9/29/2019

Steam Ikan with Black Bean

Pada postingan kali ini saya menulis resep sederhana ala Hong Kong. Namanya steam ikan dengan black bean atau bahasa Kantonisnya Tausi (mohon maaf saya tidak tahu bahasa Indonesianya). Caranya mudah banget, mari lanjut ke bawah :)




Bahan:
1 ekor ikan.
2 siung bawang putih.
Jahe secukupnya.
Black bean secukupnya.
2 sdm kecap asin atau secukupnya.

Cara membuat:

1. Cuci ikan dan semua bahan.

2. Iris jahe berbentuk seperti korek api, lalu masukkan beberapa ke dalam perut ikan, dan beberapa ditata di atas ikan.

3. Geprek bawang putih, campurkan dengan black bean, cacah kasar, lalu tata di atas ikan.

4. Rebus air sampai mendidih, masukkan ikan. Steam kurang lebih 15-20 menit, tergantung besar kecil ikan. Setelah matang, tambahkan kecap asin. Siap dihidangkan. 


Bahan-bahan


Seperti ini penataannya


7/17/2019

Dapoer Kita, Restoran Indonesia ala Kafe yang Ada di Hong Kong

Sudah seabad rasanya tidak pergi ke Causeway Bay. Maka ketika ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, kemarin Minggu saya terpaksa pergi ke sana setelah sebelumnya menyelesaikan keperluan dengan orang Hong Kong di stasiun Kowloon Tong.




Dari Kowloon Tong ke Hung Hom, ada bis menuju Causeway Bay yang hanya memakan waktu tidak lebih dari lima belas menit saja untuk sampai di sana. Saya mengajak teman naik bis, tapi teman saya menggeleng mantap karena ia gampang mabok kendaraan. Maka sebagai teman yang baik dan pengertian, saya menurutinya naik kereta bawah tanah aka MTR meski mengharuskan kami oper kereta beberapa kali.

MTR Causeway Bay di hari Minggu tidak berubah sama sekali sejak seabad yang lalu. Masih sesak, penuh orang, terlalu ramai ditambah suara orang-orang bercampur suara pintu keluar masuk menuju area kereta yang mirip sarang lebah. Lumayan membuat pusing.

Kami keluar melalui exit F dengan perut yang sudah sangat keroncongan. Kami memang sengaja tidak memasukkan sesuatu apapun ke dalam perut karena kami sebelumnya sudah berencana akan langsung mencari makan begitu tiba di Causeway Bay. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, saya sering melakukannya hal ini di hari Minggu. Saya malas dan jarang sarapan karena lebih memilih merangkapnya dengan makan siang. Saya suka sekali menunggu perut sangat keroncongan, karena makan di saat kelaparan rasanya akan jauh lebih nikmat. Kebiasaan ini tapi tidak saya rekomendasikan buat sampeyan ya, karena berpotensi mengundang penyakit maagh :P



Namanya Restoran Dapoer Kita. Yang merekomendasikan tempat makan itu adalah teman saya. Sebagai seorang teman yang baik dan pengertian kedua kalinya, saya hanya manut saja menuruti keinginan teman saya agar dia bahagia *bhwahaha skip* Katanya warung makan ini baru buka dua mingguan. Lokasinya dari KJRI Hong Kong nyebrang ke arah deretan gedung kantornya Dompet Dhuafa Hong Kong, atau jalan ke arah jalan buntu. Di lantai dasar, gedung nomer dua dari jalan buntu. Tepatnya di bawah kanan palang gedung Shelternya Dompet Dhuafa.


Nasi ikan kuning pesanan teman saya datang lebih cepat dari ikan bakar yang saya pesan. Selagi menunggu, saya penasaran dan ikut incip-incip ikan kuning milik teman saya. Ketika ikan itu sampai di lidah, saya cukup kaget karena rasanya melebih apa yang saya harapkan. Enak, bumbunya pas dan rasa Endonesia banget.



Tak lama kemudian pesanan saya juga datang. Ikan bakar dengan sambal penuh menutupi seluruh ikan. Pertama kali yang saya lakukan adalah ndulit sambelnya. Saya dibuat kaget yang kedua kali. Rasa sambelnya manis, pedas dan tidak terlalu asin. Saya suka sambel tipe ini. Setelah itu saya lalu menyuwir ikan bakar yang warnanya kehitaman. Ikannya fresh dan terasa banget kalau sangat segar. Tapi kalau disuruh memberi nilai, dari total sepuluh saya terpaksa menyumbang angka 8,9.  Alasannya? Ikan bakar pesanan saya lumayan asin. Saya kurang suka sama jenis rasa ini. Eh tapi ini hanya penilaian saya saja loh ya, oranglain mungkin akan memberi nilai yang lebih tinggi. Semua hanya perbedaan selera hehe.

Selagi makan kami sempat berbincang-bincang sedikit dengan seorang ibu-ibu yang membantu di sana. Menurut ceritanya, pemilik restoran Dapoer Kita ini adalah pak Dody, berasal dari Bangka Belitung. Yang memasak adalah mantan chef dari warung Chandra di sebelah KJRI yang kini telah tutup. Sedang yang menjadi pegawai di Dapoer Kita ini adalah istri, anak dan menantunya pak Dody. Bisa dibilang ini seperti restoran keluarga . Pasti menyenangkan ya memiliki usaha yang pegawainya adalah keluarga sendiri. Setiap waktu bisa kumpul sama orang-orang terdekat dan tersayang hehehe.



Balik ke Dapoer Kita. Restoran ini tidak terlalu besar. Namun saya suka tempatnya yang nyaman, bersih dan enak dipandang. Desainnya ala kafe dengan pintu dan jendela terbuat dari kaca berwarna hitam besar tembus pandang luar dalam yang memenuhi bagian depan. Ada berbagai bebungaan dan dedaunan kering yang maaf saya tidak tahu apa itu namanya yang ditaruh di atas pot, di dalam botol beling dan di buat hiasan di bawah lampu. Tempat duduk dan mejanya mayoritas terbuat dari kayu. Ada tempat duduk dan meja tinggi tepat di depan peracikan makanan yang siap disajikan. Lalu di belakang peracikan makanan itu ada lemari kaca tinggi yang diisi dengan berbagai mocel cangkir, gelas, mangkuk dan beberapa sirup marjan yang dibuat hiasan.




Ada berbagai pilihan menu dan minuman yang bisa dipilih di daftar menu. Harga di Dapoer Kita ini agak murah di tempat makan lain yang sudah cukup terkenal di area Causeway Bay. Penyajian makanan dan minuman di rumah makan ini juga menarik. Mereka memakai tampah kecil yang diatasnya diberi kertas makan untu sajian nasi, lalapan dan sejenisnya. Lalu untuk minumannya, semuanya mereka memakai mangkuk atau gelas beling. Menjadi nilai plus karena di tempat lain ada yang beberapa masih memakai bahan yang mayoritas dari plastik dan stereofom.



Dapoer Kita ini bisa menjadi pilihan rumah makan untuk sampeyan yang ingin menikmati kuliner Indonesia di Hong Kong yang suasananya nyama, dan santai ala kekafean.

Alamat Rumah Makan Dapoer Kita: Causeway Bay, Haven Street Nomer 31. 


Yesi Armand Sha, HK, 16 Juli 2019.

7/08/2019

Kupi Pertama


Mulai bulan lalu saya nggupuhi teman ingin beli laptop. Sudah searching di Google, menonton rekomendasi di Youtube dan melihat-lihat di websitenya Fortress dan Broadway, tapi belum juga nemu yang ingin dibeli.

Sabtu siang saya mengontak teman lagi. Dia bilang Minggu sudah ada janji, tapi malamnya dia mengabari bahwa janjinya batal dan dia bersedia menemani saya. Membaca pesannya, saya girang bukan kepalang. Bukan tidak berani berangkat sendiri, hanya saja kurang percaya diri dan suka bingung memilih sendirian karena tidak ada yang diajak diskusi. Eh, sama saja kan ya? :D

Minggu, 7 Juli 2019, saya berangkat dari rumah menyesuaikan jam janjian yang telah kami buat. Setelah turun dari siupa/ mini bus, teman saya kirim WA mengabari bahwa diluar hujan. Belakangan cuaca memang sering membingungkan. Sebentar hujan deras turun, lalu berhenti, matahari muncul, agak lama, lalu hujan lagi, lalu matahari muncul lagi, dan begitu seterusnya. Saya tidak kaget dan tidak terlalu khawatir karena di dalam ransel sudah ada sebuah payung kecil.

Saya telat sepuluh menit. Teman saya sudah menunggu di dalam tempat makan fast food. Ia duduk di dekat tiang besar yang kursinya hanya satu. Kursi itu dibaginya dengan saya. Di sekeliling sudah penuh.

