6/07/2018

Nenek Ikan Salmon

photo net

Sudah tiga hari sejak nenek dirawat di rumah sakit, saya selalu riwa riwi ke rumah sakit berangkat pukul tujuh dan pulang jam delapan malam. Menjaga nenek sakit di rumah sakit ternyata rasa capeknya dua kali lipat daripada menjaga nenek jika di rumah, namun terlepas dari rasa lelah yang mendera, ada hal lain yang menyenangkan yang saya dapat selama berada di rumah sakit. Yakni saya memiliki teman baru, yaitu cece-cece Indonesia yang bertugas sama seperti saya, dan teman baru lainnya adalah nenek-nenek lain yang dirawat satu ruangan dengan nenek yang saya jaga.
 
Ada delapan nenek baru yang saya kenal yang satu ruangan dengan nenek. Mereka orangnya baik-baik, suka menolong satu sama lain jika membutuhkan dan suka bercanda. Dan satu nenek yang suka dicandai oleh nenek-nenek lain itu adalah nenek yang paling cantik dan mungil. Saya memanggilnya nenek imut, namun nenek lain memanggilnya ‘’Saman yi cece’’. Dipanggil demikian karena nenek imut ini tak pernah mau makan makanan rumah sakit. Setiap kali suster datang dan tanya kenapa makanannya tidak dimakan, nenek lain berkelakar,’’Ia menunggu ikan salmon datang.’’
 
Dan benar, saat jam besuk tiba dan anak atau menantunya datang menjenguk, mereka selalu membawa beberapa iris ikan salmon. Lalu melihat hal itu, nenek lain menggoda nenek imut lagi,’’Tuh ikan salmonnya datang.’’ Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah nenek imut dan menertawainya.
 
Mungkin nenek lain akan tidak terima jika ia digoda sedemikian rupa. Tapi tak begitu dengan nenek imut. Wajah nenek imut tak pernah berubah merah, sebuah warna yang biasanya dilambangkan sebagai kemarahan. Nenek imut juga selalu ikut tersenyum kala melihat sabit melengkung di bibir teman sekamarnya itu. Melihat nenek imut, agaknya ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik, yakni jangan membenci orang lain jika tidak ingin hati kita lelah.
 
Nenek imut tak hanya murah senyum dan ramah, tapi ia juga baik dan tidak pelit. Meski sering digoda, ia selalu menawari teman-temannya buah ketika anaknya datang membawakan buah. Saya yang ada di ruangan itu pun juga di tawari. Dan sebagai timbal balikd ari keramahannya itu, ketika suatu kali ia kesulitan menyibak tirai, saya mendekatinya dan berniat membantu.

‘’Tirainya mau dibuka atau ditutup, Nek?’’ tanya saya yang ternyata hanya dijawab dengan sebuah senyuman.
 
Saya mengulang pertanyaan yang sama kedua kalinya, dan dijawab dengan hal serupa seperti pertanyaan pertama. Melihat itu, lalu nenek lain berkata pada saya,’’Pendengarannya rusak, kalau ngomong, deketin ke telinganya.’’

Owww jadi begitu? Pantesan nenek imut tak pernah marah kalau digoda. Hhe



Pernah tersiar di rubrik Ada-ada saja, ApakabarPlus.
Yesi Armand Sha, HK. 08-06-2018.

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES