7/08/2019

Kupi Pertama


Mulai bulan lalu saya nggupuhi teman ingin beli laptop. Sudah searching di Google, menonton rekomendasi di Youtube dan melihat-lihat di websitenya Fortress dan Broadway, tapi belum juga nemu yang ingin dibeli.

Sabtu siang saya mengontak teman lagi. Dia bilang Minggu sudah ada janji, tapi malamnya dia mengabari bahwa janjinya batal dan dia bersedia menemani saya. Membaca pesannya, saya girang bukan kepalang. Bukan tidak berani berangkat sendiri, hanya saja kurang percaya diri dan suka bingung memilih sendirian karena tidak ada yang diajak diskusi. Eh, sama saja kan ya? :D

Minggu, 7 Juli 2019, saya berangkat dari rumah menyesuaikan jam janjian yang telah kami buat. Setelah turun dari siupa/ mini bus, teman saya kirim WA mengabari bahwa diluar hujan. Belakangan cuaca memang sering membingungkan. Sebentar hujan deras turun, lalu berhenti, matahari muncul, agak lama, lalu hujan lagi, lalu matahari muncul lagi, dan begitu seterusnya. Saya tidak kaget dan tidak terlalu khawatir karena di dalam ransel sudah ada sebuah payung kecil.

Saya telat sepuluh menit. Teman saya sudah menunggu di dalam tempat makan fast food. Ia duduk di dekat tiang besar yang kursinya hanya satu. Kursi itu dibaginya dengan saya. Di sekeliling sudah penuh.

Duduk sebentar, teman menawari makanan tapi saya tolak karena sedang tidak ingin makan sesuatu dan saya lebih tertarik ketika melihat stand kopi di dalam fast food itu.

Sebenarnya saya tidak bisa minum kopi. Tubuh saya suka gemetaran selepas minum. Tapi rasa kepengen siang itu lebih kuat daripada ketakutan saya. Toh sudah sekian tahun tidak minum. Tapi bagaimanapun juga saat ingin beli, maju mundur. Melihat saya galau, teman saya  menyarankan beli yang cappucino saja, rasanya tidak terlalu strong. Saya menurut.

Setelah memesan, membayar lalu menunggu sebentar, segelas cappucino disodorkan pada saya. Tidak di dalam cangkir yang krimernya dibentuk cantik lalu bisa difoto dan  tampak instagramable, kopi saya berada di dalam cangkir  plastik yang jika difoto tidak secantik cangkir beling. Sengaja memilih demikian karena takut tidak habis di tempat. Jika memang demikian kan bisa dibawa keluar. Tapi ternyata tandas dalam sekali duduk. Siang itu, secangkir kopi mengisi perut saya yang sebelumnya belum diisi sesuatu.

Cappucino yang saya beli, di atasnya ada creamnya. Rasanya pahit. Ini adalah kali pertama saya mencobanya. Menurut saya rasanya masih enakan kopi buatan emak yang buahnya dipetik sendiri dari ladang di belakang rumah. Kopi orang kota itu tidak bersahabat dengan lidah udik saya.

Urusan perut sudah selesai. Beberapa menit kemudian kami meninggalkan fast food. Diluar, hujan masih meninggalkan sisa-sisanya. Jalanan aspal basah, trotoar paving di depan pertokoan juga basah. Tapi beruntung hujan sudah benar-benar berhenti, jadi kami tidak perlu membuka payung.

Tujuan kami adalah Mong Kok Computer Centre. Beberapa waktu yang lalu saya pernah kesana, tapi kami masih harus mencari lagi karena ingatan saya kurang baik tentang tempat itu. Setelah sempat sedikit salah jalan, lagi-lagi kami mengandalkan GPS teman saya. Berjalan beberapa menit akhirnya ketemu, tempatnya tak jauh dari fast food.

