9/30/2018

Di Dalam Bis Nomer 72A

foto pixabay

Ais membetulkan letak jilbabnya yang belepotan. Napasnya masih memburu, tapi bibir tipisnya mengulum senyum. Lelahnya karena berlarian tak sia-sia sebab bis 72 A yang bisa membawanya menuju Tai Po belum berlalu. Bis itu masih berhenti di perempatan lampu merah dekat pasar buah di Tai Wai.
 
Di antrean itu, selain Ais dan seorang ibu muda bersama bayinya, penunggu bis lainnya adalah dua siswa perempuan yang berseragam sama. Melihat percakapan dan gerak tubuhnya, Ais menebak jika mereka berdua adalah sahabat.
 
Lampu sudah berganti warna. Bis tingkat itu mulai berjalan, lalu memelan dan berhenti di belakang garis batas berwarna kuning. Setelah pintu depan terbuka secara otomatis, ibu muda masuk, menempelkan kartu octopus di mesin pembayaran yang kemudian ditirukan oleh dua siswa perempuan dan Ais.
 
Ada banyak kursi kosong, Ais memilih kursi nomer tiga yang dekat dengan jendela. Setelah menempelkan tubuhnya dengan bangku berwarna biru itu, Ais tersenyum. Ia teringat ucapan Mrs Lam tadi malam.
 
‘’Bis ini tak seperti bis nomer 80 arah Kowloon yang selalu penuh dengan penumpang. Bahkan saking sedikitnya penumpang, yang beroperasi di malam hari bukan bis tingkat. Cobalah naik besok pagi. Berhentinya tak jauh dari rumah sakit. Kau tak perlu jalan jauh-jauh. Selama perjalanan kau juga bisa istirahat.”
 
Semalam Ais hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu pagi ini ia bisa melihat sendiri kebenaran kata-kata menantu nenek tadi malam. Tak banyak orang yang bepergian naik bis 72 A ini.
 
Bis melaju dengan kecepatan standar. Ais menyandarkan kepalanya ke jendela kaca di sampingnya. Pegal-pegal sejak beberapa hari lalu masih terasa hingga kini. Ais baru sadar ternyata menjaga nenek di rumah sakit lebih repot dari pada menjaga nenek di rumah. Ia harus berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Belum lagi di rumah sakit ia hanya perlu duduk atau sesekali menemani nenek olahraga, hal itu justru membuat badannya terasa kaku.
 
Jika didera lelah yang teramat sangat seperti itu, kadang sebuah perasaan aneh datang lalu membuat dadanya sebak. Sejenak Ais termenung, namun cepat-cepat ia menepis pikiran itu.
 
Ais tahu, jika terlalu lama melamun dan berangan-angan, maka akan berakhir dengan membandingkan hidupnya dengan kehidupan temannya yang memiliki orangtua kaya dan kecukupan. Hingga kemudian rasa iri, kecewa dan tidak menerima takdir akan menelisik ke dalam hatinya.
 
Ais sadar melakukan itu hanya akan membuat dirinya tak menyukai kehidupannya sendiri. Sekarang tak suka, mungkin nanti akan berganti menjadi sebuah kebencian. Benci kenapa bapak lebih cepat meninggal, ibu sakit-sakitan dan kedua adiknya membutuhkan biaya sekolah.
 
Ais cepat-cepat beristighfar. Ia takut menjadi hamba yang durhaka pada Allah. Ia kemudian mengingat-ingat nasehat ibu.
 
‘’Jika urusan dunia, kita harus sering melihat ke bawah, Nduk. Melihat orang yang lebih susah, agar kita bisa banyak bersyukur. Tapi kalau urusan akhirat, kita harus banyak melihat ke atas, melihat orang alim yang dekat dengan Allah, agar semangat beribadah menjadi bertambah.’’
 
Ais masih terus menggumamkan kalimat permohonan ampun, sampai kantuk yang bergelayut di pelupuk matanya hampir membuat ia terpejam. Namun sesekali mata bulat itu terbuka hingga tampak olehnya pepohonan, lapangan basket, pertokoan dan tiang penunjuk jalan berlarian ke belakang. 

Ais juga masih bisa melihat dua stasiun sudah terlewati tapi bis tak berhenti. Lalu di stasiun selanjutnya laju bis memelan dan sopir menginjak rem. Bis mengangkut beberapa penumpang, yang dua diantaranya adalah mbak-mbak yang bekerja seperti dirinya.
 
Dua mbak-mbak itu duduk di belakang Ais. Raut wajah mereka tampak suram. Entah perihal apa, sepagi itu mereka sudah sambatan. Mereka mengeluhkan majikannya yang cerewet, bekerja ini tak benar dan itu salah, belum lagi momongan yang nakalnya minta ampun. Mereka bersemangat bercerita dan saling menimpali seolah-olah kehidupan mereka yang paling sengsara.
 
Ais tak berniat menguping, namun pembicaraan mereka sangat keras. Maka sembari mendengarkan keluh kesah dua orang itu, Ais berkali-kali memuji nama Allah. Ia bersyukur sebab meski harus berperan sebagai tulang punggung keluarga, Allah memberinya pekerjaan yang ringan dengan majikan yang baik, yang menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan nenek seringkali menganggapnya sebagai cucu perempuannya. Dan yang terpenting, di rumah majikan yang tak bertuhan itu, Ais diberi kebebasan untuk beribadah.
 
‘’Nikmat mana yang aku dustakan?” tanya Ais pada dirinya sendiri. (*)


*Yesi Armand Sha. HK, 20180101

2 comments:

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES