pikiran bapak memang tenang seperti wajahnya saat ini, karena usai shalat Ashar tadi, Pandu sudah menghubungi bapak dan mengatakan jika sebentar lagi akan tiba.Bukannya menyambut, tapi bapak malah meminta Pandu istirahat dulu di mushola dan pulang ketika bapak sudah menghubunginya. Kata bapak, biar Ranum tahu bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang ia sayangi.
   
Dan kini kekhawatiran itu benar terjadi. Bapak sengaja membiarkan Ranum seperti itu, karena bapak berencana akan menghubungi Pandu setelah ia menandaskan lepet yang kini akan digigitnya. Lepet ketan berbungkus daun pisang yang rasanya tak pernah sama dengan lepet buatan ibu. Bapak tahu itu, karena sebenarnya bukan lepet yang dirindukan bapak, tapi ibu. Kini bapak menyeka matanya yang berair. (*)



*Yesi Armand Sha. Tai Wai, 29.06.2018

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES