3/13/2019

Ini Sore Pertama di Bulan November


 
Ini sore pertama di bulan November. Kita baru saja selesai jalan mengelilingi lapangan dan sekarang berada di taman bawah rumah.Taman ini bukan layaknya taman-taman kecil yang biasa ada di tempat lain, karena taman ini hanya ditanami beberapa batang pohon saja dan pinggirnya dibatasi dengan beberapa bangku. Ada dua bangku di bagian kanan dan kiri. Keduanya dipisahkan oleh sekolahan TK yang posisinya menjorok ke dalam, sejajar dengan pintu masuk gedung rumahmu dan gedung rumah sebelah.
 
Tak tahu harus menyebut apa, aku tetap menamakannya taman kecil. Bangku-bangku yang berjejer di pinggirnya selalu nyaman untuk diduduki. Dan seperti sore-sore yang lalu, sore ini kita duduk berdua lagi di bangku berjejer ini. Ya, hanya berdua saja. Sebenarnya di sebelah kiri kita ada bangku yang sudah ditempati oleh nenek-nenek lain yang kamu kenal, dan terlihat masih ada beberapa yang kosong. Sebelumnya aku juga sudah bertanya padamu untuk duduk disana, agar kamu bisa berbincang-bincang dan tertawa bersama. Bukannya menyetujui atau minimal menimbang-nimbang dulu tawaranku, kamu malah tak mengindahkan pertanyaanku sama sekali.
 
‘’Emyiu,’’ sahutmu cepat.
 
‘’Timkai a?’’ tanyaku menyelidik.
 
‘’Em cungyi,’’ jawabmu seraya memalingkan wajah.
 
Aku bergeming tak melanjutkan bertanya. Aku tak berniat menyelidiki lebih lanjut kenapa kamu tak mau duduk bersama mereka karena aku yakin, kamu memiliki alasan yang tak jauh berbeda dengan alasanku.
 
Entahlah, aku merasa kurang nyaman saja dengan mereka. Aku melihat nenek-nenek itu seperti ibu-ibu arisan yang doyan ngomong. Mereka suka sekali membicarakan orang-orang yang lewat. Tak peduli kenal atau tidak, orang-orang lewat yang pergi atau pulang ke rumah, dan orang-orang yang hendak menjemput murid TK pulang sekolah, akan menjadi sasaran empuk untuk mereka bicarakan. Nada bicara mereka juga keras sekali. Bahkan meski duduk berdampingan pun, volume suara mereka tetap seperti orang yang sedang marah.
 
Nenek-nenek itu juga tak bisa disenggol. Atau maksudnya, ketika ada sedikit saja perbedaan pendapat dan sudut pandang yang tak sama, mereka tak segan untuk berdebat. Mereka saling menyerang dengan kata-kata, menyalahkan pendapat yang lain dan saling berebut untuk paling benar.
 
Saking seringnya melihat kejadian-kejadian itu, kepalaku sampai hafal tiap adegan-adegannya. Namun meski kurang suka, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri jika kadang merasa geli melihat ulah mereka yang cukup menggelitik. Karena beberapa jam setelah nenek-nenek itu bertengkar lalu mereka berpisah entah pulang ke rumahnya masing-masing atau pergi entah kemana, jika kemudian bertemu lagi, mereka akan bertegur sapa seperti biasa. Mereka akan berbincang-bincang dan tertawa seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Nenek-nenek itu sudah pikun. Tak begitu ingat pada kejadian-kejadian yang telah terjadi, sekalipun baru lewat beberapa menit yang lalu. Dan melihat apa yang mereka lakukan, kadang aku berpikir, ternyata ada manfaatnya juga Tuhan menciptakan penyakit pikun. Sebab manusia tak perlu berlama-lama memendam benci dan amarah berkepanjangan yang membuat hati sesak. Hati mereka tak perlu dipenuhi oleh rasa-rasa aneh yang membuatnya merasa tak enak untuk melakukan sesuatu. Bukankah dengan begitu, mereka bisa selalu bahagia melewati hari-hari? Ah, hidup sebagai nenek-nenek sepertinya tak terlalu buruk juga.
                                                                           
**
 
Angin sore terasa mulai berembus. Menerbangkan daun kuning dan kering yang jatuh di atas paving di depan kita, merayu ujung jilbabku agar menari bersamanya, dan kulihat rambutmu yang hitam bercampur sedikit putih itu bergerak-gerak pula karenanya.

Ini hari pertama di bulan November, tapi belakangan udara sudah mulai dingin. Beberapa hari ini jendela rumah sudah mulai kututup separuh ketika malam tiba. Aku sudah mengeluarkan baju dan celana panjangmu dari dalam lemari. Selimut kita juga sudah kutambahi dalaman yang menghangatkan. Bahkan kakiku yang gampang sekali dingin ini sudah kubalut dengan kaus kaki ketika pergi tidur.
 
November adalah awal musim dingin akan segera tiba. Sebentar lagi, dedaunan akan luruh ke tanah meninggalkan reranting kering yang jika dilihat dari kejauhan, akan tampak seperti kecambah. Serabutnya seakan hendak menancap langit.
 
Tak lama lagi di jalan, taman, pasar dan dimana saja, tak akan ada orang memakai baju dan celana pendek. Mereka akan membalut tubuhnya dengan baju panjang dan tebal, tangan mereka dibungkus dengan sarung tangan, dan bahkan beberapa diantaranya ada juga yang menutup kepala mereka dengan topi. Mereka tak membiarkan satu inci pun bagian tubuh mereka dicumbu angin.
 
Meski bertahun-tahun bertemu dengan hawa yang seperti kulkas ini, tapi aku masih belum betah berhadapan dengannya. Setiap tahun aku harus selalu beradaptasi seperti saat aku beradaptasi di musim dingin pertama kalinya. Jika kamu cukup memakai baju dua helai, aku harus memakai baju beberapa potong lebih banyak darimu agar tubuhku tetap terjaga kehangatannya. Dan aku sangat benci memakai baju bertumpuk-tumpuk karena membuat pundakku berat, cepat capek dan tak nyaman untuk bergerak.
                                                               
**
 
Tujuh menit setelah menempelkan punggung dengan sandaran bangku, bel di sekolah taman kanak-kanak yang berada diantara gedung rumahmu dengan gedung sebelah yang bercat kuning itu berdering. Setelah pintu utama sekolahan itu terbuka, para pengasuh dan beberapa orangtua yang sebelumnya membuat antrian panjang di samping pintu utama sekolahan itu masuk satu persatu. Tak lama kemudian mereka keluar lagi bersama anak-anak kecil usia lima-enam tahunan.
 
Taman kecil yang sebelumnya cukup hening, seketika menjadi riuh semenjak anak-anak TK itu keluar. Beberapa dari mereka ada yang langsung pulang, tapi tak sedikit pula yang berhenti untuk bermain. Anak-anak yang tak lekas pulang itu adalah mereka yang rumahnya satu gedung dengan rumahmu dan juga tinggal di gedung bercat kuning.
 
Anak-anak itu berlarian, bermain kejar-kejaran. Ada yang bermain sekuter, bersepeda, dan ada juga beberapa yang hanya duduk sambil makan roti kering, buah yang disimpan di dalam kotak makan, atau biskuit yang dibawakan oleh ibu mereka. Kamu memperhatikan anak-anak itu dan kulihat sesekali kamu tertawa kecil. Kadang kamu juga menyuruhku melihat mereka jika ada hal yang lucu.
 
Kamu memang sangat menyukai anak kecil. Dimanapun berada, jika bertemu anak kecil, kamu pasti selalu menyapanya. Jika anak kecil itu bersama ibu, nenek atau anggota keluarganya yang lain dan kebetulan mereka baik, mereka akan balas menjawab sapaanmu lalu meneruskan dengan sedikit percakapan. Tapi jika keluarga atau yang mengasuh anak kecil itu seperti kebanyakan tipe orang Hong Kong lainnya, yang tak akan berbicara dengan orang tak dikenal, maka sapaanmu hanya dianggap seperti angin lalu saja.
 