Mong Kok Computer Centre, tempat ini cukup ramai dan terkenal menjadi rujukan orang-orang yang mencari perlengkapan komputer. Terdiri dari tiga lantai, tidak terlalu besar sebenarnya, tapi lokasi yang cukup sederhana justru memudahkan pembeli untuk cepat menemukan apa yang ingin mereka beli.

Beberapa toko yang menjual laptop sudah kami datangi. Belum nemu yang sesuai keinginan dan kantong. Setelah mentok dari lantai tiga, kami turun ke lantai dasar dan keluar. Belum pulang, kami memiliki dua tujuan lagi yakni Broadway dan Fortress.

Di dua toko elektronik besar di Hong Kong itu kami melihat-lihat semua laptop yang mereka jual. Nasibnya seperti laptop di Mong Kok Computer Centre. Ada yang cocok di hati, namun tidak cocok di kantong. Ada yang cocok di kantong, tapi tidak cocok di hati. Manusia memang ribet bin beliebet, terutama saya.

Hari sudah semakin gelap. Tidak ada laptop yang jadi di beli. Bukan tidak jadi beli laptop, lebih tepatnya menunda beli. Tidak ada satu pun yang sreg, takutnya jika dipaksa membeli justru akan menyesal di kemudian hari.

Langit semakin memekat. Perut kami sudah mulai keroncongan, akhirnya kaki kami yang lelah karena wira-wiri berakhir di sebuah tempat makan yang cukup penuh pengunjungnya. Makan sembari istirahat, kami menghabiskan waktu kisaran satu jam di sana. Setelah menandaskan semua makanan, kami berpisah lalu pulang ke rumah masing-masing.

Setelah turun dari MTR, saya mampir ke restoran sebentar untuk membelikan makan malam buat nenek. Saya memilih menu ikan tumis brokoli. Sampai di rumah sudah malam. Nenek menyantap makan malamnya, saya langsung mandi.

Setelah keluat dari kamar mandi, saya istirahat sejenak, duduk di samping nenek di depan televisi. Nenek menawari saya makan, tapi langsung saya tolak. Perut saya penuh.

Pukul sebelas malam saya mematikan lampu. Nenek sudah lebih dulu tidur beberapa menit yang lalu. Saya kemudian naik ke ranjang di atas nenek, mengatur tempat tidur, merebahkan badan, membaca doa lalu memejamkan mata.

Beberapa menit berlalu. Saya merasa tubuh dan kaki sangat lelah. Pikiran gelisah dan tubuh mulai gemetaran. Pikiran saya berputar-putar, kira-kira gerangan apa yang membuat seperti itu. Lalu secangkir cappucino siang tadi melintas di benak saya. Ah, ini pasti karena kopi itu.

Hari ini  senin 8 Juli 2019, pukul lima sore waktu Hong Kong. Kopi yang saya teguk kemarin, efeknya masih terasa sampai sekarang. Tidak separah kemarin, tapi masih membuat tubuh saya gemetaran.

Kopi pertama adalah judul tulisan di blog setelah beberapa waktu lalu. Saat ngecek blog, ternyata sudah tiga bulan saya membiarkan blog ini tak tersentuh. Bhwaaa malas sekali saya ini.

Yesi Armand Sha, HK 8 Juli 2019.



4 comments:

  1. Salam kenal dari Lazwardy Journal.. Jngn lupa mampir k blog ya. Saya jg pnggemar kopi :)

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga mas. Ashiaappp. Otewe:)

    ReplyDelete
  3. saya sampai sekarang nggak bisa minum kopi. emang punya asam lambung sih. jadi perut saya sama kopi ini agak musuhan gitu deh.

    ReplyDelete
  4. Wah kalau asam lambung bukan cuma kopi. Pedas sama asam2 juga perlu dikondisikan. Semoga sehat terus ya mba. Salam kenal:)

    ReplyDelete

YESI ARMAND © 2019 | BY RUMAH ES