Duduk sebentar, teman menawari makanan tapi saya tolak karena sedang tidak ingin makan sesuatu dan saya lebih tertarik ketika melihat stand kopi di dalam fast food itu.

Sebenarnya saya tidak bisa minum kopi. Tubuh saya suka gemetaran selepas minum. Tapi rasa kepengen siang itu lebih kuat daripada ketakutan saya. Toh sudah sekian tahun tidak minum. Tapi bagaimanapun juga saat ingin beli, maju mundur. Melihat saya galau, teman saya  menyarankan beli yang cappucino saja, rasanya tidak terlalu strong. Saya menurut.

Setelah memesan, membayar lalu menunggu sebentar, segelas cappucino disodorkan pada saya. Tidak di dalam cangkir yang krimernya dibentuk cantik lalu bisa difoto dan  tampak instagramable, kopi saya berada di dalam cangkir  plastik yang jika difoto tidak secantik cangkir beling. Sengaja memilih demikian karena takut tidak habis di tempat. Jika memang demikian kan bisa dibawa keluar. Tapi ternyata tandas dalam sekali duduk. Siang itu, secangkir kopi mengisi perut saya yang sebelumnya belum diisi sesuatu.

Cappucino yang saya beli, di atasnya ada creamnya. Rasanya pahit. Ini adalah kali pertama saya mencobanya. Menurut saya rasanya masih enakan kopi buatan emak yang buahnya dipetik sendiri dari ladang di belakang rumah. Kopi orang kota itu tidak bersahabat dengan lidah udik saya.

Urusan perut sudah selesai. Beberapa menit kemudian kami meninggalkan fast food. Diluar, hujan masih meninggalkan sisa-sisanya. Jalanan aspal basah, trotoar paving di depan pertokoan juga basah. Tapi beruntung hujan sudah benar-benar berhenti, jadi kami tidak perlu membuka payung.

Tujuan kami adalah Mong Kok Computer Centre. Beberapa waktu yang lalu saya pernah kesana, tapi kami masih harus mencari lagi karena ingatan saya kurang baik tentang tempat itu. Setelah sempat sedikit salah jalan, lagi-lagi kami mengandalkan GPS teman saya. Berjalan beberapa menit akhirnya ketemu, tempatnya tak jauh dari fast food.

Mong Kok Computer Centre, tempat ini cukup ramai dan terkenal menjadi rujukan orang-orang yang mencari perlengkapan komputer. Terdiri dari tiga lantai, tidak terlalu besar sebenarnya, tapi lokasi yang cukup sederhana justru memudahkan pembeli untuk cepat menemukan apa yang ingin mereka beli.

Beberapa toko yang menjual laptop sudah kami datangi. Belum nemu yang sesuai keinginan dan kantong. Setelah mentok dari lantai tiga, kami turun ke lantai dasar dan keluar. Belum pulang, kami memiliki dua tujuan lagi yakni Broadway dan Fortress.

Di dua toko elektronik besar di Hong Kong itu kami melihat-lihat semua laptop yang mereka jual. Nasibnya seperti laptop di Mong Kok Computer Centre. Ada yang cocok di hati, namun tidak cocok di kantong. Ada yang cocok di kantong, tapi tidak cocok di hati. Manusia memang ribet bin beliebet, terutama saya.

Hari sudah semakin gelap. Tidak ada laptop yang jadi di beli. Bukan tidak jadi beli laptop, lebih tepatnya menunda beli. Tidak ada satu pun yang sreg, takutnya jika dipaksa membeli justru akan menyesal di kemudian hari.

Langit semakin memekat. Perut kami sudah mulai keroncongan, akhirnya kaki kami yang lelah karena wira-wiri berakhir di sebuah tempat makan yang cukup penuh pengunjungnya. Makan sembari istirahat, kami menghabiskan waktu kisaran satu jam di sana. Setelah menandaskan semua makanan, kami berpisah lalu pulang ke rumah masing-masing.

Setelah turun dari MTR, saya mampir ke restoran sebentar untuk membelikan makan malam buat nenek. Saya memilih menu ikan tumis brokoli. Sampai di rumah sudah malam. Nenek menyantap makan malamnya, saya langsung mandi.

Setelah keluat dari kamar mandi, saya istirahat sejenak, duduk di samping nenek di depan televisi. Nenek menawari saya makan, tapi langsung saya tolak. Perut saya penuh.