Melihatmu diabaikan seperti itu, aku selalu merasa sedih sekaligus kesal. Aku kasihan padamu dan ingin marah pada orang yang mengabaikanmu. Tapi apa yang bisa kuperbuat, bagaimanapun juga aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang itu karena mereka memang tak mengenalmu atau mengenalku. Maka agar kamu tak sedih berkepanjangan, aku segera menghiburmu dan mengalihkanmu pada hal lain agar kamu lekas lupa pada apa yang terjadi.
 
Sebenarnya aku sudah sering berkata padamu agar tak sembarangan menyapa anak kecil kecuali yang kamu kenal. Setiap kali aku membicarakan hal itu, kamu selalu menyawab iya dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Tapi di usiamu yang sudah tak bisa mengingat hal-hal dengan baik itu, membuatmu selalu melakukan kesalahan berulang-ulang. Kamu melakukan hal itu lagi dan lagi.
                                                                   
**
 
Matahari karam di balik gedung beton yang menjulang tinggi. Anak-anak TK sudah pulang ke rumahnya masing-masing, lalu taman kecil ini menjadi sepi kembali.
 
Angin kembali berembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
 
‘’Kamu tidak dingin?’’ tanyaku mulai khawatir.
 
Kamu menggeleng.
 
‘’Pakai jaket ya?’’ aku mengeluarkan jaket tipis dari dalam tas.
 
‘’Tidak,’’ tolakmu.
 
‘’Anginnya cukup kencang, nanti kamu kedinginan dan masuk angin,’’ desakku.
 
‘’Tidak!’’ Suaramu sedikit meninggi.
 
‘’Yasudah, kalau nanti dingin bilang padaku ya?’’
 
‘’Mmm,’’ jawabmu.
 
Aku mengalah.
 
‘’Tunggu.’’ tanganmu meraih jaket yang hendak kumasukkan ke dalam tas. Kukira kamu akan memakainya, tapi... ‘’Jaket ini dulu dibelikan Yeye.’’
 
‘’Iyakah? Berati lama sekali ya?’’
 
‘’Belasan tahun yang lalu.’’
 
‘’Wah, tapi masih bagus.’’
 
‘’Iya, bagus.” Kamu memperhatikan jaket ini dan meniliti bagian-bagiannya. Perlahan-lahan kamu mulai bercerita tentang jaket itu, diteruskan dengan kematian Yeye, lalu cerita tentang kehidupanmu selepas Yeye meninggal.
 
Beberapa menit berlalu, kamu masih lanjut bercerita. Tapi kisah ceritamu berjalan ke belakang, dimulai ketika kamu lahir dan dibuang oleh ibumu, lalu cerita tentang masa anak-anakmu, masa mudamu, saat kamu menikah, kemudian memiliki enam anak dan beberapa cucu.
 
‘’Sejak kecil aku memiliki hidup yang sulit, lalu perlahan-lahan semua membaik. Kini setelah tua, aku seperti menjadi kecil lagi. Aku hidup sendirian, anak-anakku sibuk dengan kehidupannya sendiri. Aku seperti orang yang hidup sebatang kara,’’ ucapmu menutup cerita.
 
Aku mendengar ceritamu di balik hati yang teriris. Tak terasa getah bening yang sedari tadi kutahan dipelupuk mataku menetes juga. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu selanjutnya. Tiga bulan setelah November ini aku akan pulang ke kampung halamanku selamanya, dan kamu akan dimasukkan ke panti jompo. Kamu sebenarnya tidak mau masuk kesana, tapi anak-anakmu tak bersedia mencari penjaga buatmu lagi. Katamu, panti jompo adalah penjara untuk orang-orang yang masih sehat sepertimu. (*)

*Tersiar di koran Berita Indonesia edisi 211- Maret 2019. 
Yesi Armand Sha. HK, 14-3-2019.
 

No comments:

Post a Comment

YESI ARMAND © 2018 | BY RUMAH ES