Pukul sebelas malam saya mematikan lampu. Nenek sudah lebih dulu tidur beberapa menit yang lalu. Saya kemudian naik ke ranjang di atas nenek, mengatur tempat tidur, merebahkan badan, membaca doa lalu memejamkan mata.

Beberapa menit berlalu. Saya merasa tubuh dan kaki sangat lelah. Pikiran gelisah dan tubuh mulai gemetaran. Pikiran saya berputar-putar, kira-kira gerangan apa yang membuat seperti itu. Lalu secangkir cappucino siang tadi melintas di benak saya. Ah, ini pasti karena kopi itu.

Hari ini  senin 8 Juli 2019, pukul lima sore waktu Hong Kong. Kopi yang saya teguk kemarin, efeknya masih terasa sampai sekarang. Tidak separah kemarin, tapi masih membuat tubuh saya gemetaran.

Kopi pertama adalah judul tulisan di blog setelah beberapa waktu lalu. Saat ngecek blog, ternyata sudah tiga bulan saya membiarkan blog ini tak tersentuh. Bhwaaa malas sekali saya ini.

Yesi Armand Sha, HK 8 Juli 2019.



4/30/2019

Choi Hung Estate, Rumah Pelangi yang Instagramable di Hong Kong




Hong Kong memiliki satu wilayah yang bernama Choi Hung. Jika diperhatikan dengan seksama, daerah di Choi Hung ini sangat berbeda dengan daerah Hong Kong lainnya. Hal paling umum yang bisa kita lihat adalah dari stasiun MTR-nya. Jika stasiun lain temboknya berwarna biru, kuning, merah atau hijau, maka di stasiun Choi Hung semua warna ini ada. Usut punya usut kenapa dibuat demikian, karena agar sesuai dengan namanya. Choi Hung sendiri adalah simbol dari warna warni tersebut. Dari bahasa Kantonis, Choi Hung berarti pelangi. Pernah nggak sampeyan kepikiran demikian? Pasti enggak kan? Sebelum saya riset mengenai tempat yang ada di tulisan ini, saya juga tidak kepikiran kok hihi.

Ketika membicarakan pelangi, di Choi Hung ini ada satu tempat yang berwarna-warni dan sangat terkenal. Tempat ini juga instagrambale banget. Salah satu spot foto yang wajib sampeyan kunjungi kalau maen ke Hong Kong. Iya loh, wajib! Secara, Hong Kong kan terkenal dengan sebutan ''Negeri Beton'', yang bisa dimaknai dengan negeri yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Jadi jangan ngaku pernah ke Hong Kong kalau belum narsis sama salah satu gedungnya, hihi maksa banget ya... Oiya tempat yang saya maksud instagramable banget ini namanya Rainbow Building, atau saya suka menyebutnya dengan Rumah Pelangi :D


polae anak jaman now :D



Jika hari Minggu atau hari libur, Rumah Pelangi ini selalu ramai oleh pengunjung. Saking terkenalnya, bukan hanya warga lokal dan mbak-mbak Te Ka We saja yang datang, tapi turis dari Cina dan Western juga kemari. Tapi mayoritas yang datang ke sini adalah anak-anak muda. Biasa mereka adalah yang hobi traveller, youtuber atau yang hobi update foto di Instagram *termasuk yang nulis* gubrakkk.





Jika dilihat-lihat, sebenarnya Choi Hung Rainbow Buliding ini hanyalah lapangan basket yang luas dengan background gedung-gedung hunian di kiri kanannya. Sebenarnya tak sedikit Hong Kong memiliki bangunan serupa, namun yang membedakan adalah lapangan dan gedung-gedung hunian ini dicat dengan warna-warna yang serasi dan membuattnya nampak eye catching banget.


Choi Hung Building ini dibangun pada tahun 1994. Lokasinya berada di Distrik Wong Tai Sin, Kowloon. Untuk akses ke sana bisa pergi dengan kereta bawah tanah/MTR turun di stasiun Choi Hung keluar melalui exit C4. Jalan keluar melewati semacam subway kecil dan ketika sampai diluar belok ke kiri, melewati Choi Hung Estate,Secondary School. Lokasi Choi Hung Rainbow Building ini tepat di atas parkir di depan sekolahan. Dari sekolahan perlu menyeberang dan menaiki beberapa anak tangga untuk sampai.

sampai di ujung belok ke kiri

menyeberang lalu menaiki tangga



Oiya tips untuk yang pengen fotonya nampak eye catcing banget, kalau kesana gunakan pakaian yang colourful, misal kuning kayak mbak-mbak di atas ini, agar warnaya lebih menyatu dengan bcakground :D (*)

*Yesi Armand Sha
HK, 1 Mei 2019.

3/13/2019

Ini Sore Pertama di Bulan November


 
Ini sore pertama di bulan November. Kita baru saja selesai jalan mengelilingi lapangan dan sekarang berada di taman bawah rumah.Taman ini bukan layaknya taman-taman kecil yang biasa ada di tempat lain, karena taman ini hanya ditanami beberapa batang pohon saja dan pinggirnya dibatasi dengan beberapa bangku. Ada dua bangku di bagian kanan dan kiri. Keduanya dipisahkan oleh sekolahan TK yang posisinya menjorok ke dalam, sejajar dengan pintu masuk gedung rumahmu dan gedung rumah sebelah.
 
Tak tahu harus menyebut apa, aku tetap menamakannya taman kecil. Bangku-bangku yang berjejer di pinggirnya selalu nyaman untuk diduduki. Dan seperti sore-sore yang lalu, sore ini kita duduk berdua lagi di bangku berjejer ini. Ya, hanya berdua saja. Sebenarnya di sebelah kiri kita ada bangku yang sudah ditempati oleh nenek-nenek lain yang kamu kenal, dan terlihat masih ada beberapa yang kosong. Sebelumnya aku juga sudah bertanya padamu untuk duduk disana, agar kamu bisa berbincang-bincang dan tertawa bersama. Bukannya menyetujui atau minimal menimbang-nimbang dulu tawaranku, kamu malah tak mengindahkan pertanyaanku sama sekali.
 
‘’Emyiu,’’ sahutmu cepat.
 
‘’Timkai a?’’ tanyaku menyelidik.
 
‘’Em cungyi,’’ jawabmu seraya memalingkan wajah.
 
Aku bergeming tak melanjutkan bertanya. Aku tak berniat menyelidiki lebih lanjut kenapa kamu tak mau duduk bersama mereka karena aku yakin, kamu memiliki alasan yang tak jauh berbeda dengan alasanku.
 
Entahlah, aku merasa kurang nyaman saja dengan mereka. Aku melihat nenek-nenek itu seperti ibu-ibu arisan yang doyan ngomong. Mereka suka sekali membicarakan orang-orang yang lewat. Tak peduli kenal atau tidak, orang-orang lewat yang pergi atau pulang ke rumah, dan orang-orang yang hendak menjemput murid TK pulang sekolah, akan menjadi sasaran empuk untuk mereka bicarakan. Nada bicara mereka juga keras sekali. Bahkan meski duduk berdampingan pun, volume suara mereka tetap seperti orang yang sedang marah.
 
Nenek-nenek itu juga tak bisa disenggol. Atau maksudnya, ketika ada sedikit saja perbedaan pendapat dan sudut pandang yang tak sama, mereka tak segan untuk berdebat. Mereka saling menyerang dengan kata-kata, menyalahkan pendapat yang lain dan saling berebut untuk paling benar.
 
Saking seringnya melihat kejadian-kejadian itu, kepalaku sampai hafal tiap adegan-adegannya. Namun meski kurang suka, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri jika kadang merasa geli melihat ulah mereka yang cukup menggelitik. Karena beberapa jam setelah nenek-nenek itu bertengkar lalu mereka berpisah entah pulang ke rumahnya masing-masing atau pergi entah kemana, jika kemudian bertemu lagi, mereka akan bertegur sapa seperti biasa. Mereka akan berbincang-bincang dan tertawa seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Nenek-nenek itu sudah pikun. Tak begitu ingat pada kejadian-kejadian yang telah terjadi, sekalipun baru lewat beberapa menit yang lalu. Dan melihat apa yang mereka lakukan, kadang aku berpikir, ternyata ada manfaatnya juga Tuhan menciptakan penyakit pikun. Sebab manusia tak perlu berlama-lama memendam benci dan amarah berkepanjangan yang membuat hati sesak. Hati mereka tak perlu dipenuhi oleh rasa-rasa aneh yang membuatnya merasa tak enak untuk melakukan sesuatu. Bukankah dengan begitu, mereka bisa selalu bahagia melewati hari-hari? Ah, hidup sebagai nenek-nenek sepertinya tak terlalu buruk juga.
                                                                           
**
 
Angin sore terasa mulai berembus. Menerbangkan daun kuning dan kering yang jatuh di atas paving di depan kita, merayu ujung jilbabku agar menari bersamanya, dan kulihat rambutmu yang hitam bercampur sedikit putih itu bergerak-gerak pula karenanya.

Ini hari pertama di bulan November, tapi belakangan udara sudah mulai dingin. Beberapa hari ini jendela rumah sudah mulai kututup separuh ketika malam tiba. Aku sudah mengeluarkan baju dan celana panjangmu dari dalam lemari. Selimut kita juga sudah kutambahi dalaman yang menghangatkan. Bahkan kakiku yang gampang sekali dingin ini sudah kubalut dengan kaus kaki ketika pergi tidur.
 
November adalah awal musim dingin akan segera tiba. Sebentar lagi, dedaunan akan luruh ke tanah meninggalkan reranting kering yang jika dilihat dari kejauhan, akan tampak seperti kecambah. Serabutnya seakan hendak menancap langit.
 
Tak lama lagi di jalan, taman, pasar dan dimana saja, tak akan ada orang memakai baju dan celana pendek. Mereka akan membalut tubuhnya dengan baju panjang dan tebal, tangan mereka dibungkus dengan sarung tangan, dan bahkan beberapa diantaranya ada juga yang menutup kepala mereka dengan topi. Mereka tak membiarkan satu inci pun bagian tubuh mereka dicumbu angin.
 
Meski bertahun-tahun bertemu dengan hawa yang seperti kulkas ini, tapi aku masih belum betah berhadapan dengannya. Setiap tahun aku harus selalu beradaptasi seperti saat aku beradaptasi di musim dingin pertama kalinya. Jika kamu cukup memakai baju dua helai, aku harus memakai baju beberapa potong lebih banyak darimu agar tubuhku tetap terjaga kehangatannya. Dan aku sangat benci memakai baju bertumpuk-tumpuk karena membuat pundakku berat, cepat capek dan tak nyaman untuk bergerak.
                                                               
**
 
Tujuh menit setelah menempelkan punggung dengan sandaran bangku, bel di sekolah taman kanak-kanak yang berada diantara gedung rumahmu dengan gedung sebelah yang bercat kuning itu berdering. Setelah pintu utama sekolahan itu terbuka, para pengasuh dan beberapa orangtua yang sebelumnya membuat antrian panjang di samping pintu utama sekolahan itu masuk satu persatu. Tak lama kemudian mereka keluar lagi bersama anak-anak kecil usia lima-enam tahunan.
 
Taman kecil yang sebelumnya cukup hening, seketika menjadi riuh semenjak anak-anak TK itu keluar. Beberapa dari mereka ada yang langsung pulang, tapi tak sedikit pula yang berhenti untuk bermain. Anak-anak yang tak lekas pulang itu adalah mereka yang rumahnya satu gedung dengan rumahmu dan juga tinggal di gedung bercat kuning.
 
Anak-anak itu berlarian, bermain kejar-kejaran. Ada yang bermain sekuter, bersepeda, dan ada juga beberapa yang hanya duduk sambil makan roti kering, buah yang disimpan di dalam kotak makan, atau biskuit yang dibawakan oleh ibu mereka. Kamu memperhatikan anak-anak itu dan kulihat sesekali kamu tertawa kecil. Kadang kamu juga menyuruhku melihat mereka jika ada hal yang lucu.
 
Kamu memang sangat menyukai anak kecil. Dimanapun berada, jika bertemu anak kecil, kamu pasti selalu menyapanya. Jika anak kecil itu bersama ibu, nenek atau anggota keluarganya yang lain dan kebetulan mereka baik, mereka akan balas menjawab sapaanmu lalu meneruskan dengan sedikit percakapan. Tapi jika keluarga atau yang mengasuh anak kecil itu seperti kebanyakan tipe orang Hong Kong lainnya, yang tak akan berbicara dengan orang tak dikenal, maka sapaanmu hanya dianggap seperti angin lalu saja.
 
Melihatmu diabaikan seperti itu, aku selalu merasa sedih sekaligus kesal. Aku kasihan padamu dan ingin marah pada orang yang mengabaikanmu. Tapi apa yang bisa kuperbuat, bagaimanapun juga aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang itu karena mereka memang tak mengenalmu atau mengenalku. Maka agar kamu tak sedih berkepanjangan, aku segera menghiburmu dan mengalihkanmu pada hal lain agar kamu lekas lupa pada apa yang terjadi.
 
Sebenarnya aku sudah sering berkata padamu agar tak sembarangan menyapa anak kecil kecuali yang kamu kenal. Setiap kali aku membicarakan hal itu, kamu selalu menyawab iya dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Tapi di usiamu yang sudah tak bisa mengingat hal-hal dengan baik itu, membuatmu selalu melakukan kesalahan berulang-ulang. Kamu melakukan hal itu lagi dan lagi.
                                                                   
**
 
Matahari karam di balik gedung beton yang menjulang tinggi. Anak-anak TK sudah pulang ke rumahnya masing-masing, lalu taman kecil ini menjadi sepi kembali.
 
Angin kembali berembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
 
‘’Kamu tidak dingin?’’ tanyaku mulai khawatir.
 
Kamu menggeleng.
 
‘’Pakai jaket ya?’’ aku mengeluarkan jaket tipis dari dalam tas.
 
‘’Tidak,’’ tolakmu.
 
‘’Anginnya cukup kencang, nanti kamu kedinginan dan masuk angin,’’ desakku.
 
‘’Tidak!’’ Suaramu sedikit meninggi.
 
‘’Yasudah, kalau nanti dingin bilang padaku ya?’’
 
‘’Mmm,’’ jawabmu.
 
Aku mengalah.
 
‘’Tunggu.’’ tanganmu meraih jaket yang hendak kumasukkan ke dalam tas. Kukira kamu akan memakainya, tapi... ‘’Jaket ini dulu dibelikan Yeye.’’
 
‘’Iyakah? Berati lama sekali ya?’’
 
‘’Belasan tahun yang lalu.’’
 
‘’Wah, tapi masih bagus.’’
 
‘’Iya, bagus.” Kamu memperhatikan jaket ini dan meniliti bagian-bagiannya. Perlahan-lahan kamu mulai bercerita tentang jaket itu, diteruskan dengan kematian Yeye, lalu cerita tentang kehidupanmu selepas Yeye meninggal.
 
Beberapa menit berlalu, kamu masih lanjut bercerita. Tapi kisah ceritamu berjalan ke belakang, dimulai ketika kamu lahir dan dibuang oleh ibumu, lalu cerita tentang masa anak-anakmu, masa mudamu, saat kamu menikah, kemudian memiliki enam anak dan beberapa cucu.
 
‘’Sejak kecil aku memiliki hidup yang sulit, lalu perlahan-lahan semua membaik. Kini setelah tua, aku seperti menjadi kecil lagi. Aku hidup sendirian, anak-anakku sibuk dengan kehidupannya sendiri. Aku seperti orang yang hidup sebatang kara,’’ ucapmu menutup cerita.
 
Aku mendengar ceritamu di balik hati yang teriris. Tak terasa getah bening yang sedari tadi kutahan dipelupuk mataku menetes juga. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu selanjutnya. Tiga bulan setelah November ini aku akan pulang ke kampung halamanku selamanya, dan kamu akan dimasukkan ke panti jompo. Kamu sebenarnya tidak mau masuk kesana, tapi anak-anakmu tak bersedia mencari penjaga buatmu lagi. Katamu, panti jompo adalah penjara untuk orang-orang yang masih sehat sepertimu. (*)

*Tersiar di koran Berita Indonesia edisi 211- Maret 2019. 
Yesi Armand Sha. HK, 14-3-2019.
 

3/06/2019

Mengunjungi Snoopy World, Mengunjungi Diri Kita di Masa Lalu


Beberapa waktu lalu, tepatnya saat Chinese New Year, saya, pesex (panggilan kesayangan tetangga sebelah), dan Titin (sohibnya pesex), menonton pertunjukan kembang api di Tsim Sha Shui. Pertunjukannya dimulai jam 7 malam, tapi kami berangkat jam 4-an karena ingin mendapat tempat yang pas untuk melihat.

Sesampainya di sana ternyata sudah banyak orang yang antri dan duduk mencari tempat. Tapi rupanya keberuntungan masih berpihak pada kami, karena kami mendapat tempat kosong yang strategis dan ditambah dua orang Cina di depan kami ramah dan baik. Kami bahkan saling bercengkerama, berbagi beberan tempat duduk dan berbagi cemilan yang kami bawa.

Selagi menunggu, kami berbincang-bincang dan ngoceh sana-sini. Sesekali menoleh kiri-kanan dan belakang untuk melihat orang-orang yang mulai berdatangan. Hingga akhirnya di tengah penantian itu, Titin tiba-tiba berseloroh bahwa kami sedang menonton layar tancap. Mendengarnya sontak saja kami langsung tertawa. Tapi memang benar, kondisinya sangat mirip seperti menonton layar tancap jaman bahuela.

Selorohan Titin merambah pada drama Wiro Sableng, Kera Sakti, Angling Darma dan Mak Lampir. Ditambah pula tentang tipi hitam putih milik tetangga yang untuk menghidupkannya harus memakai aki. Tak berhenti sampai di situ, bahasan berlanjut tentang permainan bongkar pasang, gedrik, nekeran, kaus kaki basah yang kemudian jadi bolong, berangkat sekolah sepatu dikalungkan di leher, pulang sekolah manjat pohon jambu milik tetangga yang baru berbuah dan berbagai keusilan-keusilan lainnya. Entah kenapa ya, hal-hal sepele di masa lalu itu menyenangkan sekali ketika kini dibicarakan. Kami menceritakannya dengan hati yang bahagia. Walau masa kecil kami sangat pahit, tapi ternyata manis saat sudah menjadi kenangan.

Mengingat tentang kenangan, di Hong Kong ada satu tempat permainan yang ketika sampeyan mengunjunginya, sampeyan akan merasa sedang nostalgia. Tempat itu namanya Snoopy World.



Snoopy sendiri adalah tokoh fiksi berupa anjing beagle peliharaan Charlie Brown dalam strip komik peanuts karya Charles M. Schulz. Awalnya Snoopy hanya digambarkan sebagai anjing biasa, tapi perlahan-lahan, Snoopy dijadikan karakter yang bisa berbicara, (melalui balon teks yang menginterpretasikan apa yang sedang dipikirkannya, sehingga nampak bisa berkomunikasi.

Sebenarnya saya dan anak lain yang lahir di tahun 90-an, adalah generasinya Tom and Jerry. Tapi saya sedikit banyak tahu tentang komik Snoopy, dan ketika mengingat Snoopy, secara spontan saya langsung teringat pada Tom and Jerry beserta hal-hal yang ada di masa lalu. Hinga akhirnya, mengingat Snoopy berarti mengingat diri saya di masa lalu. (Agak maksa ya hihi, tapi emang kayak gitu kok :D)



Di Snoopy wolrd Hong Kong ini, ada satu patung yang menonjol dan paling besar. Yakni patung Snoopy berukuran 5,5 x 3,3 yang bubuk manis di atas atap pintu masuk. Selain patung itu, ada patung-patung lainnya yang berjumlah 60 patung berwarna-warni di dalam area permainan ini.



Snoopy World ini berada di lantai tiga New Town Plaza, jantungnya Shatin. Jika kita datangnya dari arah mall, maka kita akan langsung disambut dengan tiang-tiang warna hijau yang ada patung snoopy di atasnya dan juga tanaman berbentuk tulisan ''Snoopy Wolrd'' disamping pintu masuk.

Setelah masuk lewat pintu utama, kita bisa melihat rak beserta tumpukan buku yang ada di kiri kita. Sedang di bagian kanan, tampak Charlie Brown sedang santai sambil menonton TV.



Selain patung-patung, ada juga arena permainan yang asyik  diperuntukkan buat pengunjung. Yakni baseball playground, bus sekolah berwarna kuning yang besar, peanut boulevard, snoopy wedding house, dan canal ride (naek perahu).



Selain itu ada kota bangunan-bangunan yang menyerupai kota mini, atau juga disebut mini town yang lengkap dengan keberadaan post office, bank, dan snoopy theatre.





Selain dekat dengan mall, Snoopy world ini juga dekat dengan perpustakaan Shatin, tenda putih yang bawahnya dibuat lesehan, gedung untuk menonton pertunjukan opera, taman Shatin yang luas, dan gak jauh juga dari Lek Yuen Bridge.

Lokasi tepat Snoopy World ini ada di:
Lantai 3 Shatin New Town Plaza, New Territories Hong Kong. MTR to station, exit A.
Jam bukanya mulai jam 11 pagi sampai 7 malam. Untuk naik perahu jam bukanya mulai jam 12 pagi sampai jam 6 malam.


Kalau misalnya sampeyan hendak kesana dan bingung rutenya. Sampeyan naek saja MTR Turun di Shatin exit A. Dari sana, sampeyan jalan lurus saja ke depan dan cari pintu keluar. Atau kalau bingung, tanya pada petugas yang duduk di beberapa sudut. :)

*Yesi Armand Sha, HK 6 Maret 2019.





YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES